Ummi Anisa

Berbicara mengenai karya sastra tentunya tak akan luput dari unsur kebudayaan dan era sosial yang melingkupinya. Sastra tidak hanya dijadikan sebagai sarana mengapresiasikan seni menulis, lebih dari itu: karya sastra –dalam hal ini prosa, merupakan wadah dalam merefleksikan isu-isu sosial dari kehidupan masyarakat pada suatu masa melalui kisah fiksi.

Perjalanan sastra Indonesia sendiri dapat dikatakan penuh dengan pergolakan dan sejarah yang cukup panjang. Di mulai dari angkatan pujangga lama, angkatan sastra melayu lama, angkatan balai pustaka, angkatan pujangga baru, angkatan 1945, angkatan 1950-1960an, angkatan 1966-1970an, angkatan 1980-1990an, angkatan reformasi, dan angkatan 2000an. Setiap angkatan memiliki tokoh-tokoh sentral yang mewakili angkatan tersebut. Sebut saja Marah Roesli dengan Siti Nurbaya yang mewakili angkatan balai pustaka, Armijn Pane dengan novel Belenggu di angkatan pujangga baru, atau angkatan 1950an dengan Pramoedya Ananta Toer yang disebut oleh Sapardi Djoko Damono sebagai novelis terbaik di Indonesia.

Dari deretan nama novelis yang bertengger dikesusastraan Indonesia, di era milenial ini muncul nama-nama baru yang karyanya memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan sastra Indonesia di mata dunia. Salah satunya adalah Eka Kurniawan. Berbagai novelnya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa: Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014) telah diterjemahkan ke dalam 3 bahasa (English, French, German), Lelaki Harimau (2004) diterjemahkan ke dalam 9 bahasa (Chinese, English, French, German, Italian, Korean, Norwegian, Polish, Thai), dan Cantik Itu Luka (2002) telah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa (Arabic, Bugarian, Catalan, Chinese, Taiwan, Croatian, Czech, Danish, Dutch, English, Finnish, French, German, Greek, Hebrew, Icelandic, Italian, Japanese, Korean, Lithuanian, Malay, Malayalam, Norwegian, Polish, Portuguese, Romanian, Serbian, Slovak, Slovenian, Spanish, Swedish, Turkish, Viatnamese).

Selepas meraih sukses dengan novel Cantik itu Luka pada tahun 2002, Eka Kurniawan kembali menyajikan sebuah karya novel yang lebih dari sekadar bacaan hiburan semata. Lelaki Harimau hadir sebagai novel yang menyuguhkan kesegaran dalam dunia sastra melalui cerita surealis dengan gaya penuturan yang minim dialog. Pada bagian belakang sampul novel Lelaki Harimau, Nirwan Ahmad Arsuka –seorang budayawan– pun mengatakan bahwa novel ini lebih licin dari novel Cantik Itu Luka. Lebih dari itu, novel ini pula yang telah mengantarkan pengagum karya Milan Kundera ini masuk ke dalam daftar nominasi penerima Man Booker International Prize.

Secara keseluruhan, Lelaki Harimau berkisah tentang seorang pemuda penggiring babi bernama Margio yang sejak lampau telah menimbun dendam kepada sang ayah, Komar Bin Syueb. Di dalam dirinya, tanpa sadar Margio mendapati sosok Harimau yang telah diwarisi secara turun-temurun dari kakek dan leluhur sebelumnya. Tragisnya adalah: Harimau tersebut selalu berontak untuk membunuh Komar Bin Sueb begitu mengetahui si empunya tubuh memiliki dendam yang teramat besar pada ayah kandungnya sendiri. Namun korban tewas akibat Harimau dalam kasus ini ialah seorang pelukis bernama Anwar Sadat.

Saat membaca novel ini, pembaca akan dibuat larut dalam gaya penceritaan yang sangat minim dialog. Penuturan narasi yang panjang dan mendetail –namun dengan kata-kata yang renyah, akan mengantarkan pembaca ke dimensi lain laiknya tengah menonton adegan di mana cerita itu terjadi. Hal yang mengagumkan dalam novel ini adalah sisi penceritaan dengan alur campuran yang digunakan oleh Eka Kurniawan, pembaca akan dibuat menjelajahi seluruh rangkaian cerita dengan alur mundur dan maju yang berselang-seling namun tidak kentara  karena perpindahan bagian cerita yang dibuat sehalus mungkin. Paragraf demi paragraf selalu menghadirkan fakta-fakta yang menyambungkan kepada runut permasalahan yang menjadi pokok cerita tersebut, sampai pada akhirnya di halaman terakhir pembaca dapat mengetahui bahwa kisah kematian Anwar Sadat berakhir saat di mana kisah itu berawal.

Sebuah cerita pada dasarnya sarat akan makna: begitu pula dengan novel Lelaki Harimau. Kisah pelik antara keluarga Komar Bin Sueb dan Anwar Sadat secara tersirat menyajikan refleksi dari budaya patriarki yang sejak lampau hingga kini masih sering kita jumpai. Patriarki sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu.

Pada mulanya kata patriarki memiliki pengertian yang sempit, menunjuk kepada sistem yang secara historis berasal dari hukum Yunani dan Romawi, di mana kepala rumah tangga laki-laki memiliki kekuasaan hukum dan ekonomi yang mutlak atas anggota keluaraga laki-laki dan perempuan yang menjadi tanggungannya berikut budak laki-laki maupun perempuannya. Kemudian istilah patriarki mulai digunakan di seluruh dunia untuk menggambarkan dominasi laki-laki atas perempuan dan anak-anak di dalam keluarga dan ini berlanjut kepada dominasi laki-laki dalam semua lingkup kemasyarakatan lainnya. Patriarki adalah konsep bahwa laki-laki memegang kekuasaan atas semua peran penting dalam masyarakat, pemerintahan, militer, pendidikan, industri, bisnis, perawatan kesehatan, iklan, agama dan bahwa pada dasarnya perempuan tercerabut dari akses terhadap kekuasaan itu (Mosse, 2007:65).

Millett (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2015:64-65) menggunakan istilah patriarki (pemerintahan ayah) yang berarti tata kekeluargaan yang sangat mementingkan garis turunan bapak, untuk menguraikan sebab penindasan terhadap perempuan. Patriarki meletakkan perempuan di bawah laki-laki atau memperlakukannya sebagai laki-laki yang inferior. Kekuatan digunakan secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan sipil dan rumah tangga untuk membatasi perempuan. Meskipun ada demokrasi, kenyataannya perempuan masih terus dikuasai oleh suatu sistem patriarki tersebut.

Bila ditilik lebih jauh, di dalam novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan terkandung unsur-unsur patriarki. Dilihat dari tahun pembuatannya, sebelum lahirnya karya Lelaki Harimau pada tahun 2004, Eka Kurniawan sempat menerbitkan novel berjudul Cantik Itu Luka pada tahun 2002 yang nampaknya secara garis besar juga merupakan refleksi dari budaya patriarki. Di dalamnya terdapat berbagai penindasan dan diskriminasi terhadap tokoh perempuan bernama ‘Cantik’ berupa pelecehan seksual, penyiksaan, perampasan, penghianatan, diskriminasi status sosial, serta diskriminasi terhadap penyandang cacat.

Hal ini sekilas nampak tidak jauh berbeda dengan novel Lelaki Harimau. Dalam novel yang dikemas menjadi 190 halaman ini setidaknya terdapat 7 tokoh perempuan yakni Nuraeni, Mameh, Marian, Kasia, Laila, Maesa Dewi, serta Maharani. Dari 7 tokoh tersebut, sosok Nuraenilah yang rasanya menjadi wujud paling nyata dalam mewakili budaya patriarki yang terjadi. Nuraeni seorang gadis desa yang hidupnya dipenuhi dengan bermacam penindasan berupa penindasan perkawinan, penindasan seksual, dan penindasan laki-laki. Hal ini terlukis pada kutipan berikut ini:

 

Sebagaimana banyak gadis di kampung mereka, nasib perkawinan Nuraeni telah ditentukan sejak empat tahun sebelumnya, saat dadanya sendiri belum tumbuh dan belukar kemaluannya belum menyemak, kala Syueb datang dengan sebaskom beras dan mie dan selendang biru tua melamarnya untuk Komar. –hlm.96

 

Si gadis tak diberi tahu sampai sore tiba ketika ayahnya berkata, “Nyai, kelak kau kawin dengan Komar bi Syueb.” –hlm. 96

 

Pada umur enam belas tahun, kenyataannya ia membiarkan dirinya diseret ke penghulu dan kawin dengan lelaki itu. –hlm. 110

 

Sejak awal, tokoh Nuraeni telah mengalami penindasan dalam hal perkawinan. Sebelum dirinya beranjak remaja, ia telah dijodohkan oleh orang yang umurnya tak ayal terpaut 14 tahun darinya. Perjodohan ini terjadi hanya antara kedua belah pihak orang tua laki-laki dan tanpa melakukan persetujuan apapun dengan yang bersangkutan yakni Nuraeni. Tokoh Nuraeni sendiri di sini digambarkan tak dapat berkutik sebab kegiatan perjodohan di lingkungan sosialnya memang telah membudaya.

Lebih lanjut, penindasan yang terjadi pada Nuraeni tidak berhenti sampai di situ saja. Penindasan perkawinan yang ia lalui justru mengantarkannya kepada penindasan baru lainnya, yakni penindasan seksual.

 

Masa-masa bercinta selalu merupakan saat yang sulit bagi mereka, sebab Nuraeni selalu menampilkan keengganan tertentu, dan Komar hampir selalu memaksanya jika nafsu telah naik ke tenggorokan, dan kerap kali itu hampir serupa pemerkosaan bengis di mana Nuraeni akan ditarik dan dilemparkan ke atas kasur, dan disetubuhi bahkan tanpa ditanggalkan pakaiannya, lain waktu disuruhnya mengangkang di atas meja, kali lain disuruhnya nungging di kamar mandi. –hlm.111

 

Selepas mengalami penindasan perkawinan, Nuraeni kembali menjalani penindasan seksual. Meski ia dan Komar bin Syueb merupakan pasangan suami istri yang sah namun perlakuan Komar terhadap Nuraeni merupakan tindakan yang tidak pantas. Sejak menjalin kasih sebelum menikah, Komar telah mengabaikan Nuraeni selama setahun penuh. Ia merantau namun tak pernah mengiriminya surat. Setelah menikah pun, Nuraeni hanya dijadikan sebagai objek pemuas berahi Komar bin Syueb. Ia bahkan tak segan melayangkan tangannya jika Nuraeni berusaha untuk menolak. Tak ada yang dapat dilakukan Nuraeni sebab budaya di lingkungannya memang menganut dalih bahwa istri mesti menuruti segala permintaan suami.

Dan untuk kesekian kalinya, sosok Nuraeni kembali mengalami perlakuan tak senonoh dan penindasan dari kaum laki-laki. Hal ini nampak pada kutipan dibawah ini:

 

“Ayahmu Anwar Sadat meniduri ibuku Nuraeni, dan lahirlah si gadis kecil yang mati di hari ke tujuh bernama Marian, sebab ayahku mengetahuinya dan memukuli ibuku hingga Marian lahir bahkan telah sekarat.” –hlm. 186

 

Akibat tindakan tak menyenangkan yang diterimanya dari Komar bin Syueb, Nuraeni berusaha mengalihkan kesedihannya melalui Anwar Sadat. Nahasnya meski ia merasa bergembira saat bergumul dengan Anwar Sadat, ia justru di abaikan kembali sebab kegiatan seks mereka pada akhirnya membuahkan seorang bayi. Lagi-lagi para lelaki hanya membutuhkan tubuh Nuraeni untuk dijadikan sebagai pemuas nafsu berahi. Tindakan Nuraeni pun kerap dinilai Komar bin Syueb sebagai aktivitas perselingkuhan. Hal ini menyebabkan Nuraeni kembali menerima kekerasan dari suaminya tanpa berusaha melakukan perlawanan.

Melekatnya budaya patriarki di masyarakat dapat digunakan sebagai alat untuk menelaah ideologi kekuasaan laki-laki yang patriarkat, yang hingga kini mendominasi sistem penulisan dan pembacaan sastra. Hal ini selaras dengan penyataan bahwasanya banyak karya sastra yang mengandung budaya patriarki sebab budaya tersebut sejak lampau telah mendarah daging dan tengah berkembang di masyarakat. Maka dari itu banyak penulis Indonesia maupun luar yang tergiur untuk mengangkat isu tersebut dalam karya-karya sastranya.

Dilansir dari jejaringnya di www.ekakurniawan.com, penulis sekaligus pembuat skenario sinetron ini mengaku bahwa proses penciptaan berbagai novelnya secara tidak langsung tentunya dipengaruhi oleh daftar referensi bacaannya. Perbandingan antara penulis perempuan dan laki-laki yang ia baca dapat dikatakan sangat signifikan. Keterkaitan antara pengarang dengan dunia keterbacaannya tak ubahnya sebuah arah dalam produk karya sastra yang ia hasilkan.

 

“Pernah juga ada orang yang bertanya tentang penulis perempuan. Aku rasa, secara tidak sadar, kita masuk ke konstalasi sastra dunia di mana penulis perempuan memang representasinya tidak terakomodir. Sedikit. Apalagi dalam dunia sastra mainstream, misalnya, kita bisa melihat statistik jumlah perempuan yang meraih penghargaan Hadiah Nobel Sastra juga sangat sedikit. Meskipun ini bisa diperdebatkan, juga aku rasa ketika menemukan penulis perempuan, cara mereka menulis tetap agak maskulin. Beberapa yang aku suka, aku rasa menulis dengan sangat maskulin. Misalnya, Toni Morrison yang banyak sekali mempengaruhi tulisanku. Atau, sebutlah, Virginia Woolf. Tapi, kurasa sastra dunia memang sangat maskulin. Meskipun, apa dan yang mana itu maskulin juga bisa diperdebatkan.” (Hasil wawancara dengan M.Aan Mansyur).

Daftar Rujukan

Kurniawan, Eka. 2014.  Lelaki Harimau, http://ekakurniawan.com/books/lelaki

harimau, (diakses pada 29 Juni 2017)

Mansyur, M.A. 2015. Eka Kurniawan: Aku Lebih Ingin Membesarkan Diriku

Sebagai Pembaca Daripada Penulis, https://medium.com/@hurufkecil/eka-kurniawan-aku-lebih-ingin-membesarkan-diriku-sebagai-pembaca-daripada-penulis-94904e2b7213, (diakses pada 29 Juni 2017)

Mosse, Julia Cleves. 2007. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar Offset.

Sugihastuti dan Suharto. 2015. Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Utama, A.I.J. 2016. “Ideologi Patriarki dalam Novel New Catatan Hati Seorang

Istri Karya Asma Nadia dan Implikasinya sebagai Bahan Ajar Sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA)”. Skripsi.  Bandar Lampung: FKIP, Universitas Lampung.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s