Nopriandi Saputra

Sastra lahir, tumbuh dan hidup dalam masyarakat. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat (Pradopo, 1997). Begitu pula dengan bahasa sebagai media yang digunakannya pun akan berbeda pada setiap pengarang.

Novel Simple Miracles merupakan novel yang mengambil isu yang cukup serius, yaitu masalah keyakinan, yang dimaksud ialah keyakinan terhadap hal yang spiritual. Terdiri dari tiga bab besar yaitu hantu, tuhan, tahun. Di mana dari judul bab nya sudah mempunyai unsur “spiritual”, Jika ketiga kata itu diputar-putar hurufnya bisa menjadi di antara dua kata yang lainnya.

Novel ini mengambil tema spiritual, tetapi menggunakan istilah baru yang terlihat lebih menarik yaitu spiritualisme kritis. “Spritualisme Kritis adalah penghargaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis” (Utami, 2014: 56). Istilah itu pertama kali disebut oleh Ayu dalam novelnya yang berjudul Bilangan Fu (2008). Di novel selanjutnya Simple Miracles Ayu masih memasukan tema besar yang sama seperti di novel Bilangan Fu yaitu Spiritualisme Kritis.

 

Sinopsis Novel Simple Miracles

Novel ini mengisahkan tentang satu keluarga; satu anggotanya dapat berkomunikasi dengan arwah; seorangnya lagi berusaha bersikap kritis namun terbuka terhadap gejala itu. Suatu ketika si pelihat menyebutkan jadwal wafat ibunda tercinta. Ibu akan meninggal pukul delapan tiga hari lagi, tetapi kejadian itu tidak terjadi. Biasanya hal yang ia lihat atau ramalkan selalu benar tapi kali ini berbeda.

 

Pembahasan Intrinsik Novel

Tema di dalam novel ini ialah Spritualisme Kritis. Hal itu terlihat dari isi novel ini yang sebagian besar adalah pandangan-pandangan Ayu yang kritis dan skeptis terhadap gejala spiritual, walaupun skeptis tetapi Ayu masih tetap terbuka pada hal itu. Pandangan skeptis Ayu terhadap hantu didapat dari seorang ibunya. Ibu merupakan penggiat katolik yang taat yang sangat percaya adanya tuhan, tetapi tidak percaya dengan hantu.

Alur yang digunakan di novel ini ialah alur campuran. Walaupun novel ini bercerita sejak si tokoh utama kecil hingga dewasa, tetapi ada beberapa cerita yang membahas cerita masa kecil si tokoh utama yang belum diceritakan ketika si tokoh masih kecil, lalu diceritakan ketika si tokoh utama dewasa dengan cara flash back

Beberapa tokoh penting yang ada di Novel.

  1. Si Tokoh Utama (Aku) ia adalah orang yang skeptis kepada hal-hal yang berbau spritual, tetapi tetap terbuka jika ada orang yang menceritakan tentang hal spritual (hantu), seperti hal nya ia selalu mendengarkan cerita hantu dari bibi-bibinya ketika masih kecil, walupun ia tidak mempercayainya.
  2. Ibu si tokoh utama

Ia merupakan sosok yang skeptis juga terhadap hal yang berbau spritual, karena ia merupakan penggiat katolik yang taat.

  1. Ayah si tokoh utama

Ia merupakan seorang tegas dan juga toleran terhadap anaknya, karena ia mengijinkan anaknya menikah dengan orang yang berbeda keyakinan asalkan sudah diputuskan dengan matang.

  1. Bonifacius

Ia adalah sepupu si tokoh utama. Ia mempunyai kemampuan melihat makhluk halus sejak kecil. Dan si Aku sering bertanya kepadanya tentang hal spritual dan mendapat pandangan-pandangan baru yang dapat mengubah pemikirannya.

Sudut pandang yang digunakan di novel ini ialah orang pertama pelaku utama, sebab ia bercerita menggunakan aku, dan juga menceritakan tentang dirinya sendiri.

 

Beberapa Kejanggalan Yang Ada di Novel

Di awal ceritanya saja novel ini sudah menyuguhkan unsur yang berbau skeptis yang membuat orang berpikir dua kali tentang hal itu, padahal jika dicermati hal itu lazim dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Berikut kutipannya:

 

“Apakah kita berdoa untuk arwah, atau kepada arwah? Untuk apa berdoa bagi arwah? Yang mati telah mati. Kalaupun ada hidup setelah mati, manusia bertanggung jawab atas diri masing-masing, bukan? Sebagian mencemooh: nyekar ke makam itu sisa-sisa animisme.” (hlm ix)

 

Sementara itu “mekanisme skeptis terjadi saat kita menuntut bukti dan ketetapan dari makna yang ditawarkan. Sesuatu bisa dipercaya jika ada bukti material dan objektifnya.” (Utami, 2014: 11). Kutipan di atas diasumsikan oleh Ayu sebagai sisa-sisa animisme karena tidak ada yang tau apakah jika kita mendoakan orang yang mati akan membuat orang yang didoakan itu masuk surga atau sama saja seperti sebelum didoakan? Itu semua tidak ada bukti material dan objektifnya, karena jika seseorang sudah mati maka sudah urusan orang itu sendiri. Asumsi di atas bisa saja menjadi benar jika manusia yang tidak memiliki iman, tetapi bagi sebagian besar masyarakat saat ini hal itu merupakan hal yang benar. Asumsi lainnya bisa saja mendoakan merupakan perasaan mencintai kita terhadap orang sudah tidak ada, tetapi karena orang itu sudah tidak ada, rasa cinta itu hanya bisa kita berikan dengan cara mendoakannya. Jadi kenapa Ayu mencoba mengubah pandangan yang sudah benar dengan kalimat di atas.

Di novel ini Ayu juga membandingkan Tuhan dengan hantu. Menurutnya keduanya sama-sama tidak terlihat, namun beberapa orang percaya adanya Tuhan tapi tidak percaya adanya hantu, bahkan menganggapnya tidak pernah ada. Ayu memang gemar berpikir sampai pada akhirnya ia sampai pada satu keputusan yaitu meyakini bahwa banyak hal yang tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat. Hanya ada satu pilihan, percaya atau tidak. Sudah hanya itu saja pilihannya.

 

“mekanisme iman terjadi jika kita percaya meskipun apa yang kita percaya itu tak kelihatan, tak bisa dibuktikan, tak bisa diprediksi. Dari sudut pandang ini, di permukaannya, Tuhan tak berbeda dari hantu. Mungkin karena itu namanya tuhan dan hantu. Tuhantuhantuhantu.” (hlm 11)

 

Jika dilihat dari tema novel ini yaitu tentang spritualisme kritis, hal di atas ini sudah jauh meninggalkan batas kritis manusia yang mempunyai iman, karena spritualisme kritis hanya mengkritisi perihal yang tak terlihat, tak terukur berbentuk spiritual, bukan membuat seseorang skeptis terhadap imannya. Hal ini mungkin terjadi ketika periode sekuralisme, di mana hal-hal dalam masyarakat dan kebudayaan dilepaskan dari dominasi lembaga-lembaga dan simbol-simbol keagamaan.

 

Kebenaran Yang Terjadi    

Setelah berumur 40 tahun, si tokoh utama mulai memasuk era baru. Era di mana ia sudah tak lagi memusuhi agama, seperti waktu ia kecil. hal ini berkat sikap terbuka dan kritis ia terhadap segala permasalahan berbau spiritul, termasuk dengan mencari kebenarannya. Berikut kutipannya:

 

“Menjelang 40-an aku tampaknya memasuki era baru. Aku tak lagi memusuhi agama. Mungkin karena aku sudah berhasil membebaskan diri darinya selama dua puluh tahun ini. Sama seperti terhadap ayahku. Setelah berhasil lepas dan mandiri, aku justru mampu menghargai Ayah. Agama, seperti Ayah, adalah kekuasaan yang, jika tidak pernah dilawan, akan menjadi penghalang aku bertumbuh sebagai individu. Tapi jika kau melawan agama, atau ayahmu, dengan tepat serta kemarahan yang pas, jangan berlebihan, kau akan tahu dengan cara baru bahwa mereka tak lain adalah darah, daging, dan roh yang membangun dirimu. Dalam kemerdekaanku, aku jadi bisa menghargai.” (hlm 56)

 

Jadi dengan sikap terbuka dengan permasalah ialah kunci dari spiritualisme kritis. Seseorang bisa saja terjelembab di suatu permasalahnya dan tidak bisa keluar lagi karena tidak bisa bersifat terbuka terhadap masalahnya, yang membuat dirinya stuck di tempat itu. Sikap terbuka yang dimaksud oleh Ayu ialah sikap bersedia menerima. (termasuk menerima, yaitu mengakui, ketidaktahuan.) Setelah itu barulah sikap menguji.

 

“Sikap menguji tanpa kesidiaan menerima ketidaktahuan sama saja dengan penolakan semata-mata.

Sikap terbuka tanpa kesediaan menerima ketidaktahuan sama saja dengan menutup diri.

Tapi sikap mengangungkan ketidaktahuan adalah kebodohan yang sangat berbahaya.” (hlm 57)

 

Begitu kiranya rumusan dari spritualisme kritis. Di awal cerita pembaca akan disuguhkan dengan pemikiran-pemikiran Ayu yang di luar nalar dan terasa janggal, tetapi pada akhirnya dari hal yang di luar naral dan janggal itulah yang merupakan sikap terbuka dan kritis yang akan membimbing manusia untuk mempercayai hal yang spritual.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Burhan, Nurgianto. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press.

Utami, Ayu. 2014. Simple Miracles (doa dan arwah). Jakarta: Kepustakaan Populer

Gramedia.      

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s