Ulya Yurifta

Kisah ini terinspirasi pengalaman pribadi para lelaki yang terlahir sungsang di sulawesi

Pada bulan maret 1998 ketika indonesia dilanda krisis ekonomi, kekacauan terjadi di Sulawesi. Seorang putri bangsawan Makassar bernama Natisha, kabur bersama Rangka. Sehari menjelang pernikahannya dengan Tutu, calon suaminya. Rangka adalah seorang penganut parakang; sebuah ilmu kuno yang mampu membuat penganutnya kaya raya, awet muda, berkharisma, serta kebal segala jenis senjata.

Syarat utamanya ia harus memangsa jeroan balita dan orang-orang yang sekarat. Ia membunuh mangsanya dengan melahap dari jarak jauh isi perut sang korban. Parakangpun bisa mengubah dirinya menjadi berbagai wujud. Seperti kucing, serigala, kuda, bahkan pohon pisang.

Demi menyempurnakan ilmunya, Rangka harus menumbalkan empat perempuan; dua perempuan yang sudah melahirkan, dan dua perempuan yang masih perawan. Tabiat masing-masing tumbal harus selaras dengan empat sifat unsur alam sesuai dengan upacara yang dialami oleh Rangka yaitu air, tanah, api, angin.

Dan natisha yang selincah angin ini akan dijadikan tumbal terakhirnya. Manusia yang beralih rupa menjadi serigala serta menyanyikan kidung-kidung rupa telah bersiap menyambut tetes darah perawan Natisha.

Akan tetapi, sebelum Natisha ditumbalkan, melalui secarik pesan rahasia di loteng rumah Rangka, Tutu lalu berusaha memecahkan kode-kode rahasia dalam kitab-kitab kuno tentang ilmu parakang. Saat itu juga, Tutu baru menyadari kemampuannya saat-saat ini juga yang terlahir sungsang. Ia memiliki kesaktian bawaan untuk melihat makluk-makhluk gaib termasuk siluman parakang. Atas nama cinta dan rindu, Tutu berusaha mengejar rangka dan meraih kembali Natisha.

Apa yang lebih kuat dari kekuatan cinta? Sebuah kaum bisa terbebas karena cinta yang besar dari seorang pemimpinnya, seseorang bisa menjalani masa penantian yang nampak mustahil hanya karena dia punya cinta. Seorang ibu bisa melewati beragam rintangan yang tak terperi beratnya, karena dia punya cinta.

Cinta juga yang membuat Tutu berkeras mengukuhkan niat dan meneguhkan hati meski perihnya kadang tak tertahankan. Di malam menjelang pernikahannya, Natisha sang calon mempelai pujaan hati menghilang, meninggalkan sepucuk surat agar Tutu merelakannya. Hati mana yang tak hancur ketika hari yang seharusnya jadi hari paling membahagiakan malah menjadi hari yang paling menyedihkan?

Kamar pengantin kosong, tak ada mempelai wanita yang tersenyum malu-malu menyambut prianya. Tak ada imam dan penghulu yang siap menyatukan dua insan, tak ada kemeriahan pesta pernikahan. Tidak ada.

Hanya tersisa kemuraman yang menjalari seluruh hari Tutu setelahnya.

Saat kita membaca novel ini, seperti membaca sebuah curhatan seorang laki-laki perkasa dari daerah Makassar. Orang yang terlahir berbeda dan memiliki kemampuan untuk menyentuh ranah gaib. orang yang menceritakan hampir semua isi novel sendirian dengan perasaan dan pengalamannnya.

 

Novel ini memiliki aspek budaya yang agak kental dan terbilang jarang diangkat. parakang, makhluk mistis dari bumi Sulawesi selatan. mungkin tidak seterkenal pocong ataupun kuntilanak dari jawa tapi tetap membawa rasa yang berbeda dari makhluk tersebut.

 

Walaupun novel terbilang penuh curhatan. Saya sendiri seperti geram pada tokoh utama yang kebanyakan menceritakan hatinya hampir pada seluruh isi buku. Dari judul yang digunakan bahkan mungkin akan lebih baik jika diganti dengan Tutu saja. Natisha yang akan diceritakan terasa mendapatkan porsi yang kurang dalam cerita padahal harusnya dialah yang harus menjadi tokoh fokus para pembaca.

 

Ada beberapa cerita yang rampung disuguhkan,  seperti ayah natisha, bapak polisi, kakek tutu yang seperti menghilang saja seiring dengan jalannya cerita. kemana mereka tak ada yang tahu cerita terlalu dipaksakan. Separuh novel bagian awal terasa cukup hambar untuk masa perkenalan dan masa iba untuk para pembaca. Karena awalan novel sudah membuat kita bertanya-tanya akan bagaimana tulisan selanjutnya dihalaman berikutnya.

 

Meskipun begitu, ada beberapa bagian yang baik. Seperti unsur budaya dan suspensi cerita pada separuh akhir terasa meningkat. dan itu cukup menyenangkan. meskipun dengan akhir yang cukup menyengkan, namun tidak disangka-sangka kalau akhirnya seperti itu.

 

Tapi Tutu bukan pria biasa. Dia punya cinta yang sedemikian kuat yang membuatnya bertahan mencari musabab perginya sang pujaan hati. Satu per satu petunjuk membawa Tutu pada kenyataan yang sebenarnya, tentang penghianatan, dendam dan tusukan dari belakang.

Adalah Rangka, sahabat Tutu, saudara sepersusuan Tutu yang menjadi hulu semua keriuhan penuh derita itu. Tanpa disangka Tutu, Rangka menyimpan sembilu di setiap ulas senyumnya, menyimpan bara dendam di setiap sapanya. Hal-hal yang hanya menunggu waktu hingga siap membuncah di saat yang tepat.

Tidak mudah mencari Rangka. Pria itu lihai, licin dan licik. Aroma mistis menyusupi pencarian Tutu, apalagi Rangka ternyata sedang berusaha membangkitkan ilmu hitam yang sudah lama mati, ilmu parakang.

Tutu beruntung punya cinta yang sedemikian besar, cinta yang membuatnya tetap waras dalam tekanan batin dan keletihan yang tak terkira. Cinta itu pula yang mengantarnya membuka bilah demi bilah yang menutupi kelam kisah Rangka dan Natisha pujaan hatinya.

*****

Natisha, sebuah novel setebal 421 halaman karya Khrisna Pabichara Daeng Marewa, seorang penulis kelahiran Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kisah dalam Natisha berputar pada cinta segitiga antara Tutu, seorang pria tumajai (orang kebanyakan) yang punya mata bathin, Natisha, wanita karaeng (bangsawan) yang menjadi tambatan hati Tutu dan Rangka, pria sahabat Tutu yang ternyata menyimpan dendam dan keculasan.

Kisah diawali dengan adegan pertarungan satu lawan satu antara Tutu dan Rangka dengan Natisha di antara mereka berdua. Lalu cerita terus bergulir, tentang kepergian Natisha di malam sebelum pernikahannya dengan Tutu hingga terungkapnya satu demi satu rahasia Rangka dan niat jahatnya.

Rangka ternyata menyimpan sifat setan dalam raga manusianya, dia punya alasan untuk merusak mimpi indah Tutu, termasuk menyempurnakan ilmu parakangnya, menjadi parakang sukku (parakang yang sempurna).

Ilmu parakang adalah ilmu hitam kuno yang sudah hilang nyaris tak berbekas. Pelakunya mempersembahkan diri mereka pada kegelapan demi kemampuan menghilang, mengubah wujud, awet muda dan tentu saja kaya raya. Ilmu ini seperti umumnya ilmu hitam lainnya butuh tumbal, nyawa manusia sebagai pengganti segala kemampuan yang diidamkan.

Semasa kecil saya sering mendengar cerita tentang parakang ini di kampung halaman. Tapi hanya sepintas. Dulu saya kira parakang dan poppo sama, sama-sama ilmu hitam yang pemiliknya punya kemampuan menghisap jeroan manusia dari pantatnya. Di buku ini saya baru tahu parakang dan poppo beda, parakang punya tingkatan yang lebih tinggi. Pemilik ilmu parakang bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh pemilik ilmu poppo.

Inilah yang saya suka dari buku Natisha, banyak pengetahuan baru terkait adat istiadat dan budaya suku Makassar. Buku ini memang mengambil latar daerah Jeneponto, salah satu kabupaten di selatan kota Makassar yang sebagian besar warganya merupakan sub suku Makassar. Di daerah ini dulu berdiri kerajaan Binamu, salah satu sekutu kerajaan Goa-Tallo.

Di tanah ini juga dulunya subur praktik pesugihan dengan menggunakan ilmu parakang. Hingga Raja Binamu II di abad ke-18 memberangus semua praktik yang lebih banyak membawa kemudharatan itu. Ilmu parakang lalu menghilang nyaris tak bersisa. Tinggal menjadi cerita legenda yang kadang diumbar untuk mengenyahkan seseorang yang tak disukai.

Di buku ini juga beragam sejarah dan adat suku Makassar dihadirkan, termasuk puisi dan kata-kata petuah dalam bahasa Makassar halus. Sudah lama betul saya tidak menemukan hal-hal seperti itu, sesuatu yang sama seperti parakang, mulai kabur dan mungkin sebentar lagi akan hilang ditelan jaman.

Khrisna Pabichara sang penulis memang tidak main-main dalam menyiapkan Natisha. Konon dia sampai merelakan waktunya membaca tidak kurang dari 60 judul buku sebagai referensi, itu belum termasuk beragam catatan tua dalam teks lontara, ada yang tersimpan di Leiden, Belanda, ada juga yang harus ditebusnya dengan harga seekor sapi.

Natisha tidak melulu bertutur tentang sejarah dan ilmu parakang, tapi juga bercerita tentang kekuatan cinta dan romantika yang mampu meruntuhkan tembok kokoh perbedaan kasta dan pandangan politik. Tutu dan keluarganya yang berasal dari kasta tumajai (orang kebanyakan) harus menghadapi cemooh dari orang tua Nathisa Karaeng Lebang yang berasal dari kasta karaeng, apalagi pilihan politik kedua keluarga itu punya pilihan politik yang berbeda. Oh ya, latar waktu cerita Natisha adalah dalam kurun 1980an hingga akhir 1990an, masa ketika orde baru dengan partai Golkar-nya masih begitu kuat.

Membaca Natisha seperti membaca cerita sejarah yang di dalamnya berkelindan kisah romansa, cinta, dendam, persahabatan dan ketabahan. Sebuah novel yang menarik. Bacalah, utamanya bagi Anda yang menyukai cerita sejarah, budaya dan cinta di saat yang bersamaan.

Khrisna mengatakan sudah mulai melakukan riset terhadap tema yang dia angkat tersebut sejak SMP, dan mulai menuliskannya pada 2005.

Proses penulisannya pun tidak berlangsung dengan mudah, berbagai halangan dia terima bertubi-tubi mulai dari hilangnya semua tulisan yang disimpan di disketnya pada 2005, hingga tragedi hilangnya laptop yang menyimpan data tulisannya pada 2011.

Natisha membutuhkan waktu hingga 11 tahun, setelah mengalami keguguran hingga tiga kali sejak 2005 sebelum lahir dan bisa ditimang-timang oleh pembaca. Pria asli Jeneponto tersebut mengakui sempat menyerah untuk melanjutkan proyek yang disebutnya sebagai saripati jiwanya tersebut.Namun, pada akhir 2015 dia bertekad menyelesaikan Natisha, dan kemudian selesai pada awal tahun ini.Komposisi novel ini sebanyak 70% merupakan kisah cinta, 20% tentang parakang, dan 10% tentang politik.

Menurut Shinta Febriany, seorang penulis dan pembahas buku Natisha menilai novel yang dibungkus dengan sejarah serta tradisi suku Makassar dan Bugis yang sangat kental tersebutakan membawa para pembaca dari satu kisah di masa lalu, kemudian ke masa depan.

Tema mayor dari novel ini merupakan kisah cinta yang pahit dan menyedihkan, dengan latar wilayah yang sangat spesifik. Para pembaca bisa membacanya dengan pendekatan antropologis dan sosiologis. Namun, Shinta mengatakan, pembaca di luar Sulawesi Selatan kemungkinan akan sedikit terganjal dengan banyaknya istilah-istilah Bugis-Makassar yang digunakan penulis. Sehingga kegiatan membaca tidak akan mengalir lancar karena harus terganggu membaca catatan kaki terlebih dulu.

Sementara itu, perwakilan dari penerbit, Pringadi mengatakan kekuatan dari buku ini ada pada penokohan karakter, latar cerita, kisah cinta dan kuat, hingga adanya sentuhan politik.

“Khrisna membuka tulisannya dengan luar biasa, serta memiliki nilai lokalitas yang kuat. Hal ini bisa menyuarakan suara dari timur yang belum banyak diketahui orang,” katanya.

Khrisna mengawali karir kepengarangannya dengan menerbitkan buku nonfiksi sebelum meluncurkan debut buku kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Mengawini Ibu pada 2010, sedangkan debut novelnya terbit pada 2012 dengan judul Sepatu Dahlan.Setelah itu, pria kelahiran ’75 ini menerbitkan novel lanjutan tentang biografi Dahlan Iskan dengan judul Surat Dahlan pada 2013.

itu, karya lainnya yang telah diterbitkan adalah Gadis Pakkarena (2012), kumpulan puisi Pohon Duka Tumbuh di Matamu(2014), dan karya-karya lainnya tersebar dalam buku-buku antologi puisi dan kumpulan cerita pendek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s