Ria T. R.

 

“Orang-orang yang percaya bahwa ia bisa menemukan penjelasan di balik keajaiban mungkin tidak percaya ‘keajaiban’ itu ada sama sekali.” (Semua Ikan di Langit, hal. 162)

Karya sastra dilahirkan dari pemikiran dan imajinasi yang diekspresikan seorang pengarang. Pegarang berusaha menyampaikan pengalaman, perasaan, ide, dan pemikirannya. Karya sastra yang mudah dipahami dan digemari adalah prosa yang biasa disebut fiksi. Fiksi dikenal dengan kisah khayalan, imajinatif, bersifat rekaan yang bertujuan memberikan hiburan. Karya sastra sebagai refleksi atau cerminan dari realitas kehidupan yang memiliki problematika yang beragam. . Pengungkapan yang dilakukan oleh pengarang bisa ditangkap sebagai kritik sosial terhadap kehidupan di sekelilingnya, di samping sebagai penghayatan akan nilai-nilai yang dianggap ideal, sekaligus pencerminan akan suatu bentuk pemikiran atau ideologi, bahkan juga sebagai suatu terapi.

Kemampuan karya sastra dalam merepresentasikan realitas hidup memudahkan kita untuk menentukan berbagai kecenderungan, fenomena, atau bahkan kritik yang terjadi dalam masyarakat, seperti politik, sosial, budaya dan ideologi yang secara objektif sulit untuk dideteksi. Hal ini menjadikan pembaca tidak hanya membaca untuk bersenang-senang, melainkan untuk menambah khasanah pengetahuan mereka juga untuk sekadar menyelesaikan tuntutan hobi membaca.

Mudahnya seseorang untuk menumpahkan hasil pemikiran, ide cerita, dan yang berkaitan dengan hal tersebut memicu munculnya banyak karya sastra yang tidak lagi dipandang eksklusif. Hal ini terbukti bahwa beberapa tahun terakhir muncul penulis-penulis baru dan beberapa penerbit indie, atau self-publishing bermunculan. Apakah hal ini sejalan dengan harapan-harapan kita bersama yakni meningkatnya minat baca dan menulis atau justru tanda menghilangnya indikasi karya-karya yang bermutu? Artinya tidak ada lagi batas tentang kualitas bagus dan tidaknya karya sastra karena munculnya fenomena ini. Maka hadirnya kritik sastra dalam dunia sastra menjadi hal yang sangat berguna untuk ‘menyaring’ karya-karya yang kemudian dianggap bermutu.

Adalah Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, yang mengangkat cerita genre fantasi melalui novel-novelnya. Karyanya yang terbaru, Semua Ikan di Langit, didaulat menjadi pemenang tunggal Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016. Dengan kemenangan ini, Ziggy, dengan keterampilan berbahasa di atas rata-rata sebagaimana yang dikatakan dewan juri, telah menebarkan cerita fantasi ke tengah-tengah khalayak pembaca sastra tanah air.

Pembaca disambut dengan adegan sebuah bus DAMRI−narator dalam novel ini−pada awal cerita, yang tiba-tiba diluar kendalinya, dibawa terbang oleh segerombolan ikan julung-julung. Lalu, ikut pula seorang anak laki-laki berjubah dan segerombolan ikan julung-julung terbang bersama mereka terbang hingga ke luar angkasa. Dalam 259 halaman, Ziggy, melalui narator bus DAMRI tersebut, mengisahkan pengembaraan menelusuri angkasa raya bersama ikan julung-julung dan seorang anak laki-laki yang ia panggil sebagai Beliau. Mereka berkunjung ke sebuah ruang bernama Kamar Paling Berantakan di Seluruh Dunia. Kemudian, berjumpa dengan Nadezhda, seekor kecoa yang dikirim dari Rusia untuk misi upper space di tahun 2014. Lalu Shoshanna, korban Perang Dunia kedua yang memakai topi komunis. Seorang Pria jahat. Tukang Sepatu. Penjual Roti. Pohon Besar di luar angkasa dan anak-anaknya. Seorang Hamba. Serta masih banyak karakter khayali lainnya.

Sedikit banyak, pembaca akan segera menilai karya Ziggy ini punya hubungan dengan novel Le Petite Prince yang terkenal itu seperti kata Zen Hae yang dikutip dari interview ruang gramedia.

“Dibuka dengan narasi yang mengeluarkan aroma inosens yang mengingatkan kami kepada The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery. Dalam sudut pandang anak-anak (yang cerdas dan terbuang) kebebasan dan petualangan hadir dalam pelbagai bentuk. Bumi, langit dan angkasa raya bukan lagi kotak-kotak bersekat, begitu pula lapis-lapis waktu,”

Akan tetapi Semua Ikan di Langit memiliki alur, metafora dan cerita yang berbeda. Yang membuat mereka sama mungkin saja hanya keleluasaan penulis memainkan imajinasinya di luar ranah akal sehat. sebab demikian ia disebut sebagai cerita fantasi.

Sepertinya, Ziggy tidak hanya menunjukan betapa luar biasa dan imajinasinya semata. Ia menggunakan banyak metafora sebagai alat guna menyajikan makna-makna yang disembunyikan dalam ceritanya.

Beliau adalah nama salah satu karakter dalam novel ini. Wujudnya anak kecil, pucat, tidak bernapas, dan tidak bicara. Beliau, yang memimpin perjalanan sebuah bus dalam kota dan ikan julung-julung di luar angkasa, bisa jadi adalah metafora terhadap Tuhan atau pencipta yang mengenalkan dunia dan isinya kepada sebuah bus.

Sifat-sifat keilahian atau yang maha dimiliki oleh tokoh Beliau ini dari narasi bus DAMRI sendiri yang merasa takjub akan kemampuan Beliau. Ziggy membuat bab tentang “Mengenal Beliau” hingga lima kali. Dalam bab-bab itu, Bus Damri menarasikan Beliau sebagai zat yang Maha. Beliau diceritakan memiliki berbagai kemampuan ajaib. Beliau bisa membuat galaksi dari permen, memberikan kebahagiaan dengan menjahit hati, dan murka kepada mereka yang tidak percaya padanya. Namun jika benar Beliau ini diasosiasikan sebagai tuhan maka sangat janggal apabila melihat kutipan berikut

”Semua hal di dunia; semua boneka, semua kecoa, semua manusia dibuat dengan tangan Beliau.” (Zesyazeoviennazabrieskie, 2017:123)

Dari awal cerita tidak dipaparkan narasi bahwa beliau adalah tuhan sedangkan pada kutipan tersebut menyebutkan bahwa Beliau adalah tuhan yang menciptakan segala. Gambaran tersebut semakin salah ketika Nad, si kecoa, meragukan kemampuan Beliau dalam segala hal. Nad berkata, mustahil bagi Beliau bisa menumbuhkan bunga bakung di pasir. Beliau yang maha mendengar pun segera membuktikan bahwa ia sanggup dan dengan gampangnya menumbuhkan bunga bakung di pasir pantai. Sekali lagi, jika Beliau adalah ‘tuhan skala besar’ maka ini tidak benar. Beliau di sini memiliki arogansi dan Tuhan tidak.

Mau-tidak-mau, kita akan mengasosiasikan Beliau dengan pemahaman kita tentang sifat-sifat ilahiah dengan didukung oleh kutipan dari novel tersebut.  Terlebih ada bagian lain diceritakan secara konsisten kalau Bus DAMRI juga tak bisa menerka keinginan Beliau. Ada jarak di antara keduanya yang direpresentasikan lewat perwujudan Beliau yang terus mengambang dan tak pernah menyentuh lantai bus. Ada pula bagian yang bisa ditafsir sebagai jelmaan konsep pahala dan dosa. Atau keajaiban-keajaiban lain yang lebih fantasi dari alam fantasi novel ini. Dan semua itu dipertontonkan oleh Beliau di hadapan Bus Damri.

Ziggy memberi Bus Damri itu ‘hak’ untuk mengindra dan berkomunikasi, hingga otoritas untuk berasumsi. Ia mampu mendengar lewat lantai. Siapa pun yang menapakkan kaki ke dalam bus dan menginjak lantainya, bus DAMRI akan mengetahui sebagian kisah hidupnya tanpa mereka sadari. Ia juga bisa menangis melalui kaca spionnya. Marah dengan menyemburkan asap melalui knalpot. Kaget dengan membunyikan klaksonnya−tentu dengan tidak sengaja. Bisa bingung. Dan tentu saja bisa bahagia. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya, sejak awal tokoh saya dengan rendah hati menyebut dirinya sebagai bus DAMRI yang gembrot namun pada beberapa narasi tokoh bus ini justru sangat manusiawi. Ini bisa jadi adalah suara Ziggy sendiri, sehingga kejelasan narator dalam novel menjadi bias.

Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016 menyampaikan bahwa novel ini ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta. Memang benar, bahasanya enak dibaca, tak ada repetisi yang mengganggu. Serta tak banyak kesalahan penulisan. Hanya saja ada beberapa yang tak sesuai PUEBI. Seperti halaman 120, dalam bahasa Indonesia, penulisan ‘professor’ seharusnya ‘profesor’, dengan 1 saja huruf s. Kalaupun memang harus ditulis sesuai bahasa Inggris, mestinya dicetak miring.

Membaca Ziggy seperti membaca buku non-fiksi yang dibuat dengan struktur naratif–cold facts, trivia, diramu dengan narasi, dijelaskan, dijelaskan, dan lama-kelamaan akan terasa seperti membaca kumpulan ceramah. Gaya seperti ini mungkin cocok untuk menulis kisah high fantasy.

Semua elemen cerita dalam kisah ini berisi tentang imajinasi tentang banyak hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mulanya, pembaca akan mengira bahwa ini adalah kisah fantasi biasa, yang disajikan dalam sudut pandang orang pertama yakni adalah sebuah Bus DAMRI jurusan Dipatiukur-Leuwipanjang. Namun, dalam perjalanannya akan ditemukan makna. Banyak makna dan alegori tentang kehidupan tersaji dengan indah di sini; makna baik dan buruk, tentang cinta dan benci, ketakutan-ketakutan, kasih sayang dan tentang penghambaan pada Tuhan. Cerita tentang spiritualitas manusia disampaikan melalui analogi-analogi yang berada pada sudut pandang tokoh yang tidak lazim: Bus DAMRI, kecoa, bahkan seorang anak kecil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s