Dhika Anggoro Satrio 

Karya sastra adalah sebuah ruang untuk meletakkan sebagian realitas kemanusiaan penulis. Ruang itu sendiri bukan alat dan akan berubah menjadi alat ketika terjadi pemaknaan sedangkan pemaknaan itu sendiri tidak berada di tangan penulis melainkan pembaca, entah itu pembaca secara individu, kelompok maupun penguasa. Sebagai sebuah wadah atas gagasan-gagasan yang memang harus dikomunikasikan dan dibagikan pada manusia yang lain, ideologi membutuhkan sebuah media dalam melakukan proses komunikasi ini, sastra salah satunya dan dari sinilah kemudian ruang berubah menjadi alat karena sastra dipahami sebagai praksis dan bukan ontologis sebagaimana terjadi pada sastra yang beraliran Marxisme, yang secara tradisi berbicara mengenai bagaimana kebudayaan tersusun hingga mampu membawa kelompok tertentu memiliki kontrol yang maksimal dengan potensi konflik minimal. Ideologi ini sendiri tidak bermaksud untuk menekan kelompok lain (meskipun potensi itu ada) melainkan lebih kepada persoalan bagaimana institusi yang dominan dalam masyarakat mampu bekerja melalui nilai-nilai, konsepsi dunia dan sistem simbol dalam rangka melegitimasi kekuasaan.

Dalam konteks kesusastraan Indonesia, ideologi dalam sastra seharusnya memiliki makna bagi kepentingan sastra Indonesia dengan tujuan akhir menempatkan manusia Indonesia sebagai objek sekaligus subjek sastra dalam rangka memaknai zaman. Sebagai contoh, bagaimana ideologi diajarkan dalam sastra dan bagaimana menghadapi beragam pemikiran dalam dunia global yang bergerak dengan begitu cepat. Pengalaman dan kesejarahan sosial, politik dan sastra bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa lain, sehingga pengajaran dan pemaknaan sastra juga harus berbeda termasuk bagaimana relasi sastra dan ideologi. Misalnya, pengalaman Amerika yang kesusastraannnya dimulai dari buku harian serta oleh orang Eropa, tidak bisa dijadikan acuan begitu saja karena banyak perbedaan mendasar yang terjadi dalam kesejarahan sastra kedua bangsa. Di Indonesia ideologi dicomot begitu saja dan dipakai untuk kepentingan pragmatis dengan memperalat sastra, misalnya aliran realisme sosialis ala Maxim Gorky yang sempat menghuni tubuh Lekra dan menghantui lawan-lawan ideologinya. Jagad sastra memang selalu menarik apabila dikaitkan dengan ideologi hingga terjadi polemik terus menerus. Dengan cara semacam ini sastra menjadi berkembang, hanya saja warna dan kualitas polemik itu tidak terlepas dari watak dan ideologi bangsa yang membentuknya, dan memang begitulah realitas yang terjadi dalam sastra.

Tren di Era Posmodern

Di era posmodern, teks adalah bagian dari superstruktur budaya yang merupakan tempat perang kepentingan. Dalam upaya merumuskan suatu perspektif terhadap sastra-sastra dunia ketiga, atau  terhadap bangsa-bangsa yang dibentuk oleh nilai-nilai dan stereotipe-stereotipe suatu kebudayaan dunia pertama, Melani Budianta dalam artikelnya yang berjudul Representasi Kaum Pinggiran dan Kapitalisme mengutip perkataan Fredric Jameson berikut ini:

Tak satupun budaya-budaya (Dunia Ketiga) dapat dianggap sebagai otonom atau independen secara antropologis. Sebaliknya, mereka justru, dengan caranya sendiri, berada dalam perjuangan hidup dan mati berhadapan dengan imperialisme budaya Dunia Pertama – sebuah perjuangan budaya yang merupakan cerminan hal yang sama dalam bidang ekonomi, yakni perjuangan melawan penetrasi modal, atau secara eufimistis disebut modernisasi.

Dengan demikian, menurut Jameson dalam Third World Literature in the Era of Multinational Capitalism, negara-negara berkembang terjebak dalam konsepsi imperialisme budaya dunia pertama. Jameson berpendapat bahwa bahasa halus atau eufimisme dari imperialisme tersebut adalah ideologi kapitalisme atau paham modern yang dibawa oleh negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Singkat kata, negara Dunia Ketiga telah sangat bergantung pada negara Dunia Pertama.

Kapitalisme, sebuah tren ekonomi yang telah diperkenalkan dalam berbagai tahapannya ke wilayah-wilayah yang pernah mengalami penjajahan merupakan sebuah kekuatan penting yang harus dihadapi dunia ketiga, sejak awal masa kolonial sampai datangnya kapitalisme global. Novel-novel yang lahir dai negara Dunia Ketiga menunjukkan ekspresi budaya kapitalis. Dengan demikian, sastra dalam dunia ketiga tidak bisa dipisahkan dari kaitannya dengan kolonialisme dan kapitalisme (Budianta, 2000:304)

Jameson selanjutnya menyebutkan dua sistem ekonomi atau mode produksi kapitalis dalam masyarakat Dunia Ketiga, yaitu masyarakat adat dan mode Asiatik. Contoh simbiosis antara modal dan masyarakat adat adalah masyarakat dan budaya Afrika yang pernah menjadi objek penjajahan pada tahun 1980-an. Sementara itu, kehidupan pada masa kerajaan di Cina dan India menjadi contoh tentang bagaimana kapitalisme mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya (Jameson, 1986: 69).

Literatur yang muncul di negara dunia ketiga bersifat alegoris dan figuratif (Jameson, 1986: 69). Dalam novel-novel yang ditulis di masa itu, ada pembagian yang tegas antara ruang privat dan ruang publik, puitis dan politis, wilayah seksual dan ketidaksadaran, atau dengan kata lain: ada pergulatan antara pemikiran Freud versus pemikiran Marx. Banyak karya sastra di negara dunia ketiga yang merepresentasikan situasi sosial politik pada zamannya. Stendhal mengatakan bahwa politik dalam novel-novel yang lahir di era kapitalisme lanjut.

Dengan demikian, individu atau tokoh yang digambarkan dalam teks adalah representasi masyarakat dan budaya dunia ketiga. Akibat dari adanya kondisi sosial-ekonomi yang terjadi, karya sastra di belahan Dunia Ketiga muncul sebagai karya transgresif atau dianggap melampaui atau melanggar norma-norma tempat karya tersebut dibuat. Melihat hal ini, Jameson memaparkan konsep mengenai political unconsciousness, yaitu suatu strategi pembacaan Marxis yang mengungkap sejarah dalam sebuah teks. Sejarah yang dimaksud di sini adalah perjuangan kelas dan evolusi ekonomi masyarakat. Meminjam konsep Freud, sejarah berada pada tingkat tak sadar atau tingkat laten teks. Ini berarti konten luar teks—cerita, tokoh, dan lain-lain—merupakan gejala atau ekspresi simbolik dari konten laten teks atau sejarah.

Dalam konteks Indonesia, dikenal karya Aman Dt Madjoindo berjudul Tjerita Boedjang Bingoeng (1936) yang menolak sistem pertukaran uang dan menyandingkannya dengan karya Madjoindo yang populer, Si Doel Anak Betawi (1940-an) yang menunjukkan posisi yang berbeda terhadap uang dan pasar. Beberapa versi audiovisual Si Doel yang muncul kemudian adalah dua film Sjuman Djaja, Si Doel Anak Betawi (1972) dan Si Doel Anak Modern (1976) serta serial Rano Karno Si Doel Anak Sekolahan (1990-an).

Karya ini berkisah tentang seorang lelaki yang hidup di antara kultur Betawi yang kental dan kondisi Jakarta yang modern. Doel adalah representasi lelaki dalam negara Dunia Ketiga yang berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Ia harus bersekolah tinggi, bekerja, dan masuk dalam persaingan pasar walaupun berasal dari pinggiran Jakarta. Lewat kritik sastra dunia ketiga, dapat dilihat bagaimana dunia yang terpinggirkan mengalami evolusi kulturnya masing-masing.

Dari pemaparan di atas dapat dilihat bahwa karya-karya sastra yang lahir di negara Dunia ketiga merepresentasikan kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan politik pada zamannya. Di era posmodern, novel-novel atau film yang lahir merupakan ekspresi atas pengaruh kapitalisme lanjut. Gejala dominasi budaya dalam posmodernisme bukan sekedar fenomena perubahan style atau fashion belaka, melainkan juga fenomena sejarah. Jameson hendak mengungkapkan hubungan antara estetika atau transformasi sosial simbolik dalam ruang kebudayaan dengan transformasi historis mode produksi kapitalis.

Tren Karya Sastra Mutakhir

Ada nuansa pencarian yang sangat intens di kalangan sastra muda Indonesia. Fenomena yang lebih spesifik berasal dari bangkitnya apa yang disebut sebagai sastrawangi, sebut saja sebagai perayaan sastra perempuan. Sebutlah misalnya Ayu Utami dengan Saman-nya yang pertama kali mendobrak dominasi karya sastra kaum tua dan laki-laki. Saman disebut sebagai karya sastra yang menyuguhkan berbagai temuan baru dalam sastra Indonesia mutakhir, Sapardi Djoko Damono menyimpulkan tehnik komposisi novel ini belum pernah dicoba di Indonesia bahkan di negeri-negeri lain, dan sebagainya. Setelah Ayu Utami, berturut-turut sastrawangi dan kaum muda menghiasi hampir semua perdebatan sastra mutakhir.

Ode untuk Leovold Sacher Masoch karya Dinar Rahayu juga kemudian muncul sebagai karya mutakhir yang banyak diperdebatkan. Selain Saman, karya ini juga disebut-sebut mengawali bangkitnya kecenderungan seni prosa aliran surealisme. Berikutnya adalah sebuah karya monumental yang berusaha merangkum segala capaian berbagai segi sastra prosa dunia, Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Cantik Itu Luka pertama kali mengejutkan karena ketebalannya yang luar biasa (mengalahkan Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer). Karya ini juga merangkum eksplorasi cerita yang rumit dengan puncak-puncak konflik yang sangat banyak, mengingatkan pada karya sastra Nobel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez yang juga menitiktekankan pada konflik yang sangat banyak, sehingga pembaca seakan diajak menyelam ke dalam labirin fenomena kehidupan manusia yang tanpa batas.

Eka Kurniawan tidak hanya menekankankan pada cerita, tapi juga berhasil mengeksplorasi kata dan pengungkapan. Tak ayal, Eka juga didaulat untuk duduk bersama dengan para pendatang baru yang menandai pergeseran dan perubahan corak sastra Indonesia Mutakhir. Dan puncak sementara dari perayaan pendatang baru dan sastrawangi tersebut tampak berada di pundak perempuan bernama Nukila Amal. Sejak karya pertamanya, Cala Ibi, diterbitkan, pada awalnya diterbitkan oleh Pena Klasik kemudian sekarang oleh Gramedia, Nukila Amal tak pernah absent dalam perdebatan. Cala Ibi bahkan disebut sebagai puncak karya sastra Indonesia. Ia menjadi puncak karya sastra Indonesia, terutama dalam aliran surealisme.Kemunculan aliran surealisme yang diagungkan di kalangan pendatang baru tersebut bukan tanpa masalah, pelbagai tanggapan dan komentar negatif juga mengiringi perkembangan ini. Belum lagi kebangkitan surealisme sastra Indonesia tersebut berjalan seiringan dengan apa yang dinamakan sebagai prosa puitis. Betapa tidak, kecenderungan baru ini benar-benar telah mengaburkan batas antara puisi dan prosa.

Membaca Cala Ibi, misalnya, seperti membaca sebuah puisi panjang. Di dalamnya banyak lompatan, pemilihan diksinya sangat hati-hati, kejutan terjadi di mana-mana, pembaca bahkan dibuat ekstasi berkali-kali oleh keindahan bahasanya yang luar biasa. Karya ini bahkan banyak mengalahkan karya puisi murni itu sendiri. Dengan demikian, pembaca sastra tidak perlu lagi membaca puisi untuk meraih keindahan bahasa, novel dan karya prosa lainnya telah menyediakan kebutuhan keindahan bahasa seperti itu.Sebetulnya tradisi ini tidak benar-benar baru di Indonesia, sebab jauh sebelum mereka muncul, Iwan Simatupang telah juga menyentakkan dunia sastra Indonesia dengan dua karya monumentalnya, Merahnya Merah dan Ziarah. Kalau mau diurut secara kronologis dan tingkat pencapaian, maka Iwan Simatupang mengawalinya, kemudian berturut-turut Ayu Utami, Dinar Rahayu, Eka Kurniawan, dan berakhir pada Nukila Amal. Perdebatan mutakhir ini tidak berhenti pada perdebatan prosa puitis, sastrawangi, dan surrealisme, tapi juga merambah jauh ke dalam relung kultur masyarakat berbudaya Indonesia. Tudingan perayaan kebebasan yang kebablasan kemudian mengikuti prestasi gemilang ini.

Tak bisa dipungkiri, bahwa di samping para pegiat sastra tersebut mengeksplorasi segala hal baru dalam sebuah karya sastra, mereka juga menggunakan media-media baru. Eksplorasi seks kemudian menjadi trend yang juga banyak diminati. Seks pada akhirnya menjadi daya penarik tersendiri yang tidak hanya dieksplor oleh para sastrawan pretisius tersebut, tapi juga oleh para sastrawan muda lain pada umumnya. Dan anehnya, eksplorasi seks dalam sastra itu justru berasal dari para sastrawangi, seperti Ayu Utami, Dinar Rahayu, dan Djenar Maesa Ayu. Tudingan eksplorasi seks bagi sastrawan kaum prestisius ternyata tidak berhenti sampai di situ. Dari eksplorasi seks berlanjut kepada tudingan penetrasi kapitalisme ke dalam dunia sastra. Seks muncul sebagai tema, semata-mata karena tema itu laku di pasaran. Tudingan ini sebetulnya bukan tanpa alasan.

Pembaca sastra begitu mudah mendapati beberapa karya sastra yang menggunakan judul-judul fulgar: Jangan Main-Main dengan Kelaminmu dan Menyusu Ayah (Djenar Maesa Ayu), Payudara (Chavchay Saefullah), dan seterusnya. Pertanyaan tentang kenapa pengarang memilih judul-judul di atas bisa dijawab dengan mudah, karena judul-judul itu lagi tren, yang artinya lagi marak di pasaran. Kalaupun memang sastrawan-sastrawan kita sedang melakukan pemberontakan terhadap kungkungan budaya dan agama, maka pilihan judul tentu tidak mesti fulgar sefulgar isinya: contoh novel Dinar Rahayu dan Ayu Utami. Persoalannya kemudian bukanlah apakah kefulgaran itu salah atau benar, yang nyata adalah para pengarang karya sastra kita memang tidak mungkin melepaskan dimensi pasar dalam pembuatan karya sastra mereka. Selalu ada unsur kapitalisme dalam karya sastra, karena karya sastra harus dipasarkan. Itulah sebabnya, di setiap masa, selalu ada kecenderungan karya sastra ke arah model dan tema tertentu. Menuduh sebuah karya sastra sukses karena penetrasi kapitalisme adalah benar, sebab nyatanya semua karya sastra tidak kuasa melepaskan diri darinya. Kendati demikian, tentu publik pembaca karya sastra tidak seragam, bahkan semakin hari semakin beragam. Mungkin pada masa lalu pembaca karya sastra hanyalah mereka yang berpendidikan tinggi dan dari kalangan terbatas. Tapi karena alasan pasar, sangat tidak efektif jika sebuah karya sastra hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Memperluas wilayah pembaca sastra adalah tindakan yang sangat terpuji.

Memasukkan unsur seks mungkin menjadi salah satu pilihan untuk memasyarakatkan karya sastra ke tengah masyarakat yang memang senang dengan pikiran-pikiran mesum. Kalangan remaja akhirnya bisa mendapat tempat dalam membaca sebuah karya sastra. Tapi bukan berarti segmen lama harus ditinggalkan dan beralih ke wilayah yang lain sama-sekali.Suatu ketika masyarakat pembaca sastra sangat tergila-gila dengan karya realis yang menekankan kepada isi dan tema atau plot, maka maraklah karya yang berisi cerita memukau, indah, dan mengharukan. Tapi di ketika yang lain, masyarakat pembaca sastra mulai bosan dengan isi cerita, maka muncullah karya-karya yang menekankan kepada bentuk dan pengungkapan. Saat ini, publik pembaca sastra terbagi dalam begitu banyak varian kecenderungan, karya-kasya sastra yang baik kemudian adalah karya yang bisa menarik minat sebanyak mungkin orang dari berbagai sudut penilaian. Dan karya-karya mutahir dari kaum muda itu menyajikan berbagai pilihan. Saman-nya Ayu Utami mampu memesona pembaca dari sudut ceritanya yang menawan, publik sastra pengagum bentuk juga terpuaskan dengan sajian bahasa, bentuk, dan pengungkapan indah seperti kristal yang belum pernah dicoba, bahkan penganut mazhab pembelaan sastra kepada kaum tertindas juga bisa menjadikan karya Ayu Utami tersebut sebagai instrumen perjuangan. Demikian halnya karya Nukila Amal, Dinar Rahayu, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, Chavchay Saefullah, dan seterusnya, dengan segala keterbatasannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s