Febri irdian

Segala sesuatu yang di ciptakan atau yang terjadi di dunia ini tentu saja memiliki alasan,maksud dan tujuan tertentu, bahkan hal paling tidak penting pun pasti memiliki alasan sehingga menjadi hal yang tidak  penting tersebut, begitu juga dengan sebuah karya,dalam hal ini karya sastra, tentu saja karya sastra itu tidak tiba tiba lahir kedunia ini begitu saja,pasti akan sangat banyak alasan yang membuat sebuah karya sastra bisa muncul sampai menjadi sebuah buku yang pada akhirnya sampai ketangan kita untuk di siap di baca.

Grebstein (1968), mengungkapkan: pemahaman atas karya sastra hanya mungkin dapat dilakukan secara lebih lengkap apabila karya itu tidak dipisahkan dari lingkungan, kebudayaan atau atau peradaban yang menghasilkannya. Dikatakannya juga bahwa karya sastra sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural.

Pernyataan itu mengisyaratkan perlunya menghubungkan faktor sosio-budaya dalam usaha memahami karya sastra selengkapnya. Dari hubungan ini akan tampak bahwa dalam beberapa hal, ungkapan sastra sebagai cermin masyarakat mempunyai nilai kebenaran. Apalagi jika ternyata kita tidak memperoleh bahan tertulis tentang karya itu.

Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, dan bahasa merupakan ciptaan sosial. Sastra diciptakan sastrawan untuk dinikmati, dihayati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat (Damono, 2002: 1).

Dari apa yang di uraikan di atas dapat kita perolah kesimpulan sederhana bahwa sebuah karya sastra pasti terpengaruh oleh apa yang di rasakan atau yang di alami oleh sang penulis di lingkungannya,baik itu dari segi politik,idiologi, dan sosial masyarakat sehingga dalam karya yang di hasilkan oleh sang penulis terdapat gambaran sebenarnya yang di alami sang penulis di kehidupan atau harapan serta keinginan penulis tentang kehidupan yang di inginkannya.

Karya sastra yang menampilkan cermin masyarakat tampak lebih dominan terdapat pada novel daripada puisi atau drama, meski tidak sedikit pula drama dan puisi yang dihasilkan sas-trawan-sastrawan kita, sarat menampilkan gambaran demikian. Khusus mengenai novel, ada ke-cenderungan masalah tersebut berkaitan dengan warna lokal atau gambaran tradisi masyarakat tertentu. Jadi, tidak semua karya sastra dapat secara leluasa dianalisis berdasarkan pendekatan sosiologis.

Dalam hal ini, cermin masyarakat itupun mesti selalu dalam konteks konvensi sastra.Dalam sastra terdapat sebuat teori yang menganalisis sebuah karya sastra berdasarkan faktor sosial masyarakat nya yaitu sosiologi sastra.

Sosiologi sastra merupakan bagian mutlak dari kritik sastra, maksudnya adalah mengkhususkan diri dalam menelaah sastra dengan memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan. Produk telaahan itu dengan sendirinya dapat digolongkan dalam kritik sastra.

Sosiologi sastra adalah suatu telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan tentang sosial dan proses sosial. Maksudnya adalah bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masala perekonomian,keagamaan,politik DLL.

Sesungguhnya begini: sosiologi tetap punya arti penting bagi kritik sastra sejauh tetap menempatkan karya itu bukan sebagai objek sosiologi. Sosiologi berfungsi cuma sebagai alat bantu agar lebih memahami berbagai aspek sosial yang menjadi muatan karya sastra. Anggapan bahwa sastra sebagai cermin masyarakat, harus pula ditafsirkan sebagai masyarakat dalam karya yang bersangkutan yang erat kaitannya dengan latar sosio – budaya pengarangnya.

Pradopo (1993:34) menyatakan bahwa tujuan studi sosiologis dalam kesusastraan adalah untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai hubungan antara pengarang, karya sastra, dan masyarakat.

Rene Wellek dan dan Austin Warren membagi telaah sosiologis menjadi tiga klasifikasi. Pertama, sosiologi pengarang, yakni yang mempermasalahkan tentang status sosial, ideologi politik, dan lain-lain yang menyangkut diri penulis. Kedua, sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra. Yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya. Ketiga, sosiologi sastra yang mempermasalahkan tentang pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat .

Dalam kajian kali ini penulis akan menganalisis menggunakan klasifikasi ke dua menurut Rene Wellek dan Austin Warren yaitu “sosiologi karya sastra, yakni mempermasalahkan tentang suatu karya sastra. Yang menjadi pokok telaah adalah tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya”.

Objek kritik sastra penulis kali ini adalah novel pemenang sayembara 1 menulis novel dewan kesenian jakarta 2014 karya Mahfud Ikwan yang berjudul Kambing dan Hujan. Novel ini dipilih karna selain menjadi pemenang sayembara, juga karna isi cerita yang unik dan tak biasa yang di angkat oleh sang penulis untuk membalut kisah romantisme khas remaja dengan konfik ideologi kedua orang tua mereka.

Kisah dari novel ini sejatinya sederhana dengan premis khas Percintaan remaja pada umunnya, dimulai dengan pertemuan singkat tak sengaja dari tokoh utama miftah dan fauzia di sebuah bus antar kota yang menjadi awal dari semua kisah rumit yang akan mereka hadapi, “nurul fauzia kan? Anak pak fauzan ? hlm 9” sebuah awal percakapan singkat namun berarti panjang untuk mereka berdua.

Layaknya kedua insan manusia biasa pada umumnya,kedua pun nya lanjut  berkomunikasi lewat cara yang tak biasa namun unik yaitu surel “lalu karena alasan yang agak sulit di terima,tukar-menukar alamat surel dan bukannya nomor telepon, sudah begitu saja” hlm 12. Sebuah cara yang tak biasa dalam berkomunikasi, menjadi pertanda dari sang penulis bahwa perjalanan kisah mereka memang tak sebiasa orang-orang pada umumnya.

Kisah pun berlanjut, kedua insan manusia ini  mulai menunjukan ketertarikan satu sama lain, dan berniat ingin melanjutkan hubungan mereka ke taraf yang lebih serius, disinilah semua awal permasalahan muncul, karna ternyata terjadi perselisihan antara kedua orang tua mereka ,yang membuat hubungan itu seakan mustahil mereka jalani,”apa kamu sudah berpikir lebih jauh soal itu? Pak kandar menandaskan,jelas itu tak menjelaskan lebih banyak.hlm 18” sebuah kutipan dari percakapan pak kandar yang merupakan ayah dari miftah,jelas sekali sebuah tembok sudah membentang dalam hubungan mereka.

Meskipun mereka sadar bahwa hubungan keduanya sangat sulit untuk di terima keluarga dari kedua belah pihak namun mereka berdua tetap berusaha,dengan berpendirian bahwa usaha mereka pasti akan berhasil”abah belum bisa memutuskan setuju atau tidak dengan keputusan mu”hlm 36.

Mungkin awalnya sederhana saja,namun siapa sangka ternyata masalah nikah menikah antara miftah dan fauzia justru membawa mereka kedalam lorong waktu dan menyelami sejarah desa centong yang luar biasa dari mulai masyarakat nya pada zaman dulu, kejadian G 30 S yang sering di ibaratkan PkI sampai perbedaan pandangan agama islam dari dua ormas islam terbesar di indonesia NU dan Muhamadiyah.

Permasalahan utama nya tentu saja terdapat pada kedua bapak dari mereka yaitu iskandar bapaknya miftah yang merupakan pemimpin mesjid utara yang di analogikan sebagai Muhamadiyah “mif,anak pak kandar,bocah mesjid utara,kalau shalat subuh tak pakai Qunut.kata fauzia dengan nada yang disebal-sebalkan,abah puas? hlm35”. dan fauzan bapak nya fauzia pemimpin mesjid selatan yang di analogikan sebagai NU “dia orang selatan? Tanya mif dengan nada menebak. Hlm 19”.

Dari sini kita dapat memahami dengan memandang buku sebagai objek mandiri tanpa melihat pengarang atau penilaian pembaca lainnya, bahwa buku ini secara tidak langsung membantu kita memahami dampak dari berbagai kejadian besar yang pernah terjadi dan dampaknya bukan dari kota kota besar tapi dari sebuah desa kecil saja seperti centong yang ternyata sangat mempengaruhi sosial masyarakat bahkan ke hal-hal kecil sekalipun.

 

Selain tokoh utama yaitu mifta dan fauzia serta kedua bapak mereka yaitu fauzan dan iskandar yang menjadi kunci dari konflik yang ada dalam buku ini, juga terdapat tokoh tokoh lain seperti ibu dari fauzia yang bernama yatun yang ternyata pernah di sukai oleh iskandar bapaknya miftah sebelum akhirnya menjadi istri fauzan bapaknya fauzia sekarang.

 

Lalu ada tokoh cak ali nya iskandar dan cak ali nya fauzan yang sangat berperan penting dalam menginspirasi dan menjadi guru dari kedua orang tua itu sehingga sangat mempengaruhi tindakan dan perilaku mereka sekaligus sangat mempengaruhi jalannya cerita.

Belom lagi tokoh tokoh lain seperti, hafiz,anwar,sayudi dan beberapa tokoh lainnya,semua mempunya peran masing masing dan keberadaan nya tak hanya sekedar tempelan namun mempengaruhi pola pikir serta jalan cerita sehingga tak terkesan asal muncul saja.

Pada akhirnya Buku ini dengan jujur menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat indonesia umunnya di pedasaan yang masih sangat tabu dan sulit jika membahas masalah sosial, bahkan dari perbedaan pandangan tentang keyakinan pun terkadang masih  sangat sensitif untuk di bahas, pola pikir masyarakat desa yang bisa di bilang golangan tua seperti pak fauzan dan iskandar dengan pandangan masyarakat kota atau golongan muda yang di wakilkan lewat pemikiran mifta dan fauzia.

Seringkali berbenturan dan satu satu nya cara untuk bisa menyelesaikannnya dengan cara bernegosiasi,memahami, berdialog serta menyelesaikan masalah yang ternyata sudah terlanjur lama mengakar dalam kehidupan masyarakat desa centong.

Sekali lagi buku ini memang sangat unik,romantisme antara dua insan manusia di kemas dengan penjabaran serta pembelajaran sejarah, agama dan sosial masyarakat dengan sangat baik sehinggu kita dapat benar benar memahami apa yang sebenernya terjadi, dan tampaknya memang pantas buku ini menjadi pemenang satu sayembara menulis novel  dewan kesenian jakarta 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s