Citraan Ala Ziggy –Ambisiusitas Imaji Cipta Masyrarakat Jakarta

Nicko. P

Jakarta, kiranya selalu aduhai – diajak berdialog secara mana suka. Permasalahan yang sebenarnya bukan menjadi masalah – besar ataupun kecil. Namun, ini-lah Jakarta – sebagaimana kebudayaan – berbeda dengan lainnya. Jakarta, kerap kali menjadi hal yang terpusat bagi kaum urban ketika datang dan menyaksikan bagaimana ambisiusnya demokrasi terpimpin membangun dan mengubah segala yang mengandung ke-Bataviaan. Pembangunan yang terpusat pada pemerintahan, sejak dari zamannya Soeakarno, membuat Jakarta menjadi nomor satu – kiranya dunia, menjadi ambisi yang utama.

Pembangunan Hotel Indonesia[1] yang bertujuan menjadi fokus utama bagi para tamu negara, saat berkunjung ke Indonesia – namun, Jakarta yang menjadi pusat dari kedatangan. Saat it pula dibangun pusat perbelanjaan lebih dari 10 lantai, Sarinah – yang kita lihat sekarang seperti biasa saja, dan jauh dari kata kemewahan, namun pada tahun 1964 – Sarinah, pusat perbelanjaan yang membuat kaum urban menjadi geleng-geleng kepala, seolah merasakan “ke-gilaan” bergaya eropa. Memang, saat itu juga terdapat Pasar Baru, yang terletak di dekat lapangan banteng – terdapat patung pembebasan Irian Barat. Pasar baru tidak begitu mewah, karena hanya menyediakan pakaian yang harganya masih bisa dijangkau untuk masyarakat urban.

Kiranya, saat ini kita merasakan sebuah kelimpahruahan dari sumber daya yang dipunyai oleh Jakarta. Lalu dengan kata sepakat – entah dengan ketidaksepakatan, kita merujuk pada sebuah pandangan, jika; Jakarta ialah ciptaan Batavia, dan seolah di daur ulang menjadi lebih modernis pada zamannya. Menghilangkan gaya ke-eropaan dan seolah ingin menjadi mercusuar bagi dunia. Pembangungan wisma Nusantara, pemukiman super elite Menteng, Taman Sari dan juga Petojo, juga Stadion Gelora yang di-imajinerkan menjadi stadion terbesar se-asia pada waktu itu.

 

“Ruang Kota Jakarta mengandung di dalamnya ketercampuran dari struktur kekuasaan masa lalu dan masa kini. Apa yang dahulu diciptakan seringkali tidak dihancurkan.” (Farabih F, 2005: 98) keambisusitasan Soekarno pada masa demokrasi terpimpin. Mengubah Trem menjadi kereta bawah tanah. Pembangunan menara dirgantara (patung pancoran) – meski Soekarno tidak sempat menikmati hasil yang dibuatnya – selesai pada era Soeharto.

Saat Henk berdialog dengan Soekarno, beginilah kiranya jika diterjemahkan dari bahasa Belanda;

Kebutuhan untuk makan dan minum, setelah 5 menit maka manusia akan puas materieel. Tetapi apaka itu kebahagiaan? Jika sesudah makan harus hidup dalam lingkungan penuh lumpur, kejelekan dan kekurangan. Biarlah rakyat berjalan-jalan dalam sebua taman yang besar diiringi nyanyian dan lagu dan dengan perut yang terisi. Jadi: DPN juga harus bekerja kearah sprituil. Desa-desa yang indah seni, budaya, ibukota yan indah tempat-tempat hiburan dan sebagainya. Berikat rakyat kebahagiaan jangan hanya yang materieel saja.[2]

DKJ, yang setiap tahunnya mengadakan sayembara menulis novel – tahun 2014 dengan nama yang begitu “ribet” untuk diucapkan, memberikan tempat kedua kepada; Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie, dengan Jakarta Sebelum Pagi. Kiranya Ziggy mencoba mengajak pembaca untuk berburu dengan waktu. Sebelum pagi, yang dapat kita gambarkan atau memaknainya dengan terhindar dari kemacetan, pagi Jakarta menjadi hal yang menakutkan bagi kaum urban.

Tulisan yang dikhususkan untuk menceritakan Jakarta lebih dari apa yang kita lihat dari biasanya. Kehidupan yang super aneh, menjadi makna yang aduhai kerap kali dilihat dari para Homo Jakartensis[3] lainnya. Ziggy kiranya melihat hal yang sama pula, ketika Ia ber-eksperimen dengan tulisannya – bercerita tentang Jakarta.

Pada cerita ini, Ziggy ingin memberi pemaknaan lebih tentang Jakarta beserta kaumnya. Representasi tentang Jakartans digambarkan seperti komedi. Para tokoh yang digambarkan Ziggy, begitu kentara dan memang menjadi representasi bagi masyarakat Jakarta sekarang ini. Seperti halnya, Nissa. Teman kantor dari tokoh utama, yaitu Emina – diambil dari sebuah album folk song Yugoslavia. Nissa digambarkan seperti se-ekor Babi – mendapat ilham setelah membaca animal farm, sehingga dalam novel tersebut, banyak peranan babi dalam percakapan ataupun narasi. Novel yang begitu banyak referensi, sehingga membuat pembaca baru, menjadi kewalahan ketika harus memahami beberapa dari percakapan yang mau tidak mau, harus dicari rujukannya. “Aku terharu karena tingginya pemahaman Nissa terkait pengaruh buku bacaan terhadap bahan omonganku. Animal Farm, banyak babinya.” (Hlm, 4)  Sementara itu, para pembaca baru akan bingung dan berubah diri menjadi babi dalalm cerita tersebut.

Kiranya, cerita pada novel ini yakni; mengenai proses penyeledikan, tentang siapa, dan dengan tujuan apa seseorang mengirimkan surat – operasi bunga terbang – dengan balon beserta bunga Hyacinth – seorang lelaki yang mengalami banyaknya phobia  beserta ke-anehan yang diciptakannya. Pria tua, dengan sebutan Pak Meneer, beserta para jompo yang sebenarnya melalui perundingan secara demokratis – mengenai panggilan jompo. Seorang anak yang dewasa bukan pada umurnya, ditinggal kedua orang tuanya, berbeda negara. Keturunan Jepang, yang sangat fasih dengan teh dan juga tata cara makan. Ambisiusitas akan penemuan surat-surat beserta isinya – membuka memoar baru akan diorama Jakarta. Diakhiri dengan penemuan seorang wanita – mengubah diri akan kelaki-lakiannya – di dalam sebuah kamar – seperti novel metropop, dipenuhi dengan cinta.

Representasi akan masyarakat Jakarta, yang sebenarnya memang begitu aneh dan kelewat ajaib untuk para penghuninya. Mereka berburu dengan waktu, mencoba mengalahkan waktu dengan anggapan; bangun pagi terhindar dari macet. Lalu, dengan tulisannya – Novel – Ziggy berbagi dengan keberanian masyarakat Jakarta yang berburu dengan waktu – berangkat kerja ataupun pulang kerja. Keambisiusitasan akan waktu semakin kentara, karena waktu begitu penting  bagi para kelas pekerja – menyeleksi calon kandidat masuk PT Maju Kena Mundur Kena.

Ziggy membangun cerita tentang; penting sekali bahasa asing. Maka dari itu, ziggy seolah membuat pembaca (pasar) terkhusus kalangan intelektual untuk membeli dan mencoba mengkritisi tulisannya. Begitu aduhainya novel yang ditempatkan sebagai pemenang kedua oleh DKJ pada tahun 2014. Membuka segala memoar yang terselip oleh Jakarta yang berbagi ke-bataviaan. “Kanal Molenvliet,” gumamku pelan. “Itu yang ada di surat yang kamu kirim tadi pagi. Kupikir itu di Eropa. Atau nama pisang. Kanal Molenvliet ada di Jakarta?” (Hlm, 75) yang membuat kita membukan website, di mana letak kanal itu, dan berganti nama apakah kanal itu? Dialog yang menawarkan segala memoar di dalamnya. “Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, Jakarta Barat” (Ibid,. Hlm. 75)

“Salah satu pusat bisnis di zamannya, dan katanya banyak vila Belanda dibangun di daerah sana, dulu. Dan ada kincir angin.” (Ibid,. Hlm. 75) “Dan ini bukan dibangun orang Belanda. Arsiteknya keturunan Tionghoa dan pembanguanannya dibiayai Dewan Tionghoa” (Ibid,. Hlm, 75). Diorama akan Jakarta, dengan pemikiran pada demokrasi terpimpin – membangun dan menghancurkan segala hal yang berkenaan dengan bangsa luar. Maka dari itu, Soekarno menyuruh dan memaksa, akan diciptakannya kembali Jakarta dari mulai pembangunan perumahan super elite Menteng dan Petojo. Lain hal, kanal tersebut berganti nama dan kiranya masyarakat Jakarta hanya mengetahui kanal tersebut – seruan kanal tidak begitu cocok, melainkan sungai yang mengalir dari Harmoni sampai kantor Batavia dahulu, dan sekarang mengubah diri menjadi kawasan kota tua – dengan museum Fatahillah. Masyarakat Jakarta, dengan segala atraksi, dan parade yang selalu dibuat – kerap kali semakin kentara, makin hari makin menjadi. Segala atraksi berhimpitan dan ambisiusitas yang kentara; harus pulang tepat waktu. Berburu dengan waktu. Berkenaan pada masa terdahulu, jika segala hal harus ekstra cepat. Maka representasi dari masyarakat Jakarta sedemikian rupa. Kanal – sungai yang begitu aduhai terdengar ditelinga, menjadi hal penting dalam pergantian fungsinya.

Dalam novelnya, ziggy berusaha membuka memoar akan Jakarta yang ke-Bataviaan ataukah Batavia yang memang dengan sengaja diubah secara ambisius pada masa setelah kemerdekaan. Kiranya, memoar itu dibuat dengan dialog antar tokoh, yakni saat Emina dan Abel melakukan operasi (penyelidikan) di malam hari. Mereka berdialog, dan membuka memoar akan bangunan buatan batavia pada zamannya.

“Abel menunjuk gedung di depan mobil – gedung putih besar dengan banyak lengkungan dan pilar-pilar. Ada kerangka-kerangka besi dan jaring biru yang menunjukkan proses kontruksi, beberapa meter dari kami berdiri. Nama gedung itu ditulis dalam huruf raksasa yan sudah pudar. “Asuransi Jiwasraya? Tempat yang suka didatangi mereka itu kantor asuransi?” (Hlm, 127) sebuah diorama yang digambarkan oleh Ziggy. Kiranya saat itu, Jakarta berkurang akan kemacetan di dalamnya – “Kalau ini siang hari, kurasa akan banyak keributan di tempat ini. Dengan orang-orang yang berdempet-dempetan di halte TransJakarta dan mobil yang mengantre parkir. (Hlm, 126)

Memoar yang diciptakan melalui dialog antar tokoh, kiranya membuat pembaca baru – mencari buku atau kiranya membuka website – mencari tempat atau beberapa sebutan yang kiranya kurang dimengerti. Kiranya ini, yang membuat para pembaca baru menjadi kewalahan – bukan pada tingkatannya. “Nillmij,” kataku, membaca tulisan yang kutemukan di surat. “itu apa, sih?” (Hlm, 1.28)

Melainkan hanyalah sebuah perusahaan asuransi kematian. Kiranya saat ini mempunyai nama baru, yakni; Jiwasraya. Maka dari itu, mereka (pembaca baru) kiranya akan mencari dengan sangat istimewanya – novel ini – membuat mereka menjadi kaya akan bangunan kebataviaan yang sengaja dihancurkan, lalu diciptakan kembali – gaya yang begitu ambisius – menjadi mercusuar bagi asia. Jakarta, kiranya menjadi tujuan utama.

Pada saat ini pula, Ziggy menggambarkan Jakarta sebagaimana adanya. Keanehan penduduk (masyarakat) yang berhimpitan – kiranya Yan Pi[4] – berhimpitan setiap harinya – TransJakarta, Commuter Line, Bus kota. Tidak lain dengan pengendara sepeda motor – babi asap lebih cocok – sebagai julukan, karena dipanggang suhu Jakarta siang menjelang sore. Memoar yang dicipta Ziggy, yakni ketika terdapat sebuah surat yang membuat mereka berambisi untuk menselesaikan ke-aduhaian di dalamnya. Beginilah isi surat, beserta memoarnya;

“B.A.R.

Kepada–,

Saya telah berhenti berharap engkau akan mencintai saya kembali. Ini terjadi jauh lebih cepat dari yang saya perkirakan. Namun, saya ingat bahwa akal sehat saya adalah kualitas yang paling kau hargai dari saya.

            Yang paling saya hargai darimu adalah sikapmu yang seolah tak mengenal rasa malu. Sungguh menarik, ketika kau melintasi jalanan dengan gaya yang sungguh konyol dan tanpa menunjukkan tanda-tanda rasa malu, hingga rasanya saya yang harus merasa malu untuk menggantikanmu. Saya sungguh menghargai untuk mendorong agar orang-orang membuang rasa malu mereka selayaknya dirimu, dan termasuk saya.

            Ayahmu punya akordion, dahulu. Engkau memaksa beliau untuk mengajari saya satu buah melodi dan, setelah satu minggu berlatih, kau memaksa saya bermain di ujung jembatan Juliana. Engkau memekik dan melompat dan menepuk tangan dan tergelak setiap kali seseorang menjatuhkan recehan ke kaki saya.

            Tidakkah kau tahu bahwa mereka membayar agar saya berhenti bermain, dan bahwa mereka berpikir bahwa kau adalah adik saya yang kurang sehat akalnya? Mereka bertanya pada saya ketika kau menarik akordion agar saya bermain di depan toko-toko karena jembatan akan diangkat. Mereka pikir, orangtua kita telah meninggal, dan saya haruus membesarkanmu sendirian. Saya tidak bisa berkata tidak, melihat dirimu yang tidak bisa berhenti melompat dan menunjuk.

            Segalanya sungguh telah berubah. Kini sayalah orang bodohnya, dan engkau, dalam keacuhan, menahan malu akan rasa cinta saya yang tidak akan pernah kau balas.” (Hlm, 144).

Jembatan Juliana, menjadi garis fokus untuk diajak berdialog secara manasuka. Ziggy, kiranya tahu betul – kondisi jembatan Juliana pada masa sekarang ini. Ia-pun tahu, jika jembatan Juliana tidak berfungsi sebagaimana mestinya – seperti dalam surat, ketika Ia bermain akordion dan jembatan akan diangkat. Jembatan yang dahulu tidak dihancurkan secara pembangunan, pada masa sekarang  – jembatan beralih fungsi menjadi tempat pemotretan pra-pernikahan. Kiranya menjadi representasi dari masyarakat Jakarta dalam melakukan hal yang begitu romantis. Memoar akan bangunan, beserta keromantisannya. Hal yang dahulu diciptakan, menjadi kebudayaan yang secara batiniah – tetap, melekat pada sisi masyarakat Jakarta.

Ambisiusitas, kiranya tidak dapat dilihat secara manasuka,  terutama saat kita tahu – demokrasi terpimpin – pemerintahan Soekarno – segala bangunan yang diciptakan,berambisi ingin menjadi mercusuar di Asia. Segala bangunan ke-bataviaan dibersihkan, hancurkan, dan dibangun kembali – dengan ambisi, mempunyai gaya – modernitas, membuat para masyarakat urban, beranggapan jika; Jakarta begitu aduhai kiranya saat dahulu dan sekarang, Jakarta menjadi tujuan utama bagi masyarakat urban lainnya. Citraan dari media – novel ini – terkhusus membicarakan Jakarta yang diciptakan, jika sebelum pagi menjadi hal yang paling diburu untuk melihat Jakarta lebih dalam lagi. Maka sebelum pagi-lah, Jakarta harus diburu, melainkan ke-ambisiusitasan dalam segala hal yang berkenaan dengan kehiduap realitas Jakarta sebenarnya.

 

[1] Bangunan yang dibuat pada zaman ke-gubernuran Soemarno Sastroatmodjo, yang terselesaikan pada tahun 1962, 29 lantai (gedung tertinggi di Asia pada saat itu)

[2] Henk Ngantung, ibid., Hlm. 158. “Men heeft maar 5 minuten nodig te eten en te drinken; na vijf minutes eten en drinken is men al puas materieel. Maar is dat ‘geluk’2, moet men na te hebben gegetes, moet leven in een omgeving van modder, lelijkheid, banaliteit etc. Laat ons volk rondlopen in een grote tuin, te midden van de zang en muziek, en met gevulde maag! Dus; DPN moet ook weken aan de ‘spritueel kant’ van de zaak: lieftelijke dessa’s , kunst , cultuur, mooie hoofdstad, recreatie plaatsen, etc! Geef ons volk ‘geluk’ niet materieel aleen.”

[3] Sebutan dari Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan esai “Tiada Ojek Di Paris” memaknai, jika para masyarakat Jakarta, tidak cocok untuk disebut sebagai masyarakat metropolis, melainkan masih seperti kaum primitif – sejenis Homo Sapien.

[4] Produk makanan terkenal dari provinsi Fuzhou. Kulit dim sum yang terbuat dari daging babi yang dipukul-pukul dan dicampur dengan tepung, lalu ditipiskan dan dijemur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s