KRITIK SOSIAL DALAM CERPEN GINCU INI MERAH SAYANG DAN PENAFSIR KEBAHAGIAAN KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN PATAH HATI YANG KEMBALI MENEMUKAN CINTA MELALUI MIMPI KARYA EKA KURNIAWAN

Riska Yuvista

 Karya sastra dikenal dalam dua bentuk, yaitu fiksi dan nonfiksi. Jenis karya sastra fiksi adalah prosa, puisi, dan drama. Sedangkan contoh karya sastra nonfiksi adalah biografi, autobiografi, esai, dan kritik sastra. Menurut Suroto, roman terbentuk atas pengembangan seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Karya sastra kerapkali dipergunkan sebagai media pengungkap pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca, hal ini disebut dengan Model. Model adalah bentuk dari sebuah wacana. Model juga sering dipahami sebgai pola atau pakem yang kerap kali dijadikan sebagai pola dari gagasan yang hendak disampaikan.

Jika kita berbicara tentang model kritik sastra, mengingaktak kembali kita kepada model yang pernah dikembangkan oleh Abrams dalam bukunya yang berjudul The Mirror and the lam: The romantic Theory in the Critical Tradition (1979). Pada paragraf pertama buku tersebut mengungkapkan bahwa: “To post and answer aeshetic question in terms of the relation of art top the artist, rather than to external, nature or to the audience, or to internal requirements of the works its self, was the characteristic tendency of modern critism up of few decades ago, and it continues to be the propensity of a great many of critic today (1979:3).”  Berarti Mengeposkan dan menjawab pertanyaan aesetik yang berkaitan dengan hubungan antara seni dan seniman, bukan ke eksternal, sifat atau penonton, atau karakter internal kecenderungan kritik modern hingga beberapa dekade yang lalu, dan terus berlanjut menjadi menimbulkan banyak kritik hari ini.

“Membaca karya-karya sastra dari negeri yang sedang berkembang ini, kita di Indonesia, pasti akan menemukan banyak persamaan, meskipun tentu juga akan diketemukan berbagai reaksi dan jawaban yang berbeda, akibat dari latar belakang sejarang, kondisi dan situasi masyarakat maupun perorangan, agama, dan sebagainya”, tutur Mochtar. Hal demikian pula dapat menjadi patokan adanya kesamaan-kesamaan dalam cerita dengan latar yang berbeda-beda yang biasa di kaji dengan menggunakan pendekatan Intertekstual. Akan tetapi, pada pembahasan kali ini, saya akan mengkaji Cerpen Gincu Ini Merah Sayang Dan Penafsir Kebahagiaan Kumpulan Cerpen Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi Karya Eka Kurniawan menggunakan Suatu Kajian Feminisme dengan melihat perlawanan terhadap hak-hak perempuan.

Sedikit mengulik tentang Feminisme dalam hal ini kedudukan tokoh perempuan yang biasanya dikemas dalam cerita-cerita fiksi, sering diperlakukan, dipandang, atau diposisikan lebih rendah daripada tokoh laki-laki. Para tokoh perempuan itu disubordinasikan dari tokoh laki-laki, atau paling tidak, tidak memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam berbagai hal yang menyangkut aspek kehidupan. Keadaan semacam itu dalam cerita tersebut biasanya dipandang mencerminkan kehidupan nyata di mana perempuan juga dianggap berposisi lebih rendah dan keadaan itu pula yang menyebabkan perempuan menggugat karena merasa tidak diperlakukan secara adil. Selain itu, Keadaan tersebut menyebabkan munculnya gerakan atau paham feminisme sebagai bagian dari kajian sastra dan budaya tahun 1970-an (Ryan, 2011:179), yang menggugat ketidakadilan terhadap perempuan dan sekaligus menuntut persamaan terhadap laki-laki.

 

Terdapat lima unsur kritik sastra, antara lain yaitu: karya sastra berkedudukan sebagai objek; Kritikus sebagai Subjek; Kritikus-Karya memiliki relasi yaitu sebagai subjek-objek; reduksi objek yang bersifat fenomenal; dan reduksi subjek yang bersifat eidetik. Kelima model tersebut memiliki istilah tersendiri di dalam kritik sastra. model yang mengedepankan aspek-aspek objektif disebut dengan model struktural yang pada kajian kali ini akan membahas tentang “Kritik Sosial  Dalam Cerpen Gincu Ini Merah Sayang Dan Penafsir Kebahagiaan Kumpulan Cerpen Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi Karya Eka Kurniawan” dengan menggunakan model Struktural.

 

Adapun unsur-unsur instrinsik model struktural dapat dibahas sebagai berikut:

Stanton (1965:11-36) membedakan unsur pembangun sebuah novel ke dalam tiga bagian: fakta, tema, dan sarana pengucapan (sastra). Fakta dalam sebuah cerita meliputi karakter (tokoh cerita), plot, latar.  Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sedaangkan pengucapan sastra merupakan sarana kesastraan (literary device) adalah teknik yang digunakan oleh pengarang  untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola bermakna, tujuan penggunaan (tepatnya: pemilihan)  sarana kesastraan adalah untuk memungkinkan  pembaca melihat fakta sebagaimana yang dilihat pengarang .

 

 

Unsur Intrinsik dalam Cerpen Gincu Ini Merah Sayang Karya Eka Kurniawan

  1. Tema

Tema yang di angkat dalam Sarana Kesastraan Cerpen Gincu Ini Merah Sayang Karya Eka Kurniawan adalah cinta. Dalam cerpen itu membahas romantika percintaan antara Marni denga Rohmat Nurjaman di Bar Beranda. Mulanya hubungan mereka hanya sebatas pelanggan dan pelayan, kemudian satu sama lain mulai merasakan sesuatu yang berbeda, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan berumah tangga.

 

  1. Karakter
  • Marni
  • Sangat Mencintai Rohmat Nurjaman

Memang sejak ia jatuh cinta kepada Rohmat Nurjaman, apalagi setelah mereka menikah, ia tak pernah membuat merah bibirnya untuk lelaki lain. (hlm.24).

  • Rohmat Nurjaman (Suami Marni)
  • Curiga : Kisah di masalalu yang mempertemukan Rohmat Nurjaman dengan Istrinya, Marni, yang membuatnya menjadi seseorang yang memiliki rasa curiga yang besar. Hal itu berawal dari rasa sayang yang kemudian berubah menjadi rasa kekhawatiran yang amat besar, sehinggal menimbulkan rasa cemburu yang dirasakan oleh Rohmat Nurjaman ketika melihat istrnya memakai Gincu (Lipstik) merang yang selalu mengingatkannya pada kejadian dimasa lalu.

Rohmat Nurjaman tak pernah berhasil membuktikan kecurigaan atas istrinya. Bahkan, meskipun beberapa kali sengaja pulang mendadak, ia selalu menemukan istrinya ada di rumah, menunggunya. (hlm.21)

  • Sangat Mencintai Marni

Hubungan ini berkembang menjadi sejenis keseriusan yang menjadi candu. Pada siang hari yang penat, dengan udara yang  membosankan, sekonyong-konyong Rohmat Nurjaman menemukan dirinya mengirimkan pesan pendek kepada gadis itu, “Kamu sedang apa? Nanti malam jangan sama yang lain, aku akan datang. (hlm. 17) kemudian Rohmat Nurjaman memutuskan mengeluarkan gadis itu dari bar Beranda sekaligus meminangnya. (hlm.18)

 

  1. Plot
  2. Marni kembali mengunjungi Bar Beranda.
  3. Penangkapan para Gadis oleh petugas.
  4. Marni terbebas karena tidak terbukti.
  5. Marni berdandan dan memakai gincu merah untuk kembali menemui suaminya.
  6. Marni diusir dari rumah.
  7. Cerita flashback ketika pertamakali Marni dan Rohmat Nurjaman bertemu.
  8. Kehawatiran Rohmat Nurjaman dan kecemburuannya.
  9. Marni sangat mencintai suaminya.

 

  1. Latar
  • Tempat
  • Ruang Introgasi, Kantor Polisi

Bersama gadis-gadis dari bar, mereka membawanya ke kantor polisi dan memperoleh introgasi sepanjang malam. (hlm.14)

  • Bar Beranda

Seorang perempuan dengan gincu serupa cahaya lampion melangkahmenuju pintu bar Beranda. (hlm.13)

 

  • Waktu
  • Malam hari

Ini pasti malam yang buruk, pikirnya. (hlm.14)

  • Subuh

Menjelang subuh, tanpa tertahankan Marni akhirnya menangis. (hlm.15)

  • Pagi Hari

Beruntunglah menjelang pagi seorang perempuan dari dinas sosial berbaik hati mengubungi suaminya.

  • Suasana
  • Menegangkan

Rohmat Nurjaman berdiri dipintu kamar, memandnag wajah istrinya, terutama gincu di bibir Marni dengan sejenis tatapam kau-laksana-perempuan-binal, berkata pendek. “Sebaiknya, kita bercerai saja.”. Marni ingin menjelaskan, tapi tak tahu apa yang harus dijelskan, (hlm.16)

  • Panik, Ricuh dan Ramai

Para petugas menyerbu masuk dan seketika terdengar jeritan gadis-gadis, serta para pelanggan yang lari berhamburan. (hlm.13-14)

Unsur Intrinsik dalam Cerpen Penafsir Kebahagiaan

  1. Tema

Tema yang di angkat dalam Sarana Kesastraan Cerpen Penafsir Kebahagiaan Karya Eka Kurniawan adalah Feminisme, dimana tokoh perempuan yang bernama Siti dengan nama samaran Lucy dijadikan sebagai objek. Perempuan ditempatkan sebagai pemuas birahi laki-laki yang bisa diperjualbelikan dan dalam cerpen ini disebut sebagai penasir kebahagiaan.

 

  1. Karakter
  • Markum : Ayah Jimmi

Mudah Tergoda

Saat itu juga Sitti menarik tangan Markum dengan lembut dengan roman dungu yang tak dimenertinya sendiri, Markum mambiarkan dirinya digiring ke kamar Siti. (hlm.42)

Bertanggung Jawab

“Ya, hamil. Dan, aku bilang akan bertanggung jawab. Aku akan menikahinya” (hlm.44)

 

  • Bertanggung Jawab

Ya, hamil. Dan, aku bilang akan bertanggung jawab. Aku akan menikahinya. (hlm.44)

  • Siti/Lucy

Pasrah dan mudah percaya.

Itu artinya aku harus tetap siap sedia dari Senib sampai Sabtu, pikir Situ. Itu tak masalah buat Siti. Setelah memutuskan untuk menerima tawaran Jimmi dan berangkat ke Amerika, ia menemukan pekerjaan yang harus dilakoninya tak sebarat yang pernah dibyangkannya. (hlm.39)

  • Jimmi

Licik

‘Bapakku tak mau mengirimiku uang lagi sementara aku tak mau balik ke sini. Aku juga tak terlalu tertarik mencari pekerjaan. Ini bisnis. 5 orang temanku akan membayar kita untuk apa yang bakal kamu lakukan, dan uangnya kita bagi dua. Itu saja.” (hlm.37)

Pemalas

Nama pemuda itu Jimmi. Tipikal anak orang kaya yang dikirim bapaknya untuk sekolah ke Amerika, tapi tak ada tanda-tanda ia bakal menyelesaikan pendidikan apapun. (hlm.37)

  1. Plot
  2. Seorang pria paruh baya mengunjungi apartemen Jimmi, Siti mengira ia adalah salah satu pelanggan pengganti,Markum namanya.
  3. Perbincangan Sitti dengan Markum.
  4. Adegan Menceritakan saat pertamakali Siti mengenal Jimmi beserta tawaran Jimmi kepada Sitti untuk bekerjasama.
  5. Siti sepakat dan mengikuti kemauan Jimmi, lalu mereka tinggal di Amerika.
  6. Siti hamil, dan membuat rencana untuk mencari orang yang akan bertanggung jawab.
  7. Jimmi melihat ayahnya tengah meniduri Siti dan ia membiarkannya.
  8. .Markum melihat Jimmi meniduri Siti.
  9. Terjadi perkelahian antara Jimmi dan ayahnya.
  10. Markum menceritakan kejadian itu pada Jimmi dan hendak bertanggung jawab atas kehamilan Siti.
  11. Siti melahirkan dan anaknya mirip Jimmi.
  12. Jimmi menganggapnya sebagai adik dan Markum menjadi lebih kesal.

 

  1. Latar
  • Tempat
  • Apartemen Jimmi di Amerika
  • Jakarta

 

  • Waktu
  • Siang dan Malam hari

 

  • Suasana
  • Serius (hlm.37)
  • Tegang

Markum duduk dipojok tempat parkiran, tak jauh dari Jimmi yang masih memegangi lebam di bibirnya. Pipi Jimmi agak pecah dan berdaran. (hlm.43)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s