KETEGUHAN SEORANG LELAKI TUA : NOVEL LELAKI TUA DAN LAUT KARYA ERNEST HERMINGWAY

Arry D. P

Ada yang bilang memancing itu adalah pekerjaan bodoh. “Beli saja ikannya langsung di pasar” kata ibu – ibu yang suami nya suka mancing di empang H. Roni. Tetapi beda ceritanya bagi seorang pria yang bernama Santiago. Seorang nelayan tua asal Kuba yang hanya berbekal perahu tua, kail pancing dan umpan di tengah laut lepas.
Continue reading

Ernest Hemingway dan Nakhoda Pribadinya

Kevin Ramadhan Bagaskara

2125121480


Lelaki Tua dan Laut sebuah karya klasik yang menjadi tolak ukur perpaduan antara karya sastra lama menjadi sastra populer. Ernest Hemingway namanya. Dia menjadi penulis Amerika yang karya-karyanya telah mendunia. Dari sekian banyak hasil karyanya seperti; A Farewell To Arms(1929), The Sun Also Rises(1926), dan For Whom The Bell Tolls(1940) menjadi masterpiece dimata para pembaca dan kesusastraan. Sebuah Nobel Prize pun ia dapatkan sebagai penghargaan untu karyanya. Karya-karyanya telah diingat dalam fiksi abad 20 sebagai karya yang telah memperkuat keulungan Hemingway di dunia. Continue reading

Lelaki Tua Dan Laut: Singa-Singa, DiMaggio, dan Bunda Maria

Lelaki Tua Dan Laut: Singa-Singa, DiMaggio, dan Bunda Maria

Oleh Dhika Anggoro Satrio

 

Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway adalah kisah di mana Hemingway tampaknya menunjukkan bahwa, setidaknya dalam tatanan alam, manusia dapat menemukan martabat dan keindahan untuk belajar memahami misteri kekuatan manusia.

Santiago (tokoh sentral dalam novel) adalah seorang nelayan tua asal Kuba. Di awal cerita diceritakan, Santiago tidak mendapat ikan sama sekali selama delapan puluh empat hari. Meskipun ia sial dan tua, namun ia penuh keberanian. Dia memiliki jiwa petualang, daya tahan, kekuatan besar dan nelayan yang gigih. Dilatarbelakangi oleh harga dirinya, ia memberanikan diri pergi begitu jauh ke laut untuk mencari Marlin besar. Dan benar saja kali ia berhasil menangkap ikan marlin raksasa yang ditarik perahu selama dua hari dua malam. Tapi dia terpaksa kalah dalam pertempuran melawan hiu yang mengincar marlinnya. Perjuangan Santiago melawan hiu sangat sulit. Perjuangan tampaknya menghancurkan kepercayaan dan keberanian. Tapi meskipun kelelahan dan kekuatan fisik mulai melemah, ia tetap bertahan.

Salah satu sumber kekuatan Santiago bisa bertahan adalah mimpinya tentang singa yang pernah ia lihat di pantai Afrika. Di masa kecilnya ia telah berlayar ke Afrika. Selama tidur, ia bukan memimpikan isterinya yang sudah meninggal, melainkan selalu bermimpi tentang singa-singa. Singa di pantai Afrika itu telah menghantuinya dan menjadi simbol kekuatan untuk nelayan tua itu. Mereka menjadi sumber inspirasi. Singa telah meninggalkan kesan abadi dalam pikirannya. Setiap kali dia pergi tidur dia bermimpi tentang singa. Mimpi singa memenuhi dirinya dengan keberanian dan kepercayaan diri untuk melaut begitu jauh seorang diri.

Sumber lain kekuatan Santiago adalah pemain bisbol terkenal, DiMaggio. Santiago mengidolakan DiMaggio laiknya seorang pahlwan. Dia melihat pahlawan besar sebagai simbol kekuasaan. Dia bangga dengan fakta bahwa ayah DiMaggio adalah seorang nelayan. Selama perjuangan keras melawan marlin raksasa, Santiago ingat bagaimana pahlawannya melakukan segala sesuatu dengan sempurna dalam pertandingan. Dia ingin menjadi laiknya DiMaggio. DiMaggio adalah sumber lain tak berujung dari kekuatan spiritual untuk nelayan tua selama perjuangan dua hari yang melelahkan, ia telah menangkap marlin; pikirnya, DiMaggio akan bangga padanya. Belum lagi setelah Santiagoberhasil membunuh hiu Mako, ia membayangkan bagaimana pahlawannya akan mengagumi kebatannya.

Santiago masih memiliki satu sumber kekuatan spiritual. Yaitu imannya kepada Tuhan, meskipun ia tidak terlalu religius tetapi ia bernazar akan mengucapkan doa 'Bapa Kami' dan 'Salam Maria' sepuluh kali saat menangkap ikan raksasa. Dia berjanji untuk berziarah ke Virgin de Cobre, jika ia menangkap ikan. Dia berdoa, "Terpujilah Maria, Rahmat Tuhan meliputimu. Terpujilah engkau di antara para wanita dan terpujilah rahimmu. Maria, Bunda Yesus yang suci , berkatilah kami para pendosa, sekarang dan saat kami mati, Amin ". Dia membacakan doa ini berkali-kali selama perjuangannya dengan ikan raksasa. Semua sumber-sumber kekuatan dan keberanian didapatkan Santiago untuk menanggung perjuangan keras dan menanggung penderitaan.

Tema kebutuhan manusia akan kekuatan dan keberanian untuk mencapai martabat dan nasib meresapi Lelaki Tua dan Laut. Aktualisasi ini bahkan bisa dilihat di saat-saat ketika Santiago sendiri di laut lepas. Ia menjadikan sesuatu yang tidak ada di dekatnya menjadi sumber kekuatan: makhluk dari dalam mimpi; idolanya yang hanya dilihatnya di koran lama; dan keimanan pada sosok Tuhan. Kehidupan nelayan begitu sederhana, berjuang menghadapi konflik. Tapi ada keanggunan dalam penerimaan terhadap realitas muram dan kebanggaan dalam kemampuan untuk membawa yang terbaik dari apa yang ia perjuangan itu.

Esai kritik : Realitas dalam Lelaki dan Laut – Ernest Hemingway

Esai kritik : Realitas dalam Lelaki dan Laut – Ernest Hemingway

Oleh Naswati

                Berlayar dan mencari ikan, mungkin hanya itu yang kita pikirkan ketika mendengar kata nelayan. Pemaknaan akan nelayan ini juga menjadi pokok utama cerita Lelaki dan laut (Old Men and The Sea) karya Ernest Hemingway. Cerita ini berlatar desa nelayan di Kuba. Seorang nelayan tua bersama Sandiago yang selama 84 hari tidak menemukan hasil tangkapan ikan. Hingga keesokan harinya dia bertekad untuk mendapatkan ikan.

Lelaki dan laut membawa Hemingway mendapatkan penghargaan  nobel sastra pada tahun 1954. Setelah satu tahun sebelumnya mendapatkan hadiah Pulitzer. Hemingway yang merupakan pengarang sekaligus jurnalis ini memiliki pengaruh penting pada perkembangan fiksi abad ke-20.

Kisah dalam cerita ini dimulai ketika selama 84 hari Sandiago tidak mendapat ikan. Manolin, pria muda yang membantu Sandiago ketika dia tidak mendapat ikan. Dia menyanyangi Sandiago yang telah mengajarinya cara untuk berlaut. Namun dia harus menuruti keinginan kedua orang tuanya yang menyuruhnya untuk pergi bersama nelayan muda lainnya.

Sandiago tidak berputus asa. Dia memutuskan untuk melaut dengan memilih tempat yang lebih jauh dari biasanya. Dia tidak sia-sia dia bisa mendapatkan ikan yang sangat besar. Terjadi perlawanan dari sang ikan, akhirnya setelah berhari-hari melawan ikan itu pun kalah. Sandiago harus kembali melawan ikan karena darah ikan besar itu membuat hiu disekitar laut datang.

Sepanjang cerita ini kita akan dibawa pada narasi pikiran Sandiago, kedekatannya dengan Manolin, serta keberaniannya. Interaksinya dengan Manolin menunjukan kisah persahabatan diantara kedua nelayan berbeda generasi itu. Percakapan keduanya yang selalu selalu membicarakan bisbol yang hanya ilusi bagi mereka.

Belum lagi percakapan pikiran mulai dirasakan ketika Sandiago berpikir untuk menaklukan ikan besar. Berkali-kali dia seperti ingin menyerah namun dia menepis pikiran buruk dan berusaha melawan ikan itu. Hingga Sndiago menyakini jika manusia tidak dapat ditaklukan. “Tapi manusia tidak diciptakan untuk di taklukan,” ujarnya. “Manusia dapat dihancurkan tapi tak bisa ditaklukan.”(h.113).

Sisi yang lain yang diperlihatkan Sandiago adalah keberaniaan. Dia tahu jika ikan hiu itu akan menyerang ikan tangkapannya makan dia berusaha melawan dengan perlengkapan yang yang ada dikapalnya. Dia berhasil menghilangkan rasa takutnya dan melawan.

Penggambaran Hemingway pada novel ini begitu baik. Mungkin karena memancing merupakan hal yang disukai oleh Hemingway. Nelayan tua ini menggambarkan realitas nelayan. Tentang nelayan yang mengambil tangkapan ikannya dengan usaha keras.

Hal lain yang didapat dari cerita ini adalah perjuangan nelayan sekaligus integritas dari Sandiago-nelayan tua- akan profesinya. Ada sekelumit kisah lain tentang nelayan yang harus hidup miskin setelah mereka bertahun-tahun menjadi nelayan. Penggambaran gubuk Santiago mewakili jika dia tidak mengalami perubahan apapun selama menjadi nelayan.

Cerita Laut

Cerita Laut

Mia Karnia Sari / 2125142212 / 3 Sastra Indonesia – Sastra

 

Membaca sebuah karya sastra dalam rupa novel fiksi  telah menjadi agenda indah bagi penikmat sastra. Bahkan belakangan sering diketahui bahwa makin banyak orang yang membaca karya sastra sebagai konsumsi wajib. Hal ini semakin memberikan ruang bagi para sastrawan untuk menelurkan karya-karya sastra dalam intensitas yang lebih giat.

Suatu karya sastra baik dari dalam negeri mau pun luar negeri kini mulai memiliki ruang tersendiri di hati para penikmatnya. Novel fiksi misalnya, karya sastra semacam ini selalu menawarkan daya pikat dengan begitu banyak keunikan di dalamnya. Masing-masing novel fiksi menyuguhkan keunikan yang begitu khas, mempersembahkan imajinasi dari penulisnya dengan gaya-gaya yang  aduhai.

Berbicara perihal keunikan pada tiap-tiap karya sastra, novel khususnya membawa saya kembali pada tahun 1954. Di tahun tersebut Ernest Hemingway ialah sastrawan asal Amerika berhasil menyabet Nobel Sastra melalui novel fiksi miliknya yang berjudul The Old Man and The Sea atau Lelaki Tua dan Laut. Ini adalah sebuah novel dengan makna yang mendalam seputar kehidupan.

Dari judulnya saja mampu kita raba bahwa novel karya Hemingway ini berlatar di lautan. Novel ini bercerita tentang Santiago, seorang lelaki yang telah berumur dan bekerja sebagai nelayan. Kehidupannya sebagai nelayan sedang berada pada masa keterpurukan. Selama hampir kurang lebih tiga bulan ia pergi berlayar untuk menangkap ikan. Kesedihan terus membersamai pelayarannya tersebut. Pengorbanan demi memperoleh ikan yang ia inginkan pun dilalui dengan kesungguhan serta tekad yang tak terbantahkan. Hingga ia mendapati mata pancingnya digerakkan oleh seekor ikan marlin berukuran raksasa pada saat itu.

Rupanya pelayaran getir Santiago baru saja dimulai. Marlin raksasa yang telah berhasil diikat pada kapalnya telah diincar lalu dicabik-cabik oleh ikan hiu. Hal ini tentu amat mengusik Santiago hingga ia berhasil memenangkan pertarungan dahsyat dengan ikan hiu demi membawa pulang marlin raksasa hasil tangkapannya. Nasib buruk tak mampu dihindari, marlin raksasa yang diperoleh Santiago tak memiliki wujud utuhnya lagi.

Kutipan cerita Santiago dari laut itu ditulis dengan sederhana namun tak lepas dari makna yang ingin disampaikan oleh Hemingway pada pembacanya. Hemingway begitu sepakat dengan rangkaian kalimat yang langsung menjurus pada inti-inti permasalahan hidup yang ia tuturkan melalui novelnya. Ini merupakan keunikan yang terhimpun dalam Novel Lelaki Tua dan Laut. Keunikan itulah yang mampu membawa para pembaca dalam memaknai suatu proses hidup senyatanya.

 

Perilaku Self Talk sebagai Refleksi terhadap Kehampaan Sosok Lansia dalam Novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway

Nama             : Ummi Anisa

Kelas              : 3 Sastra Indonesia – Sastra

Mata Kuliah  : Sastra Dunia

 

Perilaku Self Talk sebagai Refleksi terhadap Kehampaan Sosok Lansia dalam Novel Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway

 

Manusia terlahir sebagai makhluk sosial dan tidak dapat hidup dalam kesendirian. Segala aktifitas yang dilakukan tentunya akan melibatkan dan menimbulkan rasa ketergantungan terhadap orang lain yang bersangkutan. Ketergantungan dalam arti, di mana individu merasa memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dalam melakukan interaksi di kehidupannya.

 

Merujuk pada judul esai di atas, siapa yang tidak mengenal sosok Ernest Hemingway? Tentunya nama itu sudah tidak asing lagi di telinga para penghuni bumi. Berbagai karyanya mendapat apresiasi yang menyenangkan, termasuk novel The Old Man and the SeaLelaki Tua dan Laut– (1952). Novel ini pernah memenangkan Hadiah Putlizer pada tahun 1953 dan Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Selain itu, novel ini juga telah menjadikan Ernest Hemingway meraih Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1954.

 

Kembali lagi mengenai perilaku self talk, menurut ilmu psikologi self talk merupakan suatu kondisi di mana seseorang melakukan kegiatan berbicara dengan dirinya sendiri. Hal ini dapat terjadi lantaran individu yang bersangkutan tengah diliputi rasa sepi, depresi, ketidakpuasan, kebiasaan di masa lalu, ataupun adanya gangguan psikologis lainnya.

 

Lebih lanjut, perilaku self talk yang ditimbulkan oleh Santiago dalam novel Lelaki Tua dan Laut merupakan refleksi dari rasa sepi dan cemas yang menghinggapinya selama ia bernaung di tengah laut untuk menangkap ikan. Ya, Santiago merupakan tokoh utama di dalam novel tersebut. Kisah perjalanan seorang lelaki tua untuk mendapatkan seekor ikan Marlin raksasa. Selama 87 hari berada di tengah laut, akhirnya seekor ikan Marlin hinggap di kail umpan sardennya. Namun kisahnya tidak sampai disitu, perjuangan membawa ikan Marlin ke rumahnyalah yang mengalami berbagai kendala. Dan selama perjalanannya sejak awal melaut sampai ia menuju ke rumah itulah Santiago mengalami perilaku self talk.

Selanjutnya, perilaku self talk yang dialami oleh Santiago dikarenakan ia hanya pergi melaut sendirian. Perjalanannya hanya ditemani dengan debur ombak laut dan serba-serbi peralatan melaut di dalam perahunya. Selama perjalanan, ia selalu berbicara sendiri dan berharap agar Manolin –anak lelaki didekat rumahnya– ikut serta dalam perjalanannya tersebut. Hal ini didukung dengan banyaknya percakapan individu yang dilakukan oleh Santiago:

 

“Aku berharap anak lelaki itu ada di sini.” (hlm. 53)

“Andai saja aku bersama anak lelaki itu.” (hlm. 50)

“Aku berharap aku bersama anak lelaki itu.” (hlm. 55)

“Aku berharap anak lelaki itu ada di sini dan aku punya garam.” (hlm. 60)

“Jika anak lelaki itu di sini, dia akan menggosok tangan itu untukku dan mengendurkannya ke bawah dari lengan bawah.” (hlm. 66)

“Jika anak lelaki itu ada di sini dia akan membasahi gulungan tali. Ya. Jika anak lelaki itu di sini.” (hlm. 88)

 

Dalam beberapa percakapan individu di atas, dapat kita ketahui bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Segala hal yang dilakukan tentunya akan mengarah untuk bergantung pada orang lain. Rasa sepi akan kehadiran orang lain menjadikan Santiago hanya dapat berceloteh dengan dirinya sendiri ketika kesulitan melakukan sesuatu. Hal ini juga berkaitan dengan kutipan di bawah ini:

 

“Seseorang seharusnya tak sendirian pada usia tua mereka.” (hlm. 50)

Kebutuhan akan orang lain ini di alami oleh Santiago. Ia tampak menyesali keputusannya untuk berangkat sendiri menangkap ikan Marlin tanpa Manolin. Di usia yang sudah tidak muda lagi ini menyulitkannya untuk melakukan segala aktifitas di perahu.

 

Konflik batin pun dialami oleh Santiago dalam memecahkan berbagai masalah ketika menangkap ikan Marlin tersebut. Mulai dari perlawanan ikan Marlin yang bertahan sampai berhari-hari, juga kawanan Hiu yang mengoyak daging ikan Marlin hasil buruan Santiago. Dan pada akhirnya, sesampainya Santiago di rumahnya, ia pun berkomunikasi dengan Manolin dan menyadari bahwasanya aktifitas self talk yang ia lakukan selama ini bukanlah hal yang menyenangkan. Hal ini tergambar pada kutipan di bawah ini:

 

“Dia membatin betapa menyenangkan ada seseorang yang bisa diajak bicara dibandingkan hanya berbicara dengan dirinya sendiri dan laut.” (hlm. 133)

Kerumitan Dibalik Cerita The Old Man and The Sea

Nopriandi Saputra (2125143345)

Kerumitan Dibalik Cerita The Old Man and The Sea

2 SI S

 

Novel The Old Man and The Sea ialah sebuah masterpiece yang diciptakan oleh Ernest Hemingway pada tahun 1952, ketika ia sedang tinggal di Kuba. Novel inilah yang mengantar Ernest Hemingway merengkuh hadiah Nobel Sastra pada tahun 1954.

Novel ini memiliki cerita yang sangat sederhana yaitu hanya tentang seorang lelaki tua bernama Santiago yang merupakan seorang nelayan dan ia selalu ditemani seorang anak lelaki bernama Manolin saat memancing ikan dilaut, sebelum lelaki tua itu mendapatkan sial, karena selama 84 hari tidak mendapatkan seekor ikan pun dalam lawatannya ke laut, karena hal itu orang tua dari si anak lelaki menyuruhnya agar tidak memacing lagi dengan lelaki tua itu dan menyuruhnya pindah kapal. Pada hari ke 85 akhirnya lelaki tua itu pergi dengan motivasi dan kepercayaan diri yang tinggi. Lelaki tua itu memulai petualangan barunya di Teluk Meksiko tanpa si anak lelaki itu.

Isi cerita novel ini benar-benar sederhana, lalu sebenarnya apa yang membuat novel ini mendapatkan hadiah Nobel Sastra? Jika dilihat dari cara Ernest Hemingway menarasikan ceritanya, novel ini terasa cukup nyata. Urutan dan detail yang ditulisnya pun terasa sangat nyata. Siapa pun yang membaca novel ini seolah-olah berada di dimensi yang di bentuk oleh penulis. Apa yang di rasakan lelaki tua itu ketika berada ditengah laut atau saat beradu ketangkasan dengan ikan Marlin, semuanya dapat wakilkan oleh novel ini. Mungkin karena inilah novel ini bisa mendapatkan hadiah Nobel Sastra. Kesederhanaan isi cerita novel ini tidak sesederhana dengan cara penulis membuat detail cerita yang begitu rapihnya.

Terlepas dari detail cerita, novel ini juga banyak mengandung nilai moral yang dapat diambil dari tokoh Santiago. Ia merupakan sosok yang gigih dan pantang menyerah, sudah 84 hari tidak menangkap seekorpun ikan ia tetap optimis bahwa besok ia bisa membawa pulang ikan hasil tangkapannya, walaupun kehendak tuhan berkata lain, kalau keberuntungannya belum menghampirinya di hari ini, tetapi ia tetap terhadap keoptimisannya menatap hari esok.