Penghargaan Kesusastraan: Fenomena di Luar Teks

Reza Deni Saputra

/1/

Kegiatan menulis (dalam hal ini adalah produk karya sastra) merupakan kegiatan yang menurut Julio Cortazar, adalah kegiatan anarkis. Maksud dari pernyataan tersebut kurang lebih, bahwa menulis tidak memerlukan kiat-kiat, bagan-bagan, kerangka-kerangka, sub-sub, dan aspek-aspek pendukung lainnya. Pada intinya, menulis tidak memerlukan formula semacam itu. Dan dari sana, tulisan yang akan muncul bisa menjadi lebih kaya, tak hanya dari segi tema tulisan yang menjadi masalah utamanya, tetapi juga dari aspek bentuk dan gaya. Namun pernyataan dari Cortazar di atas belum tentu sepenuhnya benar, sebab tulisan yang sudah jadi, akan turun ke tangan para pembaca, dan pada akhirnya, para pembaca-lah yang bakal menentukan, apakah tulisan yang mereka baca pantas disebut sebuah tulisan—entah itu novel, esai, puisi—atau hanya sekadar racauan dan igauan dari seorang yang tengah mabuk dan kebetulan saja ia menulis sesuatu.

Paragraf di atas saya dapatkan setelah membaca salah satu cerpen (meski sebenarnya secara bentuk, menurut saya itu bukanlah cerpen pada umumnya) dari Roberto Bolano. Judulnya Kartu Dansa. Setelah membaca cerpen tersebut, yang saya lakukan setelahnya adalah menarik napas dalam-dalam, memejamkan kedua mata, dan kemudian menenggak air putih dalam gelas berukuran cukup besar. Rasanya sangat melelahkan! Bahkan jika boleh membandingkan, Kitab Lupa dan Gelak Tawa milik Milan Kundera, yang saya simpulkan sebagai novel yang tidak konvensional dan juga melelahkan, justru lebih konvensional ketimbang Kartu Dansa milik Bolano.

/2/

Ya, kesusastraan, apapun spesifikasi dari definisi tersebut, akan bermuara pada kata “subjektifitas”.  Itu pandangan yang saya tukil dari Radhar Panca Dhana. Akan tetapi, entah mengamini atau menyetujui secara pribadi, saya tidak akan mengira dan hanya memiliki sedikit kecurigaan, bahwa definisi dan lanskap kesusastraan makin sekarang ternyata memiliki batas-batas yang semakin bias. Saya tidak mengetahui Roberto Bolano dari penghargaan yang ia terima; saya mengetahuinya sebab ia memiliki semestanya sendiri, seperti yang ditulis oleh Martin Suryajaya dalam salah satu portal berita daring, yang berjudul Marxisme dalam Semesta Roberto Bolano. Kemudian saya lantas membanding-bandingkan Bolano dengan para raksasa pengarang lainnya (terutama dari Amerika Latin) seperti  Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, Albert Camus, Ernest Hemmingway, George Orwell, Carlo Maria Dominguez, dan seterusnya dan seterusnya.

Dari sana perspektif saya semakin mengerucut, bahwa sebuah kesusastraan, akan selamanya berkubang pada ranah subjektifitas, perspektif, atau bahkan selera. Sebagai contoh, tahun lalu, Akademi Swedia membuat keputusan (yang cukup menggelikan) ketika memberikan penghargaan Nobel Sastra kepada seorang musikus lawas: Bob Dylan. Tanggapan bermunculan; yang setuju penghargaan tersebut diberikan dan yang mengkritik pun jumlahnya sama-sama banyak. Apalagi ketika Bob Dylan menolak untuk menerima penghargaan tersebut, hal yang selanjutnya terjadi adalah sebuah kutub antara kekeruhan dan sebuah keputusan yang brilan.

Berbagai macam kajian terkait lirik-lirik lagu milik Bob Dylan kemudian dibedah, seperti membedah sebuah puisi atau sajak. Tirto.id, salah satu portal berita daring, juga berusaha mengkaji (baca: mempertanyakan) karya-karya milik Bob Dylan. Dea Anugrah selaku penulis Tirto.id, melakukan semacam perbandingan yang dilakukan dengan menggunakan konsep dari Simon Armitage. Penulis puisi dan professor di Oxford University itu menulis, “Penulis lagu bukan penyair dan lagu bukan puisi. Atau, tepatnya, lagu seringkali merupakan puisi jelek. Singkirkan musiknya dan yang tersisa hanya karangan kikuk penuh silabel yang menggumpal, rima norak, klise aus, dan metafora yang kacau-balau.”

Tanpa musik, seperti kata Armitage, lirik lagu cuma puisi yang buruk. Dan puisi yang buruk tak semestinya mengantarkan penulisnya meraih Nobel Sastra. Mungkin Dylan mengabaikan Akademi Swedia karena ia memahami hal tersebut. Tapi, mungkin juga ia cuma menganggap mereka merepotkan.

Saya juga mengalaminya, mengerjakannya, membuat semacam pandangan saya terhadap karya-karya milik musisi yang terkenal sebagai musisi anti perang tersebut. Sekali waktu, saya pernah bertanya; sebenarnya apa yang tengah di pikirkan Akademi Swedia, saat memutuskan Bob Dylan sebagai pemenang, mengalahkan nama-nama tenar macam Haruki Murakami, atau Phillip Roth? Jawaban yang saya ingat dari teman saya adalah bukan karya yang membuat Bob Dylan meraih Nobel, tetapi bagaimana lirik-lirik tersebut berpengaruh besar terhadap kondisi dunia, yang pada abad dua puluh, penuh dengan pertumpahan darah dan angkat senjata.

Saya tidak membantah jawaban tersebut. Saya diam saja. Namun di kepala saya, pertanyaan lainnya pun bermunculan. Salah satunya adalah, berarti sastra yang monumental adalah sastra yang berpengaruh? Berarti kalau begitu, asalkan terjun dalam bidang kesenian yang menggunakan bahasa sebagai  media, lalu kemudian ada dampak dari apa yang dilakuannya, institusi macam Akademi Swedia itu mungkin akan melakukan hal yang sama tahun depan, atau beberapa tahun kemudian? Dan jika begitu jadinya, siapa sebenarnya yang melahirkan kesusastraan ?

Pertanyaan itu terasa mengambang dan absurd memang. Namun melihat kondisi kesusastraan pada zaman sekarang ini, yang menurut saya juga absurd dan mengambang, terlebih saat pengumuman Nobel tahun lalu, tampaknya kacamata saya dalam melihat bentuk kesuastraan semakin mengabur, dan pertanyaan-pertanyaan itu pun menurut saya cukup masuk akal. Dalam arti yang lebih ekstrem, sebuah karya sastra yang bagus, yang monumental, yang komprehensif (saya ragu dengan istilah ini sebenarnya), yang layak dibaca dan direnungkan di dalam kamar-kamar sepi dan pengap, adalah kesusastraan yang menerima penghargaan, atau karya sastra yang berpengaruh, atau yang paling banter, karya sastra yang dilabeli dengan cap “Best Seller”. Kesusastraan macam itu, menurut kacamata saya yang semakin buram ini, akan sangat mencerahkan dan membuat siapa saja yang membacanya mampu melakukan kebaikan-kebaikan yang diperintahkan oleh Sang Maha.

Saya sebenarnya tidak begitu banyak menyelami karya-karya yang mendapatkan penghargaan macam Nobel, atau Man Booker Prize, atau Pulitzer, atau Sea Write, atau Khatulistiwa Literary Award, atau bahkan yang sempit regionalnya: Sayembara Menulis Novel, atau Sayembara Manuskrip Puisi, yang diadakan Dewan Kesenian di wilayah di Indonesia, terutama yang ada di Jakarta. Saya bukannya tidak menginginkan perspektif saya, atau selera saya, ditentukan oleh klaim-klaim dari sebuah institusi semacam itu. Bukan! Alasan saya yang paling personal adalah, penghargaan-penghargaan tersebut, rasanya tak lepas dari unsur-unsur politik yang menurut saya, seperti ketoprak dihidangkan bukan dengan bumbu kacang, tetapi dengan tahi kucing.

Dalam konteks kesuasastraan Indonesia, saya masih ingat waktu itu, pada tahun 2012, yang memenangkan Khatulistiwa Literary Award kategori prosa adalah Maryam; sebuah novel buah karya Okky Madasari. Saya adalah pembaca yang terhitung telat dalam membaca Maryam, sebab saya membaca Pasung Jiwa terlebih dahulu; bukunya yang terbit beberapa tahun setelah Maryam. Kemudian setelah membaca Maryam, yang disampulnya sudah diberi label oleh penerbit sebagai pemenang KLA 2012, saya merasa (ini tafsir permukaan saya) bahwa novel yang menceritakan konflik Ahmadiyah di daerah Lombok ini tidak begitu pantas untuk didapuk menjadi pemenang KLA.

Secara singkat saja (dan juga subjektif), saya melihat apa yang terjadi dalam teks Maryam, tidak sebesar ekspektasi saya, yang pada mulanya tergambar bahwa konflik Ahmadiyah dalam teks sastra hadir dengan penuh potensi. Halaman per halamannya hanya bertutur sekitar kehidupan Maryam; bagaimana gejolak yang dihadapinya saat hendak menikahi seseorang yang bukan seiman, lalu bagaimana perilaku masyarakat sekitar saat mengetahui bahwa keyakinan macam itu adalah sesat, dan lain-lainnya. Kesimpulan sementara saya saat itu; saya seperti membaca teks picisan dengan latar dan suasana yang tengah menjadi pemberitaan atau tajuk utama.

Sebenarnya tak hanya Maryam yang menurut saya tidak pantas menjadi pemenang KLA tahun 2012. Sebenarnya masih ada lagi beberapa karya dari para babon di ranah prosa, yang entah bagaimana, saya merasa bahwa karya mereka dan identitas tambahannya yang memenangkan penghargaan di bidang ini dan itu, agak sedikit melenceng dari perspketif saya. Pandangan awal saya adalah mencoba huznuzon, semacam menghibur diri; barangkali saya yang tidak mampu menjangkau pemikiran dalam teks tersebut. Namun pandangan setelahnya adalah lagi-lagi, bahwa ada sesuatu yang bermain di area ini, dan itu sudah menjadi barang umum.

/3/

Politik, sepengetahuan saya, bisa didefinisikan menggunakan metafora, sebab politik tidak hanya sekadar makna secara etimologi, terminologi, atau makna leksikal. Politik merupakan perwujudan dari sesuatu yang abstrak. Dalam kesusastraan, hadirnya politik tentu bisa dikaitkan dengan berbagai macam titik atau slot. Dalam hal ini, definisi sastra tidak lagi merujuk kepada apa itu sastra, tetapi hal-hal di luar teks. Saya tidak mengatakan kalau kesusastraan mengalami degradasi makna. Namun saya melihat, jika dikaitkan dengan politik, posisi kesusastraan itu sendiri menjadi minor. Artinya, objek dan fokusnya bukan lagi ke persoalan—mengambil paham M.H. Abrams—teks, penulis, pembaca, dan kenyataan yang direka. Politik dan sastra justru akan keluar dari jalur itu, merambat ke jalur-jalur seperti penghargaan dan label mengenai buku mana yang bagus, pengarang macam apa yang mampu diberikan penghargaan berkat kinerjanya.

Saya memaklumi jika kesusastraan tidak bisa lepas dari politik, dan bahkan, segala aspek kehidupan juga tidak akan lepas dari yang namanya politik. Orang menyebarkan agama, menurut saya di sana juga ada politik. Orang berdagang, tentu tak hanya meraih keuntungan, tapi juga berpolitik. Dan jika boleh menggeneralisasi, segala aktivitas manusia, bisa jadi merupakan sebuah politik itu sendiri.

Kembali lagi ke persoalan politik dan kesusastraan, saya rasa yang paling menonjol sisi politik dalam ranah ini adalah munculnya penghargaan-penghargaan sastra dari berbagai institusi. Pemakluman saya terhadap fenomena ini barangkali lebih kepada bagaimana seorang penulis, atau sebuah teks sastra atau karya sastra, pantas dihargai. Namun, proses pemberian penghargaan itulah yang menuai banyak pro dan kontra. Dalam hal ini, perspektif dan subjektifitas lembaga, dengan perspektif, subjektifitas, dan selera pembaca yang beraneka ragam, tentu tidak bisa dilebur satu sama lain.

Sebagai seorang pembaca teks sastra dalam bahasa ibu, yakni bahasa Indonesia, saya cukup antusias ketika nama Eka Kurniawan, lewat novelnya: Lelaki Harimau, masuk nominasi penghargaan Man Booker Prize tahun lalu. Penghargaan tersebut merupakan salah satu penghargaan yang cukup besar dalam skala sastra dunia. Bahkan banyak yang menulis, bahwa Man Booker Prize berada satu level di bawah Nobel Sastra. Tentu ini menjadi semacam batu loncatan untuk kesusastraan Indonesia, dimana hanya nama Pramoedya Ananta Toer, yang dikenal luas sebagai penulis mashyur yang dikenal luas dunia global.

Lelaki Harimau, sebagai salah satu novel yang mewaikili Eka dalam Man Booker Prize,  merupakan salah satu dari dua novel Eka yang sukses (Cantik Itu Luka), tak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Ini berarti, proses penyaringan dari pihak penyelenggara benar-benar menyeluruh. Mereka melihat Indonesia juga bagian dari sastra dunia; mereka berpendapat bahwa kawasan Asia Tenggara juga ikut andil dalam dinamika kesusastraan dunia; produk-produk sastra yang dihasilkan barangkali tak bisa dianggap sebelah mata. Meski pada akhirnya nama Eka musti tanggal di enam besar, saya tidak begitu kecewa dan harus mengepalkan tangan lalu meninju siapapun yang lewat di depan jalanan rumah saya. Lagi-lagi, meski saya belum membaca novel dari para pesaing Eka, saya melihat subjektifitas hadir dan bekerja sebagaimana mestinya.

Maka begitulah, apa yang menarik dalam teks sastra, sama halnya dengan apa yang terjadi di luarnya. Jika sastra hanya rekaan, jika Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan hanya mengambil bentuk dari Kematian yang Sudah Diramalkan milik Gabriel Garcia Marquez, penghargaan dan politik (barangkali) merupakan sandiwara. Itu dilakukan sebab siapapun butuh hiburan, dan sandiwara merupakan hiburan, meski kita tidak tahu apakah yang bukan sandiwara adalah hiburan juga.

Representasi Dominasi Matrineal dalam Novel Sang Guru Piano

Oleh: Muhamad Rifqi

Kalau kita berbicara tentang kaerya sastra tak akan ada habisnya tiap tahun ada saja k taarya sastra yang lahir. Namun kita tak boleh melupakan sastra kanon yang menyajikan beragam konflik yang bisa dijadikan bahan oleh kita  perenungan bagi kehidupan sehari-hari.

Setelah edisi sebelumnya kia  membahas karya  Pramudya Ananta Tour yaitu Gadis pantai yang menceritakan kisah pilu seorang gadis pantai yang harus dipaksa menikah dengan Bendoro dan mengalami penyiksaan lahir batin dari Bendoro dan pembantunya.

Lalu kita sudah membahas karya Nawal El Sadawy Perempuan Titik Nol yang bercerita tentang perempuan mesir  yang sedari kecil mengalami pelecehan dari pamannya dan tak hanya itu, ia juga tak mendapat pendidikan yang layak hingga akhirnya dinikahkan dengan lelaki tua dan tidak bahagia sampai akhirnya, ia kabur dan karena ia dipaksa memberikan kenikmatan sesaat hingga akhirnya ia menjadi wanita penghibur yang sukses.

Lalu,  kita juga diajak berpetualang ditengah laut lewat karya Ernest Hemingway Lelaki Tua  Dan laut yang menceritakan tentang perjuangan seorang nelayan yang  bernama Santiago yang mengalami krisis kepercayaan diri karena tidak bisa menangkap ikan dalam beberapa hari.

Sebelum kita membahas analisis strukturail novel Sang Guru Piano, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu pengarang Sang Guru piano Elfride Jelinek.

Dikutip dari wikipedia Elfride Jelinek lahir di Stelmark Austria 20 Oktober 1946 adalah seorang pemenang hadiah nobel sastra tahun 2004 . Ibunya Olga Buchner/Olga Jelinek bekerja sebagai menejer personel di sebuah perusahaan, sedangkan ayahnya Fredrich Jelinek adalah seorang kimiawan. Dia juga belajar di TK  Katolik dan sebuah biara yang terlalu banyak aturan yang membatasinya. Dalam Novel ini Elfride Jelinek jelinek mencoba mengkritik kapitalisme dalam novelnya.

Sinopsis:

Sang guru piano bercerita tentang seorang yang bernama Erika gadis asal Wina Austria ia adalah seorang guru di sebuah tempat les piano ia adalah seorang pemain piano yang gagal dalam konser namun, di dalam kesehariannya ia sangat takut sekali dengan ibunya segala sesuatu tentangnya diatur oleh ibunya mulai dari cara berpakaian, jadwal manggung bahkan, ketika dia mulai dekat dengan  seorang pria ibunya pun nampaknya tidak menyukainya hingga akhirnya ia tertekan dan tak hanya itu ia juga kadang-kadang ia di ajak ke  komunitas para penjaja cinta di kolong jembatan

Dan dari sklumit kisah ini bisa merepresentasikan kehidupan ibu seorang orang tua tunggal. Yang bersifat protektif nah, tokoh Erika kofet mengalami itu ketika ia harus menerima kenyataan memiliki seorang ibu memiliki kecendrungan protektif dengan dalih ingin melindungi putrinya, namun pada kenyataannya malah membuat tekanan batin yang diderita oleh  Erica

Tekanan batin itupun bergejolak, sampai-sampai membuat dirinya mempunyai gairah yang luar biasa dengan melakukan perbuatan terlarang pada anak-anak  di bawah umur .bukan hanya itu ia juga membalas dendam pada ibunya dengan menyayat nya tak hanya itu iya juga teriris tak hanya itu bajunya sampai baju nya sobek dan ditusuk oleh walter Klamer.

Hubungan Tren Pemikiran Global dan Penciptaan Karya Sastra di Indonesia

Dhika Anggoro Satrio 

Karya sastra adalah sebuah ruang untuk meletakkan sebagian realitas kemanusiaan penulis. Ruang itu sendiri bukan alat dan akan berubah menjadi alat ketika terjadi pemaknaan sedangkan pemaknaan itu sendiri tidak berada di tangan penulis melainkan pembaca, entah itu pembaca secara individu, kelompok maupun penguasa. Sebagai sebuah wadah atas gagasan-gagasan yang memang harus dikomunikasikan dan dibagikan pada manusia yang lain, ideologi membutuhkan sebuah media dalam melakukan proses komunikasi ini, sastra salah satunya dan dari sinilah kemudian ruang berubah menjadi alat karena sastra dipahami sebagai praksis dan bukan ontologis sebagaimana terjadi pada sastra yang beraliran Marxisme, yang secara tradisi berbicara mengenai bagaimana kebudayaan tersusun hingga mampu membawa kelompok tertentu memiliki kontrol yang maksimal dengan potensi konflik minimal. Ideologi ini sendiri tidak bermaksud untuk menekan kelompok lain (meskipun potensi itu ada) melainkan lebih kepada persoalan bagaimana institusi yang dominan dalam masyarakat mampu bekerja melalui nilai-nilai, konsepsi dunia dan sistem simbol dalam rangka melegitimasi kekuasaan.

Dalam konteks kesusastraan Indonesia, ideologi dalam sastra seharusnya memiliki makna bagi kepentingan sastra Indonesia dengan tujuan akhir menempatkan manusia Indonesia sebagai objek sekaligus subjek sastra dalam rangka memaknai zaman. Sebagai contoh, bagaimana ideologi diajarkan dalam sastra dan bagaimana menghadapi beragam pemikiran dalam dunia global yang bergerak dengan begitu cepat. Pengalaman dan kesejarahan sosial, politik dan sastra bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa lain, sehingga pengajaran dan pemaknaan sastra juga harus berbeda termasuk bagaimana relasi sastra dan ideologi. Misalnya, pengalaman Amerika yang kesusastraannnya dimulai dari buku harian serta oleh orang Eropa, tidak bisa dijadikan acuan begitu saja karena banyak perbedaan mendasar yang terjadi dalam kesejarahan sastra kedua bangsa. Di Indonesia ideologi dicomot begitu saja dan dipakai untuk kepentingan pragmatis dengan memperalat sastra, misalnya aliran realisme sosialis ala Maxim Gorky yang sempat menghuni tubuh Lekra dan menghantui lawan-lawan ideologinya. Jagad sastra memang selalu menarik apabila dikaitkan dengan ideologi hingga terjadi polemik terus menerus. Dengan cara semacam ini sastra menjadi berkembang, hanya saja warna dan kualitas polemik itu tidak terlepas dari watak dan ideologi bangsa yang membentuknya, dan memang begitulah realitas yang terjadi dalam sastra.

Tren di Era Posmodern

Di era posmodern, teks adalah bagian dari superstruktur budaya yang merupakan tempat perang kepentingan. Dalam upaya merumuskan suatu perspektif terhadap sastra-sastra dunia ketiga, atau  terhadap bangsa-bangsa yang dibentuk oleh nilai-nilai dan stereotipe-stereotipe suatu kebudayaan dunia pertama, Melani Budianta dalam artikelnya yang berjudul Representasi Kaum Pinggiran dan Kapitalisme mengutip perkataan Fredric Jameson berikut ini:

Tak satupun budaya-budaya (Dunia Ketiga) dapat dianggap sebagai otonom atau independen secara antropologis. Sebaliknya, mereka justru, dengan caranya sendiri, berada dalam perjuangan hidup dan mati berhadapan dengan imperialisme budaya Dunia Pertama – sebuah perjuangan budaya yang merupakan cerminan hal yang sama dalam bidang ekonomi, yakni perjuangan melawan penetrasi modal, atau secara eufimistis disebut modernisasi.

Dengan demikian, menurut Jameson dalam Third World Literature in the Era of Multinational Capitalism, negara-negara berkembang terjebak dalam konsepsi imperialisme budaya dunia pertama. Jameson berpendapat bahwa bahasa halus atau eufimisme dari imperialisme tersebut adalah ideologi kapitalisme atau paham modern yang dibawa oleh negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Singkat kata, negara Dunia Ketiga telah sangat bergantung pada negara Dunia Pertama.

Kapitalisme, sebuah tren ekonomi yang telah diperkenalkan dalam berbagai tahapannya ke wilayah-wilayah yang pernah mengalami penjajahan merupakan sebuah kekuatan penting yang harus dihadapi dunia ketiga, sejak awal masa kolonial sampai datangnya kapitalisme global. Novel-novel yang lahir dai negara Dunia Ketiga menunjukkan ekspresi budaya kapitalis. Dengan demikian, sastra dalam dunia ketiga tidak bisa dipisahkan dari kaitannya dengan kolonialisme dan kapitalisme (Budianta, 2000:304)

Jameson selanjutnya menyebutkan dua sistem ekonomi atau mode produksi kapitalis dalam masyarakat Dunia Ketiga, yaitu masyarakat adat dan mode Asiatik. Contoh simbiosis antara modal dan masyarakat adat adalah masyarakat dan budaya Afrika yang pernah menjadi objek penjajahan pada tahun 1980-an. Sementara itu, kehidupan pada masa kerajaan di Cina dan India menjadi contoh tentang bagaimana kapitalisme mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya (Jameson, 1986: 69).

Literatur yang muncul di negara dunia ketiga bersifat alegoris dan figuratif (Jameson, 1986: 69). Dalam novel-novel yang ditulis di masa itu, ada pembagian yang tegas antara ruang privat dan ruang publik, puitis dan politis, wilayah seksual dan ketidaksadaran, atau dengan kata lain: ada pergulatan antara pemikiran Freud versus pemikiran Marx. Banyak karya sastra di negara dunia ketiga yang merepresentasikan situasi sosial politik pada zamannya. Stendhal mengatakan bahwa politik dalam novel-novel yang lahir di era kapitalisme lanjut.

Dengan demikian, individu atau tokoh yang digambarkan dalam teks adalah representasi masyarakat dan budaya dunia ketiga. Akibat dari adanya kondisi sosial-ekonomi yang terjadi, karya sastra di belahan Dunia Ketiga muncul sebagai karya transgresif atau dianggap melampaui atau melanggar norma-norma tempat karya tersebut dibuat. Melihat hal ini, Jameson memaparkan konsep mengenai political unconsciousness, yaitu suatu strategi pembacaan Marxis yang mengungkap sejarah dalam sebuah teks. Sejarah yang dimaksud di sini adalah perjuangan kelas dan evolusi ekonomi masyarakat. Meminjam konsep Freud, sejarah berada pada tingkat tak sadar atau tingkat laten teks. Ini berarti konten luar teks—cerita, tokoh, dan lain-lain—merupakan gejala atau ekspresi simbolik dari konten laten teks atau sejarah.

Dalam konteks Indonesia, dikenal karya Aman Dt Madjoindo berjudul Tjerita Boedjang Bingoeng (1936) yang menolak sistem pertukaran uang dan menyandingkannya dengan karya Madjoindo yang populer, Si Doel Anak Betawi (1940-an) yang menunjukkan posisi yang berbeda terhadap uang dan pasar. Beberapa versi audiovisual Si Doel yang muncul kemudian adalah dua film Sjuman Djaja, Si Doel Anak Betawi (1972) dan Si Doel Anak Modern (1976) serta serial Rano Karno Si Doel Anak Sekolahan (1990-an).

Karya ini berkisah tentang seorang lelaki yang hidup di antara kultur Betawi yang kental dan kondisi Jakarta yang modern. Doel adalah representasi lelaki dalam negara Dunia Ketiga yang berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Ia harus bersekolah tinggi, bekerja, dan masuk dalam persaingan pasar walaupun berasal dari pinggiran Jakarta. Lewat kritik sastra dunia ketiga, dapat dilihat bagaimana dunia yang terpinggirkan mengalami evolusi kulturnya masing-masing.

Dari pemaparan di atas dapat dilihat bahwa karya-karya sastra yang lahir di negara Dunia ketiga merepresentasikan kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan politik pada zamannya. Di era posmodern, novel-novel atau film yang lahir merupakan ekspresi atas pengaruh kapitalisme lanjut. Gejala dominasi budaya dalam posmodernisme bukan sekedar fenomena perubahan style atau fashion belaka, melainkan juga fenomena sejarah. Jameson hendak mengungkapkan hubungan antara estetika atau transformasi sosial simbolik dalam ruang kebudayaan dengan transformasi historis mode produksi kapitalis.

Tren Karya Sastra Mutakhir

Ada nuansa pencarian yang sangat intens di kalangan sastra muda Indonesia. Fenomena yang lebih spesifik berasal dari bangkitnya apa yang disebut sebagai sastrawangi, sebut saja sebagai perayaan sastra perempuan. Sebutlah misalnya Ayu Utami dengan Saman-nya yang pertama kali mendobrak dominasi karya sastra kaum tua dan laki-laki. Saman disebut sebagai karya sastra yang menyuguhkan berbagai temuan baru dalam sastra Indonesia mutakhir, Sapardi Djoko Damono menyimpulkan tehnik komposisi novel ini belum pernah dicoba di Indonesia bahkan di negeri-negeri lain, dan sebagainya. Setelah Ayu Utami, berturut-turut sastrawangi dan kaum muda menghiasi hampir semua perdebatan sastra mutakhir.

Ode untuk Leovold Sacher Masoch karya Dinar Rahayu juga kemudian muncul sebagai karya mutakhir yang banyak diperdebatkan. Selain Saman, karya ini juga disebut-sebut mengawali bangkitnya kecenderungan seni prosa aliran surealisme. Berikutnya adalah sebuah karya monumental yang berusaha merangkum segala capaian berbagai segi sastra prosa dunia, Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Cantik Itu Luka pertama kali mengejutkan karena ketebalannya yang luar biasa (mengalahkan Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer). Karya ini juga merangkum eksplorasi cerita yang rumit dengan puncak-puncak konflik yang sangat banyak, mengingatkan pada karya sastra Nobel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez yang juga menitiktekankan pada konflik yang sangat banyak, sehingga pembaca seakan diajak menyelam ke dalam labirin fenomena kehidupan manusia yang tanpa batas.

Eka Kurniawan tidak hanya menekankankan pada cerita, tapi juga berhasil mengeksplorasi kata dan pengungkapan. Tak ayal, Eka juga didaulat untuk duduk bersama dengan para pendatang baru yang menandai pergeseran dan perubahan corak sastra Indonesia Mutakhir. Dan puncak sementara dari perayaan pendatang baru dan sastrawangi tersebut tampak berada di pundak perempuan bernama Nukila Amal. Sejak karya pertamanya, Cala Ibi, diterbitkan, pada awalnya diterbitkan oleh Pena Klasik kemudian sekarang oleh Gramedia, Nukila Amal tak pernah absent dalam perdebatan. Cala Ibi bahkan disebut sebagai puncak karya sastra Indonesia. Ia menjadi puncak karya sastra Indonesia, terutama dalam aliran surealisme.Kemunculan aliran surealisme yang diagungkan di kalangan pendatang baru tersebut bukan tanpa masalah, pelbagai tanggapan dan komentar negatif juga mengiringi perkembangan ini. Belum lagi kebangkitan surealisme sastra Indonesia tersebut berjalan seiringan dengan apa yang dinamakan sebagai prosa puitis. Betapa tidak, kecenderungan baru ini benar-benar telah mengaburkan batas antara puisi dan prosa.

Membaca Cala Ibi, misalnya, seperti membaca sebuah puisi panjang. Di dalamnya banyak lompatan, pemilihan diksinya sangat hati-hati, kejutan terjadi di mana-mana, pembaca bahkan dibuat ekstasi berkali-kali oleh keindahan bahasanya yang luar biasa. Karya ini bahkan banyak mengalahkan karya puisi murni itu sendiri. Dengan demikian, pembaca sastra tidak perlu lagi membaca puisi untuk meraih keindahan bahasa, novel dan karya prosa lainnya telah menyediakan kebutuhan keindahan bahasa seperti itu.Sebetulnya tradisi ini tidak benar-benar baru di Indonesia, sebab jauh sebelum mereka muncul, Iwan Simatupang telah juga menyentakkan dunia sastra Indonesia dengan dua karya monumentalnya, Merahnya Merah dan Ziarah. Kalau mau diurut secara kronologis dan tingkat pencapaian, maka Iwan Simatupang mengawalinya, kemudian berturut-turut Ayu Utami, Dinar Rahayu, Eka Kurniawan, dan berakhir pada Nukila Amal. Perdebatan mutakhir ini tidak berhenti pada perdebatan prosa puitis, sastrawangi, dan surrealisme, tapi juga merambah jauh ke dalam relung kultur masyarakat berbudaya Indonesia. Tudingan perayaan kebebasan yang kebablasan kemudian mengikuti prestasi gemilang ini.

Tak bisa dipungkiri, bahwa di samping para pegiat sastra tersebut mengeksplorasi segala hal baru dalam sebuah karya sastra, mereka juga menggunakan media-media baru. Eksplorasi seks kemudian menjadi trend yang juga banyak diminati. Seks pada akhirnya menjadi daya penarik tersendiri yang tidak hanya dieksplor oleh para sastrawan pretisius tersebut, tapi juga oleh para sastrawan muda lain pada umumnya. Dan anehnya, eksplorasi seks dalam sastra itu justru berasal dari para sastrawangi, seperti Ayu Utami, Dinar Rahayu, dan Djenar Maesa Ayu. Tudingan eksplorasi seks bagi sastrawan kaum prestisius ternyata tidak berhenti sampai di situ. Dari eksplorasi seks berlanjut kepada tudingan penetrasi kapitalisme ke dalam dunia sastra. Seks muncul sebagai tema, semata-mata karena tema itu laku di pasaran. Tudingan ini sebetulnya bukan tanpa alasan.

Pembaca sastra begitu mudah mendapati beberapa karya sastra yang menggunakan judul-judul fulgar: Jangan Main-Main dengan Kelaminmu dan Menyusu Ayah (Djenar Maesa Ayu), Payudara (Chavchay Saefullah), dan seterusnya. Pertanyaan tentang kenapa pengarang memilih judul-judul di atas bisa dijawab dengan mudah, karena judul-judul itu lagi tren, yang artinya lagi marak di pasaran. Kalaupun memang sastrawan-sastrawan kita sedang melakukan pemberontakan terhadap kungkungan budaya dan agama, maka pilihan judul tentu tidak mesti fulgar sefulgar isinya: contoh novel Dinar Rahayu dan Ayu Utami. Persoalannya kemudian bukanlah apakah kefulgaran itu salah atau benar, yang nyata adalah para pengarang karya sastra kita memang tidak mungkin melepaskan dimensi pasar dalam pembuatan karya sastra mereka. Selalu ada unsur kapitalisme dalam karya sastra, karena karya sastra harus dipasarkan. Itulah sebabnya, di setiap masa, selalu ada kecenderungan karya sastra ke arah model dan tema tertentu. Menuduh sebuah karya sastra sukses karena penetrasi kapitalisme adalah benar, sebab nyatanya semua karya sastra tidak kuasa melepaskan diri darinya. Kendati demikian, tentu publik pembaca karya sastra tidak seragam, bahkan semakin hari semakin beragam. Mungkin pada masa lalu pembaca karya sastra hanyalah mereka yang berpendidikan tinggi dan dari kalangan terbatas. Tapi karena alasan pasar, sangat tidak efektif jika sebuah karya sastra hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Memperluas wilayah pembaca sastra adalah tindakan yang sangat terpuji.

Memasukkan unsur seks mungkin menjadi salah satu pilihan untuk memasyarakatkan karya sastra ke tengah masyarakat yang memang senang dengan pikiran-pikiran mesum. Kalangan remaja akhirnya bisa mendapat tempat dalam membaca sebuah karya sastra. Tapi bukan berarti segmen lama harus ditinggalkan dan beralih ke wilayah yang lain sama-sekali.Suatu ketika masyarakat pembaca sastra sangat tergila-gila dengan karya realis yang menekankan kepada isi dan tema atau plot, maka maraklah karya yang berisi cerita memukau, indah, dan mengharukan. Tapi di ketika yang lain, masyarakat pembaca sastra mulai bosan dengan isi cerita, maka muncullah karya-karya yang menekankan kepada bentuk dan pengungkapan. Saat ini, publik pembaca sastra terbagi dalam begitu banyak varian kecenderungan, karya-kasya sastra yang baik kemudian adalah karya yang bisa menarik minat sebanyak mungkin orang dari berbagai sudut penilaian. Dan karya-karya mutahir dari kaum muda itu menyajikan berbagai pilihan. Saman-nya Ayu Utami mampu memesona pembaca dari sudut ceritanya yang menawan, publik sastra pengagum bentuk juga terpuaskan dengan sajian bahasa, bentuk, dan pengungkapan indah seperti kristal yang belum pernah dicoba, bahkan penganut mazhab pembelaan sastra kepada kaum tertindas juga bisa menjadikan karya Ayu Utami tersebut sebagai instrumen perjuangan. Demikian halnya karya Nukila Amal, Dinar Rahayu, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, Chavchay Saefullah, dan seterusnya, dengan segala keterbatasannya.

BUKU BUKU YANG “MUNGKIN” TERBAIK DI ABAD 21 ?

FEBRI IRDIAN


Dalam berbagai hal kata terbaik atau menjadi yang terbaik , memiliki peran tersendiri , dalam sebuah acara penghargaan, entah itu hanya sebagai bentuk retorika belaka  dan perayaan semu bagi kita yang mengganggapnya skeptis, atau pemenangnya telah di atur bagi kita yang antipati terhadap acara tersebut, namun tidak adil bukan , jika kita tidak melihatnya dari segi yang berlawanan, mungkin saja ada hal positif yang bisa kita dapat , entah itu kita bisa membahas kenapa ia bisa menang, bagaimana, dan mengapa? Continue reading

SASTRA DUNIA, SASTRA NASIONAL DAN SASTRA LOKAL

Arry Dwi Prasetyo


Sastra adalah sebuah karya cipta yang berasal dari dalam pikiran manusia yang dituangkan melalui alat yang bernama bahasa dan disalurkan melalui lisan maupun tulisan. Walaupun sastra sendiri masih belum mempunyai tempat khusus bagi masyarakat luas, kita sebagai manusia tidak bisa lepas dari sastra itu sendiri, dengan kata lain sastra seperti telah menyatu dengan kita. Kita pasti pernah membaca sebuah karya sastra, baik koran, cerpen, novel, puisi bahkan yang lainnya. Dan di dalam alam bawah sadar, kita pasti mempunyai hasrat yang terpendam untuk menciptakan sebuah karya sastra itu sendiri. Continue reading

Hubungan Antara Konsep Sastra Dunia dan Sastra Bandingan Kajian Metode, Dasar Teori, dan Tujuan

 Claudia Putri


Sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari serapan bahasa Sansekerta yang merupakan gabungan dari kata sas dan tra. Kata sas mempunyai arti, yaitu mengarahkan, mengajarkan dan memberi petunjuk. Sedangkan akhiran kata tra, mempunyai arti yang biasanya digunakan untuk menunjukkan alat atau sarana. Sehingga, sastra berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk atau pengajaran, atau juga merujuk kepada kesusastraan atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Continue reading