Mia Karnia Sari

Kau sempat ucapkan pisah

Saat kuberanjak pergi

Tapi perasaanku

Tak berpaling darimu

Bait lagu yang sempat dipopulerkan oleh penyanyi Audy di atas barangkali bisa mewakili isi novel “Cinta Tak Pernah Tepat Waktu” yang ditulis oleh Puthut EA. Novel yang sudah dicetak sebanyak lima kali ini berkisah tentang kehidupan asmara seorang “Aku” yang belum bisa berpaling dari ex kekasihnya. Kenangan yang terlampau lekat pada ingatan telah menjadi kendala tersulit bagi tokoh “Aku” untuk berpaling dari ex kekasihnya.. Di sisi yang lain, tokoh yang sempat menjadi kekasih si “Aku” telah menjalani kehidupan yang wajar dengan suaminya. Bab demi bab yang ditawarkan dalam novel ini selalu setia mewakili judul yang terdapat pada halaman cover novel. Benar-benar “Cinta Tak Pernah Tepat Waktu”.

Nurgiantoro (2000:3) mengemukakan bahwa fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Walau berupa khayalan, tidak benar jika fiksi dianggap sebagai hasil kerja lamunan belaka, melainkan penghayatan dan perenungan secara intens, perenungan terhadap hakikat hidup dan kehidupan, perenungan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Dunia susastra rupanya memiliki bentuk karya sastra yang mendasarkan diri pada fakta. Menurut Abrams (dalam Nurgiantoro, 2000:5) karya tersebut bisa dikategorikan sebagai fiksi historis (historical fiction), jika yang menjadi dasar penulisan fakta sejarah, fiksi biografi (biographical fiction), jika yang menjadi dasar penulisan fakta biografis, fiksi sains (science fiction), jika yang menjadi dasar penulisan fakta ilmu pengetahuan. Ketiga jenis karya fiksi tersebut dikenal dengan sebutan fiksi nonfiksi (nonfiction fiction).

Walaupun begitu, kebenaran yang terjadi dalam dunia fiksi berbeda dengan kebenaran di dunia nyata. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan pengarang, kebenaran yang telah diyakini “keabsahannya” sesuai dengan pandangannya terhadap masalah hidup dan kehidupan.

Sejurus dengan hakikat fiksi yang telah dikemukakan, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu merupakan salah satu perwujudan karya sastra fiksi yang mengangkat kisah seperti yang dialami masyarakat di bumi. Dari novel yang bernafaskan asmara hingga kisah yang merujuk pada nilai-nilai kemanusiaan, seluruhnya dapat ditulis dengan genre fiksi maupun berdasarkan kisah nyata. Yang paling banyak menggaet atensi para pembaca karya sastra berupa novel, fiksi khususnya yaitu karya-karya yang di dalamnya dibubuhi dengan kisah-kisah romansa. Tentu sudah banyak sekali novel-novel yang membubuhkan kisah asmara sebagai initisari yang ditawarkan pada pembaca. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu hadir dengan membawa aroma lain dalam membawakan kisah asmaranya. Novel yang menjadi rujukan jomblo-jomblo sentosa ini tidak hanya mengeja kisah-kisah klasik berkenaan dengan asmara seseorang. Hadirnya sudah membawa kesedihan sejak dari judul yang dituliskan oleh sang penulis novel. Meski atmosfer sendu begitu melekat pada novel ini, Puthut EA menuliskannya dengan Bahasa yang cukup ramah lingkungan. Sehingga menjadi kenikmatan tersendiri bagi para pembaca dalam menuntaskan novel ini.

 Bila disandingkan dengan novel-novel romansa yang sejalur, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu merupakan novel yang terbilang berani mengisahkan perih yang belum bisa terobati. Kisah asmara yang diunggulkan bukanlah tentang kasih yang manis dan manja, namun lebih mendeskripsikan lara sebab lupa yang tak jua ada. Karna persoalan yang muncul dalam tiap-tiap bab novel ini selalu berujung pada ketidaktepatan dalam mencintai. Alih-alih membicarakan upaya menutupi kepedihan, novel ini justru menggiring pembaca untuk merasakan kalut yang kian mendalam. Terlepas dari itu, pergolakan pemikiran, goncangan batin, pencarian cinta hingga upaya untuk menyembuhkan diri sendiri dari penyakit yang diderita sang tokoh utama dituliskan dengan gaya berulang-ulang melalui dialog-dialog yang terjadi antar tokoh lainnya. Dari sanalah pemahaman pembaca diarahkan agar sampai pada maksud si penulis novel.

Kesialan hidup yang dialami tokoh “aku” menjadi sebuah pengantar dalam novel ini, terutama soal cinta. Salah satunya seperti yang nampak dalam dialog ini “Aku telah mencintai seorang perempuan, dan dia meninggalkanku. Satu-satunya kesalahanku adalah karena aku terlalu mencintai perempuan itu, dan sialnya aku tidak bisa mencintai yang lain lagi.” (Hal. 15). Selanjutnya pembaca akan dikenalkan dengan beberapa wanita yang sempat menjalin hubungan dengan tokoh “Aku” dalam upaya menyembuhkan luka hatinya. Wanita-wanita yang dihadirkan oleh penulis tidak serta merta memudahkan tokoh “aku” dalam upayanya berpaling dari ex kekasihnya. Kegagalan demi kegagalan silih berganti mengisi pertemuan tokoh aku dengan wanita-wanita setelah ex kekasihnya. Tak ada yang tepat waktu.

Tolong jangan pernah bilang lagi padaku bahwa kalau aku mencintaimu mengapa aku meninggalkanmu? Please.. Jangan bebani aku dengan pertanyaan seperti itu. Itu pedih sekali. Aku sudah melangkah. Dan ini semua sudah terlalu jauh. Di sini, di sekelilingku, ada kehidupan yang begitu nyata. Ada anak yang membutuhkanku, ada suami yang sangat baik padaku….

Aku memang pernah melakukan perbuatan bodoh itu. Aku meninggalkanmu. Karena saat itu aku begitu lelah. Karena saat itu aku merasa bahwa banyak hal yang berlangsung dan tidak membawa harapan-harapan baik. Aku memang pernah salah. Aku berharap bisa menemukan yang lebih baik lagi…

Dan aku tahu kelak kemudian bahwa semua itu tidak lebih baik…. dan ini semua seperti mimpi. Aku ingin itu hanya dalam mimpi, dan aku ingin bangun dengan tetap ada kamu. (hlm. 142-150)

Alur yang dikembangkan dalam novel ini terbilang maju mundur secara teratur. Bab demi bab yang tertuang dalam novel seperti memiliki jembatan penyambung dalam proses pengisahannya. Sehingga antara bab satu dengan lainnya mampu membimbing pembaca pada pemahaman jalan kisah dari awal hingga pada akhirnya. Meski kaitan masing-masing bab tidak mudah diterima begitu saja, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu nampak bersungguh-sungguh menghubungkan alur pengisahannya.

Dalam perjalanannya untuk menyembuhkan luka, Si Aku mengalami banyak kejadian yang kelak membuatnya merenung dan mengerti bahwa dalam hidup apa yang kita inginkan kadang-kadang tidak sepenting apa yang kita miliki. Bahwa luka, kadang-kadang tidak hanya memberikan rasa sakit atau perih, tapi juga pelajaran berharga dalam proses penyembuhannya. Novel ini merupakan sebuah kisah yang mengajak kita membumi, bahwa hidup seringkali bukan perihal yang kita inginkan, melainkan apa yang sudah kita milliki saat ini. Sebuah novel yang mengeja betapa hidup ini amatlah berharga dan layak dijalani dengan kelapangan dada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s