KENAPA WANITA HARUS TERTINDAS?: NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWAL EL-SAADAWIDAN DAN NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

 Arry D. P

Ibu, ibu dan ibu. Derajat ibu tiga kali lebih tinggi daripada ayah. Yah, begitulah ajaran agama yang seringkali kita dengar. Sudah semestinya wanita dihormati sudah seharusnya wanita disegani sudah selazimnya pula wanita dinomor satukan walau terkadang wanita berubah seperti monster di film ultramen serta menjelma seperti kecoa terbang yang menjijikkan dan menyebalkan bak dosen yang tidak hadir kala kelas pagi sudah tiba. Hm, wanita yang seharusnya wanita ternyata tidak akan kita jumpai di dalam novel Perempuan Di Titik Nol Karya  Nawal El-Saadawidan novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer sebab wanita yang ada di dalam novel yang akan kita singgung ini tidak lebih layak dibandingkan dengan roti Sari Roti yang sudah dibuang ke tempat sampah(yang masih dibungkus dengan plastik).

Continue reading

Advertisements

Sedikit) Isu Feminisme dalam Gadis Pantai dan Perempuan di Titik Nol

 Doni Ahmadi


Ada beberapa hal yang yang menarik dari dua karya sastra –dengan latar belakang pengarang yang berbeda dan cukup jauh. Yakni, Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, dan Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi. Tentang bagimanana pengarang memberikan fokus kepada “Perempuan” yang menjadi tokoh utama dengan pelbagai hal. Continue reading

Wujud Absurd Keadilan Bagi Perempuan

Reza Deni


Sejarah mencatat terlalu banyak lelaki hebat yang tumpas karena gagal menjinakkan perempuan. John Dillinger dan Arthur Schopenhauer, contohnya.

Kalimat itu saya tukil dari sebuah cerpen milik Dea Anugrah yang berjudul “Sebuah Kisah Sedih, Gempa Waktu dan Omng Kosong yang Harus Ada”. Kalimat itu tentu mempunyai definisi, salah satunya dan secara gamblang, bahwa perempuan merupakan sesuatu yang liar, ganas, dan sulit sekali dikendalikan. Di balik negasi dari sifat maskulin, ternyata perempuan juga memiliki kengerian yang tersembunyi. Continue reading

Bukan Sekadar Biologis atau Pertentangan Kelas

Latifah


Katanya, Tuhan menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Sebagaimana siang dengan malam, laki-laki dengan perempuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pasangan bisa berarti pelengkap bagi yang lain. Siang dengan mataharinya dan malam dengan bulannya saling melengkapi satu sama lain. Begitu pula yang terjadi antara laki-laki dan perempuan, seharusnya. Setidaknya begitu sebelum membaca sebuah literatur yang mengutip perkataan Aristoteles. Bahwa perempuan ialah laki-laki yang tidak sempurna. Sungguh kalimat yang cukup membuat tidur tidak nyenyak, khususnya bagi mereka yang merasa bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama. Pada kasus ini disebut feminis. Continue reading

REALITAS PATRIARKI “KEBABLASAN”

FEBRI IRIDAN


 

Karya sastra tidak jatuh begitu saja dari langit, banyak faktor yang membuat karya sastra itu memiliki nilai estetika tersendiri yang di bangun dan di buat oleh penulis nya, salah satu faktor penting ialah kehidupan masyarakat sekitar yang di alami penulis dan ideologi penulis itu sendiri, sehingga karya sastra yang kali ini berbentuk novel tersebut bukan saja hiburan semata namun memiliki nilai-nilai tersembunyi yang diharapkan sang penulis di pahami secara tersirat oleh pembaca. Continue reading

Tentang Perempuan Di Titik Nol Dan Gadis Pantai

Ria T. R.

 


            Perihal wanita memang tidak akan pernah habisnya untuk dibicarakan, termasuk dalam karya sastra, sama seperti tema cinta karena kedua hal yang berbeda tersebut adalah bagian dari kehidupan. Peranan seorang wanita pada zaman yang modern ini tentu sudah berbeda dengan apa yang dipaparkan oleh Pramudya Ananta Toer penulis novel Gadis Pantai. Kata pengantar novel ini mengatakan bahwa Gadis Pantai adalah bagian pertama dari trilogi yang tidak lengkap. Maksudnya tidak lengkap adalah, dua buku terakhir tidak pernah terbit karena pencekalan oleh pemerintah pada zaman itu. Meskipun begitu novel ini tidak kehilangan keistimewaannya. Continue reading

Penindasan Seorang Perempuan Akibat Kesenjangan Sosial dan Kedudukan Strata Sosial Yang Rendah

Nopriandi Saputra

 


Karya sastra merupakan buah hasil pemikiran dan imajinasi dari seseorang. Salah satu karya sastra yang memakan banyak waktu untuk penyelesaiannya ialah novel. Kebanyakan  pengarang membuat sebuah novel tidak akan selesai pada jangka waktu yang dekat, ada yang mencapai tahunan untuk membuat sebuah novel, bahkan untuk membuat sebuah novel seorang pengarang bisa sampai harus berada ditempat tidak biasa supaya semua pemikiran dan imajinasinya ikut keluar. Salah satunya ialah novel yang saya akan bahas ini. Continue reading