Naswati

 

Perpolitikan erat kaitannya dengan kekuasaan. Arti politik menurut Aristoteles yaitu, Seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusinal maupun nonkonstitusinal. Hal inilah yang membuat politik adalah jalan untuk bisa berkuasa.

Indonesia masih berumur  71 tahun, tentu politik di Indonesia masih sangat muda. Terdapat banyak intrrik dalam meraih kekuasaan. Dalam buku Sudut Mati (SM) karya Tsugaeda ini membahas tentang masalah politik. Keterkaitan SM dengan politik dimulai ketika Sigit Prayogo menjadi pengusaha sukses justru ketika krisis moneter Indonesia. Politik terasa ketika Sigit pidatonya di posko pemenangannya. Dalam pidato itu Sigit berorasi tentang keputusannya untuk mau pada pilpres 2014 dihadapan undangan. Pidato Sigit : Kalau saya menang, itu bukan kemenangan saya. Kalau saya menang, itu kemenangan rakyat Indonesia. Bangsa ini harus punya pemimpin yang tepat, yang mengerti kebutuhan rakyatnya. (Tsugaeda, 2015: 25)

Sigit begitu serius akan keinginan untuk menjadi presiden. Sebelum pidato itu Sigit bahkan sudah berkeliling ke wilayah Indonesia Timur seperti Bali, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, dan Sulawesi Selatan untuk mendapatkan dukungan. Ia bahkan membiarkan Titok mengelola Grup Prayoga, padahal Sigit tahu Titok tiba bisa mengurus perusahaannya. Agar ia dapat fokus ada keinginannya menjadi bakal calon presiden 2014. Hingga Titan anaknya yang lain harus turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan perusahaan.

Menurut survei Sigit memiliki keunggulan yang cukup tinggi. Ia menjadi salah satu calon presiden yang populer. Kepopuleran yang dibantu dengan modalnya yang besar  melalui media massa. Iklan sepanjang 120 menit  merangkum sosoknya. Sama dengan politisi lainnya namun Sigit lebih lama dan sering. Hal ini terbukti ampuh mengangkat namanya.

Promosi lainnya yaitu dengan memasang papan reklame dengan foto close-up dirinya. Dibawahnya ditulis “Sigit Prayogo Presiden-ku!” lalu terdapat kurung tertulis juga (Ayah dari Tiara Prayogo, pemeran Halimah di Sinetron Cinta dalam Keridaan-Nya). Papan reklame lain dengan kalimat kampanye berbunyi, “Peduli karena Hati Nurani”.

 

Krisis Moneter 98

Gejolak, kerusuhan dan revolusi hal ini mungkin cukup mewakili kondisi tahun itu. Pemerintahan yang telah berkuasa selama 32 tahun akhirnya lengser dari jabatannya. Mahasiswa seluruh Indonesia menuntut Soeharto untuk turun akibat kegagalan ekonomi

Melatar belakangi 98 akibat keguncangan ekonomi dunia yang saat itu dimana Indonesia terkena dampak inflasi. Perusahaan mengalami kebangkrutan, usaha kecil harus gulung tikar. Pada novel SM ini menjadikan kejadian 98 sebagai salah satu latar penting. Membuat Sigit Prayogo menjadi pengusaha sukses justru ketika pengusaha lainnya bangkrut. SM menceritakan tentang Titan yang harus kembali pulang ke Indonesia karena Grup Prayogo sedang mengalami krisis. Ayahnya Sigit Prayogo digadang-gadang akan menjadi calon presiden 2014. Sosoknya dikenal sebagai pengusaha sukses.

Meski Sigit bukan tokoh utama dalam SM namun ia memiliki kontribusi yang sangat penting bagi perkembangan cerita. Dimana konflik berawal dari sosok Sigit menjadi pengusaha sukses. Grup Prayoga milk Sigit memiliki saingan bisnis dengan Ares Inc milik Nando, belum lagi konfliknya dengan anak keduanya Teno.

SM merupakan novel dengan gendre thriller korporasi yang kental kaitannya dengan politik. Sigit tidak tiba-tiba menjadi pengusaha kaya, awalnya dia hanya seorang pegawai bank swasta. Hingga tahun 1995 Sigit mengundurkan diri, memutuskan menjadi pengusaha. Menariknya bidang usaha yang dipilih Sigit yaitu kedelai dan teh. Alasannya orang Indonesia  tidak lepas dari makan tahu-tempe dan minum teh.

Sigit Prayoga tahu bahwa orang Indonesia (terutama Pulau Jawa) dalam kesehariannya tak pernah lepas dari dua hal: makan tahu-tempe dan minum teh. Maka, di sanalah dia mengincar keuntungan : kedelai dan melati. (Tsugaeda, 2015: 144)

Ketika krisis moneter 1997-2001, Sigit mendapatkan peluang. Saat bisnis lainnya mengalami krisis usahanya justru tidak terkena dampak karena tidak berurusan dengan impor. Saat itu Sigit membeli aset-aset produktif dengan harga murah, memperbaiki lalu mempertahankannya atau menjualnya ketika kondisi mulai stabil. Ia juga membeli situs pertambangan yang ditinggal oleh pemiliknya. Mencari celah untuk mengambil alih semuanya. Aset lainnya yang diambil juga berupa tenaga-tenaga ahli.

Pada tahun 1998 banyak tenaga-tenaga ahli yang tidak mendapat pekerjaan. Sigit mendekati dan merekrut mereka untuk bekerja di perusahaannya. Tahun 2001 ketika ekonomi membaik. ia memiliki aset yang bernilai tinggi dan orang-orang terpilih untuk mengurusnya. Pada 2002 Sigit telah membangun holding company baru yang membawahi beragam lini usaha dari tambang hingga manukfaktur. Memasuki tahun 2004 dia termasuk dalam 40 besar orang terkaya di Indonesia, dengan nomer urut ke-37.

Semua kesuksesan Grup Prayoga membuatnya memiliki musuh, Ares Inc menganggap Grup Prayoga dan seluruh keluarga Sigit harus disingkirkan. Awalnya mereka merupakan perusahaan yang sangat disegani. Pada zaman Orde Baru (Orba), perusahaan yang awalnya bernama PT Ares Bhineka Utama ini milik Jose Mangun. Perusahaan ini sangat diistimewakan oleh pemerintahan Orba, dimana mereka diberikan kelonggaran bea masuk dan pajak impor barang-barang modal dari luar negeri.

Keistimewaan ini harusnya membuat perusahaan ini bisa meringankan bahan baku industri agar bisa mendapat harga bersaing pada proses produksinya. Ares memanfaatkan fasilitas itu untuk membeli barang lalu dijualnya kembali di Indonesia dengan harga pasar. Mereka mendapat keuntungan namun tidak sah, elas menipu dan merugikan negara. Untuk menutupi hal itu Ares telah melakukan kongkalikong dengan pejabat pemerintah.

Generasi setelah itu Ares justru semakin berani masuk ke bisnis ilegal dan berbahaya. Ares dekat dengan Kelompok  9 Naga yang dikenal simbol imperium judi di Indonesia. Mereka dapat mengakali aparat hukum. Namun ketika Orde baru runtuh dan krisis moneter 1998, Ares terdesak dan semakin bergantung dengan bisnis Ilegal. Nando pemimpin Ares Inc menjadikan Grup Prayoga sebagai kambing hitam, karena perusahaan itu mampu selamat dari krisis moneter.

Kita dapat pukulan telak pada krisis moneter itu. Kita sedang berbenah dan menyesuaikan diri dengan iklim politik baru. Tapi, Sigit itu tiba-tiba muncul entah dari mana memorakporandakan  apa yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Dia memanfaatkan kita yang sedang lemah untuk merebut berbagai lini usaha tambang-tambang diambil alih. Perkebunan sawit tiba-tiba sudah diduduki. Padahal, kita sedang butuh banyak income untuk recoverey. Dia rebut milik kita, lalu dia lempar kita ke jalanan seperti gembel. Kalian semua pasti masih ingat beberapa tahun lalu ketika kita kayaknya lebih miskin daripada kuli bangunan. Semua uang di tabungan habis kesedot untuk mempertahankan hanya supaya nama Ares tetap terdaftar di Indonesia. (Tsugaeda, 2015: 85)

Selain permasalahannya dengan Ares Inc, keluarga Prayoga memiliki permasalahan. Sigit Prayoga memiliki empat anak yaitu, Titok, Teno, Titan dan Tiara. Anak kedua Sigit, Teno sebenarnya anak yang pintar namun tetapi mempunyai perangai yang berbeda. Hubungannnya dengan Sigit kurang baik, mereka sering bertengkar hingga Teno memutuskan kabur dari rumah. Hingga pada 6 Maret 2004, Prameswari istri Sigit ditemukan meninggal karena kecelakaan. Setelah diselidiki ternyata Teno, pelaku pembunuhan itu. Di pengadilan ketika Teno membacakan pleidoi, di hadapan hakim dan semua yang hadir di pengadilan. Teno membaca pleidoinya. “Maafkan aku Ibu! Tapi Ayah harus dihabisi.”(Tsugaeda, 2015: 2)

Polisi berusaha menyelidiki alasan Teno membunuh ibunya. Ada sebuah dokumen yang berjudul “Manifest Teno”.  Pada salah satu paragrafnya Teno menuliskan bahwa ayahnya Sigit memang harus dilenyapkan.

Bagi saya, dalam kehidupan saya pribadi, sumber utama yang harus dihilangkan itu adalah Sigit Prayogo yang mengalirkan darah dan dosanya terhadap masyarakat kepada saya. Dosa itu telah mengalir ke pembuluh darah saya dan menjadi daging, tulang, jejaring otak, dan organ-organ lainnya. Dengan demikian, sudah jelas bahwa Sigit Prayogo adalah faktor utama yang perlu dibereskan dalam memurnikan eksistensi sekaligus menjadi tanggung jawab saya terhadap pemulihan harmoni menuju dunia yang sempurna. Dan, itu harus saya lakukan dengan tangan sendiri. (Tsugaeda, 2015: 241-142)

 

Sosok dan Kepercayaan

Sigit mendeklarasikan diri sebagai calon presiden 2014. Sigit pergi ke berbagai daerah untuk meraih simpati publik. Ia juga membuat posko pemenangannya di daerah Menteng. Promosi melalui media tv dan reklame juga dipilihnya. Terdapat pesan politik yang amat kental disana. Pencitraan dirinya nyatanya membuatnya unggul dalam survei calon presiden 2014.

Sigit berusaha menampilkan hal yang baik, tidak akan dia biarkan namanya tercoreng. Ketika Ndaru wartawan yang menuliskan hal investigasi tentang Grup Prayoga dan pemiliknya Sigit Prayoga. Titok bahkan ditugaskan oleh Sigit untuk mengurus hal ini. Ndaru diikat dan dintrogasi oleh Titok. Titk tidakbisa menahan emosinya sehingga membuat Ndaru tewas. Titok menghubungi Ayahnya, Sigit hanya mengatakan kata “Good job, Tok. Good Job.”

Sosok Sigit sebelum menjadi calon presiden juga menarik. Dia gigih dalam meraih kesuksesannya.  Ia mampu melihat celah bisnis, ketika memilih kedelai dan teh sebagai lini usahanya. Keputusannya berubah haluan menjadi pengusaha karena pengamatannya tentang bisnis perbankan yang dinilainya berprospek kurang baik. Keputusannya tepat.

Sigit memang pengusaha sejati, ketika krisis 1997-2001 perlahan mampu melebarkan usahanya keberagam lini usaha. Peluang sekecil apapun dimanfaatkannya untuk dapat menguasai sektor-sektor potensial dan tenaga-tenaga ahli. Hingga bisa menjadi pengusaha sukses.

Sebelum itu Sigit pernah mengalami kesulitan keuangan. Dimana dia hampir dipecat karena di kambing-hitamkan atas kesalahan bank tempatnya bekerja. Untung saja ada atasnya yang membelanya habis-habisan sehingga dia hanya dipotong gaji dan penundaan pengangkatan. Karena hal itu Sigit sampai tidak bisa melunasi cicilan motor. Titok bahkan ingin memjual Comel kucingnya, namun nahas kucingnya kabur. Titok sakit setelah peristiwa itu, Sigit menasehati anaknya.

“Kamu anak gagah, nggak cocok jadi anak miskin. Ayah juga. Lihat Ayah! Ayah ini juga ga cocok jadi orang miskin. Kita nanti akan kaya raya!” (Tsugaeda, 2015: 72)

Ketika 1997 Sigit merupakan pengusaha membawakan mobil sedan baru dari Eropa. Sigit ingin memberikan kejutan kepada istrinya. Namun Prameswari malah menganggap jika mobil itu tidak pantas, ada yang keliru. Saat itu mereka masih tinggal di rumah biasa. Sigit berjanji bulan depan akan pindah ke rumah yang pantas untuk mobilnya.

Selain karena kegigihan ada satu hal yang dilakukan oleh Sigit hingga sampai pada posisinya sekarang. Ada Mbah Warso, guru spiritualnya. Sigit pasti akan mempercayai nasihat dari Mbah Warso. Bahkan ketika Kevin dari Ares Inc melamar putrinya Tiara, dia menanyakannya pada Mbah Warso.

Namun, karena Mbah Warso justru menganggap itu harus dijalankan, Sigit Prayogo memberikan restunya. Dia kini senang karena semenak menikah, Tiara semakin laris sebagai selebritas. Selain itu Sigit uga bisa mengorek informasi-informasi penting dari Tiara soal apa yang sedang terjadi di dalam Ares. (Tsugaeda, 2015: 50)

Sigit menemui Mbah Warso untuk diberikan nasihat. Menurut Mbah Warso menjadi pemimpin memang sudah takdir Sigit. Namun Mbah Warsoberpesan ia harus eling dan waspada. Hari itu Sigit teringat Teno. Dulu untuk bisa menjadi pengusaha sukses dia mengikuti semua langkah-langkah yang katakan Mbah Warso. Mbah warso bahkan mewant-wanti jika amalan akan meminta sesuatu padanya. Teno mulai bertingkah aneh, hingga memberontak. Sigit tak pernah membenci Teno, justru takut. Takut mungkin dia yang membuat Teno menjadi iblis.

Kepercayaan lain yang diungkit oleh Sigit adalah tentang ramal Prabu Jayabaya, unsur jawa melekat pada pandangan itu. Dalam ramalan pemimpin Noto Nogoro Sukar-no. Suhar-to. Susilo Bambang Yudhoyo-no. Dia berteriak lalu siapa?

Sigit Prayo-go!

 

Epilog

Tsugaeda telah membuat novel yang berbeda dari segi gendre cerita. Seperti telah saya tulis di atas jika Sigit bukan tokoh utama, namun penggambaran politik dan kehidupannya memiliki nilai penting dalam keberlangsungan cerita ini. Sigit adalah alasan kenapa Ares Inc dan Teno berusaha menyingkirkannya. Keinginannya menjadi presiden begitu memaksakan. Perlahan Sigit memasuki politik yang kotor dengan segala kepalsuan didalamnya.

 

Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org/wiki/Politik

Tsugaeda. 2015.Sudut Mati. Yogakarta: Bentang Pustaka

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s