Tafsiran Permukaan dalam Lirik Lagu Blowin’ In The Wind karya Bob Dylan

Ulya Yurifta, M. Bismo Yudanto, Yudha Prasetya, Putera Sukindar, Ilham Fauzie, dan Reza Deni

(3 SI-S – Kelompok 4)

 


Bl­­­owin in The Wind merupakan lagu karya Bob Dylan. Lagu ini memiliki keunikan yaitu menggambarkan tentang jati diri, harapan, sampai peperangan. Liriknya sangat filosofis dan sarat akan kritikan. Misalnya saja pada lirik:

And how many times must a cannon ball fly,

before they’re forever banned?

 

Lirik ini menyindir tentang peperangan dan masih cocok dengan keadaan pada masa saat ini pula. Perang masih berkecamuk di dunia barat dan lagu ini masih sanggup menggambarkannya.

Tak hanya perang, Continue reading

Tafsiran Permukaan dalam Lirik Lagu The Times They Are A-Changing karya Bob Dylan

Ulya Yurifta, M. Bismo Yudanto, Yudha Prasetya, Putera Sukindar, Ilham Fauzie, dan Reza Deni

(3 SI-S – Kelompok 4)


The Times They Are A-Changin, salah satu lagu yang mengantar Bob Dylan meraih Nobel Sastra 2016 yang sebelumnya paling saya ingat menjadi lagu pembuka film bertema pahlawan super pada era kepemimpinan Presiden Nixon, berjudul Watchmen (2009). Pembukaan lagu ini khas dengan tradisi lagu-lagu rakyat pada umumnya yang memberitahu warganya untuk berkumpul di sekitar dan seakan-akan seperti “Saya akan memberitahu Anda tentang hal-hal indah yang terjadi.” Lagu ini bersudut pandang pemuda-pemuda yang mengumpulkan semua orang, mulai dari orang tua, guru, pekerja media massa sampai politikus. Continue reading

Tafsiran Permukaan dalam Lirik Lagu Make You Feel My Love karya Bob Dylan

Ulya Yurifta, M. Bismo Yudanto, Yudha Prasetya, Putera Sukindar, Ilham Fauzie, dan Reza Deni

(3 SI-S – Kelompok 4)


Kenyataan bahwa sebuah lirik lagu berbeda dengan sebuah larik puisi adalah sesuatu yang kasat mata. Maksudnya, puisi bisa dinikmati tanpa harus ada instrumen-instrumen pendukung semisal vokal yang bagus, atau alat musik yang aduhai jika dimainkan. Puisi bisa melakukan itu tanpa harus memikirkan dua dari sekian banyak instrumen-isntrumen yang telah disebutkan tadi. Berbeda dengan puisi, sebuah lirik lagu akan jatmika, tentu dengan pertimbangan yang bermacam-macam. Pada intinya, puisi bisa berdiri sendiri, sedangkan lirik lagu, belum tentu bisa melakukannya, dan belum tentu juga tidak bisa melakukannya.

Kemudian bagaimana dengan lirik lagu dari Bob Dylan, seorang pemenang nobel sastra tahun ini?  Apakah yang membuat Akademi Swedia memilihnya menjadi seorang sastrawan (atau literawan jika kata literasi sepadan dengan sastra?) yang sejajar dengan penulis-penulis besar dan kanon macam Ernest Hemmingway, Albert Camus, Gabriel Garcia Marquez, hingga Rabindranath Tagore?

Continue reading

BOB DYLAN: DI ANTARA KESENIAN DAN PENGHARGAAN

Agustiana Fazri, Claudia Putri, Faisal Fathur, Muhammad Rifqi,

Ria Tri Rahayu, Wahyu Nurhaeni, dan Ummi Anisa

(3 SI-S – Kelompok 3)


Tak banyak yang menyangka bila pria berusia 75 tahun itu terpilih sebagai penerima Nobel Sastra 2016. Sosoknya berhasil membuat Haruki Murakami, Ngugi wa Thiong’o, dan banyak sastrawan lain harus menunda perayaan atas penghargaan kesusastraan paling bergengsi sedunia itu. Penghargaannya atas Nobel Sastra memunculkan berbagai perbincangan. Banyak yang menentang, namun tak sedikit pula yang coba memahami pilihan Akademi Swedia terhadapnya. Sebab sebagai seniman, sesungguhnya ia lebih dikenal sebagai musisi dibandingkan sastrawan. Robert Allen Zimmerman, atau yang lebih kita kenal sebagai Bob Dylan, adalah seniman di balik perbincangan itu semua.

Bob Dylan lahir di Duluth, Minnesota, pada 24 Mei 1941. Dirinya terlihat mencintai musik sejak SMA, di mana Dylan mempelajari harmonika dan gitar, juga membentuk sebuah band bernama The Golden Cord. Setelah lulus, ia melanjutkan studi kesenian di Universitas Minnesota di Minneapolis. Sejak itu, Dylan mulai bermusik dari satu tempat ke tempat lain. Kadang ia membawakan folk song, kadang juga melantunkan blues. Perlahan namun pasti, dirinya mendapat sambutan positif, salah satunya seperti dikatakan Robert Shelton melalui New York Times. Sambutan positif itu terus berlanjut hingga John Hammond dari Columbia Records datang untuk menemuinya.

Continue reading