Yudha Prasetya

Hubungan karya sastra dengan kebudayaan di masyarakat memiliki keterkaitan yang sangat erat. Karya sastra bisa tercipta karena memandang kebudayaan yang ada atau sebaliknya, kebudayaan tercipta dari karya sastra. Meskipun terlihat dipaksakan tapi kenyataannya begitu adanya. Seperti karya sastra yang akan dibahas kali ini, yaitu Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini “merekam” kebudayaan masyarakat Indonesia pada zaman sebelum millenial. Pada saat itu kebudayaan masih kental dengan budaya feodal. Selain menggambarkan budaya feodal, Pram juga menyentil sikap para priyayi yang bertindak semena-mena terhadap kaum miskin.

Pram memang terkenal dengan tetralogi Buru miliknya. Tapi beberapa karyanya juga tak bisa dibiarkan begitu saja. Novel Gadis Pantai juga menjadi sorotan penting terutama bagi masyarakat pesisir. Dengan adanya novel ini masyarakat pesisir pantai bisa mengetahui sejarah kebudayaan yang pernah terjadi pada kaumnya di zaman dahulu. Novel ini juga tak lepas dari ideologi kiri yang dianut oleh Pram. Berikut ringkasan novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.

Ringkasan

Di sebuah kampung nelayan yang jauh dari keramaian, hiduplah sebuah keluarga miskin yang kehidupannya menggantungkan dari laut. Mereka memiliki seorang anak gadis yang usianya baru berusia empat belas tahun. Usia yang belum cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Pada usia yang sedini ini dia sudah dinikahkan dengan seorang Bendoro dari kota yang diwakili oleh sebilah keris. Perkawinan mereka hanya disaksikan oleh ketua kampung yang sekaligus sebagai perwakilan dari kota. Setelah pernikahan dilangsungkan, Gadis Pantai itulah nama anak nelayan miskin itu langsung diboyong ke kota, ke tempat keluarga Bendoro tinggal.

Kehidupan yang jauh berbeda dengan keadaan sewaktu di tempatnya sendiri membuat Gadis Pantai merasa dirinya dalam sebuah kerangkeng yang serba terbatas. Disekelilingnya tak ada yang pernah tersenyum dengannya, semuanya begitu kaku, hanya seorang pelayan tualah yang menjadi teman bicara dan teman bertanya dikala sedang merasa kesepian di kamarnya.

Tiga bulan telah berlalu Gadis Pantai kini telah menjadi istri seorang Bendoro. Nama sebutannya pun sudah bukan Gadis Pantai lagi, melainkan Mas Nganten. Dalam waktu yang tiga bulan, Mas Nganten semakin tidak mengenal dirinya sendiri. Dengan perubahan-perubahan yang ada pada dirinya. Ini semua berkat bantuan pelayan tua yang senantiasa membimbing dan mengarahkan Gadis Pantai.

Kehidupan yang serba terikat dalam gedung yang besar membuat Gadis Pantai merasa rindu akan kampung halamannya. Dia ingin pulang kembali ke kampungnya. Tapi apa mau dikata pelayan tualah yang selalu memuluhkan hatinya agar tidak kembali ke kampungnya sendiri. Setahun berlalu Gadis Pantai semakin dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang memaksanya harus begitu rupa. Tidak ada kejadian yang merasa dirinya atau keluarga Bendoro terganggu. Hal ini karena masing-masing memiliki tugas dan kewajiban berbeda, serta martabat yang berbeda.

Namun pada suatu ketika Gadis Pantai kehilangan dompet tempat uang belanjaan dapurnya. Uang itu untuk menghidupi seisi gedung. Gadis Pantai menjadi risih harus bagaimana dia mengadukan pada Bendoro. Sedangkan yang dicurigainya adalah masih kerabat Bendoro sendiri, setelah ditanyai dia tidak mengaku, malahan temannya yang lain ikut membelanya dan sebaliknya menghina pada Gadis Pantai. Namun pelayan tua yang menemani Gadis Pantai mengadukannya pada Bendoro.

Bendoro menjadi murka setelah tahu pencuri dompet istrinya adalah kerabatnya, dialangsung mengusirnya dari gedung itu bersama dengan pelayan tua yang mengadukannya. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa terpukul karena dia tidak memiliki lagi teman untuk mencurahkan perasaanya. Kepergian pelayan tua tidak membuat gusar Bendoro, karena pada waktu itu juga dia dapat menggantikan pelayan tua dengan seorang pelayan yang masih muda, Mardinah namanya pelayan itu. Dia masih kerabatnya Bendoro sewaktu ditanya oleh Gadis Pantai.

Kadatangan Mardinah ke rumah itu sepertinya memiliki niat lain. Dia datang tidak hanya sebagai pelayan, tetapi ingin menghancurkan rumah tangga Gadis Pantai. Hal ini membuat Gadis Pantai ingin pulang ke kampungnya, dan Bendoro pun tidak merasa keberatan. Kepulangannya ke kampungnya harus diantar oleh pelayan barunya itu, yakni Mardinah.

Gadis Pantai tidak pulang kembali bersama Mardinah ke kota, Gadis Pantai tinggal beberapa hari di kampungnya. Mardinah disuruhnya pulang terlebih dahulu bersama kusir yang mengantarnya sewaktu mereka datang. Selama di kampung Gadis Pantai tidak merasa seperti dulu. Semua orang memandangnya lain. Setiap orang yang dilihatnya langsung menundukkan wajahnya. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa seperti dirinya asing bagi kampungnya sendiri. Bapaknya pun berlaku seperti orang lain, mereka seakan-akan baru bertemu dengan seorang pembesar.

Setelah empat hari tinggal di kampung, datanglah rombongan Mardinah yang akan menjemput Gadis Pantai dengan disertai empat orang pengawal. Mereka memaksa Gadis Pantai untuk segera pulang ke kota ditunggu oleh Bendoro. Sedangkan surat yang diberikan oleh Bendoro tidak diberikannya pada Gadis Pantai ataupun bapaknya sendiri. Hal ini membuat Bapaknya Gadis Pantai merasa curiga. Dugaan ini ternyata benar, dan Bapak mencari akal untuk membuktikannya, serta menyelamatkan anaknya yang ada dalam bahaya.

Akhirnya rahasia Mardinah terbuka, setelah taktik dijalankan. Mardinah mengaku disuruh Bendoro dari Demak untuk membunuh Gadis Pantai di perjalanan dengan diberi upah yang cukup besar. Mardinah mendapat hukuman dari warga untuk kawin dengan lelaki yang paling malas di kampung itu, yang bernama si Dul Pendongeng. Mardinah dapat menerimanya dengan lapang dada.

Sepulang dari kampung Gadis Pantai merasa dirinya sedang mengandung. Hal ini langsung dibuktikan oleh paraji Bendoro sendiri. Bendoro pun tidak banyak omong tentang kepulangannya dari kampung. Tidak banyak ditanyakan oleh Bendoro. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa tenang untuk mnyelamatkan kampung orang tuanya, yang telah membuat hilangnya pengawal Mardinah. Kandungannya menginjak waktu ke sembilan, saat itu Gadis Pantai sudah tidak sabar lagi ingin segera memiliki seorang anak, hal inipun sangat ditunggu-tunggu oleh bapaknya sendiri di kampung.

Saat melahirkan pun kini telah tiba. Kelahiran Gadis Pantai dibantu oleh seorang dukun beranak kepercayaan Bendoro. Gadis Pantai melahirkan seorang anak perempuan yang mungil seperti ibunya sendiri. Namun bagi kalangan priyayi anak perempuan kurang diharapkan. Hal ini kelihatan setelah melahirkan Bendoro tidak mau melihat keadaannya sehabis melahirkan. Apakah dia sehat atau tidak. Tidak pedulinya Bendoro dikarenakan anak yang baru dilahirkannya seorang perempuan.

Tiga bulan setelah dilahirkan Bapak datang menjenguk Gadis Pantai secara tidak sengaja, Bapak dipanggil oleh Bendoro untuk menghadap. Namun setelah menghadap wajah Bapak tidak bahagia, Bapak murung tidak seperti biasanya. Kemudian Bapak menyuruh Gadis Pantai untuk segera membereskan pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam wadah.

Gadis Pantai merasa kebingungan Bapak mengajaknya pulang. Namun, Bapak menjelaskan pada Gadis Pantai bahwa Bendoro telah menceraikannya, dan Gadis Pantai harus segera pulang dengan bapaknya. Gadis Pantai merasa terkejut, tapi apalah daya seorang sahaya seperti dia hanya menurut kehendak Bendoro.

Walaupun dengan perasaan berat, Gadis Pantai meninggalkan semua yang dimilikinya pada waktu digedung bersama Bendoro, termasuk anak gadisnya yang baru tiga bulan dia lahirkan. Dalam perjalanan pulang Gadis Pantai yang sudah berubah menjadi Mas Nganten enggan untuk pulang ke kampung halamannya. Perasaan malu menghantui dirinya. Meskipun bapaknya tetap memaksanya untuk pulang ke rumahnya.

Permasalahan

Dalam novel Gadis Pantai, Pram ingin menunjukkan bahwa budaya feudal masih dianut oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Mungkin di beberapa daerah di Indonesia masa kini masih ada pula yang menganut sistem tersebut. Tapi dengan majunya teknologi dan ilmu pengetahuan kebanyakan masyarakat sudah meninggalkan budaya tersebut.

Gadis Pantai yang merupakan tokoh utama digambarkan sebagai orang miskin. Ia selalu ditindas oleh Bendoro yang merupakan priyayi di daerah tersebut. Memang novel ini lebih menggambarkan penindasan kaum miskin ketimbang budaya feudal yang masih dianut.

Perwatakan Tokoh

Tokoh yang digambarkan dalam novel Gadis Pantai memiliki karakteristik yang kuat. Terutama dua tokoh utamanya, yaitu Gadis Pantai dan Bendoro. Bila dianalisis maka akan ditemukan perbedaan. Analisis perwatakan tersebut akan dibedah dengan metode sudut pandang.

Sudut pandang adalah suatu metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang dari mana ceritera disampaikan (Minderop, 2005:87). Dalam novel Gadis Pantai ini menggunakan sudut pandang “DIAAN” mahatahu. Pencerita sangat mengetahui perasaan, pikiran, angan-angan, keinginan, niat dari si tokoh yang diceritakan dan berada di luar ceritera. Pencerita melaporkan peristiwa-peristiwa dari sudut pandang “ia” atau “dia”. (Minderop, 2005:99)

Watak Gadis Pantai

  1. Cengeng :

Gadis Pantai berhenti makan. Dia bangkit. Tanpa menengok masuk ke dalam kamar, langsung ke kasur kesayangan dan mengucurkan air matanya. (hal. 46)

  1. Polos :

Jiwanya yang muda itu menangkap dan menggenggam semua, tak peduli mengerti seluruhnya atau sebagian darinya. (hal. 105)

  1. Penakut :

Kembali Gadis Pantai menjadi bisu ketakutan. Ia rasai nafasnya tersumbat. Mengapa bicara saja tak berani, sedang ia suka memekik-menjerit panggil-panggil si Kuntring, ayamnya? (hal. 41)

Gadis Pantai menghembuskan nafas keluh. Ia tetap tak berani mencurahkan perasaannya. Bendoro meletakkan tangannya, diatas bahu Gadis Pantai, dan dengan tangan lain mengusap-usap rambut wanita muda itu. (hal 134)

  1. Berani :

Gadis Pantai memunngungi Bendoro, dan dengan bayi dalam gendongannya ia melangkah cepat menuju pintu. (hal. 263)

“Jangan mempergunakan sahaya itu mBok.”

Bujang itu tertegun. Ia heran. Baru kemarin Gadis Pantai dating kini telah berani melarang. (hal. 45)

  1. Sopan :

Gadis pantai menebarkan pandang sekilas pada Bendoro sama dengan mata itu ia bisa bicara, kemudian menunduk lagi. (hal. 42)

  1. Bodoh :

Gadis pantai mengigil. Ia tak tahu mana yang bernama coklat, gula-kembang, dan mana pula selai. (hal. 42)

 

Telaah watak Bendoro

  1. Sombong dan tidak sopan :

Ia berkopiah haji dan berbaju teluk belanga dari sutra putih dan bersarung bugis hitam dengan beberapa genggang putih tipis-tipis. Ia lihat orang itu membangunkan bujang dengan kakinya. (hal.31)

“Husy. Kau harus selalu ingat-ingat, tak boleh ada sesuatu terjadi yang menyebabkan penghormatan orang berkurang padaku. Bawalah juga beras sekarang.” (hal. 136)

  1. Rajin membaca :

            Betapa halus tangan itu: tangan seorang ahli-buku! Hanya buku yang dipegangnya, dan bilah bambu tipis panjang penunjuk baris. (hal. 33)

  1. Rajin beribadah :

            “Duduk sekarang diam-diam di sini. Jangan bergerak, Bendoro duduk di sana Mas Nganten harus bersembahyang dengan beliau.” (hal 35)

  1. Kasar :

            Ia tak tahu kepala tongkat Bendoro mengucurkan darah pada bibirnya. Bayi itu tahu-tahu lepas dari tubuhnya, dan selendang itu tergantung kosong di depan perutnya. (hal. 264)

  1. Semaunya :

“Kau milikku. Aku yang menentukkan apa yang kau boleh dan tidak boleh, harus dan mesti kerjakan. Diamlah kau sekarang. Malam semakin larut,“ lalu seperti ada yang terlupa, “tapi kau belum punya persiapan.” (hal. 136)

 

Sosiologi yang Digambarkan

Seperti yang sudah dijelaskan, novel Gadis Pantai lebih menggambarkan permasalahan sosialnya. Masalah dominannya ialah kesenjangan antar strata sosial sehingga terjadinya penindasan terhadap kaum miskin. Konsep yang bisa menggambarkan permasalahan sosial dalam novel Gadis Pantai adalah stratifikasi sosial.

Stratifikasi sosial ialah pembedaan atau pengelompokan penduduk atau masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial bertingkat. Stratifikasi sosial akan selalu ditemukan dalam masyarakat selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai. Adapun dasar yang dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan sosial ialah kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan ilmu pengetahuan. Proses terjadinya dari stratifikasi sosial di antaranya seperti di bawah ini:

  1. Terjadi secara otomatis/dengan sendirinya

Dapat terjadi karena faktor yang sudah ada sejak seseorang lahir, atau proses ini bisa terjadi karena pertumbuhan masyarakat. Sesorang yang menempati lapisan tertentu bukan atas kesengajaan yang dibuat oleh masyarakat atau dirinya sendiri akan tetapi terjadi secara otomatis, seperti misalnya keturunan.

  1. Terjadi secara sengaja

Dapat terjadi dengan sengaja dengan maksud untuk tujuan atau kepentingan bersama. Sistem ini ditentukan dengan adanya wewenang dan juga kekuasaan yang diberikan oleh seseorang atau organisasi. Misalnya seperti diberikan oleh partai politik, perusahaan tempat bekerja, pemerintahan dan lain-lain.

Beberapa faktor penyebabnya di antaranya seperti berikut ini:

1)         Kekayaan, sesorang yang mempunyai kekayaan yang lebih biasanya termasuk ke lapisan paling atas dalam stratifikasi sosial.

2)         Kehormatan, orang yang paling dihormati biasanya selalu menempati lapisan paling atas, sering kita temui di masyarakat, misalnya seperti seseorang yang berjasa besar.

3)         Kekuasaan, ukuran kekuasaan seseorang pun dapat menjadi faktor penyebab terbentuknya statifikasi sosial dan biasanya seseorang yang mempunyai kekuasaan selalu menempati lapisan teratas, misalnya seperti gubernur, bupati dan lain-lain.

4)         Berilmu tinggi atau berpengetahuan tinggi, seseorang akan menempati urutan paling atas jika dia memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.

Jenis-jenis stratifikasi sosial antara lain:

  1. Stratifikasi sosial tertutup/pelapisan sosial tertutup

Yang dimaksud dengan stratifikasi tertutup yaitu stratifikasi yang di mana pada setiap anggota masyarakat tidak bisa pindah ke tingkat sosial yang lebih tinggi ataupun ke tingkat sosial yang lebih rendah. Seperti contohnya pada sistem kasta pada suatu negara atau pada suatu daerah yang dimana terdapat golongan darah biru dan golongan masyarakat biasa.

  1. Stratifikasi sosial terbuka/pelapisan sosial terbuka

Yang dimaksud dengan stratifikasi sosial terbuka yaitu suatu sistem stratifikasi yang di mana pada setiap anggota masyarakat bisa berpindah-pindah dari satu tingkatan yang satu ke tingkatan lainnya. Seperti contohnya pada tingkatan dunia pendidikan, jabatan pekerjaan, kekuasaan dan lain-lain. Seseorang yang tadinya biasa-biasa saja dapat mengubah nasib dan tingkatan sosialnya menjadi lebih baik atau lebih tinggi lagi, disebabkan seseorang tersebut berusaha keras untuk dapat mengubah nasibnya lebih baik lagi dengan cara sekolah yang tinggi dan memiliki banyak kemampuan sehingga dia mendapatkan kedudukan yang baik dalam pekerjaannya serta menerima upah yang tinggi.

Berikut di bawah ini beberapa fungsi dari stratifikasi sosial, yang di antaranya seperti berikut ini:

  1. Sebagai suatu alat untuk penditribusian hak dan kewajiban, misalnya seperti: menentukan kedudukan, jabatan, penghasilan seseorang dan lain-lain.
  2. Untuk mempersatukan dengan pola mengkoordinasikan pada bagian-bagian yang terdapat pada struktur sosial yang gunanya untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan sebelumnya.
  3. Sebagai penempatan individu atau seseorang pada strata (lapisan) tertentu dalam struktur sosial.
  4. Sebagai penentu tingkatan mudah atau tidaknnya bertukar status atau kedudukan dalam struktur sosial.
  5. Untuk memecahkan berbagai macam permasalahan yang ada dalam masyarakat.
  6. Dan untuk mendorong masyarakat supaya bergerak sesuai fungsinya.

 

 

Gadis Pantai yang merupakan kaum kelas bawah menikah dengan Bendoro yang merupakan seorang priyayi. Bagi Gadis Pantai sebenarnya ini adalah perubahan kelas sosial bagi dirinya namun sayangnya ia masih tak paham dengan hal seperti itu.

Pernikahan antara seorang priyayi dengan kaum kelas bawah tidak seperti pernikahan biasanya. Kaum kelas bawah, bagaimanapun secara sadar atau tidak masih tetap dilecehkan. Proses pernikahan masih terpaku dengan adat yang kental seperti pada kutipan:

“Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup.” (hal. 12)

Dari kutipan di atas bisa terlihat gambaran bagaimana kaum kelas bawah masih tertindas bahkan dalam pernikahan sekalipun. Ritual pernikahan Gadis Pantai dengan keris memang tidak sah secara agama tapi berterima dengan adat budaya pada masa itu.

Pernikahan tersebut bukan semata-mata karena cinta. Ada tujuan tertentu dari Bendoro sendiri menikahi Gadis Pantai. Pada zamannya memang hal yang lumrah seorang priyayi menikahi masyarakat kelas bawah hanya untuk mencari penerusnya, yaitu anak. Setelah itu sang Ibu akan dibuang oleh priyayi. Seperti pada kutipan berikut yang mana Bendoro hanya menginginkan anak bukan seorang istri:

“Sahaya adalah emaknya, sahaya yang hina ini, tuanku. Bagaimana sahaya harus urus dia di kampung nelayan sana? Ia anak seorang bangsawan, tak mungkin diasuh secara kampung.”

“Aku tak suruh kau mengasuh anakku.” (hal. 257)

Gadis Pantai dibuang oleh Bendoro ketika ia telah melahirkan anak. Bahkan belum ada 4 bulan bayi itu dilahirkan tapi sudah dipaksa pisah oleh Bendoro. Hal ini jelas mengungkapkan bahwa priyayi yang menikahi masyarakat kelas bawah hanya untuk menginginkan anak yang di masa depan akan jadi penerusnya.

 

Kesimpulan

Novel Gadis Pantai sangat kentara sekali perbedaan kelasnya, di mana Gadis Pantai adalah seorang masyarakat kelas rendah dan Bendoro adalah seorang priyayi. Dari analisis di atas, Gadis Pantai telah mengalami sebuah perubahan sosial karena menikah dengan Bendoro. Sistem pernikahan pun masih terikat dengan adat kebudayaan. Hasil analisis yang lainnya adalah sosiologi bagi priyayi, di mana tujuan pernikahan ini bukan semata-mata karena cinta melainkan untuk mencari keturunan. Setelah itu kebanyakan dari mereka membuang istrinya tersebut namun mempertahankan anaknya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Minderop, Albertine. 2013. Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Pustaka

Obor Indonesia.

Pengertian Apapun. Pengertian Stratifikasi Sosial Dan Faktor Penyebabnya Lengkap.

Berisi berbagai macam pengertian. 8 Agustus 2015.

http://www.pengertianku.net/2015/08/pengertian-stratifikasi-sosial-dan-faktor-penyebabnya.html {diakses 5 Desember 2016}.

Sosiotekno. Konsep Stratifikasi Sosial. Blog sosiologi untuk berbagi. 13 November 2010.

http://sosiotekno.blogspot.co.id/2010/11/konsep-stratifikasi-sosial.html {diakses 21

Oktober 2016}.

Toer, Pramoedya Ananta. 2015. Gadis Pantai. Jakarta: Lentera Dipantara.

Yuliati, Evie Eka. 2014. Sejarah Intelektual “Paham Feodalisme”. Jember: Universitas Jember.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s