Nita Oktaviya

 “Man is nothing else but that which he makes of himself”

“Manusia bukan apa-apa selain apa yang ia buat untuk dirinya sendiri”

(Jean Paul Sartre)

Berbicara mengenai suatu perbuatan, manusia kerap dilanda persoalan moral yang melingkupi dirinya sendiri. Perbuatan manusia selalu digerakkan oleh nilai-nilai. Dua tindakan yang sama namun mengandung nilai yang berbeda, maka berbeda pula penghargaan terhadap tindakan tersebut.[1] Manusia menyadari tindakan-tindakan yang dilakukannya, karena manusia adalah makhluk yang sadar berada dalam dunia. Manusia menentukan dirinya dengan perbuatan-perbuatannya sehingga jelas bahwa manusia tidaklah dapat dilepaskan dari dunia.

Dalam kehidupannya, manusia mau tidak mau harus berhadapan dengan realitas yang terkadang tidak bisa langsung di terima begitu saja. Manusia mengatasi dirinya sendiri dari kemungkinan-kemungkinan keberadaannya. Manusia dapat menentukan pilihannya sendiri, karena tidak ada peraturan moral umum yang dapat menunjukkan apa yang harus dilakukan, dengan kata lain manusia itu bebas.  Sartre dikutip oleh Fuad Hassan, mengungkapkan “human reality is free, basically and completely free” artinya bahwa realitas manusia adalah bebas, secara asasi dan sepenuhnya bebas.[2] Permasalahan moral yang timbul dalam diri manusia seringkali dikarenakan manusia itu bebas, dan kebebasan itu merupakan potensi manusia untuk membentuk dirinya sendiri. Hal ini sering disebut dengan segi eksistensial manusia[3]. Adanya segi eksistensial tersebut, dengan demikian manusia dipandang sebagai makhluk terbuka, artinya manusia selalu berusaha menentukan kualitas dirinya, menemukan pribadinya melalui perbuatan-perbuatannya berdasarkan kesadaran dan kebebasannya itu.

Bahwa sebenarnya, manusia mempertanyakan segala sesuatu yang ada di semesta dan yang ada pada dirinya sendiri. Persoalan terbesar yang ada pada diri manusia ialah sejauh mana manusia bisa menghadapi dirinya sendiri untuk bisa memecahkan pertanyaan “siapakah manusia itu, dan dari mana asalnya?”. Ketika pertanyaan tersebut muncul, maka pertanyaan-pertanyaan lain berbondong-bondong datang sehingga manusia tidak akan pernah menghentikan pertanyaan pada dirinya sendiri, sampai ia mampu menjawab akan pertanyaan sendiri tersebut.

Karya sastra hadir memberi penawaran kepada khalayak luas mengenai bacaan yang mengangkat realitas kehidupan manusia. Dalam hal ini, pengarang adalah seorang manusia yang berusaha menangkap berbagai problema dalam kehidupan. Berbagai macam bacaan datang sebagai representasi dari kehidupan manusia, mencoba memberi alternatif jawaban akan pertanyaan-pertanyaan soal kehidupan. Sastra tidak pernah berangkat dari fiktif belaka, apalagi berangkat dari kepalsuan, akan tetapi sastra selalu berangkat dari realitas, sehingga sastra terkadang dikatakan sebagai bias dan bayang-bayang kehidupan.[4]

Berkenaan dengan pernyataan tersebut, Bagus Dwi Hananto dalam karyanya yang berjudul Napas Mayat memberi warna baru terhadap bacaan kesusasteraan Indonesia. Novel Napas Mayat merupakan karya yang mendapat juara 3 sayembara kepenulisan novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2014.  Jika dilihat dari judulnya, Napas Mayat seperti sebuah paradoks. Bagaimana mungkin mayat bisa bernapas? Untuk itu, perlu diketahui beberapa hal yang ingin disampaikan Bagus melalui karyanya yang dimenangkannya ini.

Lewat tokoh “aku” dalam novel Napas Mayat, Bagus yang merupakan novelis muda bercerita mengenai tokoh yang menyimpan hasrat, nafsu, dan dendam terhadap kehidupan.  Kehidupan yang dimaksud dalam karyanya ialah membahas beberapa hal yang kompleks yakni mengenai Tuhan, cinta, dan kekuasaan. Tema yang diusung dalam novel ini juga tidak biasa yakni mengenai keberadaan manusia. Keberadaan manusia sejatinya merupakan bentuk penghargaan yang paling abstrak, karena manusia bukanlah sosok yang dapat dinilai kapan saja melainkan manusia masih dalam proses “menjadi”. Hal ini yang membuat manusia kerap kali mengalami pergantian pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Berbagai proses kehidupan dijalani dalam rangka manusia membentuk dirinya sendiri untuk kemudian diketahui esensinya. Artinya, eksistensi manusia menjadi prioritas untuk kemudian timbul esensinya agar manusia dibedakan dari benda-benda.

Kisah yang diceritakan dalam novel Napas Mayat terdiri atas fragmen-fragmen yang mengerikan. Sebuah bacaan yang diperuntukan kepada khalayak diatas 18 tahun ini nampaknya menjadi bacaan yang memang harus dibaca oleh usia yang dianjurkannya, karena jika tidak maka perasaan jijik akan terlintas di dalam benak ketika membacanya. Tokoh aku yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini menjadi sorotan dalam tema keseluruhan novel ini. Gejolak nafsu yang dimunculkan oleh tokoh aku menayangkan kisah mengerikan dalam kehidupannya, yakni nafsu yang lebih berkuasa atas dirinya. Tokoh aku memulai beberapa pengingkaran terhadap dirinya sendiri dikarenakan ia banyak mendapat ejekan dari orang-orang. Jika sejak kecil ia mendapat pengakuan yang baik oleh lingkungan sekitarnya dikarenakan berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang, maka ketika ia sudah besar eksistensinya tergeser karena ayahnya mengalami kebangkrutan. Dengan usia yang sudah tergolong kepala empat, ia dihubungkan kepada nasibnya yang sial tidak kunjung menikah lantaran fisiknya yang kuntet dan kepalanya yang botak oleh karena penuaan diri. Ejekan demi ejekan mengalir di telingan si tokoh aku. Ejekan yang menyinggung fisiknya membuat si tokoh aku melakukan kanibalisme berupa pembunuhan. Si tokoh aku mulai memilah beberapa tindakan yang baginya sebagai keputusan yang menguntungkan bagi dirinya dan bagi orang lain.

Dua orang ia jadikan mangsanya pembunuhannya. Pertama,  Mama Besar, pemilik apertemen tempat ia tinggal. Mama Besar selalu mengejeknya dengan sebutan “kuntet” serta menyinggung proses penuaan dini yang dialami si tokoh aku, ejekan yang menimpanya membawa kekecewaan panjang serta merasa dirinya tidak memercayai lagi adanya Tuhan, baginya Tuhan hanyalah kekosongan belaka dan hidup dalam kepala orang-orang yang menyebutkannya.

Kelezatan daging Mama Besar merupakan hidangan kanibalisme pertama yang membuat si tokoh aku merasakan kepuasan setelah melakukan pembunuhan tersembunyinya tersebut. Mulanya, si tokoh aku mengenal adanya sebuah dosa sebagai batas dari tindakan-tindakan seorang manusia, namun perasaan dendamnya menginginkan dirinya bisa menghirup kebebasan dengan melenyapkan penyebab kekecewaannya tersebut. Dirinya menjadi legislator handal untuk bisa menentukan tindakan-tindakan yang tepat bagi kehidupannya.

Setelah kanibalisme pertamanya, hasrat dan nafsu semakin bergejolak di dalam diri si tokoh aku. Tubuhnya merasakan “haus” apabila melihat manusia dihadapannya, usus-ususnya merindukan daging manusia untuk mengisi pencernaannya. Maka dengan nafsu yang tak tertahankan, ia membunuh kerabatnya yang bernama Marbun setelah mereka meminum bir bersama. Tokoh aku menyembunyikan segala tindakan brutalnya tersebut dengan mengoleksi kepala-kepala korbannya di dalam sebuah toples lalu diawetkan di sebuah kulkas di tempat persembunyiannya. Melihat kepala-kepala korbannya, tokoh aku merasa dirinya sebagai pemenang atas kekalahan-kekalahan yang selama ini menimpa kehidupannya.

Daging dosa dari rasa kemanusian seorang mati. Di tubuhku megalir darah mama besar; jantungnya, hatinya, ginjalnya, paru-parunya, dan sebuah bagian dirinya. Aku tidak merasa menyesal ataupun takut bahkan. Semenejak daging itu ku habiskan, manusia terasa menyegarkan bagiku. -Halaman 11

Pada kutipan teks tersebut, tokoh aku yang melakukan tindakan kanibalisme, menganggap suatu kenikmatan daging sebagai bentuk prestasi terhadap dirinya sendiri. Manusia selalu ingin “menjadi”, ingin menemukan diri sendiri dalam rencananya.[5] Dirinya membutuhkan pengakuan akan keberadaannya, atau yang disebut juga eksistensi. Tokoh aku memunculkan cara-cara yang diduga bisa membuat dirinya terlihat dalam ruang dan waktu, menunjukan kepada tempat, orang, dan lingkungan sekitarnya bawa jiwa dan raganya diakui ada dan berada.

Kompleksitas krisis yang menimpa eksistensi tokoh aku pada akhirnya mengguncang keberadaannya itu sendiri. Tokoh aku, harus menjadi “mengada” untuk bisa menjadi apa yang diinginkan. Manusia mengada sejauh merealisasikan dirinya sendiri, oleh karenanya manusia merupakan kumpulan dari tindakannya, dan tiada lain ialah hidupnya sendiri.[6] Tokoh aku membentuk dirinya sendiri dengan tindakan yang tidak lagi mempertimbangkan moral. Dalam arti lain, kebebasan absolut merupakan tujuan yang diinginkan si tokoh aku. Sartre menggambarkan manusia mempunyai kekuasaan sepenuhnya dalam menentukan pilihan atas kebebasannya, dan tidak ada yang mencampurinya.[7] Kebebasan merupakan hal yang otonom dan mutlak, oleh karena itu manusia harus terus menerus mengatasi dirinya, dan harus memilih dari kemungkinan-kemungkinannya berdasarkan kebebasannya.

Kanibalisme yang dilakukan merupakan tindakan yang dipilih atas kebebasan yang diinginkannya, maka dalam arti lain tokoh aku mengerti akan tanggung jawab yang harus dilakukannya sejauh kebebasan itu ia peroleh. Setelah ia membunuh, maka ia bertanggung jawab atas tindakannya itu yakni menyangkut tentang keberadaannya saat ini. Dirinya bukanlah kanibal yang semata-mata menginginkan isi perut, tetapi hasrat dan kepuasan jiwanya menjadi ‘kenyang’ sehingga keberadaannya menjadi lebih di akui dalam hidupnya. Hal ini terjadi karena kesadaran tidak sepenuhnya bertepatan dengan keadaan diri sendiri, oleh karena itu kesadaran tidak pernah sama sepenuhnya dengan keadaan manusia saat ini. Si tokoh aku mengatasi keadaannya dengan meniadakan segala sesuatu yang melekat pada dirinya, dengan demikian ia memiliki kebebasan atas dirinya.

Tindakan-tindakan yang dinilai tidak rasional tersebut, menggiring si tokoh aku pada mimpi-mimpinya yang didatangi oleh hantu-hantu dari hasil kanibalismenya. Tokoh aku mulai dihantui dengan beberapa kejadian di dalam mimpi, ia merasakan dirinya terancam keberadaannya, oleh sebab kemenangannya dianggap segera berakhir.

Aku mengantuk mataku berat memanggil batu-batu dosanya dari lereng. Memasuki alam mimpi. Di mimpi, aku menyaksikan aku memakan jantung yang masih berdeguk dan kenyal yang bisa kurasakan dengan darahnya yang mengumpal didalamnya. –Halaman 65

Pada kutipan teks tersebut, tokoh aku kembali dibatasi oleh sebuah nilai bernama dosa. Dosa menjadi penyebab antara mimpi dan realitasnya yang saling bersinggungan. Realita si tokoh aku ialah memenangkan dirinya dengan tindakan kanibalisme, namun dalam mimpinya ia mengalami kekalahan oleh sebab ada batasan bernama dosa. Tokoh aku memanglah digambarkan sebagai seorang atheis yang tidak lagi memercayai Tuhan beserta kebeseranNya, sebab baginya Tuhan tidak memiliki makna apapun.

Kasus mandek dan menunggu Tuhan memberi petunjuk dalam hati aku tertawa karena Tuhan tidak ada maknanya tidak ada petunjuk sama sekali buktinya aku masih bebas tak terkekang. Halaman 17

Kutipan tersebut secara jelas mengungkapkan bahwa Tuhan bagi si tokoh aku menjadi batas antara ia dan keinginannya. Dalam hal ini, Tuhan menjadi bentuk pengingkaran bagi si tokoh aku karena Tuhan memperkenalkan sebuah nilai bernama dosa, sedangkan dirinya sendiri menghendaki kebebasan. Dengan demikian, ada tidaknya Tuhan tidak akan mengubah penghayatan manusia tentang dirinya sebagai eksistensi.[8]

Mimpi tentang kepala-kepala yang berbicara itu membuatku ketakutan. Siang ini aku seperti diawasi setelah seekor gagak datang padaku. Aku hidup seperti diruang yang di batasi gerakku. Jendela yag terbuka menyampaikan angin dan melambaikan beberapa rambut di kepalaku aku tertegun pada lamunan yang jauh tentang mimpi yang selalu ku ingat ini. Mimpi ini melekat. -Halaman 112

Mimpi-mimpi yang berkelanjutan tersebut, kemudian membuat si tokoh aku kembali mengingat adanya sebuah dosa, sehingga ketakutan yang menghantui dirinya menyebabkan seorang atheis kembali mengenal agama. Dalam hal ini, si tokoh aku mengalami pergolakan batin yang sangat hebat karena ia berada di dalam sebuah limbo, dimana ia bertemu para arwah dari mayat kanibalismenya. Para arwah tersebut pada akhirnya meminta si tokoh aku untuk bertanggung jawab terhadap perbuatannya.

Selain mimpinya tentang kepala-kepala yang diawetkan, tokoh Aku juga dihantui oleh sebuah burung gagak hitam yang tiba-tiba datang dan seolah-olah mengawasi gerak gerik tokoh Aku. Burung gagak tersebut hadir dalam realita maupun mimpi si tokoh aku, sehingga si tokoh aku merasa yakin bahwa si gagak memiliki maksud tertentu.

Sebelum naik menuju ke apartemenku, aku merasa bahwa ada sesuatu yang mengawasiku. Benar! Itu seekor gagak. Ketika aku mendongak ke atas, di atas pucuk atap rumah di depan bangunan apartemen di seberang jalan, seekor gagak memiringkan kepalanya ke kiri dan ingin memasuki pikiranku. Aku cepat-cepat menuju apartemenku dan mencoba melupakan gagak itu. Halaman 123

Gagak tersebut menunjukan suatu hal gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia karena dengan tiba-tiba datang dan langsung memandangi tokoh Aku dengan mencoba merasuki pikirannya. Di dalam sebuah limbo juga gagak tersebut menitip pesan agar si tokoh aku mengakhiri perbuatan kanibalismenya. Maka ketakutan-ketakutan yang dialami si tokoh aku membuat dirinya harus menyerah diri ke polisi. Di dalam sel, ia menemukan dirinya sebagai petarung sejati atas kehidupannya sendiri karena berhasil menang namun tidak kalah.

Berdasarkan ulasan diatas, dapatlah dipahami bahwa Sartre seorang tokoh eksistensialisme menolak nilai-nilai dan hukum-hukum universal, termasuk juga agama dan segala aturanaturannya yang digunakan untuk menilai dan mengatur manusia. Meskipun manusia harus bertanggung jawab atas setiap perbuatannya, bukan berarti harus terdapat imperatif-imperatif moral untuk melegitimasi perbuatan tersebut. Novel Napas Mayat kiranya menjadi sebuah karya yang hadir dengan memberi jawab mengenai eksistensialisme manusia, menjawab “apa” menjadi “apa-apa” tentang manusia itu sendiri.

[1] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat : Pengantar Kepada Teori Nilai Buku IV, (Jakarta : Bulan Bintang. 1981), hlm. 469

[2] Fuad Hassan, Berkenalan dengan Eksistensialisme, (Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya. 1992), hlm.144

[3] Franz Magnis Suseno, Etika Dasar; Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, (Yogyakarta: Kanisius.1987), hlm. 17

[4] Suryaman, Nilai Sastra Dalam Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari”. Litera, Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Vol. III, No. 2(Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. 2004), hlm. 285

[5]Muzairi, Eksistensialisme Jean Paul Sartre : SumurTtanpa Dasar Kebebasan Manusia, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2002), hlm 114-116

[6] Fuad Hassan, Berkenalan dengan Eksistensialisme, (Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya. 1992), hlm.134

[7] Soejono Soemargono, Filsafat Abad 20 , (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana. 1988),  hlm 149.

[8] Fuad Hassan, op.cit., hlm 138

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s