Ibnu Hafizh Baihaqi

Sastra tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan. Sebuah karya sastra menyajikan berbagai permasalahan manusia dan juga kemanusiaan. Sastra juga memiliki bentuk yang intuitif sehingga dapat mencerminkan sebuah bentuk kehidupan. Dengan bahasa yang menjadi indikator dalam sebuah karya, maka pembaca dibawa memasuki alam imajinasi seorang pengarang.

Sejarah dengan sastra memiliki hubungan yang kompleks dimana bisa dikatakan dekat, namun juga bisa dikatakan jauh. Paradaks seperti itu memang benar karena di satu sisi, sejarah seringkali menjadi topoik dalam karya sastra begitupun karya sastra yang merupakan sebuah sumber tertulis di dalam sejarah dimana pada jaman dahulu, karya sastra lah yang menjadi sumber utama dikarenakan sumber tulisan lain sangatlah minim dan langka.

Menurut Fananie (2000: 194) terdapat tiga perspektif berkaitan dengan keberadaan karya sastra. Pertama, perspektif yang memandang sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan. Kedua, perspektif yang mencerminkan situasi sosial penulisnya. Ketiga, model yang dipakai karya sastra sebagai manifestasi dari kondisi sosial. Sebuah karya sastra dapat berupa informasi mengenai kondisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Kesusastraan Indonesia banyak melahirkan karya sastra yang menampilkan unsur-unsur sosial.

Salah satu bentuk karya sastra yang berupa prosa adalah novel, yang mana memiliki karakteristik sendiri dibandingkan dengan prosa jenis lain yakni memiliki jalan cerita yang kompleks. Sebuah cerita yang di sajikan dalam novel biasanya tak lepas dari latar sang pengarang, karena pada dasarnya, karya tersebut merupakan cerminan dari sang pengarang tersebut.

Banyak karya sastra berupa novel yang hanya mementingkan nilai hiburan, namun sangat banyak juga karya sastra yang berisikan nilai edukasi dimana salah satu nilai tersebut adalah sejarah. Sebut saja novel ronggeng dukuh paruk karya Ahmad Tohari yang melatarkan sejarah bangsa Indonesia saat masa peralihan orde lama menuju orde baru. Karya seperti itu tentu menyegarkan ingatan kita kembali mengenai peristiwa-peristiwa yang telah terjadi lewat bahasa yang birangkum menjadi sebuah karya sastra.

Salah satu novel yang memuat nolai sejarah yaitu novel Pukang karya Leila S. Chudori. Leila S. Chudori mencoba menjadikan sejarah sebagai peristiwa yang dialami oleh tokoh novel tersebut. banyak factor yang di tanam dalam karya tersebut selain sejarah seperti pewayangan yang diolah untuk menggambarkan sebuah nuansa romantic yang apik.

Novel ini bercerita mengenai tiga peristiwa besar dalam sejarah Indonesia. Dalam cerita yang tertuang pada novel Pulang, penulis menarik garis linier antara 3 peristiwa bersejarah: G 30 S PKI tahun 1965 di Indonesia, revolusi mahasiswa di Paris, Prancis pada Mei 1968, dan tragedi kerusuhan Mei 1998 yang menandai runtuhnya rezim Orde Baru di Indonesia.

 

Peristiwa 1965 atau yang disebut G 30 S PKI dalam buku-buku sejarah Indonesia mungkin adalah bagian dari sejarah Indonesia yang paling kelam, sekaligus paling kabur. Partai Komunis Indonesia (PKI) konon mendalangi peristiwa percobaan kudeta terhadap Presiden Soekarno, menciptakan suasana penuh kekacauan di Indonesia, dan pada puncaknya, enam orang jenderal diculik dan dibunuh. Pasca-tragedi, rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mengerahkan segenap upaya untuk membersihkan Indonesia dari PKI dan segala yang berbau komunis. Upaya yang pengaruhnya terasa sampai sekarang. Semua orang yang pernah terlibat dengan PKI dipenjara dengan status tapol (tahanan politik). Bahkan sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengan para tapol ini tidak lolos dari kejaran dan interogasi aparat.

 

Pulang adalah kisah suka duka para eksil politik yang melarikan diri ke luar negeri karena sudah diharamkan menginjak tanah air sendiri. Empat pria yang menyebut diri mereka Empat Pilar Tanah Air: Nugroho, Tjai, Risjaf, dan Dimas Suryo melarikan diri dari Indonesia dan luntang-lantung di Kuba, Cina, dan Benua Eropa sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di Paris. Melalui surat-menyurat dan telegram, mereka terus memantau teman-teman di Indonesia yang harus menderita karena dikejar dan diinterogasi aparat. Kabar bahwa salah satu rekan karib mereka, Hananto Prawiro, ditangkap setelah bersembuyi beberapa waktu membuat mereka bersedih hati. Sesungguhnya, perempuan yang dinikahi oleh Hananto, Surti Anandari, adalah mantan kekasih Dimas. Dimas tidak bisa melupakan Surti, meski wanita ini telah melahirkan tiga orang anak bagi Hananto. Setelah menetap di Paris Dimas pun menikahi seorang wanita Prancis bernama Vivienne Deveraux dan mempunyai seorang putri yang mereka namakan Lintang Utara. Tinggal di negara yang asing ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas Suryo dan kawan-kawan terhadap Indonesia. Buktinya, sejak kecil Lintang sudah dicekoki ayahnya dengan kisah-kisah-kisah wayang Ramayana dan Mahabharata, belum lagi literatur Indonesia di samping buku-buku lain yang juga dimiliki oleh Dimas. Selain itu, Dimas juga jago masak. Karena keahliannya itulah ia dan tiga rekannya memutuskan untuk mendirikan Restoran Tanah Air yang menawarkan berbagai masakan Indonesia di Paris. Lintang Utara pun beranjak dewasa, dan untuk menyelesaikan pendidikan Sinematografi di Universitas Sorbonne, ia harus membuat film dokumenter tentang Indonesia. Lintang harus pergi ke Indonesia, padahal kondisi Indonesia sedang kacau. Krisis ekonomi sedang parah-parahnya dan para mahasiswa berorasi dimana-mana untuk mendesak Soeharto mundur. Dengan bantuan Alam, putra bungsu Hananto, dan Bimo putra Nugroho serta beberapa kawan lain, Lintang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengerjakan tugas akhirnya, walaupun terancam oleh bahaya.

 

 

Konflik batin yang dialami Dimas Suryo dan Lintang juga mendominasi buku. Kerinduan mereka untuk “pulang” lah yang menurut saya menjadi porsi terbesar dalam buku ini dan mampu disampaikan penulis dengan baik. Yang jelas, novel ini bukan merayakan korban (seperti kata Maria Hartiningsih, wartawan Kompas pada halaman endorsement) apalagi memberikan jawaban, namun memandang satu bagian sejarah Indonesia dari kacamata yang lain, dan menggambarkan seperti apa dampaknya dalam kehidupan mereka yang terlibat langsung, sampai dengan masa kini.

Novel Pulang karya Leila Salikha Chudori merupakan salah satu novel yang merepresentasikan unsur-unsur sosial dalam masyarakat karena isi novel tersebut memberi gambaran tentang konflik politik yang terjadi dalam merebut atau melawan kekuasaan. Tragedi konflik dalam novel tersebutberupa kekerasan, penculikan, penyiksaan, bahkan penghilangan nyawa yang dilakukan pemerintah terhadap pihak masyarakat yang dianggap komunis. Hal tersebut menyebabkan kekacauan politik pada masa Orde Baru

Pertama-tama mungkin saya akan mencoba membeberkan unsur-unsur intrinsic yang terdapat dalam novel tersebut. dalam segi tema, Leila S. Chudori mengusung perjuangan dalam kehidupan. Hal tersebut dapat kita lihat dari kehidupan tokoh yang ada dalam novel dimana mereka dihujani beragam masalah sehingga mereka dapat menyikapi maslah tersebut dengan bijak juga kehidupan mereka dengan orang-orang di sekitar mereka seperti yang dilakukan salah satu tokoh dalam novel tersebut

“Dimas suryo memilih untuk menetap di perancis saat pemerintahan dan aparat Indonesia meneror keselamatan dirinya. Selama menetap di perancis dia menyadari bahwa kerinduannya terhadap tanah air jauh lebih besar disbanding kebencian dan terror yang datang dari orang-orang berkepentingan di Indonesia. Nasionalismenya selalu menjadi jati dirinya dan ditunjukkannya dengan membangun sebuah restoran bersama teman-temannya. Restoran yang dia bangun bukan hanya berurusan tentang makanan dan pelayanan terhadap para konsumen, melainkan juga tentang menunjukkan rasa ciinta terhadap tanah air. Selama menetap di Perancis pula, Dimas suryo memahami bahwa cinta sejati yang dia miliki hanya untuk kekasih lamanya, surti anandari. Meskipun dia juga mencintai VIVIene Devraux, dia menyadari bahwa perjuangannya dahulu merelakan Surti Anandari adalah untuk memahami bahwa mencintai seseorang bukan untuk diartikan sebagai kebersamaan, melainkan bagaimana dia mampu untuk melindungi dan mengayomi orang yang dia cintai.”

Kemudian terdapat alur yang mana dalam novel tersebut menggunakan alur maju. Alur tersebut dimulai pada tahun 1968 pada saat terjadinya peristiwa penangkapan orang-orang yang berhubungan dengan PKI. Alur terus maju hingga pada tahun 1993. Dimana sudut pandang pun berganti dimana sebelumnya berpusat pada Dimas Suryo, kemudian berpusat kepada Segara Alam. Terus berjalan sampai melewati lima tahun tepatnya Mei 1998 dimana terjadi sebuah peristiwa besar yaitu reformasi dimana lengsernya pemerintahan prediden Soeharto oleh gerakan Mahasiswa seluruh Indonesia yang menandai berakhirnya era Orde Baru.

Penggunaan sudut pandang berbeda-beda membuat novel ini bisa dikatakan berantakan, maksudnya peristiwa-peristiwa yang di tampilkan dalam novel tersebut tidak berurutan. Cerita berlangsung secara progrwsif regresif. Peristiwa sorot balik melalui renungan tokohutama yang kembali ke masa lalunya, surat-surat masa lalu yang digunakan untuk bercerita, dan tokoh lain yang menceritakan masa lalu tokoh lain.

Secara garis besar, walaupun menggunakan sudut pandang yang banyak dan menggunakan juga sudut pandang orang ke tiga serba tahu, walaupun dijabarkan secara acak, namun dapat dinikmati dengan nyaman. Beberapa orang bilang bahwa novel ini merupakan novel “berat”, dimana orang awam akan sulit membaca. Namun memang sasaran pembaca novel ini adalah akademisi. Meskipun non-akademisi yang membaca, menurut saya mereka akan dapat langsung menyerap cerita serta menikmati peristiwa di dalamnya karena novel tersebut menggunakan bahasa yang ringan dan juga akrab. Pun pendeskripsian cerita di dalam novel ini sangat elegan sehingga walau di cap “sastra serius” tetap dapat di nikmati oleh semua kalangan.

Latar dalam novel Pulang ini salah satunya adalah Jakarta pada era 60-an, saat pemerintah sedang gencar-gencarnya memusnahkan semua elemen yang menentang pemerintahan dimana dalam kasus ini adalah PKI. Selain itu Jakarta di tahun 90-an juga digambarkan dimana situasi politik di bawah kekuasaan Orde Baru yang merupakan latar penting dalam novel ini.

Kemudian Paris, ibu kota Perancis yang menjadi salah satu latar tempat lainnya dalam novel ini. Tokoh utama yaitu Dimas bersama teman-temannya melarikan diri menjadikan Paris sebagai rumah kedua untuk melanjutkan hidup. Di kota inilah Dimas dan Vivienne menikah dan memproduksi seorang putri bernama Lintang Utara.

Sebagaimana yang telah saya tulis pada awal tulisan mengenai hubungan sejarah dengan sastra, maka akan saya paparkan nilai sejarah dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Yang pertama adalah sejarah Indonesia pada tahun 1965-1966. Pertistiwa tersebut merupakan sebuah tragedy kemanusiaan yang menupahkan noda hitam dalam sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi akibat dari adanya kebijakan negara untuk melakukan penumpasan para anggota, kerabat dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mana organisasi tersebut diangga telah melakukan tindakan perlawanan terhadap negara.

Peristiwa 30 September 1965 atau yang sekarang di kenal G30S pada masa orde baru adalah masa dimana Indonesia di tutupi kabut hitam. Politik Indonesia pada saat itu menjadi kompleks. Menurut catatan sejarah, PKI yang merasa diatas angina menekan penduduk yang tidak sealiran bahkan sampai melakukan pembunuhan. Hal itu memuncak ketika terjadi pembantaian para jendral yang di buang di lubang buaya. Maka kemudian dilakukanlah penyisiran atau mungkin lebih tepat saya sebut pembantaian di seluruh pelosok Indonesia. Bukan hanya militant saja yang melakukan pembantaian, namun organisasi-organisasi agama juga mendukung pembantaian simpatisan PKI.

Sebagai salah satu sejarah kelam yang ada di Indonesia, penyampaian yang di lakukan dalam novel ini menguraikannya dengan indah namun condong seperti memihak simpatisan PKI. Disini, tokoh utama digambarkan sebagai orang yang tidak terlibat dengan PKI, namun memiliki hubungan dekat dengan seorang simpatisan PKI sehingga dia terpaksa tidak dapat pulang ke Indonesia karena diduga sebagai simpatisan PKI.

Penulis menggambarkan bagaimana kekejaman yang dilakukan militant terhadap simpatisan PKI seperti bagaimana kerabat-kerabat tokoh utama yang menghilang, kemudian ada juga yang di tangkap tetapi tidak ada kabarnya, juga orang-orang yang secara jelas di bunuh karna di duga sebagai anggota PKI. Salah satu peristiwa dalam novel ini yang membuat saya miris adalah ketika anak dari salah satu tokoh, Hananto Prawiro yang merupakan seorang anggota aktif PKI mengirimkan surat kepada Dimas suryo karena ayahnya yang akan di eksekusi mati. Disitu seolah digambarkan kekejaman yang dilakukan militer Indonesia yang mana memang perlu di tandai bahwa pada kejadian yang sebenarnya juga persis seperti itu. Mencerminkan dunia nyata yang hampir spesifik, membawa kita kembali menjajal kejadian yang mungkin menjadi Aib bagi bangsa Indonesia.

“Ada dua helai surat itu di saku jaketku. Sudah sejak awal tahun semua yang dianggap terlihat Partai Komunis Indonesia atau keluarga PKI atau rekan-rekan anggota PKI atau bahkan tetangga atau sahabat yang dianggap dekat dengan PKI diburu-buru, ditahan, dan diinterogasi. Dik Aji menceritakan begitu banyak kisah suram. Banyak yang menghilang. Lebih banyak yang mati”.

`           pada masa itu, kondisi Indonesia sangat genting. Hampir di seluruh daerah menyulut perlawanan serentak di semua daerah. Penangkapan besar-besaran PKI di Jawa Timur dimulai pada pertengahan Oktober 1965. Dua pecan serelah Gestapu, demo dan kerusuhan masih beskala kecil juga sporadic. Gerakan mulai terorganisir pada 16 Oktober 1965. Saat itu terbentuklah komite aksi pengganyangan. Peristiwa tersebut dapat kita lihat dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori, melalui tokoh Dimas yang menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia pasca Gerakan 30 September 1965. Sampai akhirnya terjadi peristiwa sejaah yang mengubah kepedihan menjadi semakin kelam bagi orang-orang yang dekat dengan PKI

“ Mas Hananto adlaah mata rantai terakhir yang akhirnya diringkus. Sebagian besar redaksi Kantor Berita Nusantara disapu habis. Yang tersisa adalah kelompok islam atau kelompok sekuler yang dianggap menentang komunis. Juga sudah pasti yang dekat tentara”

Kemudian ada terdapat juga latar waktu pada masa Indonesia periode 1966-1998. “kabar yang kami peroleh saja terlambat sekitar dua sampai tiga minggu. Bahkan bisa sampai sebulan. Misalnya pada awal bulan April 1966, kami mendengar berita yang paling sukar dipercaya. Konon, bulan maret lalu, tiga orang jeeral mendatangi Bung Karno di Istana Bogor dan memintanya menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret. Aku masih tak paham apa yang terjadi di tanah air. Sebagaimana bisa rapat cabinet yang dipimpin Bung Karno itu terinterupsi hingga seorang pimpinan besar revolusi harus diselamatkan ke Istana Bogor? Dan bagaimana bisa tiga orang jederal di Bogor menyodorkan surat yang begitu penting dan menentukan nasib bangsa ini? Peristiwa ini betul-betul menentukan segalanya. Aku menjadi gerah dengan sirkus politik ini”

Kutipan di atas merupakan suatu kejadian yang akan mengubah perjalanan bangsa Indonesia. Pada tanggal 11 maret tahun 1966,enam bulan setelah terjadi pembentukan PKI, sebuah peristiwa bersejarah yang menandai perubahan kepemimpinan di Indonesia terjadi. Surat itu seolah menajdi bukti bahwa tampuk kepemimpinan berpindah. Sebagaimana kutipan di atas, saya pun masih menganggap SUPERSEMAR adalah sebuah konpirasi yang di lakukan pihak Orde Lama, karena sampai saat ini pun belum ada bukti jelas mengenai adanya SUPERSEMAR.

Pengarang novel tersebut juga menuturkan bagaimana nasib etnis tionghoa pada saat kerusuhan mei 1998 terjadi. “ lalu mengapa harus ada peristiwa kekerasan persis di depan mataku pada saat aku mulai mencintai tempat ini, juga orang-orangnya? Menyerang dan menghajar rumah-rumah orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa? Tahun berapakah ini? 1998? Apakah kita mundur dua abad sembari mengadopsi kedunguan rasialisme? Atau setelah 33 tahun, tak ada yang berubah? Aku harus mengkoreksi ucapanku pada ayah.”

Kutipan di atas  secara kasat mata menjelaskan bahwa adanya peristiwa yang mana etnis tionghoa menjadi korban pada saat kerusuhan mei 1998 terjadi. Ini juga merupakan salah satu sisi gelap bangsa Indonesia yang coba di angkat dalam novel ini. Kerusuhan yang terjadi tidak hanya menumpahkan darah orang-orang etnis tionghoa, namun juga terjadi pelecehan-pelecehan seksual kaum wanita etnis tionghoa saat itu.

Terdapat juga sejarah dunia yang diangkat dalam novel ini yaitu pergerakan revolusi perancis yang juga menjadi ide dilakukannya reformasi untuk menggulingkan masa pemerintahan orde baru. Revolusi perancis terjadi pada mei 1968. Namun seiring waktu berlalu, tidak banyak yang mengetahui atau ingat gambaran besarnya, dimana benang merah yang mengaitkan suatu kejadian dengan kejadian lain, dana pa yang ada di balik suatu peristiwa atau rentetan peristiwa. Kerusuhan Mei 1998 telah menyebabkan tragedy besar, dalam, dan berkepanjangan bagi banyak komunitas dan keluarga, tetapi juga talah mengangkat ke permukaan segi-segi positif dari rasa kemanusiaan yang masih inheren dalam masyarakat Indonesia.

Di Jakarta, mahasiswa, kelompok-kelompok peduli masyarakat, dan akademisi mulai menyuarakan tuntutan agar Presiden Soeharto turun dari jabatannya. Namun dalam aksi-aksinya pengunjuk rasa ini menghadapi bahaya fisik yangserius, karena aparat keamanan langsung dikerahkan untuk “mengamankan” mereka. Kendati demikian, aksi-aksi ini tidak berhenti begitu saja. Tiap hari ada saja sejumlah pendemo yang ditangkap dan ditahan bahkan menghilang sampai sekarang.

“ sejak dua hari yang lalu, Alam dan Bimo mengatakan, mimbar bebas mahasiswa—yang sudah berlangsung sejak 1 Mei-pasti akan sangat panas pada puncaknya. Tanggal 20 Mei, informasi ini sudah beredar di kalangan mahasiswa, baik yang tergabung dalam Forkot (kalau tak salah ini singkatan dari Forum Kota, kelompok ekstra-kampus yang terdiri dari belasan perguruan tinggi) maupun mahasiswa, aktivis, dan para wartawan. Saya yakin para lalat—maaf saya sudah mulai tertular menggukanistilah Alam—yang mendengung juga sudah menyampaikan info ini kepada keamanan, karena di kampus mana pun yang saya kunjungu sejak tanggal 9 Mei lalu penjagaan sangat ketat”

“ Kali ini kampus Trisakti bukan hanya penuh oleh mahasiswa dan alumni, tetapi terlihat banyak tokoh yang datang menghadiri aksi berkabung ini. Aku melihat Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, Emil Salim, Ali Sadikin, Dan Adnan Buyung Nasution”

Selain berisikan sejarah, terdapat juga konflik politik dalam novel tersebut. Wirawan (2010: 67) menyatakan bahwa konflik politik adalah konflik yang terjadi karena pihak-pihak yang terlibat konflik berupaya mendapatkan dan mengumpulkan kekuasaan yang sama pada jumlahnya yang terbatas dan menggunakan kekuasaan untuk mencapai tujuan atau ideologinya.

Selanjutnya juga sejarah tentang reformasi yang ada dalam novel tersebut. di situ di ceritakan anak dari dimas dan anak dari Hanarto bertemu dan mengikuti reformasi yang di lakukan oleh seluruh Mahasiswa.

Duverger (1996: 276) mengemukakan bahwa konflik politik diidentifikasikan menjadi dua kategori, yaitu senjata-senjata pertempuran dan strategi politik. Senjata-senjata pertempuran meliputi kekerasan, kekayaan (kedudukan), organisasi, dan media informasi. Strategi politik meliputi konsentrasi atau penyebaran senjata politik, perjuangan terbuka, perjuangan tersembunyi, pergolakan di dalam rezim, perjuangan mengontrol rezim, strategi dua blok atau sentris, dan kamuflase.

  1. Senjata-senjata Pertempuran

Senjata-senjata pertempuran yang terdapat dalam novel Pulang ada empat, yaitu (1) kekerasan fisik, (2) kekayaan (kedudukan), (3) organisasi, dan (4) media informasi.

  1. Kekerasan Fisik

Dalam novel Pulang terdapat kekerasan fisik yang dilakukan oleh empat pihak, yaitu (1) penguasa melalui tentara pemerintah kepada pihak yang dianggap terlibat langsung dengan PKI, (2) penguasa melalui interogator kepada keluarga dan sanak famili yang dianggap terlibat PKI, (3) oknum PKI kepada masyarakat, dan (4) kekerasan fisik yang dilakukan gerombolan massa yang anarkis kepada perempuan keturunan Tionghoa di Indonesia.

Kekerasan fisik yang terdapat pada novel Pulang ada enam, yaitu (1) berupa pukulan, (2) pencambukan, (3) penculikan, (4) penyikasaan, (5) perkosaan, dan (6) pembunuhan. Berikut data yang dapat mewakili

“kekerasan fisik yang dilakukan oleh interrogator dengan mencambuk pihak yang dianggap terlibat PKI. Salah satu interogator, dengan sopan, menyampaikan mereka meminta Kenanga membersihkan salah satu ruangan di gedung itu. Saya hanya bisa menyetujui saja, meski belakangan saya baru tahu bahwa tugas Kenanga adalah mengepel bekas bercak darah kering yang melekat di lantai ruang penyiksaan. Dia bahkan menemukan cambuk ekor pari yang berlumur darah kering.”

  1. Kekayaan

Duverger (1996: 283) menyatakan bahwa kekayaan merupakan bagian dari hal yang mewarnai bentuk-bentuk konflik politik. Dalam novel Pulang terdapat lima kekayaan berupa faktor kelebihan yaitu berupa (1) kekuatan, (2) kharisma, (3) kekuasaan, (4) intelektual, dan (5) kemampuan ekonomi. Berikut data yang dapat mewakili kekayaan berupa kekuasaan

“yang dimiliki Presiden Soeharto. Presiden memanfaatkan kekuasaannya dengan membentuk kabinet yang berisi kroni dan puterinya sendiri. Hal tersebut mengakibatkan aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dan media Indonesia. Tetapi sebetulnya yang menarik adalah pemberitaan mengenai demonstrasi mahasiswa dan media Indonesia yang mulai berani cerewet karena kabinet baru yang dibentuk Presiden berisi kroni dan puterinya sendiri.”

  1. Organisasi

Organisasi merupakan salah satu bagian dari senjata pertempuran yang dapat menunjang pemerolehan kekuatan yang berujung pada kekuasaan. Organisasi atau kelompok yang terdapat dalam novel Pulang dibagi menjadi dua, yaitu (1) organisasi yang ingin merebut kekuasaan, yaitu PKI, Lekra, wartawan Kantor Berita Nusantara, Partai Sosialis Indonesia, Masjumi, SBBT, Gerwani, dan FORKOT, dan (2) organisasi yang mempertahankan kekuasaan, yakni prajurit tentara, intelijen, dan interogator. Berikut data yang dapat mewakili organisasi berupa organisasi

yang ingin merebut kekuasaan. Rasanya baru kemarin aku melihat bagaimana kota kita, Solo, terbelah oleh dua pendukung PKI maupun yang anti PKI. Ingat kan aku bercerita padamu sebelum kau berangkat ke Santiago, bagaimana pendukung PKI begitu agresif dan ganas menghajar lawannya? (hlm. 239). Kutipan di atas menceritakan bahwa PKI merupakan partai politik yang melakukan pemberontakan dengan menumpas pihak yang dianggap musuh yaitu pemerintah. PKI melakukan pemberontakan karena ingin merebut kekuasaan dari pemerintah.

  1. Media Informasi

Di dalam novel Pulang terdapat beberapa jenis media informasi yang berfungsi sebagai senjata-senjata pertempuran, yaitu surat, telegram, televisi, dan surat kabar. Berikut data yang dapat mewakili media informasi berupa telegram yang digunakan adik seorang eksil politik untuk berkomunikasi dengan kakanya yang diburu pemerintah karena dianggap terlibat PKI.

“Dia tahu, aku tak peduli dengan marabahaya dan ingin segera kembali ke Jakarta atau Solo, meski itu berarti aku bakal kena ciduk. Karena itulah Aji mengetuk kawat sebisa mungkin, hampir dua pekan setelah peristiwa 30 September meledak. Betapa beraninya dia. Betapa nekatnya dia mengirim telegram saat situasi di tanah air sangat panas dan penuh curiga.”

 

 

  1. Strategi Politik

Duverger (dalam Razi, 2009) mengemukakan bahwa strategi politik merupakan sebuah cara atau siasat yang digunakan untuk memenangkan perjuangan politik. Strategi politik yang terdapat dalam novel Pulang ada tiga, yaitu (1) perjuangan terbuka dan perjuangan diam-diam, (2) pergolakan di dalam rezim dan perjuangan mengontrol rezim, dan (3) kamuflase.

  1. Perjuangan Terbuka dan Perjuangan Diam-Diam

Perjuangan terbuka merupakan gerakan perjuangan yang dilakukan secara terang-terangan, sedangkan perjuangan diam-diam adalah perjuangan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dalam novel Pulang terdapat strategi politik berupa perjuangan secara terbuka. Perjuangan terbuka yang terdapat dalam novel Pulang dilakukan dengan melakukan aksi demonstrasi, membentangkan spanduk, dan keberhasilan mahasiswa menduduki gedung DPR.Berikut data yang dapat mewakil perjuangan terbuka yang terdapat dalam novel Pulang.

Aku tahu. Kawan-kawan sudah berada di lapangan, mendukung gerakan mahasiswa gabungan. Salemba pasti udah penuh sesak dengan lautan manusia dan spanduk yang menyelimuti Jakarta Pusat. Saat ini, spanduk itu masih mempersoalkan isu ekonomi: menolak kenaikan harga, kenaikan harga listrik, bahan bakar minyak. Kami mendengar bahwa pemerintah-baca Presiden Soeharto-percaya diri untuk menaikkan harga BBM meski situasi sudah sangat parah. Pasti dia menyangka tahun 1998 sama dengan tahun 1967 dan 1968, ketika dia baru saja berkuasa dan menaikkan harga BBM. Aku yakin sebantar lagi isu ini akan bisa berubah menjadi pergantian kabinet dan Sidang Istimewa.

 

Kutipan di atas menceritakan perjuangan terbuka yang dilakukan mahasiswa dari berbagai kampus dengan menggelar aksi unjuk rasa di Salemba untuk menolak kenaikan harga, kenaikan harga listrik, dan bahan bakar minyak. Dalam novel Pulang terdapat strategi politik berupa perjuangan diam-diam. Perjuangan diam-diam yang terdapat dalam novel Pulang dilakukan oleh pimpinan redaksi Kantor Berita Nusantara yakni, Hananto dan Nugroho. Mereka melakukan aksi bawah tanah dengan meningkatkan frekuensi korespondensi dengan tokoh-tokoh penganut komunis di luar negeri yaitu Andres Pascal Allende.

Hananto melakukan gerakan bawah tanah dengan meningkatkan frekuensi korespondensi dengan tokohtokoh penganut komunis di luar negeri yaitu Andres Pascal Allende. Sepanjang jalan Mas Hananto bercerita bagaimana dia dan Mas Nug kini sudah meningkatkan frekuensi berkorespondensi dengan orang-orang penting di sekeliling Andres Pascal Allende. (hlm. 35).

 

  1. Pergolakan Di Dalam Rezim dan Perjuangan Mengontrol Rezim

Duverger (1996: 321-322) mengemukakan bahwa pergolakan di dalam rezim berbentuk ketidaksepahaman dan menyebabkan perjuangan melawan suatu rezim. Berikut data yang dapat mewakili pergolakan di dalam rezim berupa pemberontakan yang dilakukan PKI pada 30 Septembe 1965.

PKI melakukan penculikan dan pembunuhan pada jenderal-jenderal yang menjadi petinggi militer di Indonesia. Di Santiago, di tengah konferensi itu, kami mendengar dari ketua panitia Jose Ximenez tentang meletusnya peristiwa 30 September. Kami terpana, sama sekali tidak menduga ada peristiwa sekeji itu. Berkali-kali aku meminta Mas Nug mengulang apa yang dia dengar dari Ximenez. Jenderal-jenderal diculik? Dibunuh?.”

 

Perjuangan mengontrol rezim berbentuk perjuangan untuk mengontrol atau mengendalikan keadaan di dalam rezim tersebut.Berikut data yang dapat mewakili perjuangan mengontrol rezim yang dilakukan pemerintah dengan melakukan perburuan besar-besaranpada anggota atau simpatisan PKI di seluruh Indonesia.

“Bukan hanya terjadi penangkapan, melainkan eksekusi besar-besaran. Dari hari ke hari, bahkan setiap tiga jam, kami mendengar berbagai berita buruk silih berganti. Anggota partai komunis, keluarga partai komunis atau mereka yang dianggap simpatisan komunis diburu habis-habisan. Bukan hanya ditangkap, tapi terjadi eksekusi besar-besaran di seantero Indonesia. Berita-berita ini muncul seperti sketsa-sketsa yang digambarkan oleh muncratan darah.”

  1. Kamuflase

Duverger (1996: 335-336) mengemukakan bahwa salah satu alat strategi yang digunakan dalam setiap jenis rezim ialah kamuflase. Alat ini dipakai oleh individu-individu, partai-partai, dan kelompok- kelompok yang berkepentingan di dalam perjuangan untuk memenangkan atau mempengaruhi. Berikut data yang dapat mewakili kamuflase yang dilakukan oleh Dewan Revolusi dan Dewan Jenderal melalui poster-poster yang disebarkan di berbagai wilayah untuk mempengaruhi warga Solo agar memberikan dukungannya pada pihak yang bertikai.

“Aku tahu betul bagaimana terbelahnya kota Solo saat itu: mereka yang mendukung “Dewan Revolusi” yang di belakangnya ada Walikota Solo, dan mereka yang mendukung “Dewan Jenderal”. Paling tidak itu yang dilaporkan Aji padaku saat aku masih di Jakarta. Perang urat saraf itu, menurut reporter Kantor Berita Nusantara di Solo, tercermin dari perang poster di mana-mana.”

Kesimpulan dari tulisan saya di atas bahwa, novel ini berisikan kepingan-kepingan inforrmasi mengenai sejarah Indonesia juga dunia. Namun yang perlu kita catat bahwa, tidak semua sejarah itu persis seperti yang ada dalam buku sejarah. Novel ini mencoba mengungkapkan dengan sudut pandang pengarangnya sendiri apa yang terjadi pada saat itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s