Claudia Putri

Sihir Perempuan adalah kumpulan dongeng gelap tentang perempuan-perempuan yang tak patuh. Perempuan bisa menjadi apa saja: ibu, anak, karyawati yang baik, hingga boneka porselen. Namun dalam buku yang menghadirkan 11 cerita pendek ini, peran-peran yang seharusnya nyaman justru diteror oleh lanskap kelam penuh hantu gentayangan, vampir, dan pembunuh. Di sinilah perempuan dan pengalamannya yang beriak dan berdarah terpintal dalam kegelapan.

Karya sastra adalah cermin dari suatu kondisi yang ada di masyarakat. Karya sastra diciptakan oleh para penulis yang mengemas karya tersebut baik menjadi puisi, prosa, maupun lakon. Terciptanya karya tersebut dengan adanya ide kreatif dan imajinatif berdasarkan pengalaman penulis, karena sesungguhnya karya sastra adalah realitas sosial yang ada di kehidupan nyata. Pada hakikatnya, sastra adalah sebuah ide, gagasan atau pikiran, serta perasaan  yang ingin disampaikan penulis kepada masyarakat melalui sebuah karya sastra. Maka dari itu, karya sastra terlahir dari kenyataan-kenyataan tercipta melalui perenungan yang mendalam dengan tujuan untuk dinikmati, dipahami, dan diilhami oleh masyarakat.

Kehidupan masyarakat dan realitas sosial yang terdapat dalam karya sastra menjadi sebuah proses penciptaan karya, mengenai apa yang terjadi pada manusia dengan kehidupan sosialnya. Bentuk yang dihasilkan dalam karya sastra beragam, tetapi salah satu bentuk karya yang menarik banyak minat masyarakat adalah karya sastra prosa berupa cerpen. Cerpen merupakan akronim dari cerita pendek, yang diusung dalam cerpen adalah cerita rekaan atau fiksi yang memiliki cakupan panjang, berbentuk prosa naratif atau karangan bebas narasi yang sering kali berisi khayalan, fiksi, ataupun imajinatif dan disajikan dengan ringkas. Biasanya panjang cerpen berkisar 500-15000 kata dan dilihat lebih ringkas dibandingkan dengan novel, pembaca dibuat lebih mudah untuk menangkap isi cerita, tetapi walaupun ringkas cerpen masih dalam kesatuan utuh fiksi.

Cerpen begitu digemari sehingga beberapa media cetak sering kali mencari penulis atau pengarang baru untuk memuat karya tulisan yang menarik, baru dan dianggap berbeda dengan pengarang perempuan lainnya. Antusiasme yang besar, memunculkan media-media cetak yang mengambil nama atau yang berunsur dengan perempuan. Sehingga, munculnya pengarang-pengarang perempuan baru yang membuat karya sastra tentang perempuan yang tidak hanya untuk disenangi tetapi juga untuk perenungan. Cerita yang dihadirkan memperlihatkan sisi perempuan yang berbeda, yaitu bebas dan mandiri, bahwa perempuan bukan objek penderitaan tetapi perempuan dapat berdiri tegak dan merupakan sosok yang kuat.

Beberapa media cetak juga membuat sayembara dan mencetak beberapa karya yang bagus dan menarik sehingga beberapa media visual tertarik untuk memvisualisasikannya. Seperti Mira W., yang berhasil membuat tulisan-tulisannya untuk dimuat di media cetak dan dijadikan layar kaca dan layar lebar. Tulisan pertama Mira W dimuat di majalah Femina pada tahun 1975, novel pertamanya dimuat sebagai cerita bersambung Harian Kompas, dan dibukukan oleh Gramedia Pustaka Utama. Selain itu, Linda Chistianty dalam tulisannya yang berjudul Daun-Daun Kering berhasil memenangkan sayembara Harian Kompas dan dibukukan Gramedia Pustaka Utama sebagai Cerpen Kompas Pilihan, dan cerita pendeknya juga berhasil memenangkan penghargaan di Khatulistia Award, yaitu Kuda Terbang Maria Pinto dan Rahasia Selma.

Isu-isu yang diangkat pengarang perempuan beragam, ketika kala itu Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu mengangkat seksualitas sebagai persoalan serius, berbeda dengan Intan Paramaditha yang tidak memandang seksualitas atau tubuh perempuan dikaryanya. Intan melihat perempuan dalam sisi gelapnya, yang tidak terlihat secara kasat mata, penuh misteri dan dituangkannya dalam Sihir Perempuan.

Sihir Perempuan merupakan kumpulan cerpen dari karangan Intan Paramaditha, yang merupakan seorang akademisi. Kumpulan cerpen ini masuk dalam lima besar Khatulistiwa Award pada tahun 2005. Selain itu, cerpen-cerpennya pernah dimuat pada Kompas dan Koran Tempo pada tahun 2004-2005, dan kemudian dibukukan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2017. Sihir Perempuan ini memuat 11 cerita, diantaranya cerpen Pemintal Kegelapan, Vampir, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Mobil Jenazah, Pintu Merah, Mak Ipah dan Bunga-Bunga, Misteri Polaroid, Jeritan dalam Botol, Sejak Porselen Berpipi Merah itu Pecah, Darah, dan terakhir adalah Sang Ratu. Tema keperempuanan yang diangkat ini tidak hanya terpaut pada hantu-hantu ataupun hal mistis, tetapi perlawanan perempuan dengan kekuatannya yang dapat dilihat dari persepektif feminis.

Ratna (2011:184) menyatakan bahwa kritik sastra feminis merupakan suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang berusaha mendeskripsikan dan menafsirkan pengalaman perempuan dalam karya sastra. Kritik sastra feminis dilakukan untuk menunjukkan citra perempuan dalam karya para penulis laki-laki yang menampilkan perempuan sebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkhal yang dominan.

Perempuan berdasarkan pengalamannya, dituangkan Intan bukan hanya hiburan berbau horor, atau horor keseluruhan yang menegangkan dan menyeramkan jika diikuti, tetapi untuk mengungkap jejak-jejak misteri perempuan yang hadir dari sudut tiap cerpen. Perempuan yang pemberani, penakut, pencerita, atau perempuan yang berubah menjadi hantu, menjadi satu dimensi dalam sisi gelap Sihir Perempuan.

Dalam 11 cerpen yang dihadirkan Intan, masing-masing cerita memiliki misteri sendiri, dan saya sangat tertarik untuk menguak apa yang ada pada cerpen Vampir, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, dan Mak Ipah dan Bunga-Bunga, yang menurut saya merupakan perlawanan perempuan dengan menampilkan kekuatan gelap disetiap tokohnya.

Cerpen Vampir, bercerita tentang tokoh ‘Aku’ bernama Saras yang memiliki cita-cita ingin menjadi sekretaris, dan keinginannya tersebut ditemukan oleh ibunya, akibat melihat kebiasaan yang sering dilakukan Saras, seperti yang terlihat dikutipan:

Sebenarnya dulu aku tak pernah bercita-cita menjadi sekretaris. Jika ditanya apa cita-citaku semasa kecil, aku selalu mengatakan menjadi dokter, seperti juga ribuan anak kecil lainnya. Tapi saat aku tumbuh dewasa ibuku mengamati sifatku yang rajin dan serba teratur. Aku suka membuat daftar belanjaan, anggaran uang jajan, atau daftar belanja. Aku tergila-gila pada pengelompokkan. Di kamarku ada kotak-kotak khusus untuk kaset dengan aliran musik berbeda. Aku bahkan tahu baju apa yang akan kupakai hari Jumat dua minggu mendatang. Kata ibu, “kau lebih cocok jadi sekretaris ketimbang dokter.” – halaman 14

Saras pun bekerja dan diterima oleh perusahaan jasa konsultan, dan bekerja menjadi sekretaris manajer pemasaran dengan bosnya yang muda, kaya, tampan, dan cerdas bernama Iwan. Sayangnya, Iwan sudah menikah dan dikenal sering bermain dengan kekuasaan dan perempuan. Akibatnya, Saras selalu menjaga jarak, karena takut-takut ia akan terjerumus. Pada cerpen ini terdapat kecakapan penulis dalam menuangkan narasi, terdapat dua cerita dengan dua narator Aku sebagai Saras, dan narator Aku sebagai Vampir.

Aku hidup di gua-gua pekat malam, terselimuti kabut abu-abu, tak kenal pagi dan embun. Aku tak berani menantang cahaya karana aku tak seperti kalian semua. Aku terobsesi merah. Merah yang tergenang menganak sungai beraroma ikan segar.

Aku haus

darah.

 Aku kupu-kupu hitam bersayap beludru, terbang dalam lorong-lorong dan terseret pusaran malam. Ia tak tahu penderitaanku, eranganku, gairahku. Ia menutup semua jendela untuk mengusirku yang terseok kehausan. – halaman 15

Tokoh ‘Aku’ sebagai vampir hidup jauh dari cahaya dan selalu ada dikegelapan, tanpa diketahui dan disadari oleh semua orang. Vampir adalah sebuah cerita horor dimana ia mampu membunuh manusia, beberapa cerita seperti di Barat, mengatakan vampir adalah makhlus halus yang bangkit dari kubur, keluar pada malam hari dan menghisap darah manusia. Sehingga warna merah, memperlihatkan warna yang menyerupai dengan darah.

Pergolakan tanda merah, juga dirasakan Saras saat melihat bosnya memakai dasi berwarna merah.

“Ada yang sangat salah dengan dasi itu. Mungkin warnanya kelewat terang, sungguh tidak cocok dengan atmosfer kerja yang penuh dengan warna dingin” – halaman 17

Sedangkan pada tokoh ‘Aku’ sebagai Vampir, menganalogikan warna merah dengan permen karet. Sesuatu yang ada, nyata, dan tidak bisa hilang begitu saja tanpa proses pengakuan. Selain itu, merah seperti darah dapat menjadi kelemahan serta kekuatan yang tidak disadari.

“Merah berhawa panas. Merah kadang menggumpal lengket dan tersangkut seperti permen karet. Merah menuntut pengakuan, peng-aku-an, tak bisa menunda, tak bisa luruh di saluran pembuanga. – halaman 17.

Kadang aku mencari tikus atau anjing atau apa saja. Aku terlalu lemah untuk membuka mata. Tak bisa bertahan, aku begitu haus. Ah, andai aku bisa menukar jiwaku dengan

            Darah! – halaman 16-17

Intan memainkan dua tokoh ‘Aku’ dengan dimensi yang berbeda, manusia dan vampir. Tokoh ‘Aku’ saling memiliki keterkaitan, yang tidak disadari oleh Saras, tetapi disadari oleh sosok misterius seperti vampir. Saras diajak oleh bosnya, Irwan,  untuk menemaninya minum kopi, dengan alasan sebuah pekerjaan ekstra.

Aku pun berusaha menerka makna lain di balik minum kopi. Yang ia maksud kopi tak berampas dalam cangkir, bukan minum segelas kopi tubruk di warung. Yang ia maksud tentunya berada di kelas tertentu, dengan tujuan tertentu, menjalin relasi atau networking mungkin. Menarik sekali untuk perkembangan karierku, tapi mari kutegaskan lagi bahwa aku tidak tertarik memperdalam relasi dengan laki-laki beristri. – halaman 17.

Keraguan Saras tidak hanya disadari oleh Irwan, tetapi tokoh ‘Aku’ sebagai vampir berhasil menguakkan apa yang ada di pikiran Saras, yang tidak disadari oleh Saras sendiri.

Munafik. – halaman 17.

Ia menginginkan lelaki itu, tapi tak mau jadi orang pertama yang disalahkan. – halaman 17.

Tokoh ‘Aku’ sebagai vampir ini bisa jadi adalah diri Saras. Penghisap darah ini hidup di tempat yang tidak terlihat, seperti yang terlihat pada narasi dimana pada kata ‘malam’ menjadi tempat hidup vampir. Konflik mulai muncul ketika Irwan mulai bertanya dengan siapa Saras tinggal, sebagai pertanyaan yang menjerumus, jebakan, yang sebenarnya disadari oleh Saras. Irwan juga menceritakan kehidupan rumah tangganya, untuk menarik simpati Saras.

Kemudian dimulailah ritual yang berbahaya itu: cerita klise tentang perkawinan yang tidak bahagia. Bahwa istrinya sibuk mengejar ambisinya sendiri, bahwa tak ada anak yang mengikat kedekatan mereka.

Aku harus mengakhiri semua ini. Ia tengah mencari mangsa.- halaman 19

Sikap professional Saras selalu diteguhkannya, sampai Irwan mengantarkan pulang dan meminta untuk ke kamar mandi. Suasana mencekam dibalut penulis dengan menghadirkan narator tokoh ‘Aku’ sebagai vampir.

Masuklah, masuklah ke dalam pagar wahai para pencuri. Mari berlompat-lompatan, jangan mengendap-endap. Lihat apa yang bisa kau cicipi di kebun buah. Aku ikut karena aku juga pencuri, pencuri hidup dan mati, dan ‘kan kujadikan kau

hantu. – halaman 18-19

Dengan kalimat disetiap cerpen ini yang menggantung, tetapi perlawanan Saras kepada Irwan dilawankan dengan tokoh ‘Aku’ sebagai vampir, sehingga Irwan yang sebenarnya ingin menjebak Saras, justru ialah yang terjebak dan dikalahkan oleh Saras. Perlawanan ini disimbolkan dengan darah dan dituangkan dengan narasi pada tokoh ‘Aku’ sebagai vampir dan tokoh ‘Aku’ sebagai Saras’.

Lehernya begitu indah. Dan aku begitu haus – halaman 20

Darah. – halaman 20

Cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, bercerita tentang tokoh ‘Aku’ yang merupakan kakak tiri dari Sinderalat. Kakak tiri ini buta dan menceritakan adik tirinya bernama Larat yang memiliki kisah hidup sama dengan cerita Cinderella, bahwa ia sering disuruh-suruh dan dipekerjakan seperti pembantu. Cerita ini merupakan dekonstruksi dari cerita Cinderella yang dikemas penulis dengan menampilkan sisi gelap dari tokoh Larat dan hidup kakak tirinya.

Ya, memang kami dulu agak tidak adil padanya. Kami suruh ia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat. Saat ia hendak ke pesta, kami melempar beras ke seluruh penjuru dan tidak memperbolehkannya ikut sebelum ia mengumpulkan semuanya dalam satu mangkuk. Tentu saja pekerjaan yang sia-sia, tapi ketika itu kami tidak tahu ia dibantu Ibu Bidadari keparat. Seperti yang kuduga sebelumnya, diam-diam Larat didatangi perempuan halus itu di loteng berdebu. Cerita yang sama seperti yang kau dengar? Nah, kini akan kuberi tahu apa yang berbeda. – halaman 25

Pada dongeng Cinderella, pasca ibu Cinderella meninggal, ayahnya menikah lagi dengan janda yang memiliki dua anak, ketika ayahnya pergi, Cinderella dipaksa bekerja, pun ketika ayahnya meninggal, Cinderella semakin dipaksa untuk bekerja dan tinggal di loteng. Suatu ketika akan digelar pesta oleh pangeran, dan Cinderella ingin ikut tetapi bajunya dirobek dan ia terpaksa di rumah. Tetapi, karena kebaikan hati Cinderella datang ibu peri yang membantu dan memberinya gaun merah dan sepasang sepatu kaca, dan memberikan syarat untuk pulang sebelum jam dua belas malam. Ketika bertemu dengan pangeran dan waktu akan habis, Cinderella meninggalkan sebelah sepatunya. Pangeran pun mencari perempuan yang dapat mengenakan sepatu tersebut dengan pas, perbedaan cerita pada dongeng Cinderella ini terlihat ketika kakak tiri menceritakan bagaimana ibunya berupaya untuk membuat sepatunya pas dikenakan kakak tirinya, termasuk menyuruhnya memotong jari kaki.

Ibu menyuruh Larat bersembunyi saat aku dan adikku bergiliran mencoba sepatu itu. Rupanya ia masih bermimpi kami bisa mendapat jodoh keturunan ningrat. Tapi sepatu itu terlalu kecil. Kakiku harus kupaksa masuk ke dalamnya agar aku bisa diterima. Sial, jari-jari kakiku begitu besar dan melebar! Aku tak bisa lagi mendorong karena ibu jariku melebihi ukuran gadis-gadis pada umumnya. Ibuku menyodori pisau, “Potong jari kakimu. Kelak jika kau jadi ratu, kau tak akan terlalu banyak berjalan. Jadi kau tak membutuhkannya.” Maka kuambil pisau itu dan kugigit bibirku saat aku berusaha memutuskan ibu jari kakiku. Kubuang bagian kecil tubuhku itu ke tempat sampah untuk menjadi santapan anjing. Kini kusadari, Nak, dunia ini memang penuh dengan sepatu kekecilan yang hanya menerima orang-orang termutilasi. – halaman 30

Lantas tragedi terulang lagi. Adik kandungku diminta mencoba dan ternyata kakinya juga terlalu besar. Hanya saja kali ini yang tidak masuk bukan jari, melainkan tumit. Seperti aku, ia mengamputasi sebagian kecil kakinya dengan pisau dapur. Seperti aku juga, ia sempat masuk ke dalam kencana dan bertemu burung pengungkap kebenaran di tengah jalan. – halaman 30

Kedua kakak tiri ini terpaksa mengamputasi kakinya untuk menuruti perintah ibunya. Hal ini sesuai dengan realitas yang ada, bahwa orang tua kerap kali mengekang dan meminta hal yang tidak bisa dilakukan anaknya, seperti nasib kakak tiri Larat. Mereka tidak bisa menjadi ratu, tetapi karena ibunya yang ingin hidup kaya, cara keji dilakukan hingga tanpa sadar secara langsung menyakiti fisik anaknya.

Pada dongeng Cinderella, ia akhirnya bertemu dengan pangeran, menikah, cerita pun tamat dengan akhir yang bahagia. Tetapi, pada kisah Larat masih terus berlanjut dan mengungkap bagaimana nasib kedua kakak tiri, ibu tiri, dan Larat sendiri. Tokoh ‘Aku’ membongkar sisi gelap Larat.

…..Tiba-tiba datanglah burung terkutuk itu. Burung yang sama seperti yang kami temui di jalan. Ia mematuki mata kami seperti menghunuskan pisau sarat dendam. Berkali-kali, hingga kami menjadi buta. Larat, saudara tiriku, menatap sambil melahap anggur sebesar biji mata. – halaman 32

Larat yang baik hatinya, pada penceritaan tokoh ‘Aku’ memperlihatkan ketidakpeduliannya atau acuh pada kakak tirinya. Terlihat bahwa ia hanya diam melihat kakak tirinya menjadi buta akibat dipatuk burung gagak. Kisah kakak tirinya yang biasa manja, berubah menjadi sosok yang tangguh dan mandiri untuk terus hidup dengan keterbatasan yang ada. Hal ini sama dengan realitas yang ada, bahwa perubahaan sikap dan sifat bisa berbeda dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Penulis melihat realitas tersebut dan menuangkannya dengan kisah Sinderalat, perubahan antagonis dan protagonis dibuatnya berbeda di akhir cerita.

….Aku meninggalkan desa dan hidup mengembara bersama adikku. Kami dua perempuan buta tak berguna, bertahan dan mengamen di sudut jalan. Adikku bermain kecapi dan aku menyanyi. Kami harus melakukannya, karena kami tak punya pangeran dan Ibu Bidadari – halaman 32

Cerpen Mak Ipah dan Bunga-Bunga, bercerita tentang tokoh ‘Aku’ yang bernama Marini, baru saja menikah dan harus mengikuti adat kampung suaminya, Farid, yaitu perayaan ngunduh mantu setelah dua minggu pernikahan. Tokoh ‘Aku’ harus mengikuti adat yang harus memaksanya melakukan hal yang tidak disenanginya, memasak.

“Lamo nian kau iris wortel itu. Sulit?”

Aku berusaha untuk tersenyum ramah. Ini bukan masalah kota atau desa. Aku memang tak suka memasak. Memasak seharusnya menjadi hobi, bukan kewajiban.

“Awak pengantin baru,” celetuk perempuan bergigi hitam di sebelahnya. “Baru belajar!”

            “Baru belajar boleh, tapi harus cepat-cepat isi!”  – halaman 65

Realitas yang terjadi, sering kali pemikiran memasak adalah tugas yang harus dilakukan seorang perempuan. Perempuan seperti dikekang dan diharuskan melakukan pekerjaan tersebut. Selain itu, pemikiran mengenai ‘isi’ atau keturunan, dimana pengantin baru harus cepat-cepat mendapatkan keturunan, sehingga perempuan merasa terbebani. Padahal, keturunan tidak harus membebani satu pihak. Anggapan pengantin baru juga disampaikan pada kutipan berikut:

Aku membungkuk untuk meletakkan gelas-gelas di meja kecil. Demikianlah mereka ingin memajangku. Pengantin baru yang manis, berlaku santun, dan gemar di dapur. Kudengar salah seorang tua berkomentar kagum, “Oooh… aku baru lihat istrimu, Rid.” Lalu, seperti biasa, perkenalan. Aku tak tahu siapa dia, tapi melihat banyaknya uban di rambutnya, kucium tangannya secara otomatis. – halaman 65-66

Pada adat kampung yang masih kental, norma-norma masih terus berlaku, norma kesopanan pun dilakukan tokoh ‘Aku’ yang mencium tangan orang yang lebih tua, meskipun bisa saja orang tersebut bukan bagian dari keluarga, tetapi sebagai bentuk rasa hormat.

 

Pemikiran dan anggapan mengenai memasak, disampaikan tokoh ‘Aku’ melalui narasi pada cerita. Ketidaksukaan dan secara tidak langsung, perlawanan juga disampaikan kepada Farid yang tidak membantu tokoh ‘Aku’ di dapur.

Aku berusaha untuk tersenyum ramah. Ini bukan masalah kota atau desa. Aku memang tak suka memasak. Memasak seharusnya menjadi hobi, bukan kewajiban. – halaman 65

Oh,” aku mendesah malas. “Yang lebih tidak kusukai adalah kalau kau ongkang-ongkang kaki di teras sementara aku bekerja di dapur.” – halaman 69

Pada saat itu, Marini pergi untuk membeli garam dan melihat tetangganya yang sedang menyirami bunga-bunga di depan rumahnya. Marini bingung, karena hanya tetangganya itulah yang tidak mendatangi rumahnya, atau sibuk membantunya memasak, sehingga hal itu membuat Marini penasaran dan menghampirinya.

Lagi pula semua perempuan sepertimu seharusnya sedang berkumpul di rumah mertuaku. Kau seorang tetangga, tentunya sudah lama hidup di sini. Kita seharusnya bertemu di dapur, dekat tungku menghitam, rebusan daging, dan ayam merah muda yang telah dikuliti. Tapi mungkin karena itulah aku tertarik padamu. Karena kau tak hadir di sana. – halaman 67

Marini mencari tahu, namanya adalah Mak Ipah dan tinggal sendiri. Tetapi pembicaaran Marini tentang hidup Mak Ipah berbanding terbalik ketika Farid yang menjelaskan bahwa anak perempuan Mak Ipah sudah meninggal karena diperkosa oleh laki-laki yang dibesarkan Mak Ipah dan laki-laki tersebut menghilang entah kemana. Marini menjadi penasaran, dan ingin mengungkap rahasia yang sebenarnya dari Mak Ipah.

Sisi gelap yang dihadirkan oleh Intan adalah seorang nenek tua yang terlihat lemah dan begitu kesepian justru memiliki sisi gelap yang tidak diketahui oleh semua orang, bahkan dengan tetangganya. Suasana mencekam itu, disampaikan pada narasi tokoh ‘Aku’ yang mengetahui bahwa laki-laki yang dibesarkan Mak Ipah hilang karena dibunuh.

…..Sebelum kau keluarkan uang yang diinginkannya, kau minta dia mencari jarum di kolong peti karena matamu tak terlalu awas. Si pembunuh membungkuk, membantumu untuk terakhir kalinya. Kau mengayunkan palu dan mulai berhitung… – halaman 74

Aku bekerja di malam hari saat kampung ini terlelap. Memotong-motong tubuhnya di bawah sinar petromaks. Sayang, ia tak lagi merasakan sakit. – halaman 74

Ironi pada bunga-bunga yang bermekaran di rumah Mak Ipah, keharumannya adalah untuk menutupi bau busuk yang dilakukan oleh Mak Ipah. Pembunuh yang harus mati dibunuh oleh ibu korban. Bau harum yang diciptakan, untuk menutupi kegelapan yang terjadi. Hal ini sama dengan realitas yang ada, untuk menutupi cara kotor, manusia membuat hal-hal yang baik, agar cara tersebut tertutupi, dan tidak terlihat.

Kumpulan cerpen Sihir Perempuan ini memperlihatkan kritik yang ingin disampaikan penulis dengan memperlihatkan sisi gelap perempuan yang tidak kasat mata, yang disadari ataupun tidak oleh perempuan itu sendiri. Intan berusaha mengalahkan pemikiran bahwa perempuan lemah, ditampilkannyalah tokoh-tokoh perempuan seperti tokoh ‘Aku’ pada Saras, kakak tiri Larat, dan Marini, yang tidak hanya menceritakan kegelisahan pada diri mereka, tetapi perempuan lain dengan memperlihatkan bagaimana perempuan berusaha mendobrak atau melawan melalui sisi gelapnya.

Pada cerpen Vampir, Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, dan Mak Ipah dan Bunga-Bunga, memperlihatkan realitas dari sisi gelap perempuan yang dihadirkan di tiap cerita. Saras selalu menanamkan perilaku professional baik di kantor maupun di luar kantor, walau ia harus digoda dan berusaha ditindas oleh atasannya, kritiknya dilawan melalui vampir yang secara misterius hadir, kakak tiri Larat yang mengikuti perintah ibunya untuk menjadi cacat, berusaha hidup walau keterbatasan dan pahitnya hidup ia jalani, kritiknya dilawan melalui cerita Larat yang hidup tidak berakhir bahagia, bahwa manusia pasti akan merasakan sengsaranya bahkan hingga ia matipun, dan Marini yang patuh mengikuti proses acara pernikahannya, anggapan mengenai pernikahan dan pengantin perempuan yang harus memasak dan memiliki keturunan, kritiknya dituangkan Marini melalui pemikirannya bahwa perempuan mempunyai hak, serta Mak Ipah hadir bukan sebagai perempuan kesepian tetapi perempuan yang berani. Sisi-sisi gelap ini disimbolkan dengan hantu, sosok misterius, atau pembunuh pada tiap cerita.

 

DAFTAR RUJUKAN:

 

Paramaditha, Intan. 2017. Sihir Perempuan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga

            Poststrukturalime Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s