Dhika Anggoro Satrio

 

Dalam proses penciptaan kesusastraan, seorang pengarang berhadapan dengan suatu kenyataan yang ditemukan dalam suatu masyarakat (realitas objektif). Realitas objektif itu dapat berbentuk peristiwa-peristiwa, norma-norma (tata nilai), pandangan hidup, dan lain-lain bentuk-bentuk realitas objektif yang ada dalam masyarakat. Ia (pengarang) merasa tidak puas terhadap realitas objektif itu. Ia ingin memberontak dan memprotes. Sebelum pemberontakan tersebut dilakukan atau ditulis, ia telah memiliki suatu sikap terhadap realitas objektif itu. Setelah ada suatu sikap, maka ia mencoba mengangankan suatu “realitas” baru sebagai pengganti realitas objektif yang sekarang ia tolak. Hal inilah yang kemudian ia ungkapkan di dalam ciptasastra yang diciptakannya. Ia mencoba mengutarakan sesuatu terhadap realitas objektif yang ia temukan. Ia ingin berpesan melalui ciptasastranya kepada orang lain tentang suatu yang ia anggap sebagai masalah manusia. Ia berusaha merubah fakta-fakta yang faktual menjadi fakta-fakta yang imajinatif dan bahkan menjadi fakta-fakta yang artistik. Pesan-pesan justru disampaikan dalam nilai-nilai yang artistik tersebut.

Representasi merekonstruksi serta menampilkan berbagai fakta sebuah objek sehingga eksplorasi sebuah makna dapat dilakukan dengan maksimal (Ratna, 2012: 17). Jika dikaitkan dengan bidang sastra, representasi dalam karya sastra merupakan penggambaran karya sastra terhadap suatu fenomena sosial. Penggambaran ini tentu saja melalui pengarang sebagai kreator.

Representasi dalam sastra muncul sehubungan dengan adanya pandangan atau keyakinan bahwa karya sastra sebetulnya hanyalah merupakan cermin, gambaran, bayangan, atau tiruan kenyataan. Dalam konteks ini karya sastra dipandang sebagai penggambaran yang melambangkan kenyataan (mimesis) (Teeuw, 2013: 174).

Jika berbicara tentang reprensentasi dalam karya sastra maka tidak akan terlepas kaitannya dari mimetik sebagai pendekatannya. Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan realitas atau kenyataan. Mimetik dalam bahasa yunani disebut tiruan. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai imitasi dan realitas. Hal ini diperkuat oleh pendapat Najid (2009:47) pendekatan mimetik adalah pendekatan yang memandang prosa fiksi sebagai hasil ciptaan manusia yang ditulis berdasarkan bahan-bahan yang diangkat dan semesta (pengalaman hidup penulis atau hasil penghayatan penulis terhadap kehidupan disekitarnya).

Dalam pendekatan ini, karya sastra merupakan hasil tiruan atau cermin dari kehidupan. Dalam mengkaji sebuah karya sastra dengan menggunakan pendekatan mimetik, dibutuhkan data-data yang berkaitan dengan realitas kehidupan yang ada dalam karya sastra tersebut. Karena pendekatan mimetik menghubungkan karya sastra dengan realitas, maka kemudian muncul anggapan bahwa karya merupakan cerminan dari realitas, sehingga hakikat karya sastra yang bersifat fiktif sering kali dilupakan. Hal ini sangat berbeda dengan makna karya sastra yang merupakan hasil karangan fiktif pengarang. Kajian semacam ini dimulai dari pendapat plato tentang seni. Plato berpendapat bahwa seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang tampak pada dunia nyata. Ia berdiri di bawah kemyataan itu sendiri. Wujud yang ideal tidak bisa terjelma langsung dalam karya seni. Seni yang terbaik lewat mimetik dan benar. Sedangkan menurut Aristoteles, seniman tidak meniru kenyataan, manusia dan peristiwa sebagaimana adanya. Seniman menciptakan dunianya sendiri. Dalam memilih tema cerita, sastrawan harus punya kepekaan terhadap keadaan masyarakat dan zamannya. Sastrawan harus bisa menangkap berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Sangat disayangkan bila karya sastra hanya menggambarkan hal-hal yang indah dan baik, padahal masyarakat sekitarnya dalam kesulitan dan kesusahan. Banyak novel, cerpen dan film Indonesia yang menggambarkan kehidupan mewah, padahal kebanyakan masyarakat Indonesia dalam kenyataan hidup yang getir (Lubis, 1997:8). Dalam pandangan mimetik, karya sastra tidak mungkin dapat dipahami tanpa mengkaitkannya dengan semesta sebagai sumber penciptannya.

 

Sinopsis Novel Negeri di Ujung Tanduk Karya Tere Liye

Setahun setelah Thomas berjuang menyelamatkan Bank Semesta, ia telah menambahkan unit bisnis dalam perusahaan konsultannya. Jika dulu ia hanya fokus mengurus strategi keuangan dan instrumen investasi, sekarang Thomas merambah dunia politik. Menjadi konsultan strategi politik, Thomas telah berhasil mengantar dua kliennya memenangkan pemilihan gubernur. Ia sukses menunjukkan bahwa kompetisi politik bisa dimenangkan dengan kalkukasi yang cermat.

Bagi Thomas sendiri, politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, sebuah industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia. (hlm. 20).

 

“Sebagaimana sebuah bisnis omong kosong dijalankan, kita harus berdiri di atas ribuan omong kosong agar omong kosong tersebut menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan dibeli dengan larisnya oleh para pemilih. Anda boleh saja tidak sependapat. Silakan. Tetapi saya dibayar mahal memoles omong kosong tersebut, menjualnya, dan simsalabim, menjadi king maker, mendudukkan orang-orang di kursi kekuasaan.” (hlm. 20-21).

 

Setahun sebelumnya, setelah kasus penyelamatan Bank Semesta, dalam penerbangan menuju London, Thomas bertemu JD, mantan wali kota dan gubernur yang dikenal sebagai figur muda yang sederhana dan bersih. Pertemuan itu menjadi momen penting dalam hidup Thomas.  Percakapan dengan JD menginspirasi Thomas untuk terlibat dalam dunia politik.

 

“Kau tahu, Thomas, masalah terbesar bangsa kita adalah penegakan hukum. Hanya itu. Sesederhana itu,”kata JD (hlm. 113). “Penegakan hukum adalah obat paling mujarab mendidik masyarakat yang rusak, apatis, dan tidak peduli lagi. Penegakan hukum adalah kunci semua masalah. Kita harus menyadari hal ini. Kita sebenarnya sedang berperang melawan kezaliman yang dilakukan kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita yang mengambil keuntungan karena memiliki pengetahuan, kekuasaan, atau sumber daya. Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk, Thomas.” (hlm. 114 & 116).

 

Dalam sosok JD Thomas menemukan jawaban dari pertanyaan yang melindap dalam benaknya terkait sosok politikus dengan kemuliaan dan kelurusan hati bak Gandhi atau Nelson Mandela. Maka, Thomas pun menawarkan diri menjadi konsultan strategi demi mewujudkan penegakan hukum yang dikehendaki JD. Dan karena presiden merupakan pemilik komando tertinggi bagi penegakan hukum di Indonesia, cita-cita JD hanya bisa direalisasikan dengan menjadi presiden.

Menjelang konvensi partai yang akan mengumumkan secara resmi kandidat presiden dari partai yang menominasikan JD, mendadak terjadi terjadi peristiwa yang tidak diantisipasi Thomas sebelumnya. Terjadi ekskalasi besar-besaran dari peserta konvensi yang ditandai dengan manuver raksasa yang dilakukan pihak lawan JD. Situasi yang berkembang tidak terduga itu membuat JD meminta Thomas yang berada di Hong Kong untuk kembali ke Jakarta. Tapi sebelum Thomas meninggalkan Hong Kong, seusai konferensi mengenai komunikasi dan pencitraan politik, ia ditangkap satuan khusus antiteror otoritas Hong Kong. Di dalam kapal yang digunakan Opa dan Kadek menjemput Thomas di Makau, ditemukan seratus kilogram bubuk heroin serta setumpuk senjata api dan peledak. Tidak ada hipotesis lain yang terbentuk di benak Thomas selain bahwa kejadian ini adalah salah satu agenda serius yang dijalankan pihak lawan JD.

Ditahannya Thomas di Hong Kong, membuat ia tidak bisa hadir di konvensi partai. Untunglah ada Lee, pengusaha Hong Kong yang dikalahkannya dalam pertarungan di Makau. Lee berhasil meloloskan Thomas dan mengatur perjalanan pulang Thomas ke Indonesia. Setibanya di Jakarta, Thomas disambar berita penangkapan kliennya. JD ditetapkan sebagai tersangka korupsi megaproyek tunnel raksasa selama menjabat sebagai gubernur ibu kota. Penangkapan itu tak pelak lagi disinyalir Thomas sebagai upaya pembunuhan karakter untuk mencemarkan reputasi cemerlang JD. Kemungkinan besar, JD akan didiskualifikasi dari kandidat calon presiden partai.

Maka sebelum notifikasi pelariannya dari Hong Kong menyebar ke seluruh jaringan interpol dunia dan menobatkannya menjadi buruan internasional, Thomas harus bergerak cepat memperjuangkan nasib kliennya. Ia harus pergi ke Denpasar untuk melakukan konsolidasi para pendukung JD. Tapi hal itu pun tetap tidak mudah. Karena seperti dugaan Thomas, ada kelompok yang disebutnya sebagai mafia hukum, bergerak di belakang setiap kejadian itu.

Apakah Thomas bisa menghadiri konvensi partai dan mengembalikan kepercayaan semua pendukung JD? Thomas, mau tak mau, mesti merancang sebuah plot untuk bisa menghadapi tekanan demi tekanan mematikan yang dihadapinya. Tidak hanya berupaya membawa keluar seorang saksi mahkota dari tahanan kepolisian, Thomas pun menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi, untuk menjalankan rencananya. Hingga pada akhirnya ia menyadari, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan para pendiri benteng kekuasaan yang mampu melakukan apa saja demi pencapaian tujuan mereka. Dan sebagai pemimpinnya adalah bedebah yang menyeruak dari puing-puing masa lalu Thomas.

Setelah memunculkan permasalahan di bagian awal novel, kegentingan situasi diciptakan untuk membawa sang karakter utama mengerahkan semua kemampuannya untuk memutuskan rantai kejahatan yang menantang nyalinya. Di penghujung upayanya sebagai tokoh pahlawan, ia diperhadapkan dengan kejutan yang membuatnya limbung sekaligus kian berkobar amarahnya. Tapi sebagaimana dalam prekuelnya, sang protagonis tetap akan diberikan kemenangan, dan jalan menuju ke sana, selalu datang secara tak terduga.

Thomas memang hanya melakukan apa yang dipikirkannya sebagai tanggung jawabnya sebagai seorang konsultan strategi. Tapi sebenarnya ia telah menunjukkan sebuah sikap, yang tidak disadarinya, sampai seseorang mengingatkannya, tepat di bagian pamungkas novel.   

 

Kau tahu, Thomas, jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian.

Begitu juga hidup ini, Thomas. Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang. Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh dengan kehormatan. Kehormatan seorang petarung. (hlm. 358-359).

 

Thomas dalam Negeri di Ujung Tanduk, memiliki kesenangan bertarung, yang telah berpengaruh besar dalam pembentukan karaktenya sebagai seorang pejuang tangguh. Ia masih Thomas yang memiliki kehidupan steril cinta. Saya menduga, sampai novel ini berakhir, cinta belum menjadi prioritas Thomas, sekalipun Tere Liye menampilkan karakter perempuan menarik seperti Maryam, wartawati review mingguan yang menyusul Thomas ke Makau untuk mewawancarainya. Thomas yang ini, masih membutuhkan bantuan orang di sekitarnya untuk mendukung perjuangannya. Maka, Maggie, sang sekretaris yang cekatan, masih tetap muncul dalam novel ini. Demikian pula Rudi, polisi yang menjadi teman Thomas sejak bertemu di klub petarung Jakarta. Liem Soerja alias Om Liem, meski dalam status tahanan, bertekad membantu Thomas demi sebuah kehormatan dan penghargaan yang menghilang dari kehidupannya. Tere Liye menambahkan satu karakter pendukung yang dibutuhkan Thomas, yaitu Kris, staf khusus bagian teknologi Informasi, yang memiliki latar belakang sebagai peretas jaringan amatir. Opa dan Kadek, masih ditampilkan tapi kehadiran mereka di sini tidak menjadi elemen penting.

 

Kritik Mimetik Novel Negeri di Ujung Tanduk

Kritik mimetik adalah kritik yang memandang karya sastra sebagai pencerminan kenyataan kehidupan manusia. Menurut Abrams, kritikus pada jenis ini memandang karya sastra sebagai tiruan aspek-aspek alam. Sastra merupakan pencerminan/penggambaran dunia kehidupan. Sehingga kriteria yang digunakan kritikus sejauh mana karya sastra mampu menggambarkan objek yang sebenarnya. Semakin jelas karya sastra menggambarkan realita semakin baguslah karya sastra itu. Kritik jenis ini jelas dipengaruhi oleh paham Aristoteles dan Plato yang menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan.

Novel Negeri di Ujung Tombak karya Tere Liye mirip dengan keadaan dan situasi politik di Indonesia baru-baru ini. Novel bercerita tentang seorang pemuda bernama Thomas yang ingin membantu klien politiknya yang bernama JD agar dapat memenangkan pemilihan presiden. Pada bagian awal cerita dikisahkan bahwa Thomas sedang ingin bertarung melawan Lee, seorang penjudi dari China. Kemudian setelah Thomas menang, dia mendapat kabar bahwa klien politiknya dituduh sebagai tersangka korupsi. Padahal tinggal beberapa langkah lagi klien politiknya itu menjadi presiden. Dan ternyata orang yang telah merekayasa agar JD ditangkap adalah lima pejabat yang berhubungan dengan kasus korupsi Gedung Olaraga Nasional. Alasan mereka ingin menjebloskan JD ke dalam penjara karena mereka takut kasus korupsi tersebut diusut kembali.

Cerminan tersebut mirip dengan kejadian kasus korupsi Hambalang yang pernah terjadi di Indonesia dimana ada beberapa pejabat yang terlibat di dalamnya. Pejabat yang pertama adalah Wafid Muharam, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga. Kemudian Mindo Rosalina Manulang, Direktur Pemasaran PT Anak Negeri. Selanjutnya ada seorang Direktur Pemasaran PT Duta Graha Indah yaitu Mohammad El Idris. Dan yang terakhir adalah M. Nazaruddin, bekas Bendahara Partai Demokrat. Jika di dalam novel diceritakan terdapat lima pejabat tetapi dalam kasus Hambalang hanya terdapat empat saja. Dan menurut  pendapat penulis orang kelima dalam novel Negeri di Ujung Tanduk yaitu Shinpei, adalah merupakan tokoh fiktif cerminan dari otak kasus Hambalang yang sampai saat ini belum diketahui.

Dalam novel ini juga diceritakan bahwa dalam perjalanannya menuju London, Thomas bertemu JD, mantan wali kota dan gubernur yang dikenal sebagai figure muda yang sederhana dan bersih. Pertemuan itu menjadi momen penting dalam hidup Thomas. Percakapan dengan JD menginspirasi Thomas untuk terlibat dalam dunia politik. Dalam sosok JD, Thomas menemukan jawaban dari pertanyaan yang melindap dalam benaknya terkait sosok politikus dengan kemuliaan dan kelurusan hati bak Gandhi atau Nelson Mandela. Maka, Thomas pun menawarkan diri menjadi konsultan strategi demi mewujudkan penegakan hukum yang dikehendaki JD. Dan karena presiden merupakan pemilik komando tertinggi bagi penegakan hukum di Indonesia, cita-cita JD hanya bisa direalisasikan dengan menjadi presiden. Sosok JD yang digambarkan Tere Liye dalam novel tersebut mirip dengan sosok Joko Widodo yang juga merupakan mantan wali kota Solo sekaligus mantan gubernur DKI Jakarta dan sekarang telah menjadi presiden Indonesia. Menurut penulis novel ini juga merupakan bentuk dukungan Tere Liye kepada siapapun presiden Indonesia saat ini agar tetap kuat menghadapi mafia politik dan mengusut tuntas kasus korupsi yang ada di Indonesia.

Diceritakan juga dalam novel, Thomas juga sempat ditahan oleh pihak berwajib di Jakarta, akan tetapi lagi-lagi dia cukup beruntung memiliki sahabat yang berhasil membantunya untuk menghadiri konvensi calon presiden di Denpasar, Bali. Latar tempat dalam cerita ini semakin menguatkan intrik politik ini terjadi di Indonesia, walaupun terdapat beberapa latar tempat seperti London dan Hong Kong tetapi fokus permasalahan terjadi di Indonesia.

 

Novel karya Tere Liye kali ini memuat sindiran akan buruknya kehidupan berpolitik bangsa. Menyindir keserakahan para penguasa. Menyindir kehidupan sebuah negeri di ujung tanduk. Negeri yang semakin lama semakin rusak. Bukan karena orang jahat semakin banyak, namun karena banyak orang yang memilih untuk tidak peduli lagi akan bangsanya. Memilih berbagai jalan untuk mencapai ambisi, meskipun jalan itu tidak sesuai hati nurani.

Buku ini menarik ketika kita telah membaca novel awal Negeri Para Bedebah. Mengambil setting latar Indonesia dan segala permasalahannya, membuat saya sebagai pembaca menjadi dekat dan menarik untuk membaca. Cara pelarian yang terkadang di luar logika menambah daya tarik novel ini. Masukkan untuk penulis adalah sindiran yang terlalu halus menjadikan novel ini kurang pedas untuk dibaca.

 

Tere Liye ingin menyampaikan bahwa penegakan hukum di tanah air, Indonesia memang masih sangat lemah. Hal ini terbukti dari berbagi kasus korupsi yang terjadi hingga berlarut-larut belum juga tuntas. Dan lagi fasilitas penjara yang membedakan orang-orang yang melakukan korupsi dengan yang tidak. Orang-orang yang melakukan korupsi seperti Om Liem, Paman Thomas, memiliki fasilitas penjara yang tidak layak untuk disebut penjara. Om Liem terjerat kasus korupsi dan dijadikan tersangka korupsi. Kehidupannya cukup enak di dalam penjara karena apapun yang dia inginkan sudah tersedia. Kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak memperdulikan lagi hal-hal sepela yang akan berakibat buruk ke depannya. Tere Liye mengibaratkan bahwa negeri ini sedang berada di ujung tanduk. Dia tidak menyebutkan negeri ini di mana, namun di dalam ceritanya dia menyebutkan kita Jakarta dan Bali. Memang ini merupakan refleksi dari kehidupan kita. Untuk itu mulailah dengan peduli dengan sesama karena rasa kepedulian saat ini mulai menghilang dari masyarakat. Hal kecil yang kadang terabaikan bisa merubah masa depan. begitu juga dengan politik yang tidak pernah ada habisnya jika dibahas. Bahkan sekarang ini politik tidak segan untuk ‘membunuh’ sesama, saling membodohi, dan memperbudak.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s