Ilham Fauzie

            Masyarakat pembaca cerita detektif pastilah akrab dengan buku-buku Sherlock Holmes, Hercule Poirot, bahkan Detective Conan. Masing-masing tokoh mempunyai kemampuan memecahkan misteri yang berbeda-beda, keahlian yang berbeda-beda, dan motif penjahat yang berbeda-beda. Semua perbedaan yang disebutkan di atas tetap mempunyai benang merah atau formula yang sama. Di awal tahun 2017, novel 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif ingin lepas dari benang merah itu. Cerita detektif menceritakan tentang penyelidikan suatu kejahatan yang melibatkan tokoh detektif, tokoh-tokoh saksi, dan diakhiri dengan terbongkarnya kejahatan (Boileau-Narcejac, 1964:7-8)

24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif adalah novel karangan Sabda Armandio yang diterbitkan pada April 2017 oleh penerbit Mojok. Novel ini mendapat perhatian masyarakat pembaca karena novel ini menjadi pemenang unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2016. Selain menjadi pemenang unggulan, novel ini ditunggu-tunggu masyarakat pembaca karena karangan Sabda Armandio sebelumnya, Kamu: Cerita Yang Tidak Perlu Dipercaya mendapat apresiasi yang baik dari pembaca-pembacanya. Bila dilihat cerita detektif dari kesejarahannya di Indonesia, 24 Jam Bersama Gaspar adalah sebuah angin segar mengingat belum ada lagi penulis Indonesia yang menulis cerita detektif setelah penulis besar pada era 70-80-an, sebut saja dua nama seperti S. Mara Gd dan Arswendo Atmowiloto yang sukses menulis cerita detektif.

Bila dibandingkan dengan novel-novel detektif pendahulu, 24 Jam Bersama Gaspar mengangkat kisah detektif pada tingkatan yang berbeda dengan konflik sangat sederhana. Seorang protagonis bernama Gaspar, dalam waktu 24 jam mengajak satu motor (iya, satu motor) dan lima orang yang ia tentukan sendiri untuk merampok sebuah kotak hitam yang tersimpan di toko emas. Belum ada pembaca yang menyangka bahwa sebuah motor bisa membantu sebuah perampokan, atau seorang nenek pikun yang tergabung dalam komplotan perampok. Sederhana tapi rumit. Sabda Armandio menabrak pakem cerita detektif pada umumnya dan berhasil.

Bila berpaku pada Tzvetan Todorov tentang tipologi cerita detektif pada buku Martin McQuillan yang berjudul The Narrative Reader (2000), novel 24 Jam Bersama Gaspar lepas dari poin-poin itu. Pembaca akan menyadari dengan sendirinya bahwa novel ini berada di luar jalur cerita detektif pada umumnya. Sebagai contoh, tokoh Gaspar diposisikan sebagai protagonis, sedangkan Gaspar adalah otak dari perampokan itu sendiri. Tokoh detektif hanya muncul di alur yang lain di sebuah ruangan interogasi. Mayat memang ada di dalam cerita, tapi tidak ada pembunuhan. Lari dari pengaruh kebarat-baratan, ada beberapa unsur dalam novel ini yang tidak bisa dijabarkan secara rasional seperti novel detektif barat yang teguh pada rasionalitas. Selain itu, tokoh Gaspar mempunyai kesadaran akan cerita detektif dan mengkritiknya. “Aku memang kejam, sulit untuk tidak mengakuinya; tetapi, ya, tetap saja aku tak bisa menolak pesona detektif culun seperti Holmes. Holmes itu lucu. Maksudku, yang lucu dari dirinya tentu saja penalaran deduktifnya: banyak hal yang ia simpulkan memiliki sekitar lima puluh penjelasan masuk akan lain dan kalau pembaca mau berpikir ekstra, tentu bualan Holmes bisa jadi komedi segar. Pada usia 24 tahun, saat masih suka menulis, aku pernah membuat cerita pendek mengenai seorang detektif terkenal yang deduksinya selalu salah karena ia seorang fanatik kebenaran sebagaimana orang-orang saleh di era Inkuisisi menerjemahkan Lukas 14:23 secara harfiah. Tetapi Holmes memiliki banyak penggemar, dan di mata penggemarnya ia tak pernah salah. Cerita itu kupersembahkan kepada Holmes, dan berlaku juga untuk Poirot, Nyonya Marple atau Bruce Wayne atau penggemar mereka.”

“Kalau kau menjadi temanku, aku tak segan-segan menghancurkan hidup musuh-musuhmu. Kau cuma perlu menaati satu peraturan; jangan pernah menyentuhku dari belakang. (hal.2)”. Gaspar adalah tokoh yang penuh dengan kemarahan, sarkasme, dan sinisme. Gambaran tokoh sangat terlihat pada monolog dan dialog. Pada awalnya pembaca akan sulit mengakrabkan diri dengan Gaspar. “Siapa bilang? Aku bisa menghajarmu dengan sol sepatu  kulitku sekarang. Lalu kubawa kau ke tepi sungai itu. Hm. Tidak, tidak. Kuikat tanganmu  dengan tali, lalu ujungnya kuikat di pegangan Cortazar, kuseret-seret kau di aspal, menuju tepi sungai, dan sepanjang perjalanan kau akan terantuk-antuk kerikil. Mungkin kau akan kehilangan sebelah kupingmu, atau lubang kiri hidungmu, atau minimal ya sebelah payudaramu. Kau akan menjerit-jerit minta tolong dan aku akan berbisik: Tidak ada yang bisa menolongmu. (hal. 39)”

Lain dengan Gaspar, tokoh-tokoh lain dihadirkan lebih dekat dengan keseharian kita. Walaupun latar tempat dan waktu dalam novel ini simpang siur kepastiannya, melihat tokoh dengan wataknya dalam cerita ini seperti membaca kehidupan sendiri, teman, atau orang yang hadir disekeliling kita sehingga membangun keseimbangan antara tokoh Gaspar dengan tokoh yang lain lewat dialog yang disampaikan. Sebagai contoh, dialog tokoh Pingi dan Pongo yang selalu menimbulkan keributan, atau Nurida dengan suaminya, Kik dan Njet, serta Gaspar dengan komplotan perampoknya yang disebutkan di atas. Yang paling menarik dari dialog di novel ini adalah dialog antara Detektif dan Tati S. Abdillah yang disisipkan pada setiap akhir bab. Dialog dituliskan seperti manuskrip sebuah rekaman. Pada dialog inilah humor dan kritik atas tokoh detektif terlihat. Tokoh detektif pada cerita ini bukanlah tokoh detektif paling realis dari tokoh-tokoh detektif yang lain. Tokoh dekektif tidak memperlihatkan kemampuan dan kecerdasannya, namun malah terbingung dan kewalahan mendengar cerita Tati. S Abdillah yang sudah pikun.

Pengaluran dalam cerita detektif ini maju mundur, tapi ada keunikan tersendiri. Membaca cerita seperti melihat dua garis yang semula berjauhan kemudian perlahan saling mendekat dan bersimpangan pada satu titik yang berupa logika cerita. Dua garis ini adalah alur cerita yang dinarasikan Gaspar dan alur cerita di ruang interogasi.

Walaupun di bagian akhir penceritaan seperti terburu-terburu, sejatinya novel ini tetap sebuah detektif yang asyik. Pembaca tetap menemukan ketegangan dan misteri, namun dalam balutan yang berbeda. Membaca novel ini seperti menonton film-film Quentin Tarantino dengan segala kemenarikannya. 24 Jam Bersama Gaspar ingin menyampaikan bahwa kebaikan dan kejahatan dibatasi dengan garis yang tipis. Orang akan melakukan kejahatan atas nama kebaikan, atau orang yang merasa baik adalah sebenarnya jahat. 24 Jam Bersama Gaspar adalah sebuah cerita detektif yang tidak membiarkan sebuah kebaikan atau kejahatan menang, namun melihat garis tipis itu.

“Ingat, sahabat. Tiada yang lebih berbahaya selain cerita yang memaksamu percaya bahwa kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, sebab ia akan membuatmu tumpul dan zalim.”

 

Rujukan

Boileau-Narcejac. 1964. Le Roman Policier. Paris: Payot

McQuillan, Martin. 2000. The Narrative Reader. London: Routledge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s