Latifah

Tak perlu ke Mekkah untuk mendapat gambar Kabah. Sejengkal langkahpun tak dibutuhkan untuk berburu diskon lebaran. Bahkan tak perlu bangku kuliah untuk mengenal apa itu kritik sastra. Hanya bermodalkan beberapa gigabyte paket data dan handphone (HP) untuk meraih semuanya.

Marshall McLuhan-lah yang pertama kali membahas tentang hiperealitas. Ia menulis pada 1964, konteks hari itu ialah perkembangan televisi dan komputer. McLuhan optimis pada kemajuan teknologi yang ia ramalkan akan tumbuh desa-desa global, tanpa sekat informasi.

Namun Jean Baudrillard yang kemudian melanjutkan ramalan McLuhan. Bahwa yang kemudian tercipta bukan sekadar desa global, melainkan desa hiperealitas. Hiperealitas atau ruang semu adalah ruang yang menjebak manusia atas apa yang disadarinya sebagai sebuah kenyataan, padahal sejatinya hanyalah khayalan belaka.

Baudrillard juga mengenalkan istilah simulasi yang diartikan sebagai penciptaan model-model nyata yang tanpa asal usul atau realitas. Dalam simulasi, manusia menempati ruang realitas dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi itu menjadi tipis.

Salah satu simulasi adalah media sosial, seperti yang diangkat dalam novel kelima Okky Madasari: Kerumunan Terakhir (2016). Bukan bicara mengenai perkembangan teknologi secara implisit, namun Okky Madasari menarik kita untuk melihat bagaimana respon masyarakat terhadap fenomena tersebut. Beragam tipe masyarakat dalam menggunakan media sosial dimunculkan melalui Jayakarta dan orang-orang di sekelilingnya.

Okky Madasari sendiri termasuk sastrawan yang kerap mengangkat isu kotemporer dalam tiap karyanya. Seperti Pasung Jiwa yang menang dalam Khatulistiwa Award 2012 misalnya. Isu transgender kala itu memang ramai diperbincangkan. Sehingga bukunya bisa menjadi rekomendasi bacaan sastra hari ini.

***

Gagap Teknologi (Gaptek)

Gaptek atau gagap teknologi menjadi istilah yang populer semenjak komputer bermunculan. Namun Jayakarta kecil masih tidak memerdulikannya. Ia yang dititipkan pada Simbah di kaki gunung Suroloyo tak menganggap penting kehadiran teknologi. Apalagi Simbah juga tidak terbiasa dengan kehadiran barang elektronik di rumahnya.

Melalui Simbah dan kehidupan di pedesaan, Okky menungkapkan bahwa kemajuan teknologi kala itu masih terbatas oleh letak geografis. Sosok Simbah menjadi representasi bahwa di pedesaan tak membutuhkan kemajuan teknologi untuk tetap hidup.

Saat aku tinggal di sana, Bapak membelikanku televisi dan radio. Dua benda itulah temanku pada minggu-minggu pertama tinggal di rumah Simbah. Tapi setiap kali aku menyalakan televisi, Simbah malah menyingkir keluar rumah. Duduk di dingklik bambu sambil melinting tembakau, melempari ayam-ayamnya dengan jumputan beras, atau hanya melamun saja sambil dibelai-belai embusan angin hingga tertidur di situ. “Gawe sumpek,” katanya setiap kali benda-benda asing itu mengeluarkan suara. (Okky Madasari, 2016: 23)

Naik turun gunung, bercocok tanam, berlarian bersama anak desa lain, berangkat sekolah, sudah menjadi rutinitas Jayakarta kecil. Bapaknya berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studi. Sedangkan Ibu di kota mengurus adik-adiknya yang masih kecil dan akan sangat kewalahan bila Jayakarta tinggal bersamanya.

Kemudian Jayakarta kembali ke kota. Ia pun tumbuh menjadi mahasiswa yang pemalas. Hal itu dilakukannya sebagai bentuk protes kepada Bapak yang sejak masih menjadi siswa berani terang-terangan membawa perempuan muda di depan matanya. Sukendar, seorang profesor di kampus ternama tak lagi menyisakan kebanggaan dalam diri Jayanegara.

Lalu tiba suatu hari Ibu memintanya mengajari cara menggunakan HP. Ibu kerap menemukan Bapak keasyikan dengan HP-nya yang menciptakan kecurigaan Ibu. Karena HP pula Ibu akhirnya meninggalkan Jayanegara dan tiga adik perempuannya. Setelah ia menemukan foto-foto bugil Bapak dengan sejumlah perempuan.

Aku memiliki HP, enam bulan setelah Bapak memilikinya. Seperti anak yang baru punya mainan baru, sepanjang hari aku pun memainkannya. Suatu sore sebelum Bapak pulang, Ibu memintaku mengajarinya. Aku tahu, Ibu minta diajari bukan karena dia mau memiliki. Ibu pasti punya niat untuk membuka HP Bapak. Aku pun mengajarinya dengan penuh semangat. Inilah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk membalas sakit hati Ibu tanpa harus terang-terangan menyalahkan Bapak. (Okky Madasari, 2016: 28)

Selepas itu, Jayanegara tidak menaruh perhatian lebih pada teknologi. Sampai ia memutuskan sendiri status kemahasiswaannya, dan memilih menyusul sang kekasih, Maera yang telah lulus dan bekerja di Jakarta. Maera adalah wartawan di koran ibukota. Pertemuannya kembali dengan Maera yang memaksa Jayanegara untuk bersentuhan dengan teknologi, salah satunya internet.

Internet sendiri dikembangkan Amerika sejak 1969 dengan nama Advanced Research Project Agency Network atau ARPAnet. Tujuannya adalah agar tidak terjadi pemusatan informasi yang rentan akan penghancuran di masa perang tersebut.

Di Indonesia, jaringan internet masuk sekitar 1980-an. kemudian pada 1990-an mulai bermunculan grup-grup milis yang diprakarsai mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri.

Okky tidak menyebutkan secara gamblang tahunnya. Namun dari penggambaran latarnya, kita bisa menebak sekitar akhir 1990 – awal 2000. Saat itu Maera memodali Jayanegara sebuah komputer dengan jaringan internet agar ia bisa mencari pekerjaan. Maera terus mendorong Jayanegara agar tidak gaptek. Jayanegara acuh tak acuh menanggapinya.

“Kamu sudah punya Email belum sih?” tanyanya.

Aku menggeleng. Selama ini aku hanya memakai internet untuk mencari gambar-gambar panas. Tak ada kebutuhanku untuk membuat email. Saat beberapa teman kuliah menyebut kata Friendster dan milis lalu memaksaku segera bergabung dengan mereka, aku sama sekali tak tertarik dan tak mengerti apa yang menarik dari itu semua. Aku juga tak paham apa asyiknya membahahs apa yang mereka katakan, bagaimana kelakuan mereka di Friendster atau milis saat kami semua sedang duduk bersama, saling melihat, dan sesekali saling menepuk bahu. Ketika mereka mulai bicara tentang hal seperti itu aku selalu langsung pergi. Dunia kampus menjadi semakin asing dan aneh bagiku. (Okky Madasari, 2016: 80)

Media Sosial sebagai Simulasi

Sebagaimana simulasi, gaya penceritaan Okky ikut mengaburkan pembaca tentang bagian mana yang sebenarnya nyata. Sebab Okky tak memberi perbedaan antara gaya bercerita sesuai alur dengan gaya bercerita tokoh di dalam media sosialnya.

Alur Maju:

Belum juga kuletakan HP-ku, Maera memelukku dari belakang lalu menciumku. Kebiasaan kecil yang selalu dia lakukan sebelum berangkat kerja. Saat bersamaan, TV di depan kami sedang menayangkan acara gosip. Ada perempuan dikerumuni wartawan sedang memberi kesaksian penting. Ia mengaku isteri simpanan seorang menteri. Lalu ganti muncul gambar menteri yang membantah semua omongan perempuan itu. (Okky Madasari, 2016: 120)

Cerita tokoh Nura dalam media sosialnya:

Perkenalanku dengan Akardewa terjadi satu setengah tahun lalu lewat Facebook. Ia yang lebih dulu memintaku untuk menjadi temannya. Aku tak pernah sembarangan mengiyakan permintaan pertemanan. Pertama-tama tentu aku lihat berapa banyak temanku yang juga menjadi temannya. Ternyata banyak sekali. (Okky Madasari, 2016: 125)

Selain itu, Okky memunculkan tipe-tipe pengguna media sosial melalui tokoh-tokohnya. Sebagaimana refleksi sifat manusia, tiap kepala memiliki kecendrungan yang berbeda ketika berselancar di internet.

Jayanegara. Sebagai orang yang telah kalah dalam kehidupannya, Jayanegara merasa dunia baru mampu memberinya harapan. Dunia lama: tidak lulus kuliah, tidak berpenghasilan, tidak berkawan, hingga jauh dari keluarga –baik dalam artian fisik maupun ikatan batin, sudah ditinggalkannya.

Dunia baru ini telah memberiku keberanian dan kepercayaan diri untuk bertemu dan berkenalan dengan banyak orang. di mana ada orang-orang berkerumun, di sana aku singgah dan menghabiskan waktuku berjam-jam. Layaknya seorang pengunjung warung kopi, aku bergabung bersama orang-orang yang sudah datang sebelumnya, mendengarkan orang bicara untuk menunggu kesempatanku bisa bicara. (Okky Madasari, 2016: 93)

Sifat dunia baru yang cepat berganti dan memudahkan orang datang dan pergi ini cocok sekali untuk orang yang bukan siapa-siapa seperti aku. (Okky Madasari, 2016: 104)

Menghadapi kekalahannya di dunia lama, Jayanegara memilih untuk terlahir kembali. Menjadi seorang yang baru di dunia baru. Menciptakan sejarah baru sesuai dengan keinginannya.

Aku hidup di dunia baru ini dengan sebuah identitas: Matajaya. Orang yang menghajar bapaknya sendiri yang profesor itu. (Okky Madasari, 2016: 112)

Digunakannya pula Matajaya untuk mengawasi sang adik, Juwi yang mulai bermain media sosial. Meski selalu tahu apa yang baru dari Juwi, tak sekalipun Matajaya muncul di depan Juwi. Ia hanya ingin menjadi pengikut pasif Juwi.

Aku berjaga sepanjang hari agar tak ketinggalan satupun yang dikatakan Juwi. Aku sudah bisa menghafal kebiasaanya, ia muncul setelah jam pulang sekolah dan baru akan menghentikan permainannya menjelang tengah malam. (Okky Madasari, 2016: 174)

Melalui Matajaya, Okky membuat Jayanegara melancarkan serangannya yang tak bisa ia lakukan secara langsung terhadap Bapak. Kesenangannya semakin memuncak tatkala kerumunan mulai menghujat Bapak.

Namun tak pernah disangkanya bahwa di depan warung internet di pelosok ibukota bisa mempertemukannya dengan polisi yang siap menangkapnya. Polisi yang telah lama beredar memerika KTP dan berseru untuk tidak memakai nama samaran.

”Ya terserah. Silakan saja menjawab semaumu. Kamu tahu kenapa kami sampai bisa menemukanmu? Karena kami punya alat, goblok! Semuanya bisa dilacak. Kamu mau sembunyi di mana pun, kamu mau pakai nama palsu apa pun, itu gampang dicari!” (Okky Madasari, 2016: 206)

Lagi-lagi Okky melumpuhkan Jayanegara. Bapak yang akhirnya muncul sebagai pahlawan dalam kisah yang telah lama ia bangun. Bapak kian mendapat tempat, baik di dunia lama maupun dunia baru.

Aku sedang enggan menyentuh layar. Aku terlalu takut untuk melihat bagaimana tak berartinya aku. Selama ini aku sudah menipu diriku sendiri. Dunia baru memberiku kebanggaan palsu. (Okky Madasari, 2016: 274)

Yang disesalkan Jayanegara dari penangkapan –yang kemudian dibebaskan oleh Bapak, ialah kenyataan bahwa ia harus kalah dua kali dari Bapak. Dalam dua dunia. Dalam dunia hiperealitas.

Akardewa. Sosok ini mewakili pesohor di media sosial. Tiap tulisannya yang diunggah disebarkan dan didiskusikan kembali oleh para pengikut setianya itu. Ialah pesohor yang aktif membagikan pengalaman masa lalunya yang turut berperang. Ia juga aktif mengkritik pemerintah dengan masalah sosial yang luput namun kerap terjadi di sekitar masyarakat. Dengan apa yang dimilikinya di media sosial, ia termasuk sosok yang berpengaruh di dunia baru ini.

Sekarang nama yang begitu kukagumi adalah Akardewa. Sesuai dengan namanya ia adalah dewa. Setiap yang ia katakan adalah sabda. Apa pun yang ia ucapkan itulah kebenaran. Suaranya besar, menggaung dan bisa terdengar hingga di mana-mana, didengar dan dibicarakan di berbaga kerumunan. Ia berdiri di panggung utama, dari pagi saat mataku baru terbuka hingga nanti saat semua orang sudah terlelap. Dari penggung itu ia mengendalikan dunia. Sementara ribuan orang lainnya dengan sigap mengiyakan dan menyebarkan ulang apa pun yang dikatakannya. (Okky Madasari, 2016: 105)

Diantara tokoh yang lain, hanya sosok Akardewa yang digambarkan melalui tokoh lain. Pertama oleh Jayanegara melalui kekagumannya dengan Akardewa di media sosial. Kedua Nura, warganet yang mengaku telah diperkosa oleh Akardewa, dan dituduh telah memfitnahnya. Terakhir Maera, yang juga melakukan kopi darat oleh Akardewa.

Saat pertama kali bertemu dengannya, aku jelas kecewa.

Akardewa samasekali tidak setampan yang aku bayangkan. Dia memang jarang mengunggah foto-fotonya. Foto profilnya yang itu-itu saja. Beberapa kali juga kulihat fotonya saat masih muda tersebar du berbagai tulisan tentangnya. (Okky Madasari, 2016: 127)

Dua sosok perempuan yang dihadirkan Okky menegaskan bahwa ada sosok yang menggunakan ketenarannya untuk melancarkan nafsu bejatnya. Memperdaya perempuan-perempuan yang silau akan kebesarannya di dunia baru. Ialah Akardewa yang menelan Nura dan Maera.

Nura. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Nura adalah orang yang berani melawan arus di dunia baru. Di mana semua orang memuja Akardewa, ia berteriak bahwa orang itu telah menodainya, merenggut keperawanannya.

Menjadi minoritas di mana pun tak pernah menang. Pengikut Akardewa malah balik menyerangnya. Menuduhnya numpang tenar pada Akardewa.

Lama kelamaan orang bahkan tak mau lagi mendengar apa pun dari Nura. Mereka meninggalkan Nura sendirian di Facebook-nya, menghapus nama Nura dari rumah-rumah mereka. Sedikit orang yang sempat percaya pada Nura pun akhirnya memilih tak percaya karena melihat orang-orang di sekelilingnya banyak yang tak percaya. Aku salah satu contohnya. Benar kata Nura, aku sama saja dengan orang-orang itu. (Okky Madasari, 2016: 140)

Jauh sebelum kejadian itu, Nura merupakan gadis muda yang polos di dalam dunia baru. Yang mudah tersipu pada tipu-tipu simulakra. Yang lupa akan rasa curiga pada tiap yang menghampirinya.

Demi menghasilkan foto yang bagus, aku menjual HP-ku yang lama dan membeli HP baru yang lebih canggih. HP baruku itu, selain gambarnya jauh lebih terang. Juga bisa diputar kamerana kea rah wajahku sendiri. Aku tak perlu lagi minta tolong orang untuk mengambil fotoku. Apa pun yang kuunggah selalu diberinya tanda jempol, kadang kala dia juga meninggalkan pujian yang dengan cepat segera kubalas dengan ucapan terima kasih. (Okky Madasari, 2016: 127)

Aku tersenyum mendengar pujian itu. Siapa yang tak suka dipuji seperti itu. Di zaman sekarang ini lebih cantik aslinya daripada fotonya adalah bentuk pujian tertinggi. Saat setiap orang bisa membuat kulit tampak lebih mulus dan lebih putih dengan Photoshop, saat berbagai filter kamera diciptakan untuk membuat tampilan foto sesuai dengan yang kita inginkan. (Okky Madasari, 2016: 129)

Maera. Okky menciptakan Maera sebagai perempuan ambisius sejak masih dibangku perkuliahan. Ia seperti kebanyakan orang, lulus cepat lalu mengejar impian di ibukota. Namun seiring berjalannya waktu, Maera menyadari bahwa pola pikirnya sudahlah kuno. Apalagi ia harus dibenturkan kenyataan bahwa koran tempatnya bekerja harus tutup.

“Dunia ini sudah berubah, Jay. Nggak cuma di sini, di luar negeri sana, koran-koran tutup. Nggak ada lagi orang yang baca koran. Semua orang kayak kamu sekarang. Pegang HP ke mana-mana, di depan komputer seharian.” (Okky Madasari, 2016: 219)

Berlainan dengan prinsip Jayanegara untuk menjadi orang baru, Maera menolak hal tersebut. Ia memilih menjadi dirinya sendiri dan menolak dibayang-bayangi oleh samaran.

“Dunia baru justru harus memunculkan kita. Bukan membuat kita tenggelam dan hilang, dimatikan oleh nama-nama samaran yang kita ciptakan.” (Okky Madasari, 2016: 237)

Dibanding Jayanegara, Maera anak baru di dunia baru ini. Namun tulisan pertamanya di Facebook telah mencapai 500 tanda jempol dan ragam apresiasi lain dalam media sosial yang patut Maera banggakan. Tulisan tentang seksualitas memang selalu memiliki banyak peminat. Itulah yang ditawarkan oleh Maera dan mengantarkannya pada popularitas.

Di dunia yang tak lagi terbatas ini, tak perlu lagi kita memagari diri kita sendiri. Dunia baru yang serba terbuka tak lagi memberi tempat pada ketakutan dan kepura-puraan. Mari kita mencari apa yang kita maui, melakukan apa yang sudah lama kita rindukan. (Okky Madasari, 2016: 244)

Okky memberi akhir petualangan Maera di dunia baru seperti ia mengalahkan Jayanegara. Sejak beredar foto dirinya bersama Akardewa tanpa busana, dunia baru menjadi neraka untuk Maera. Ia trauma. Ia ingin melarikan diri.

“Mana tempat yang kamu janjikan itu? Yang katanya nggak ada internet, nggak ada HP, nggak ada orang yang kenal aku? Mana?” (Okky Madasari, 2016: 357)

Namun tampaknya tak ada tempat lain di luar dunia baru. Ya, dunia baru telah menguasai dunia. Dunia hiperealitas.

***

Rujukan:

Piliang, Yasraf Amir. 1998. Sebuah Dunia yang Dilipat. Bandung: Mizan.

http://www.pattascomputer.org/sejarah-perkembangan-internet-di-indonesia/ (Dilansir pada 30 Juni 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s