Ganesa Sangga Buana

            Sastra adalah ungkapan atau curahan apa yang terbesit dalam hati kita. Berupa novel,puisi,cerpen,ataupun naskah drama. Kadang kita tidak sadar dalam membuat suatu karya. Kebetulan karena hati dengan suasana yang pas akan melahirkan suatu bentuk karya sastra. Sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan. Lebih terfokus dalam dunia realitas yang kadang kita imaji kan. Karya sastra merupakan karya seni, mediumnya bahasa, dan isinya tentang manusia dan kemanusian ( Zulkarnaini, 2008: 2).

Sastra kerap kental dengan masyarakat. Apa yang sedang hangat di kalangan umum, bisa kita jadikan suatu bahan untuk mencipta. Dengan mengambil setiap bumbu-bumbu isu, sungguh menjadi sebuah ramuan yang sangat aduhai. Asal tidak menjadikan prahara rumah tangga saja. Isu yang diangkat dalam setiap daerah dan budayanya selalu beragama. Ataupun bisa juga isu yang dengan ruang lingkup nasional maupun internasional. Di daerah A lebih dominan isu kejahatan dengan tidak menunjangnya financial dalam keluarga, di daerah B mungkin lebih dominan isu dengan masyarakat yang aman dan tentram, serta masih banyak lagi isu-isu yang dapat diangkat.

Novel “Kelir Slindet” menceritakan sebuah keadaan masyarakat dalam suatu desa, yang dimana berada dalam keterpurukan pola pikirnya. Sebenarnya masalah yang membuat suatu keterpurukan tersebut adalah kemiskinan. Sudah miskin, dan kurang berpindidikan, akan menguatkan sebuah mental yang misal, tadinya salah menjadi sesuatu yang benar. Masyarakat pun akan pendek dalam berpikir dan menilai seseorang,walaupun ia tetangga sekampung. Misal, anak nya baik,sopan dan sholeh,namun orang tuanya adalah mantan telembuk,tetap saja akan berdampak ke anaknya.Sama halnya dengan tokoh Safitri dalam novel “Kelir Slindet”.

“Kelir Slindet” adalah sebuah novel yang terpilih menjadi pemenang sayembara roman tabloid nyata.  Sebuah novel yang diterbitkan pada tahun 2014 seperti menyimpan dendam,atau semcam duka mendalam penulis dalam setiap isi novelnya ini. Pertama kali terbit pada tahun 2012 dalam bentuk ebook & POD oleh bentang . Kemudian, baru dibukukan pada tahun 2014 oleh Gramedia Pustaka.

Digambarkan melalui sebuah keluarga yang ibunya bernama Saritem , mantan telembuk, bapak nya yang bernama Sukirman juga tidak baik perilakunya dan memiliki anak perempuan bernama safitri yang tidak mengikuti tabiat jelek  kedua orang tuanya. Safitri rajin ke mushola untuk mengaji dan mengikuti grup kasidah. Namun untuk merubah citra diri pada masyarakat akan sangat susah. Apalagi dengan desas-desus dari tetangga yang akan sangat mempengaruhi gejolak hati. Saya akan sedikit menceritakan gambaran alur cerita novel ini.

Bercerita tentang kisah percintaan yang dibumbui dengan keadaan desa yang terpuruk dalam hal pemikiran. Mencuri ayam untuk mendapatkan uang, sabung ayam,judi dan minum-minuman keras,kerap dilakukan di desa Cikedung ini. Mukimin yang diam-diam mencintai Safitri pun selalu tak berani bilang akan cintanya. Mukimin adalah anak seorang kyai di desa Cikedung,kaji Nasir namanya. Kaji Nasir mempunyai dua anak, Musthafa dan Mukimin. Musthafa telah lulus dari kuliahnya dan mengajar di pondok milik bapaknya. Pondok itu dikordinir oleh musthafa. Segala kebutuhan dan program untuk pondok dibuat oleh Musthafa. Jadwal adzan, jadwal piket telah disusun di bawah kepemimpinan Musthafa. Mukimin berbanding terbalik dengan kakaknya. Dia lebih suka bermain dan sering bolos ngaji. Mukimin dan Musthafa ini ternyata menyukai gadis yang sama yaitu Safitri. Safitri adalah anak dari mantan telembuk,Saritem, dan Sukirman. Namun Saritem ini sudah tidak lagi menjadi telembuk. Safitri gads yang cantik dan dia rajin ke mushola untuk mengaji. Mukimin sebenarnya tau bahwa Musthafa juga menyukai Safitri, namun Mukimin tak mau kalah dengan kakaknya. Cinta Safitri lebih berpihak pada Mukimin, namun Mukimin selalu tolol dan tak dapat berkata bilsa sedang berduaan dengan Safitri. Musthafa lebih unggul dalam pendekatan dengan keluarganya dan posisi Mushtafa sebagai pengajar Safitri membuat langkah Musthafa lebih unggul. Tapi Safitri tak pernah menaruh hati kepada Musthafa. Akhirnya Musthafa datang ke rumah Safitri dan melamarnya. Safitri tak bisa langsung memberikan jawabannya karna dia lebih cinta kepada Mukimin. Namun sikap Mukimin membuatnya ia greget,dan serba mengulur waktu. Dia mengulur waktu karna tidak berani ngomong dan urusan materi,dia belum kerja seperti Musthafa. Dengan ending kegaulauan Safitri akan kesiapan Mukimin dan lamaran Musthafa yang dilancarkan kepada dirinya. Dengan gosip sana-sini yang beredar di desanya. Selalu membawa masa-masa menjadi telembuk dan selalu terpuruk.

Menggambarkan pola kehidupan suatu desa yang dengan mata pencahariannya adalah petani. Umumnya dalam suatu desa tersebut akan ada orang yang terpandang dan dipandang untuk sebagai panutan. Tokoh-tokoh agama akan menjadi strata teringgi dan dihormati dalam novel ini. Di sisi lain,budaya yang merebak disini,lebih ke arah yang negatif. Terutama kalangan mudanya.walaupun tak dapat dipungkiri, kalangan tuanya pun tetap saja diangkat dalam beberapa hal yang negatif. Mencuri ayam tetangga sendiri, untuk mendapatkan uang, menggoda pemilik warung yang asyik saja saat digoda,dan masih banyak lagi. Tapi jangan salah,sikap gotong royong orang desa sangat kental. Terbukti saat akan panen, mereka berbondong-bodong membuat tumpeng dan berbagai macam makanan lainnya untu dibawa ke sawah.

Kedung Darma Romansha mengambil latar dengan desa bernama Cikedung. Desa tersebut terletak di barat kota Indramayu. 20 km bila dari jalan pantura, Losarang. Entah itu benar keberadaanya atau tidak, Tapi itu adalah kebenarannya. Desa yang bernama Cikedung itu dituliskan dalam novel tersebut. Dibuktikan dalam kalimat” Cikedung adalah desa yang terletak di sebelah barat kota Indramayu. Kira-kira 20 kilo dari jalan Pantura, Losarang”. Dikuatkan lagi bahwa sang penulis memang kelahiran Indramayu. Ia menimba ilmu di Sekolah Dasar di kampungnya yaitu Cikedung. Kemudian melanjutkan untuk mondok pesantren di Pondok Krapyak Yogya. Yang kemudia melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan Sastra Indonesia dan S-2 di UGM dengan jurusan yang sama.

Dengan latar desa yang dihiasai dengan hamparan sawah dan rimbun pepohonan, parit-parit di pinggir sawah, sungai-sungai yang membelah jalan, pohon-pohon pisang yang berderet di tepian parit dan masih banyak lagi suasana yang digambarkan. Mukimin adalah sosok penjelmaan atau perwakilan untuk tipikal manusia muda zaman sekarang. Mukimin itu orangnya slengean dan masih suka ngalor ngidul. Cintanya masih bertendesi ke nafsu. Sebaik-baiknya lelaki, kalau sudah melihat foto perempuan yang “nyleneh” tetap saja berpikiran ke arah yang negatif. Sama halnya dalam novel “Kelir Slindet” ini. Keluarga dari Mukimin adalah kalangan yang terpandang. Mukimin, Mustafa, dan Kaji Nasir adalah keluarga kyai atau kaji. Namun gossip yang beredar di masyarakat tentang Kaji Nasir pun ada saja. Kaji Nasir pin digosipkan pernah dekat dengan Saritem, ibu dari safitri. Bahkan ada juga julukannya,yaitu kaji nyupang. Saritem berprofesi sebagai telembuk atau pelacur. Makanya,pada saat Safitri dekat dengan Mukimin, orang-orang pun tidak heran dan berkata “ oh ya cocok kok,wong bapaknya aja dulu dengan telembuk,makannya, anaknya sekarang dengan anak telembuk juga”. Itulah omongan yang muncul dan dianggap hal yang lumrah.

Indramayu di tahun 1997. Mereka tidak bisa move on  akan masa lalu seseorang sebagai seorang pelacur. Mereka akan selalu mengenang kebiasaan buruk dia, dan mungkin menjadi sebuah tradisi bagi dirinya. Sungguh lucu bin aneh. Tapi begitulah kenyataan yang diangkat oleh Kedung, bagaimana keadaan Indramayu di tahun itu. Masihkan sekarang mereka berpikir begitu? Entahlah juga. Pemikiran mereka hanya membuat mereka tidak kaya-kaya dan ya disitu-situ saja. Hanya membahas sepetur itu saja. Berbahanya lagi,bila akan berdapak besar bagi proses sosial anaknya. Safitri, akan selalu dipandang sebagai anak telembuk, walaupun perilaku dan tingkah laku Safitri dengan Saritem sangatlah berbeda. Lagipula, Saritem sudah tidak menjadi telembuk lagi, dan Saritem ingin supaya Safitri tak seperti Saritem dan Sukirman.Kita sebaga manusia dan pemerhati alam, kita tidak akan pernah tahu efek apa yang akan ditumbulkan atas omongan=omongan mereka terhadap dirinya. Bila tidak kuat akan semuanya, mungkn Safitri akan menjadi pemurung dan parahnya lagi,meregang nyawanya sendiri.

Kritik yang diberikan cukup tajam walaupun hanya membawa khasanah local khas Indramayu. Indramayu yang digambarkan dalam novel ini, adalah dengan desa Cikedung yang cukup terkenal dengan santrinya dan dangdut. Tak bisa menutup sebelah mata kita, bahwa ada satu sisi dari dangdut yang selalu menampilkan sesuatu yang erotis dan yang salah-salah akan mengarah ke negatif. Sayang, Kedung terlalu banyak membawa nama-nama tokoh yang jujur sedikit membingungkan. Asyik walaupun kita akan dibawa dengan endinnya yang “tak karuan”. Kita dipaksa untuk mencari penutupnya yang tanpa klimaks.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s