PENINDASAN YANG MASIH BERBUDAYA DAN MENJADI SEJARAH: TELAAH SOSIOLOGI NOVEL GADIS PANTAI

Yudha Prasetya

Hubungan karya sastra dengan kebudayaan di masyarakat memiliki keterkaitan yang sangat erat. Karya sastra bisa tercipta karena memandang kebudayaan yang ada atau sebaliknya, kebudayaan tercipta dari karya sastra. Meskipun terlihat dipaksakan tapi kenyataannya begitu adanya. Seperti karya sastra yang akan dibahas kali ini, yaitu Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini “merekam” kebudayaan masyarakat Indonesia pada zaman sebelum millenial. Pada saat itu kebudayaan masih kental dengan budaya feodal. Selain menggambarkan budaya feodal, Pram juga menyentil sikap para priyayi yang bertindak semena-mena terhadap kaum miskin.

Pram memang terkenal dengan tetralogi Buru miliknya. Tapi beberapa karyanya juga tak bisa dibiarkan begitu saja. Novel Gadis Pantai juga Continue reading

Advertisements

KENAPA WANITA HARUS TERTINDAS?: NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL KARYA NAWAL EL-SAADAWIDAN DAN NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

 Arry D. P

Ibu, ibu dan ibu. Derajat ibu tiga kali lebih tinggi daripada ayah. Yah, begitulah ajaran agama yang seringkali kita dengar. Sudah semestinya wanita dihormati sudah seharusnya wanita disegani sudah selazimnya pula wanita dinomor satukan walau terkadang wanita berubah seperti monster di film ultramen serta menjelma seperti kecoa terbang yang menjijikkan dan menyebalkan bak dosen yang tidak hadir kala kelas pagi sudah tiba. Hm, wanita yang seharusnya wanita ternyata tidak akan kita jumpai di dalam novel Perempuan Di Titik Nol Karya  Nawal El-Saadawidan novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer sebab wanita yang ada di dalam novel yang akan kita singgung ini tidak lebih layak dibandingkan dengan roti Sari Roti yang sudah dibuang ke tempat sampah(yang masih dibungkus dengan plastik).

Continue reading

Sedikit) Isu Feminisme dalam Gadis Pantai dan Perempuan di Titik Nol

 Doni Ahmadi


Ada beberapa hal yang yang menarik dari dua karya sastra –dengan latar belakang pengarang yang berbeda dan cukup jauh. Yakni, Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, dan Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi. Tentang bagimanana pengarang memberikan fokus kepada “Perempuan” yang menjadi tokoh utama dengan pelbagai hal. Continue reading

Wujud Absurd Keadilan Bagi Perempuan

Reza Deni


Sejarah mencatat terlalu banyak lelaki hebat yang tumpas karena gagal menjinakkan perempuan. John Dillinger dan Arthur Schopenhauer, contohnya.

Kalimat itu saya tukil dari sebuah cerpen milik Dea Anugrah yang berjudul “Sebuah Kisah Sedih, Gempa Waktu dan Omng Kosong yang Harus Ada”. Kalimat itu tentu mempunyai definisi, salah satunya dan secara gamblang, bahwa perempuan merupakan sesuatu yang liar, ganas, dan sulit sekali dikendalikan. Di balik negasi dari sifat maskulin, ternyata perempuan juga memiliki kengerian yang tersembunyi. Continue reading

Patriarki Sebagai Sumber Penindasan

Dhika Anggoro Satrio

 


Lemahnya sosok wanita secara fisik jika dibandingkan dengan laki-laki merupakan salah satu dari berbagai alasan ter-realisasikannya ideologi patriarki dalam masyarakat. Laki-laki lebih dipercaya untuk memimipin, baik itu di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Kultur patriarki ini secara turun-temurun membentuk perbedaan perilaku, status, dan otoritas antara laki-laki dan perempuan di masyarakat yang kemudian menjadi hirarki gender. Continue reading

SATU SUARA DALAM DUA PENYAMPAIAN YANG BERBEDA

Muhammad Putera Sukindar


Membaca novel Gadis Pantai karya Pramodya Ananta Toer dan Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi, sama halnya seperti mendengar curhatan dari dua orang perempuan mengenai permasalahan yang sama, namun hanya saja, perbedaan cara keduanya bercerita membuat saya betah berlama-lama untuk mendengarkannya; yaitu permasalah masyarakat patriarkis dalam dimensi ruang dan waktu pada masing-masing cerita. Continue reading

Antara Tradisi dan Modernitas

Faisal Fathur


Sejarah mestinya membuat orang belajar bahwa setiap zaman pasti memiliki tantangan yang berbeda. Dalam konteks marxisme, Karl Marx mengajarkannya secara tidak langsung melalui historisme-materialis. Dalam sepak bola, sejarah berevolusi menjadi rangkaian statistik yang mampu ditinjau setiap timnya. Pun di banyak hal lain, yang sekadar menunjukkan bahwa dari hari ke hari setiap peristiwa baru bisa saja muncul untuk menegasi peristiwa sebelumnya. Berangkat dari hal tersebut, saya coba memahami perbedaan antara cerita Gadis Pantai karangan Pramoedya Ananta Toer dan Perempuan di Titik Nol karangan Nawal el-Saadawi yang bertolak dari perbedaan landasan peristiwa yang dihadirkan.

Continue reading