Zahra Salsabila

Pengantar

Karya sastra yang selama ini turut meramaikan kehidupan kita, tentunya memiliki beberapa fungsi lain yang lebih penting daripada sekadar hiburan, seperti yang dikutip dari Amriyan Sukardi dalam sastrawan.web.id. Selain untuk mengkomunikasikan ide-ide atau menyalurkan pikiran dan perasaan dari pembuat estetika manusia, dalam karya sastra juga ada deskripsi peristiwa, gambaran psikologis, dan pemecahan masalah jangkauan dinamis. Hal ini dapat menjadi sumber ide dan inspirasi bagi pembaca. Konflik dan tragedi yang digambarkan dalam karya sastra untuk memberikan kesadaran kepada pembaca bahwa ini bisa saja terjadi dalam kehidupan nyata dan dialami langsung oleh pembaca. Kesadaran yang membentuk semacam kesiapan batin untuk mengatasi kondisi sosial yang berlaku dalam masyarakat.

Sebuah karya sastra memang seakan belum lengkap tanpa hadirnya kritik yang menyinggung karya itu sendiri untuk turut memperluas perspektif para pembaca mengenai hal-hal yang mungkin luput dari perhatian. Oleh karena itu, kritik sastra kemudian muncul sebagai bentuk penghargaan, penilaian, dan penafsiran terhadap sebuah karya sastra.

Bentuk-bentuk penghargaan terhadap karya sastra dapat dilakukan dengan beberapa hal, yakni mengidentifikasi karya sastra melalui pancaindra, membaca karya dan meresapinya, memberikan tanda penghargaan material maupun mental, apresiasi sastra dengan berupaya menikmati dan menghargai karya sastra, serta mengenalkan karya sastra ke khalayak yang lebih luas (Rohman, 2017: 13).

Selain itu, kritik sastra yang tak pernah lepas dari sejarah sastra dan teori sastra ini juga tentunya berhubungan erat dengan ilmu-ilmu lain seperti antropologi, sosiologi, politik, filsafat, sejarah, dan psikologi, karena dalam sebuah karya sastra yang bagus tentunya memiliki suatu hal yang dapat ditelisik lebih lanjut menggunakan salah satu dari beberapa bidang ilmu di atas.

Menurut Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sendiri, perkembangan sastra Indonesia tak pernah lepas dari sejarah kritik sastra. Peranan kritik sastra sangat penting sebagai pendorong perkembangan sastra dan edukasi publik terkait kesusastraan. Kritik sastra juga sebagai katalisator yang besar peranannya untuk mendorong lahirnya karya-karya sastra bermutu di Indonesia.

Selain rutin menyelenggarakan Sayembara Kritik Sastra, Dewan Kesenian Jakarta juga turut mengadakan Sayembara Menulis Novel yang kerap kali menghadirkan tulisan-tulisan dari pengarang baru dengan menghadirkan nuansa cerita yang berbeda dan lain daripada yang lain. Salah satu pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta yang boleh dikatakan ajaib ialah novel berjudul Semusim, dan Semusim Lagi yang merupakan debut seorang wanita muda bernama Andina Dwifatma.

Tentang Semusim

Semusim, dan Semusim Lagi ialah Pemenang Pertama Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012. Novel yang dikomentari dengan “ditulis dengan teknik penceritaan yang intens, serius, eksploratif, dan mencekam” oleh Dewan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 ini memiliki judul yang diakui sang penulis diambil dari sajak Sitor Situmorang pada tahun 1953 yang berjudul Surat Kertas Hijau. Entah apa hubungannya antara Semusim, dan Semusim Lagi dengan sajak tersebut—karena dalam cerita tak disinggung sama sekali mengenai Sitor, selain kemunculan kalimat tersebut di akhir cerita. Walau memang tokoh ‘aku’ mendapatkan sepucuk surat—cokelat dan bukan hijau, pada bagian awal cerita. Dapat saya simpulkan bahwa hubungan antara novel ini dengan sajak Sitor hanyalah kedua hal tersebut.

Dari sebuah sajak, seorang penulis memindahkan suatu baris dan menjadikannya suatu judul, lantas melanjutkannya dengan kalimat demi kalimat, yang akhirnya terbentuk menjadi roman ini. Saya kira itulah cara yang baik untuk merayakan keberadaan kata, di tengah dunia yang lebih sering tak sadar bahwa kata itu ada, sehingga menyia-nyiakannya. Namun menulis bukanlah satu-satunya cara, karena masih ada cara lain untuk merayakannya, yakni membacanya.” (Seno Gumira Ajidarma)

Semusim, dan Semusim Lagi terasa sangat realis pada awalnya karena bercerita mengenai seorang gadis tanpa nama yang masih duduk di bangku SMA—baru lulus lebih tepatnya. Gadis ini sekaligus menjadi tokoh ‘aku’ karena novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama. ‘Aku’ yang tinggal hanya berdua bersama ibunya tiba-tiba mendapatkan sepucuk surat dari ayahnya—yang sudah bercerai dengan ibunya, memintanya untuk menjenguk di kota S karena ia sedang dilanda penyakit langka.

‘Aku’ yang tidak ingat apa pun mengenai sosok sang ayah kemudian bingung untuk menentukan. Di satu sisi ia penasaran dengan sosok sang ayah, di sisi lain ia tak ingin meninggalkan ibunya yang menjadi seperti depresi tiba-tiba. Lagipula ‘aku’ yang sangat ingin melanjutkan pendidikan ke Ilmu Sejarah tentunya ingin mempersiapkan keperluan kuliahnya sebaik mungkin karena itulah impiannya sejak dulu. Akhirnya, ‘aku’ menentukan keputusannya secara impulsif. Ia pergi ke kota S untuk menemui sang ayah. Sesampainya di sana, ia tak langsung bertemu dengan sang ayah melainkan dengan J.J. Henri, salah satu karyawan kepercayaan ayahnya.

‘Aku’ sangat menyukai pembawaan J.J. Henri. Mungkin karena selama ini tak ada yang menggantikan sosok ayah dalam hidupnya sehingga ia menganggap J.J. Henri sebagai pria tua yang menyenangkan. Apalagi, ditambah dengan kehadiran Muara, anak lelaki J.J. Henri. Hidup ‘aku’ yang sebelumnya monoton dan sepi karena tak memiliki teman, menjadi ramai dan seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta pun tumbuh di hati ‘aku’.

Malangnya, rasa cinta tersebut tidak dibalas oleh Muara karena dirinya telah memiliki kekasih. Padahal, Muara dan ‘aku’ telah beberapa kali bercinta yang membuat rasa cinta ‘aku’ semakin besar terhadap Muara. Setelah pengakuan menyakitkan dari Muara, Muara tak pernah kembali lagi ke rumah tempat ‘aku’ tinggal di kota S. Hidup ‘aku’ menjadi sepi seperti dulu. Kemudian ‘aku’ memutuskan untuk berkunjung ke salah satu tetangga yang bernama Oma Jaya.

Mulai dari sini, realitas yang dihadirkan Dwifatma perlahan berbalik karena Oma Jaya mengenalkan ‘aku’ kepada Sobron, seekor ikan mas koki yang diperkenalkan sebagai reinkarnasi suaminya yang telah meninggal dunia. ‘Aku’ tentu saja menganggap hal tersebut adalah hal yang tidak nyata, namun tetap menanggapi pembicaraan Oma Jaya dengan baik.

Suatu ketika, Muara muncul kembali di saat ‘aku’ merasa bahwa dirinya sedang mengandung benih Muara. ‘Aku’ meminta pertanggung jawaban yang tidak ditanggapi dengan baik oleh Muara sehingga ‘aku’ merasa dendam. Tiba-tiba, Sobron muncul dan menyuruh ‘aku’ mengambil pedang pajangan untuk menusuk Muara dan ‘aku’ pun melakukannya.

‘Aku’ tentu saja dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi mengenai percobaan pembunuhan. Namun, karena penjelasannya sangat tidak masuk akal, ‘aku’ dibawa ke Rumah Sakit Jiwa—yang disebut Rumah Putih, untuk ditangani lebih lanjut. ‘Aku’ merasa tidak gila, ia merasa Oma Jaya yang gila karena telah mengenalkannya pada sosok Sobron. ‘Aku’ merasa nyata saat Sobron menyuruhnya menusuk Muara. ‘Aku’ benci tinggal sendirian di salah satu bangsal Rumah Putih dan dianggap gila. Beberapa orang tak dikenal mulai masuk ke kehidupannya sebagai Dokter, Perawat, dan orang-orang yang mengaku akan membantu mengatasi kasusnya.

“Menjadi ikan mas koki hanyalah salah satu bentuk kelahiran kembali Sobron. Kau tahu, karma seseorang menentukan bentuk kelahiran kembalinya. Jika selama kehidupannya ia sangat jahat, ia bisa saja lahir sebagai binatang perusak. Tetapi Sobron lahir jadi ikan, dan aku tidak tahu apa maknanya. Mungkin setelah ini ia akan lahir kembali sebagai burung elang, atau batu karang. Dan kau pun nanti akan lahir kembali, aku juga, terus-menerus sampai atman kita bersatu dengan Brahman, dan kita pun bebas.” (Oma Jaya dalam Semusim, dan Semusim Lagi: 124-125)

Mencari Realitas dalam Absurditas

Dari sinopsis yang telah dijelaskan ulang di atas, agaknya absurditas yang hadir dalam novel ini terasa setengah-setengah dan penuh keraguan jika novel ini ingin dianggap masuk ke dalam genre surealis. Namun, bisa jadi absurditas yang muncul hanya dianggap sebagai pemanis atau pemicu konflik yang terasa biasa saja jika novel ini hanya mengusung realitas. Sebenarnya, tanpa menghadirkan unsur surealis tersebut novel ini tetap dapat berdiri tegak dan mungkin akan lebih menarik—walaupun memang tak sekontroversial dengan unsur surealis.

Mengutip jendelasastra.com, surealisme sendiri merupakan aliran karya sastra yang melukiskan berbagai objek dan tanggapan secara serentak. Karya sastra bercorak surealis umumnya susah dipahami karena gaya pengucapannya yang melompat-lompat dan kadang terasa agak kacau. Hal ini tentu saja berbeda dengan gaya penceritaan Semusim, dan Semusim Lagi yang alurnya terasa lurus dan masih terasa hubungan antara sebab akibatnya. Tidak benar-benar tidak masuk akal sejak awal. Ke-absurd-an yang terdapat dalam novel ini timbul dari pikiran tokoh utamanya sendiri.

Mengapa saya dapat mengatakan bahwa ke-absurd-an yang terdapat dalam novel ini hanya muncul dari pikiran ‘aku’ sendiri? Dapat dilihat dari kutipan di bawah ini ketika ‘aku’ seakan-akan mengalami kejadian aneh setelah diinterogasi dan sesaat sebelum dibawa ke Rumah Putih, yang menurut saya itu hanyalah mimpi atau sekadar khayalan ‘aku’ sendiri.

“Kamu nggak lupa janji kita, kan?”

Mama tertawa genit. Ia mengeluarkan kotak rokoknya. “Tapi ini habis. Nanti belikan.”

“Jangankan rokok itu, pabriknya sekalian kubelikan untukmu.”

Mama dan pria itu tertawa. Kuperhatikan Mama telah mengangkat ujung kebayanya sampai ke dekat paha. Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Mama. Ia lalu berkata padaku dengan ramah, “Dik, maaf ya, kakaknya saya pinjam dulu.”

Lalu ia tertawa terbahak-bahak. Wira juga tertawa terbahak-bahak. Aku mematung di pinggir jalan. Dan pada detik kedua puluh tujuh, aku juga tertawa terbahak-bahak. Aku geli. Geli sekali! Untuk apa segala percakapan tadi? Kutertawakan diriku sendiri. Kutertawakan hidup ini. Kutertawakan segala rencana dan janji. (Semusim, dan Semusim Lagi: 169-170)

Oleh sebab itulah saya memutuskan untuk tak ingin mengkategorisasikan Semusim, dan Semusim Lagi ke dalam genre surealis karena saya yakin bahwa ‘aku’ mengalami gangguan jiwa.

Gangguan jiwa yang dialami ‘aku’ dapat dipengaruhi berbagai faktor. Pertama, ayah dan ibunya telah bercerai. Hal ini mungkin dapat membuat ‘aku’ selalu merasa kesepian dan bahkan ia mengaku lebih baik mengurung diri di kamar bersama koleksi buku dan atau berselancar di dunia maya. Kedua, kurangnya perhatian dan kasih sayang yang dicurahkan oleh sang ibu. Sang ibu dan ‘aku’ digambarkan sebagai dua sosok yang tak pernah mengobrol panjang lebar, melainkan hanya bertukar senyum simpul untuk sekadar berbasa-basi. Ketiga, pengaruh buku-buku dan internet yang selama ini menjadi teman setia ‘aku’. Sosok ‘aku’ yang masih duduk di bangku SMA mungkin saja pikirannya masih dipenuhi khayalan-khayalan absurd ditambah dengan koleksi bukunya yang absurd dan kegemarannya menjelajah dunia maya yang dibebaskan oleh ibunya.

Di saat ‘aku’ merasa nyaman dengan perhatian-perhatian yang diberikan J.J. Henri dan Muara, namun Muara malah mencampakkannya, membuat ‘aku’ menjadi depresi dan berbagai pemikiran buruk menghantuinya. Perasaan bahwa dirinya hamil dapat saya simpulkan bahwa itu hanya karangannya saja. Ia hanya butuh perhatian lebih dari Muara yang ternyata hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Oleh karena itu muncul lah sekelebat pikiran untuk menusuk Muara hanya untuk sekadar melampiaskan amarahnya.

Bahkan, menurut saya bisa jadi cerita-cerita ‘aku’ mengenai perceraian kedua orang tuanya, kehadiran J.J. Henri dan Muara dalam hidupnya, serta kasus percobaan pembunuhan yang melandanya hanya sekadar karangannya semata. Bisa jadi ‘aku’ hanya seorang gadis dari keluarga harmonis yang memiliki kehidupan standar, namun kesepian. Tak ada yang tak mungkin bukan?

Namun, walaupun memiliki gangguan jiwa, saya merasa bahwa tokoh ‘aku’ begitu kuat peranannya dalam novel ini. Entah apakah memang ada gadis yang baru lulus SMA dengan jalan pikiran yang begitu rumit namun berwawasan luas sehingga percakapan-percakapan ‘aku’ dengan Muara terasa begitu berbobot karena mereka berdua kerap berdiskusi tentang hal-hal yang sering menjadi pertanyaan besar di benak orang dewasa.

Aku selalu berpendapat ketika mendengar sebuah pesan, simaklah isi pesannya, bukan siapa yang menyampaikan. Itu akan membantu kita lebih objektif. Seperti membersihkan kacamata dari debu yang tidak perlu.” (Muara dalam Semusim, dan Semusim Lagi: 99)

Mengenai latar yang disebutkan dalam Semusim, dan Semusim Lagi, yakni sebutan ‘kota S’, lalu ada pula kota B dan kota Y, mengingatkan saya terhadap cerita-cerita karangan Umar Kayam—walaupun ada beberapa penulis lain yang juga menggunakan penyebutan inisial untuk nama kota, namun entah mengapa saya merasa bahwa ciri khas tersebut adalah ciri Umar Kayam.

Selain gangguan jiwa yang saya yakini terhadap tokoh ‘aku’, terdapat beberapa hal menarik mengenai ‘aku’ yang saya dapatkan langsung dari pengamatan saya terhadap blog pribadi sang penulis, http://www.andinadwifatma.com, yakni terdapat banyaknya kesamaan antara ‘aku’ dengan Dwifatma jika dilihat dari buku-buku dan musik favorit mereka. Entah Dwifatma sengaja menyamakannya, atau tak sengaja seperti kebanyakan penulis lain yang melakukan hal yang sama terhadap novel debutnya. Setidaknya saya sering merasakan bahwa tokoh utama dari novel debut akan sama persis atau beberapa hal akan mirip dengan pribadi sang penulis sendiri.

Beberapa musisi, judul buku, dan film seperti Miles Davis, John Coltrane, Thelonious Monk, The Great Gatsby, The Bell Jar, Kafka on The Shore, Of Mice and Men, The Sun Also Rises, dan lain sebagainya yang muncul dalam percakapan-percakapan Muara dengan ‘aku’, dapat ditemukan pula di blog pribadi Dwifatma.

Dwifatma sendiri mengaku dalam salah satu artikel Femina bahwa novel Semusim, dan Semusim Lagi berawal dari kekagumannya terhadap novel The Outsider (L’Etranger) karya Albert Camus. Menurut Dwifatma, kadang menulis itu—apalagi ketika baru memulainya—rasanya seperti terus-terusan berada di kegelapan. Mengambil inspirasi dari karya lain bagaikan ‘meminjam obor’ untuk sedikit menerangi jalan. Oleh karena itu sah-sah saja terinspirasi dari karya lain asal tetap memperhatikan kaidah-kaidah hak cipta, karena plagiarisme sama dengan mencuri.

Walaupun begitu, salah satu resensi yang membahas Semusim, dan Semusim Lagi memaparkan bahwa ia merasakan banyak kemiripan antara novel ini dengan berbagai hal lain. Salah satunya ialah kemiripan awal cerita novel ini dengan Dunia Sophie milik Jostein Gaarder, ketika seorang gadis remaja menerima sepucuk surat misterius.

Mungkin hal seperti ini memang terjadi jika sang penulis terlalu banyak membaca buku dan mendengarkan musik yang bagus. Hal ini bisa jadi merupakan keistimewaan Semusim, dan Semusim Lagi, namun dapat pula menjadi kelemahan jika pembaca merasa terlalu banyak pengaruh dari novel lain yang membumbui novel ini, sehingga orisinalitasnya patut dipertanyakan. Resensi lain mengenai Semusim, dan Semusim Lagi menganggap bahwa novel ini dapat dibicarakan secara intertekstual karena novel ini penting untuk membuka gerbang teks-teks yang lain. Dwifatma dianggap mampu membuka dimensi lain di luar sastra seperti musik dan film.

Berbekal komentar Dewan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 pada sampul depan, lalu komentar Seno Gumira Ajidarma dan sajak Surat Kertas Hijau Sitor Situmorang pada sampul belakang, Semusim, dan Semusim Lagi memang dapat mencengangkan beberapa pembaca yang tak mengira bahwa novel ini akan memaparkan cerita gadis tanpa nama dengan pikiran yang absurd.

Walau saya masih penasaran dengan beberapa hal yang belum diperjelas dalam novel ini—seperti penjelasan mengapa ibunya yang sebelum ditinggal pergi ‘aku’ seakan seperti depresi tiba-tiba, separah apa penyakit ayahnya sehingga selalu mengatakan bahwa belum saatnya mereka bertemu, hingga motif Muara yang seperti memberikan harapan kepada ‘aku’, saya cukup puas dengan akhir cerita bahwa sang ayah—yang dinamakan Joe oleh ‘aku’, sesuai dengan gambaran ‘aku’ akhirnya menemui ‘aku’ di Rumah Putih.

Aku membeo Joe. Ayah. Akhirnya kuucapkan juga kata itu. Sesuatu dalam dadaku mencair seperti kepingan salju terpapar matahari. Aku tahu, masalahku belum selesai hari ini. Mungkin aku akan terus berada di Rumah Putih, atau menghadapi hukuman sekian tahun di penjara, atau dua-duanya. Mungkin, aku tidak akan ketemu Mama lagi. Mungkin, aku akan pindah ke kota S. Mungkin, aku gagal jadi ahli sejarah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku selanjutnya, tapi anehnya, aku merasa baik-baik saja. Ayah ada di sisiku kini. Aku merasa semusim paling berat dalam hidupku telah terlewati, dan aku siap untuk musim selanjutnya. Lalu mungkin semusim, dan semusim lagi…

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar bahagia.” (Semusim, dan Semusim Lagi: 230)

 

Daftar Rujukan

Rohman, Saifur. 2017. Kritik Sastra Indonesia: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Rawamangun School of Philosophy.

http://www.andinadwifatma.com/ (diakses pada 20 Juni 2017 pukul 20.22 WIB)

http://www.bahasasastraindonesia.com/2015/11/pengertian-bentuk-dan-fungsi-karya-sastra.html (diakses pada 28 Juni 2017 pukul 16.55 WIB)

https://dkj.or.id/berita/sayembara-kritik-sastra-dewan-kesenian-jakarta-2017/ (diakses pada 28 Juni 2017 pukul 16.00 WIB)

http://www.femina.co.id/article-writer/p-bukan-berarti-plagiat (diakses pada 29 Juni 2017 pukul 08.00 WIB)

http://harisfirdaus.id/2013/05/semusim-surealis-yang-mengubah-segalanya/ (diakses pada 28 Juni 2017 pukul 19.10 WIB)

http://isolapos.com/2014/07/membangun-pemikiran-lewat-teks-teks-lain/ (diakses pada 28 Juni 2017 pukul 19.18 WIB)

https://www.jakartabeat.net/resensi/buku/konten/semusim-nurul-dan-sejumlah-keganjilan?lang=id (diakses pada 28 Juni 2017 pukul 19.15 WIB)

http://www.jendelasastra.com/wawasan/artikel/aliran-dan-genre-sastra (diakses pada 28 Juni 2017 pukul 19.01 WIB)

http://www.riaupos.co/1229-spesial-keajaiban-keajaiban-dalam-novel-semusim,-dan-semusim-lagi.html#.WVeOvISGPIU (diakses pada 28 Juni 2017 pukul 19.12 WIB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s