Penghargaan Kesusastraan: Fenomena di Luar Teks

Reza Deni Saputra

/1/

Kegiatan menulis (dalam hal ini adalah produk karya sastra) merupakan kegiatan yang menurut Julio Cortazar, adalah kegiatan anarkis. Maksud dari pernyataan tersebut kurang lebih, bahwa menulis tidak memerlukan kiat-kiat, bagan-bagan, kerangka-kerangka, sub-sub, dan aspek-aspek pendukung lainnya. Pada intinya, menulis tidak memerlukan formula semacam itu. Dan dari sana, tulisan yang akan muncul bisa menjadi lebih kaya, tak hanya dari segi tema tulisan yang menjadi masalah utamanya, tetapi juga dari aspek bentuk dan gaya. Namun pernyataan dari Cortazar di atas belum tentu sepenuhnya benar, sebab tulisan yang sudah jadi, akan turun ke tangan para pembaca, dan pada akhirnya, para pembaca-lah yang bakal menentukan, apakah tulisan yang mereka baca pantas disebut sebuah tulisan—entah itu novel, esai, puisi—atau hanya sekadar racauan dan igauan dari seorang yang tengah mabuk dan kebetulan saja ia menulis sesuatu.

Paragraf di atas saya dapatkan setelah membaca salah satu cerpen (meski sebenarnya secara bentuk, menurut saya itu bukanlah cerpen pada umumnya) dari Roberto Bolano. Judulnya Kartu Dansa. Setelah membaca cerpen tersebut, yang saya lakukan setelahnya adalah menarik napas dalam-dalam, memejamkan kedua mata, dan kemudian menenggak air putih dalam gelas berukuran cukup besar. Rasanya sangat melelahkan! Bahkan jika boleh membandingkan, Kitab Lupa dan Gelak Tawa milik Milan Kundera, yang saya simpulkan sebagai novel yang tidak konvensional dan juga melelahkan, justru lebih konvensional ketimbang Kartu Dansa milik Bolano.

/2/

Ya, kesusastraan, apapun spesifikasi dari definisi tersebut, akan bermuara pada kata “subjektifitas”.  Itu pandangan yang saya tukil dari Radhar Panca Dhana. Akan tetapi, entah mengamini atau menyetujui secara pribadi, saya tidak akan mengira dan hanya memiliki sedikit kecurigaan, bahwa definisi dan lanskap kesusastraan makin sekarang ternyata memiliki batas-batas yang semakin bias. Saya tidak mengetahui Roberto Bolano dari penghargaan yang ia terima; saya mengetahuinya sebab ia memiliki semestanya sendiri, seperti yang ditulis oleh Martin Suryajaya dalam salah satu portal berita daring, yang berjudul Marxisme dalam Semesta Roberto Bolano. Kemudian saya lantas membanding-bandingkan Bolano dengan para raksasa pengarang lainnya (terutama dari Amerika Latin) seperti  Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, Albert Camus, Ernest Hemmingway, George Orwell, Carlo Maria Dominguez, dan seterusnya dan seterusnya.

Dari sana perspektif saya semakin mengerucut, bahwa sebuah kesusastraan, akan selamanya berkubang pada ranah subjektifitas, perspektif, atau bahkan selera. Sebagai contoh, tahun lalu, Akademi Swedia membuat keputusan (yang cukup menggelikan) ketika memberikan penghargaan Nobel Sastra kepada seorang musikus lawas: Bob Dylan. Tanggapan bermunculan; yang setuju penghargaan tersebut diberikan dan yang mengkritik pun jumlahnya sama-sama banyak. Apalagi ketika Bob Dylan menolak untuk menerima penghargaan tersebut, hal yang selanjutnya terjadi adalah sebuah kutub antara kekeruhan dan sebuah keputusan yang brilan.

Berbagai macam kajian terkait lirik-lirik lagu milik Bob Dylan kemudian dibedah, seperti membedah sebuah puisi atau sajak. Tirto.id, salah satu portal berita daring, juga berusaha mengkaji (baca: mempertanyakan) karya-karya milik Bob Dylan. Dea Anugrah selaku penulis Tirto.id, melakukan semacam perbandingan yang dilakukan dengan menggunakan konsep dari Simon Armitage. Penulis puisi dan professor di Oxford University itu menulis, “Penulis lagu bukan penyair dan lagu bukan puisi. Atau, tepatnya, lagu seringkali merupakan puisi jelek. Singkirkan musiknya dan yang tersisa hanya karangan kikuk penuh silabel yang menggumpal, rima norak, klise aus, dan metafora yang kacau-balau.”

Tanpa musik, seperti kata Armitage, lirik lagu cuma puisi yang buruk. Dan puisi yang buruk tak semestinya mengantarkan penulisnya meraih Nobel Sastra. Mungkin Dylan mengabaikan Akademi Swedia karena ia memahami hal tersebut. Tapi, mungkin juga ia cuma menganggap mereka merepotkan.

Saya juga mengalaminya, mengerjakannya, membuat semacam pandangan saya terhadap karya-karya milik musisi yang terkenal sebagai musisi anti perang tersebut. Sekali waktu, saya pernah bertanya; sebenarnya apa yang tengah di pikirkan Akademi Swedia, saat memutuskan Bob Dylan sebagai pemenang, mengalahkan nama-nama tenar macam Haruki Murakami, atau Phillip Roth? Jawaban yang saya ingat dari teman saya adalah bukan karya yang membuat Bob Dylan meraih Nobel, tetapi bagaimana lirik-lirik tersebut berpengaruh besar terhadap kondisi dunia, yang pada abad dua puluh, penuh dengan pertumpahan darah dan angkat senjata.

Saya tidak membantah jawaban tersebut. Saya diam saja. Namun di kepala saya, pertanyaan lainnya pun bermunculan. Salah satunya adalah, berarti sastra yang monumental adalah sastra yang berpengaruh? Berarti kalau begitu, asalkan terjun dalam bidang kesenian yang menggunakan bahasa sebagai  media, lalu kemudian ada dampak dari apa yang dilakuannya, institusi macam Akademi Swedia itu mungkin akan melakukan hal yang sama tahun depan, atau beberapa tahun kemudian? Dan jika begitu jadinya, siapa sebenarnya yang melahirkan kesusastraan ?

Pertanyaan itu terasa mengambang dan absurd memang. Namun melihat kondisi kesusastraan pada zaman sekarang ini, yang menurut saya juga absurd dan mengambang, terlebih saat pengumuman Nobel tahun lalu, tampaknya kacamata saya dalam melihat bentuk kesuastraan semakin mengabur, dan pertanyaan-pertanyaan itu pun menurut saya cukup masuk akal. Dalam arti yang lebih ekstrem, sebuah karya sastra yang bagus, yang monumental, yang komprehensif (saya ragu dengan istilah ini sebenarnya), yang layak dibaca dan direnungkan di dalam kamar-kamar sepi dan pengap, adalah kesusastraan yang menerima penghargaan, atau karya sastra yang berpengaruh, atau yang paling banter, karya sastra yang dilabeli dengan cap “Best Seller”. Kesusastraan macam itu, menurut kacamata saya yang semakin buram ini, akan sangat mencerahkan dan membuat siapa saja yang membacanya mampu melakukan kebaikan-kebaikan yang diperintahkan oleh Sang Maha.

Saya sebenarnya tidak begitu banyak menyelami karya-karya yang mendapatkan penghargaan macam Nobel, atau Man Booker Prize, atau Pulitzer, atau Sea Write, atau Khatulistiwa Literary Award, atau bahkan yang sempit regionalnya: Sayembara Menulis Novel, atau Sayembara Manuskrip Puisi, yang diadakan Dewan Kesenian di wilayah di Indonesia, terutama yang ada di Jakarta. Saya bukannya tidak menginginkan perspektif saya, atau selera saya, ditentukan oleh klaim-klaim dari sebuah institusi semacam itu. Bukan! Alasan saya yang paling personal adalah, penghargaan-penghargaan tersebut, rasanya tak lepas dari unsur-unsur politik yang menurut saya, seperti ketoprak dihidangkan bukan dengan bumbu kacang, tetapi dengan tahi kucing.

Dalam konteks kesuasastraan Indonesia, saya masih ingat waktu itu, pada tahun 2012, yang memenangkan Khatulistiwa Literary Award kategori prosa adalah Maryam; sebuah novel buah karya Okky Madasari. Saya adalah pembaca yang terhitung telat dalam membaca Maryam, sebab saya membaca Pasung Jiwa terlebih dahulu; bukunya yang terbit beberapa tahun setelah Maryam. Kemudian setelah membaca Maryam, yang disampulnya sudah diberi label oleh penerbit sebagai pemenang KLA 2012, saya merasa (ini tafsir permukaan saya) bahwa novel yang menceritakan konflik Ahmadiyah di daerah Lombok ini tidak begitu pantas untuk didapuk menjadi pemenang KLA.

Secara singkat saja (dan juga subjektif), saya melihat apa yang terjadi dalam teks Maryam, tidak sebesar ekspektasi saya, yang pada mulanya tergambar bahwa konflik Ahmadiyah dalam teks sastra hadir dengan penuh potensi. Halaman per halamannya hanya bertutur sekitar kehidupan Maryam; bagaimana gejolak yang dihadapinya saat hendak menikahi seseorang yang bukan seiman, lalu bagaimana perilaku masyarakat sekitar saat mengetahui bahwa keyakinan macam itu adalah sesat, dan lain-lainnya. Kesimpulan sementara saya saat itu; saya seperti membaca teks picisan dengan latar dan suasana yang tengah menjadi pemberitaan atau tajuk utama.

Sebenarnya tak hanya Maryam yang menurut saya tidak pantas menjadi pemenang KLA tahun 2012. Sebenarnya masih ada lagi beberapa karya dari para babon di ranah prosa, yang entah bagaimana, saya merasa bahwa karya mereka dan identitas tambahannya yang memenangkan penghargaan di bidang ini dan itu, agak sedikit melenceng dari perspketif saya. Pandangan awal saya adalah mencoba huznuzon, semacam menghibur diri; barangkali saya yang tidak mampu menjangkau pemikiran dalam teks tersebut. Namun pandangan setelahnya adalah lagi-lagi, bahwa ada sesuatu yang bermain di area ini, dan itu sudah menjadi barang umum.

/3/

Politik, sepengetahuan saya, bisa didefinisikan menggunakan metafora, sebab politik tidak hanya sekadar makna secara etimologi, terminologi, atau makna leksikal. Politik merupakan perwujudan dari sesuatu yang abstrak. Dalam kesusastraan, hadirnya politik tentu bisa dikaitkan dengan berbagai macam titik atau slot. Dalam hal ini, definisi sastra tidak lagi merujuk kepada apa itu sastra, tetapi hal-hal di luar teks. Saya tidak mengatakan kalau kesusastraan mengalami degradasi makna. Namun saya melihat, jika dikaitkan dengan politik, posisi kesusastraan itu sendiri menjadi minor. Artinya, objek dan fokusnya bukan lagi ke persoalan—mengambil paham M.H. Abrams—teks, penulis, pembaca, dan kenyataan yang direka. Politik dan sastra justru akan keluar dari jalur itu, merambat ke jalur-jalur seperti penghargaan dan label mengenai buku mana yang bagus, pengarang macam apa yang mampu diberikan penghargaan berkat kinerjanya.

Saya memaklumi jika kesusastraan tidak bisa lepas dari politik, dan bahkan, segala aspek kehidupan juga tidak akan lepas dari yang namanya politik. Orang menyebarkan agama, menurut saya di sana juga ada politik. Orang berdagang, tentu tak hanya meraih keuntungan, tapi juga berpolitik. Dan jika boleh menggeneralisasi, segala aktivitas manusia, bisa jadi merupakan sebuah politik itu sendiri.

Kembali lagi ke persoalan politik dan kesusastraan, saya rasa yang paling menonjol sisi politik dalam ranah ini adalah munculnya penghargaan-penghargaan sastra dari berbagai institusi. Pemakluman saya terhadap fenomena ini barangkali lebih kepada bagaimana seorang penulis, atau sebuah teks sastra atau karya sastra, pantas dihargai. Namun, proses pemberian penghargaan itulah yang menuai banyak pro dan kontra. Dalam hal ini, perspektif dan subjektifitas lembaga, dengan perspektif, subjektifitas, dan selera pembaca yang beraneka ragam, tentu tidak bisa dilebur satu sama lain.

Sebagai seorang pembaca teks sastra dalam bahasa ibu, yakni bahasa Indonesia, saya cukup antusias ketika nama Eka Kurniawan, lewat novelnya: Lelaki Harimau, masuk nominasi penghargaan Man Booker Prize tahun lalu. Penghargaan tersebut merupakan salah satu penghargaan yang cukup besar dalam skala sastra dunia. Bahkan banyak yang menulis, bahwa Man Booker Prize berada satu level di bawah Nobel Sastra. Tentu ini menjadi semacam batu loncatan untuk kesusastraan Indonesia, dimana hanya nama Pramoedya Ananta Toer, yang dikenal luas sebagai penulis mashyur yang dikenal luas dunia global.

Lelaki Harimau, sebagai salah satu novel yang mewaikili Eka dalam Man Booker Prize,  merupakan salah satu dari dua novel Eka yang sukses (Cantik Itu Luka), tak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Ini berarti, proses penyaringan dari pihak penyelenggara benar-benar menyeluruh. Mereka melihat Indonesia juga bagian dari sastra dunia; mereka berpendapat bahwa kawasan Asia Tenggara juga ikut andil dalam dinamika kesusastraan dunia; produk-produk sastra yang dihasilkan barangkali tak bisa dianggap sebelah mata. Meski pada akhirnya nama Eka musti tanggal di enam besar, saya tidak begitu kecewa dan harus mengepalkan tangan lalu meninju siapapun yang lewat di depan jalanan rumah saya. Lagi-lagi, meski saya belum membaca novel dari para pesaing Eka, saya melihat subjektifitas hadir dan bekerja sebagaimana mestinya.

Maka begitulah, apa yang menarik dalam teks sastra, sama halnya dengan apa yang terjadi di luarnya. Jika sastra hanya rekaan, jika Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan hanya mengambil bentuk dari Kematian yang Sudah Diramalkan milik Gabriel Garcia Marquez, penghargaan dan politik (barangkali) merupakan sandiwara. Itu dilakukan sebab siapapun butuh hiburan, dan sandiwara merupakan hiburan, meski kita tidak tahu apakah yang bukan sandiwara adalah hiburan juga.

Advertisements

2 thoughts on “Penghargaan Kesusastraan: Fenomena di Luar Teks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s