Cerpen Geriliya Kota karya Eka Kurniawan dan Matinya seorang Demonstran karya Agus Noor : Kajian Intertekstual

Putera Sukindar

 

Dalam membaca karya sastra penulis kerap mendapati sebuah kesamaan, seperti misalnya motif dalam cerita, yang ada di dalam karya pengarang lain. Hal ini penulis rasakan ketika membaca cerpen milik Agus Noor yang berjudul Matinya seorang Demonstran, yang memiliki kesamaan dengan cerpen Geriliya Kota karya Eka Kurniawan.

Singkatnya, kedua cerita ini sama-sama memiliki benang merah yang sama. Alur yang dibangunpun tak begitu beda jauh. Sama-sama menceritakan tentang seseorang yang tak memiliki kontribusi apa-apa terhadap perjuangan reformasi, malah menjadi pahlawan ketika tak sengaja mati di tengah-tengah aksi demonstrasi berlangsung. Sedang yang mengabdikan kehidupannya ke arah sana, malah hilang dan terlupakan begitu saja. Cerita yang dikemas dalam komedi satir ini, atas hasil pembacaan penulis, merepresentasikan peristiwa kerusuhan yang terjadi tahun 1998.

Pembacaan penulis atas kedua cerita tersebut semakin meyakinkan bahwa tidak ada teks sastra yang berdiri sendiri. Sebagaimana prinsip intertekstual bahwa setiap teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks-teks lain, dengan itu teks sastra yang baru merupakan hasil meneladani dari teks yang lama. Cerpen Matinya seorang Demonstran dan Geriliya Kota merupakan bentuk nyata atas gagasan tersebut, terlepas dari bagaimana latar belakang penciptaan keduanya.

Cerita Geriliya Kota yang terbit tahun 1999, lebih dulu dari Matinya seorang Demonstran 2010-2013, menandakan bahwa cerita itu adalah hipogram yang kemudian mempengaruhi cerpen setelahnya (karya Agus Noor) baik dalam ide, peristiwa, dan lain sebagainya. Untuk melihat itu semua, agaknya penulis perlu menggunakan kajian intertekstual sebagai metodenya.

INTERTEKSTUAL

Nurgiyantoro[1] mengatakan bahwa  intertekstual adalah kajian hubungan antarteks, baik dalam satu periode maupun dalam periode-periode yang berbeda. Lebih lanjut Nurgiyantoro mengemukakan bahwa kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks (teks sastra), yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya adanya hubungan unsurunsur intrinsik di antara teks-teks yang dikaji. Secara lebih khusus dapat dikatakan bahwa interteks berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang muncul lebih dulu.

Teeuw dalam Pradopo[2] mengemukakan bahwa karya sastra itu merupakan respon pada karya sastra yang terbit sebelumnya. Oleh karena itu, sebuah teks tidak dapat dilepaskan sama sekali dari teks yang lain. Karya sastra yang ditulis lebih dulu, biasanya mendasarkan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dengan cara meneruskan maupun menyimpang dari karya aslinya.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa intertekstual adalah hubungan antara satu teks dengan teks lain, yang dapat berupa hubungan unsur-unsur intrinsik maupun ekstrinsik yang melalui beberapa unsur karya sastra yang sebelumnya itu diserap, ditentang, dan ditransformasikan ke dalam karya sastra yang baru atau kemudian.

UNSUR INTRINSIK DAN PEMBAHASAN

Setelah memahami penjabaran di atas, untuk mencari hubungan antara cerita Matinya seorang Demonstran dengan Geriliya Kota ada perlunya menjabarkan kedua unsur intrinsik cerita tersebut.

1) Tema

Kedua cerita ini memiliki tema yang sama, yakni perjuangan reformasi.

Dalam cerita Matinya seorang Demonstran dibuktikan saat peristiwa Eka sedang rapat gelap bersama rekan-rekan aktivisnya, di sebuah rumah kontrakan di Gang Rode, untuk menyelamatkan teman-temannya di lapangan yang dicidup oleh aparat.

Begitu pula pada cerita Geriliya Kota. Bahkan diawal cerita saja sudah jelas tema apa yang akan diangkat oleh penulis, dengan adanya peristiwa tokoh Samira yang menyebarkan selembaran aksi kepada orang-orang yang lalu lalang.

2) Alur

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, bahwa kedua ini memiliki alur yang tak jauh berbeda. Berikut adalah rinciannya:

Matinya seorang Demonstran

Awalan

Cerita ini dibuka dengan kalimat yang cukup menampar para pembacanya, yakni “PAHLAWAN hanyalah pecundang yang beruntung”. Setelahnya digambarkan tokoh Eka, seorang penulis, yang sinis tapi senang berkelakar terhadap perempuan idamannya yaitu Ratih. Melalui sudut pandang Ratih, kemudian diceritakan bagaimana awal mula mereka bertemu.

Pertengahan

Konflik terjadi ketika Ratih mulai masuk kedalam kehidupan Eka yang kerap berhubungan dengan kegiatan demonstrasi, terlebih ketika bulan-bulan menjelang reformasi. Hal ini sering ditentang oleh Arman (pacar Ratih pada malam sabtu, begitulah pengarang mengistilahkan pacar pertamanya), yang digambarkan sebagai sosok anak kolonel angkatan darat yang bertubuh atletis, yang selalu mengikuti tren sebagai anak gaul.

Penggambaran Arman yang bertolak belakang dengan Eka menjadi dilema bagi Ratih, ia menyukai kedua laki-laki tersebut. Di mana ketika bersama Arman ia merasa hidup, sedang bersama Eka ia merasa ada sesuatu yang diperjuangkan dalam hidup. Puncaknya, hal itu terjadi ketika demonstrasi terjadi setiap hari. Ratih sering keluar dengan Eka pada malam hari untuk menyebarkan selembaran aksi. Di situlah Arman mulai menunjukkan ketidak sukaannya secara terang-terang.

Klimaks

Ratih sedang berada di rumah bersama ibunya saat bentrok antara mahasiswa dan aparat terjadi di dekat rumahnya. Tiba-tiba Arman datang mengetuk pintu untuk kemudian dipersilahkan masuk. Arman bercerita bahwa ia terjebak di antara kerusuhan ketika menuju rumah Ratih. Mobilnya ditahan masa, maka itu ia berjalan kaki. Lantas ia beristirahat di sana.

Saat tengah malam, ketika bentrok mulai mereda, Arman pamit kepada ibu Ratih untuk meliat mobilnya sekaligus membeli rokok. Tak disangka-sangka, keesokan harinya Ratih mendengar kabar bahwa Arman mati tertembak peluru nyasar. Ia juga tak pernah lagi bertemu Eka, sebab tak ada yang tahu kemana ia pergi, kawan-kawannya yakin ia diculik hingga tak jelas bagaimana nasibnya. Kematian Arman akibat peluru nyasar, membuat namanya dijadikan sebuah jalan. Melalui sudut pandang Ratih, kalimat penutup cerita ini sama perihnya dengan kalimat pembuka, yakni “Pecundang memang sering kali lebih beruntung.”

Geriliya Kota

Awalan

Pada awalan cerita, terdapat tokoh Seno yang sedang menunggu kekasihnya di toilet, dan Samiran yang sedang membagikan selembaran aksi di depan bioskop. Seno adalah laki-laki yang tak acuh terhadap hal semacam itu, yang ia pikirkan hanyalah perempuannya yang sedang ada di toilet. Maka setelah percakapan singkat dengan Samiran, iapun pergi dengan kekasihnya menggunakan taksi tanpa memperdulikan selembaran tersebut.

Pertengahan

Konflik tersejadi saat perbuatan Sumira dianggap subversif oleh negara, sehingga kehidupannya menjadi terancam. Dengan itu ia diamankan oleh salah seorang teman bernama Rudi di salah satu rumah. Ia dilarang keluar rumah karena banyak tentara yang sedang mengincarnya. Namun saat Rudi ke kamar mandi untuk buang hajat, Sumira memutuskan keluar untuk membeli rokok ke warung.

Klimaks

Saat Sumira sedang membeli rokok di warung, tiba-tiba dua orang lelaki berbadan tegap menyergapnya sebelum akhirnya menembaknya hingga tewas. Mayat samira disembunyikan, hingga tak terlihat sedikitpun jejak kematiannya.

Di sisi lain, saat hiruk pikuk kerusuhan sedang terjadi, Seno tengah asyik main gila dengan kekasihnya di kamar. Hingga beberapa hari setelah itu, saat ingin pergi ke rumah sang kekasih, ia terjebak di antara anggota demonstrasi. Kemudian ditangkap oleh seorang aparat, dan dihajar hingga tewas.

Setelah peristiwa itu, Seno yang tak sengaja terbunuh di antara anggota demonstran, dijadikan sebagai pahlawan perjuangan reformasi. Bahkan mayatnya diiringin oleh ribuan mahasiswa untuk sampai ke pemakaman. Sedang Sumira yang kerap menyebarkan selembaran aksi, yang mati oleh dua orang berbadan tegap, tak pernah terendus sedikitpun perjuangannya.

3) Tokoh

Matinya seorang Demonstran

Eka      : Digambarkan seorang penulis sekaligus aktivis yang memiliki badan kurus dan berpakaian tidak terurus. Di samping sifat sinisnya, ia memiliki selera humor yang baik.

Ratih   : Perempuan yang memiliki semangat juang yang tinggi. Terbukti dengan bagaimana ia kerap mengikuti kegiatan bersama Eka dalam rapat gelap untuk memperjuangkan reformasi.

Munawarman (Arman) : Lelaki yang tak acuh terhadap perjuangan reformasi. Baginya, yang terpenting adalah mode pakaian dan gaya hidup yang kekinian.

Geriliya Kota

Sumira : Tokoh ini digambarkan memiliki perawakan yang kurus ceking, rambut yang acak-acakan, dan berpenampilan dekil. Selain itu ia adalah aktivis yang semangat menularkan semangat juangnya melalui selembaran aksi yang disebarkannya.

Seno    : Lelaki yang tak acuh terhadap perjuangan reformasi. Baginya, yang terpenting adalah kekasihnya untuk melakukan hal-hal menyenangkan di kamar.

Dewi   : Kekasih Seno yang gemar memuaskan hasrat berahi dirinya maupun kekasihnya.

Rudi    : Kawan seperjuangan Sumira yang memiliki kesetia kawanan yang tinggi. Terbukti ketika ia mengamankan Sumira dari ancaman tentara yang ingin menciduknya.

4) Latar Tempat

Matinya seorang Demonstran

Rumah Ratih

Tempat demonstrasi

Rumah kontrakan Gang Rode

Geriliya Kota

Depan Bioskop

Rumah Dewi

Tempat demonstrasi

Rumah Rudi

 

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, mengenai hubungan intertekstual pada cerpen Matinya seorang Demonstran karya Agus Noor, dan Geriliya Kota karya Eka Kurniawan terdapat beberapa kesamaan. Tema dalam cerpen ini sama sama menitik beratkan pada perjuangan reformasi. Pola dalam alurnya pun tak beda jauh, klimaks pada cerpen ini menceritakan garis besar yang sama. Tokoh Eka dalam cerpen Matinya seorang Demonstran memiliki kesamaan nasib seperti tokoh Sumira dalam cerpen Geriliya Kota. Sedang latar tempat juga terdapat kesamaan yaitu lokasi demonstrasi.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadja Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Beberapa Teori Sastra Metode, Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Gaja Mada University Press.

 

[1] Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadja Mada University Press, hal. 38

[2] Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Beberapa Teori Sastra Metode, Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Gaja Mada University Press, hal. 131.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s