LATIFAH

(2125142208 – Sastra Indonesia)

Mulanya saya sempat bingung mengapa mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan terpisah. Apalagi di dalam paket sks prodi saya, keduanya disela beberapa semester. Mestinya, kedua hal ini saling berkesinambungan. Terutama bila lingkup pembelajaran Kewarganegaraan ini adalah Indonesia.

Membahas kewarganegaraan, terlintas dalam benak saya hal utamanya ialah nasionalisme. Satu kata yang telah menjadi momok bagi tiap warga. Kadangkala seperti teror.

Nasionalisme dalam KBBI diartikan sebagai  paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Sebuah kunci yang menyatukan kita, warga di belahan Indonesia sebelah barat, dengan warga belahan timur Indonesia sana.

Bicara nasionalisme, saya langsung teringat Benedict Anderson dan bukunya, Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of Nationalism karya Benedict Anderson.

Bila kita meyakini bahwa nasionalisme merupakan penyatu bangsa, namun tak sedikit pula kasus kemanusiaan yang justru terjadi atas nama nasionalisme. Dalam pengantarnya, Daniel Dhakidae menyebut Aceh, Papua, hingga Timor-timur sebagai contoh peristiwa menyakitkan itu. tak terhitung berapa nyawa yang harus melayang agar nasionalisme terus terngiang.

Benarkah nasionalisme seperti itu?

Ben menyebut bahwa bangsa atau negara adalah sebuah komunitas terbayang. Sebagaimana kita di sini hanya bisa membayangkan persaudaraan yang kita miliki dengan orang-orang di ujung negeri sana.

Penyempitan makna nasionalisme ini yang diharapkan oleh Ben untuk diperbaiki. Saya rasa, di titik ini mahasiswa bisa mengambil perannya. Penyandang status pelajar yang mengemban tri darma perguruan tinggi, harus terbuka terhadap berbagai perspektif. Kritis menelaah tiap persitiwa sejarah, benarkah hal yang terjadi di Timor Timur misalnya, merupakan ancaman bagi Indonesia? Tidakkah ada campur tangan sang ‘adidaya’ yang justru ingin menguasai Indonesia.

Oleh karena itu, mahasiswa sudah semestinya tidak hanya membaca buku-buku arus utama, tapi mencari sudut pandang lain. Sebab tak dipungkiri pula, sejarah yang hari ini kita ketahui adalah ciptaan para pemenang.

-tulisan ini untuk mata kuliah kewarganegaraan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s