MUHAMMAD PUTERA SUKINDAR


LATAR BELAKANG

Karya sastra merupakan rekaman kebudayaan yang merupakan perwujudan perasaan dan pemikiran tentang masalah-masalah kemanusiaan dan budaya. Masalah yang diungkapkan oleh pengarang, dibuat dalam satu kesatuan yang kompleks berupa karya sastra dengan bahasa sebagai media penyampaiannya. Dalam perkembangannya, karya sastra dibagi menjadi 3 cabang, yaitu prosa (epik), lirik (puisi), dan drama yang memiliki ciri khasnya masing-masing.

Salah satu contoh karya sastra berupa prosa yang merupakan potret kehidupan pada masa itu adalah novel Life & Times of Michael K. Novel ini ditulis oleh John Michael Coetzee (ia kemudian mengubah nama tengahnya  menjadi Maxwell). Ia belajar di Universitas Cape Town, di mana ia mendapatkan gelar dalam matematika dan bahasa Inggris. Penulis yang lahir di Cape Town, Afrika Selatan ini adalah penulis pertama yang dianugrahi novel Booker Prize sebanyak dua kali.

Novel Life & Times of Michael K secara garis besar menceritakan tentang perjalanan hidup seorang laki-laki yang memiliki kecacatan fisik (sumbing), dan juga memiliki kelambanan dalam berpikir. Cerita ini berawal ketika Michael K berhenti dari pekerjaannya di Dinas Pertamanan dan Perkebunan untuk merawat  ibunya yang sedang sakit. Saat sudah tidak bisa melakukan apa-apa, ibunya meminta kepada Michael K untuk mengantarnya pulang kembali ke kampung halamannya di Prince Albert.

Di sinilah konflik utamanya, ketika ia susah untuk mendapat izin perjalanan (karena pada saat itu sedang terjadi perang sipil) Michael K dan ibunya nekat melakukan perjalanan ilegal yang akhirnya timbul sekali banyak masalah, mulai dari banyak perampok dan dijegatnya ia oleh gerombolan polisi. Meski akhirnya ia mencoba untuk kedua kali dan berhasil karena melewati jalan yang jarang dilalui oleh orang-orang.

Angin malam yang dingin dan seringkali diserang kelaparan, membuat penyakit ibunya semakin memburuk. Hingga pada saat dalam perjalanan, ibunya jatuh pingsan dan meninggal di rumah sakit di mana Michael K membawanya. Cerita tidak berhenti sampai di situ, Michael K tetap melakukan perjalanan untuk menebar abu ibunya di Prince Albert. Ketika itulah kesedihan hingga kesedihan digambarkan oleh J.M Coetzee sampai di penghujung cerita.

Alasan penulis memilih novel ini sebagai bahan kajian adalah karena tokoh utama dalam cerita ini adalah kaum minoritas (seorang tunawisma), ditambah kecacatan fisik yang dimiliki oleh Michael K benar-benar membuatnya terdiskriminasi dalam keadaan perang yang sedang menggelora. Bagaimana Michael K benar-benar terpinggirkan secara mental ataupun fisik. Penulis melihat bahwa novel Life & Times of Michael K ini merupakan penggambaran seseorang yang ingin merdeka dalam perbuatan maupun pikiran, tokoh Michael K merepresentasikan itu dalam setiap peristiwa yang digambarkan oleh J.M Coetzee.

Gayatri Spivak dalam tulisannya berjudul “Can Subaltern Speak?” mengecam kebutaan ras dan kelas yang terjadi di dunia akademi Barat. Yang dimaksud Subaltern adalah subjek yang tertekan, para anggota “klas-klas subaltern”-nya Antonio Gramsci atau secara lebih umum adalah mereka yang berada di ‘tingkat inferior’. Ia menegaskan kaum subaltern adalah kelompok yang selama ini selalu dalam posisi tidak berdaya (disempowered), tidak pernah bisa bicara di media publik dan bersifat marjinal (Gandhi, 2004:1).

LANDASAN TEORI

SUBALTERN

Pada tahun 1985, Gayatri Spivak mengecam kebutaan ras dan klas yang terjadi di dunia akademik Barat. Ia mengajukan pertanyaan dalam esainya, yaitu can Subaltern speak? (Dapatkah subaltern berbicara?).

Penggunaan istilah „subaltern‟ ini dijelaskan oleh karya pemikir Marxis Italia Antonio Gramsci mengenai kaum petani desa Italia. Ia mengartikan subaltern sebagai kelompok subordinat, seperti kaum petani desa di Italia Selatan, yang pencapaian kesadaran sosial dan politiknya terbatas dan kesatuan politik mereka rendah (Morton, 2008: 157). Berdasarkan Oxford English Dictionary istilah „subaltern‟ memiliki pengertian any officer in the army below the rank of captain (semua pegawai dalam tingkat ketentaraan di bawah pangkat kapten). Secara lebih umum dapat diartikan dengan mereka yang berada di „tingkat inferior‟.

Gayatri Spivak menggunakan kata subaltern untuk arti yang lebih spesifik. Kelas subaltern adalah sekelompok kelas marginal (Timur) non-elit yang didesak oleh garis – garis kulural dan pengetahuan yang memproduksi subjek kolonial. Spivak terkenal karena kontribusinya yang besar dalam membangun kajian poskolonial secara terus-menerus. Fokus Spivak adalah seputar warisan filosofis, kultural, politis, dan ekonomi kolonialisme Eropa pada masyarakat jajahan mereka. Spivak pada mulanya menekankan subaltern pada subjek perempuan. Dalam esainya, ia menuliskan bahwa perempuan tidak dapat berbicara dan sebagai the second sex cenderung menjadikannya sebagai korban patriarki. Menurut Spivak (dalam Sexl, 2004: 284):

“In ihrem Beitrag geht Spivak von der poststrukturalischen Annahme aus, dass menschliche Individuen keine souveränen, autonomen Subjekte sind. Eingebettet in Strukturen, die der Mensch nicht beherrschen kann, ist seine Identität das Resultat des Diskurses. Dies gilt auch für die Gruppe der so genannten “Dritte 27 Welt Frauen”, eine Kategorisierung, die in der ‘ersten’ Welt diskursiv hervorgebracht wurde.” (dalam kontribunsinya Spivak berpangkal tolak dari penerimaan posstrukturalis, bahwa individualis yang berperikemanusiaan adalah tidak berdaulat, subjek otonom. Tertanam dalam struktur yang tidak dapat menguasai orang, merupakan identitasnya dari hasil diskusi. Ini juga berlaku untuk kelompok yang disebut “perempuan dunia ketiga,” sebuah kategorisasi, yang pertama di dunia diproduksi dengan diskursi).

Perempuan bisa dianalogkan dengan Orientalisme-nya Said yang memandang Timur sebagai “mereka” yang boleh dijajah dan ditindas. Lebih diperjelas lagi oleh Spivak yang mengatakan bahwa : “if, in the context of colonial production, the subaltern has no history and cannot speak, the subaltern as female is even more deeply in shadow.” Jika, dalam konteks produksi kolonial, subaltern tidak memiliki sejarah dan tidak dapat berpendapat, subaltern bergender perempuan bahkan lebih tenggelam dalam bayang-bayang (dalam Ashcroft, 1995: 28). Dalam hal ini, Spivak berpendapat bahwa pengalaman subaltern perempuan menjadi dilemahkan akibat dari dominasi laki-laki dengan sistem patriarkinya.

Kajian subaltern kemudian menjadi berkembang dan tidak hanya terfokus pada gender perempuan saja. Kelompok Kajian Subaltern (Subaltern studies) adalah penganut teori subaltern ini. Subaltern Studies memakai istilah tersebut sebagai nama bagi atribut umum subordinasi dalam masyarakat Asia Selatan (Morton, 2008: 158). Hal tersebut diekspresikan dalam bentuk kelas, kasta, ras, umur, gender, atau bentuk penyelewengan lainnya. Subaltern studies merupakan kelompok kajian poskolonial sebagai respon terhadap antusiasme Spivak mengenai “Dapatkah subaltern berbicara?”

Subaltern studies memberikan upaya yang memungkinkan untuk masyarakat agar dapat berbicara tentang kaum elite dan penguasa atau penjajah. Hal ini dimaksudkan untuk mengangkat suara-suara bungkam dari mereka yang benar-benar tertindas. Istilah subaltern ini dapat saling menggantikan. Menurut Spivak, secara krusial Subalternitas merupakan posisi tanpa identitas (Morton, 2008: 158-9). Lebih lanjut Spivak mengatakan, bahwa subaltern tidak bisa terlihat tanpa pemikiran „elite‟. Sebagai akibatnya, kesadaran subaltern tidak pernah bisa dibangkitkan secara penuh, ia dilupakan bahkan saat ditampilkan ia merupakan sesuatu yang tidak berhubungan satu sama lain yang tak dapat direduksi (Morton, 2008: 167).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa keberadaan subaltern tidak bisa mendapatkan tempat yang layak bagi golongan elite atau penguasa. Subaltern yang dikatakan oleh Spivak tidak dapat berbicara, hanya bisa bungkam dan tidak ada telinga bagi golongan elite untuk mendengarkan.

PEMBAHASAN

Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa karya sastra merupakan cermin dan representasi kondisi masyarakat tempat karya itu dilahirkan. Melalui novel Life & Times of Michael K, Coetzee menggambarkan Michael K yang mengalami perlakuan tidak adil yang membuat ia merasa dirinya rendah dan tertekan. Dia ingin berbicara, melawan, dan berpendapat, tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk hal itu.

Menurut Spivak, kelas subaltern merupakan sekelompok kelas marginal (non-elite) yang didesak oleh garis-garis kultural dan pengetahuan yang memproduksi subjek kolonial. Maksudnya, subaltern tidak bisa terlihat tanpa pemikiran elite, sehingga keberadaannya selalu dilupakan bahkan saat ditampilkan subaltern merupakan sesuatu yang tidak berarti (Morton, 2008:167).

Hal tersebut terlihat pula dalam novel Life & Times of Michael K. Di dalam cerita tersebut, Michael K direpresentasikan sebagai kelas marginal, sedangkan kelompok militer direpresentasikan sebagai kaum dominan. Posisi Michael K sebagai subaltern berhadapan dengan kehidupan sosial dan kelompok militer yang memperlakukannya secara tidak adil. Penulis akan menganalisis tentang kondisi yang dialami Michael K sebagai subaltern sebagai berikut.

Dalam perjalanannya menuju Prince Albert, Michael dijegat oleh salah satu tentara. Menyadari bahwa Michael adalah tunawisma, tentara itu melakukan perbuatan semena-mena; yakni mengambil barang-barang yang dibawa oleh Michael K. Terlihat pada kutipan ini:

 

K menjilat bibirnya. “Itu bukan uangku,” katanya parau. “Itu uang ibuku, ia bekerja untuk itu,” Itu salah: ibunya sudah meninggal, ia sudah tak butuh uang lagi. Sudah pasti. Kemudian sunyi. “Menurutmu perang itu untuk apa?” tanyanya. “Untuk menyita uang orang lain?”

“Menurutmu perang itu untuk apa?” kata tentara itu, meniru-niru gerak bibir K. “Pencuri. Awas. Kau boleh mengendap-endap  dengan dengan lalat mengerumunimu. Jangan menceramahi aku tentang perang.” (Hlm.47)

 

Terlihat bagaimana Michael K yang merupakan kaum minoritas tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya melihat barangnya diambil, meski pada akhirnya ia mencoba mempertahankannya  tapi tetap saja sia-sia.

Kemudian ketika ia sudah berada di kereta menuju Prince Albert, tiba-tiba jalanan rusak oleh longsor. Warga sipil yang ada di dalam kereta, dipaksa kerja paksa oleh tentara untuk memperbaikinya, termasuk si Michael K. Sebagai kelompok yang tidak bisa melakukan apapun, ia akhirnya menuruti perintah si tentara. Terlihat pada kutipan berikut.

Lututnya diketuk-ketuk. “Bangun!” kata sebuah suara. Ia susah payah merangkak, dan dalam keremangan menatap mandor regu bermantel dan bertopi.

“Mengapa aku harus bekerja di sini?” katanya. Kepalanya tertunduk; kata itu terdengar bergema dari tempat jauh.

Mandor itu mengangkat bahu. “lakukan yang diperintahkan,” katanya. Ia mengangkat tongkat dan menekankan ke dada K. K mengambil sekop. (Hlm.55)

Dari kutipan di atas, dapat kita ketahui bahwa posisi Michael K sebagai subaltern membuatnya tersiksa, selain kelelahan karena kerja paksa ia juga jatuh sakit karena kelaparan.

Setelah kerja paksa itu selesai ia lakukan, akhirnya kereta jalan. Sesampainya di stasiun, Michael K langsung mencari toko untuk membeli makanan. Hanya saja karena tampang yang ia miliki memiliki kecacatan fisik (sumbing) dan penampilannya yang berantakan membuat ia ditolak di sebuah toko. Seperti pada kutipan berikut.

 

K sudah meraih pintu bahkan hendak melangkah masuk ke dalam toko, ketika seorang perempuan tua kecil membawa kerangjang hitam dengan lengan terulur menghampirinya. Sebelum K menguatkan diri, ia sudah memaksa K berbalik kembali ke pintu dan dengan gemerincing grendel mengunci pintu di depan muka K. K mengintip lewat kaca dan mengetuk; ia memperlihatkan uang sepuluh rand untuk menunjukkan niatnya, tapi perempuan tua itu, tanpa banyak menoleh, menghilang di belakang meja tinggi. (hlm.58)

 

Penampilannya yang mencerminkan kelas sosial bawah, ia begitu terdiskriminasi, terabaikan dan diacuhkan oleh orang-orang sekitar. Terlihat juga pada kutipan berikut.

 

Ia bicara pada polisi dalam mobil van. “Di mana aku bisa dapat makanan?” tanyanya. “Aku tidak minta ke sini. Sekarang, di mana aku harus dapat makanan?”

“Ini bukan penjara,” jawab polisi.  “Ini kamp. Kau harus kerja biar bisa makan seperti setiap orang lain di kamp.”

“Bagaimana aku bisa kerja bila di penjara? Mana kerja yang harus aku lakukan?”

“Bajingan,” jawab polisi itu. “Tanya teman-temanmu. Kau pikir siapa kau hingga aku wajib memberimu hidup gratisan?” (Hlm.104)

 

“Sekarang, begitu uang kau dapat, hanya ada satu tempat untuk membelanjakannya, yaitu Prince Albert, mendadak saja harga-harga naik. Mengapa? Karena kau dari kamp. Mereka menolak ada kamp dekat-dekat dengan kotanya. Mereka selalu menolak. Di sejak awal mereka ramai-ramai berkampanye menolak kamp. Kita membiakkan penyakit, kata mereka. Kotor, amoral. Sekumpulan orang tak beradap, laki-laki dan perempuan sama saja. Menurut mereka, sebaiknya dibangun pagar di tengah-tengah kamp, laki-laki di satu sisi, perempuan di sisi lain, diawasi anjing setiap malam. Yang sebenarnya mereka inginkan—ini menurutku—ialah agar kamp dipindahkan jauh-jauh ke pusat Koup, jauh dari pandangan. Lalu kami boleh datang sambil berjingkat-jingkat di tengah malam seperti peri, mengerjakan tugas mereka, merawat kebun mereka, membersihkan pot, dan pulang saat pagi meninggalkan segala semua dalam keadaan bersih dan rapih.” (Hlm.110-111.)

 

Di pagar K bicara pada penjaga: “Bolehkah aku ke luar?”

“Kupikir kau sakit. Pagi tadi kau bilang kau sakit.”

“Aku malas bekerja. Mengapa aku harus bekerja? Tempat ini bukan penjara.”

“Kau malas bekerja tapi ingin orang lain memberimu makan.”

“Aku enggan makan sepanjang waktu. Kalau aku ingin makan, aku akan bekerja.”

Penjaga itu menduduki kursi di teras pos penjaga menenteng senapan bersandar di dinding sampingnya. Ia tersenyun ke kejauhan.

“Jadi, apa kau bisa membuka gerbang?” tanya K.

“Hanya satu cara untuk pergi, dengan orang  yang kerja,” jawab penjaga.

“Dan jika aku melompati pagar? Apa yang akan kau lakukan jika aku meloncati pagar?”

“Kau meloncati pagar dan aku akan menembakmu. Aku janji pada Tuhan, aku takkan berpikir dua kali, jadi jangan coba-coba.” (Hlm.117-118.)

 

Manusia merupakan makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain. Dalam berinteraksi dengan masyarakat, terlihat pada kutipan di atas bahwa Michael K benar-benar mendapatkan perlakuan yang begitu kasar dari masyarakat.

Polisi tiba subuh. Terdiri dari dua puluh orang pasukan, polisi reguler dan cadangan siswa laki-laki, dilengkapi anjing dan senjata, dengan seorang opsir berdiri di atap van mobil meneriakkan komando lewat megafon.Mereka bergerak berbaris mencabuti pasang, merobohkan tenda, dilipat-lipat menumpk. Mereka menerobos masuk ke dalam gubuk dan menepuk-nepuk orang yang masih tidur di ranjang. Seorang pemuda lari menghindari mereka dikejar hingga ke sudut belakang kakus, kemudian ditendang hingga pingsan, seorang anak laki-laki kecil tersudut oleh gonggongan anjing dan diselamatkan dengan berteriak-teriak ketakutan, kulit kepalanya koyak dan berdarah.(Hlm.122-123)

Dia akhirnya tahu wajar bila beranggapan bahwa kamp ialah tempat orang dikumpulkan untuk dilupakan. Sudah bukan kebetulan bila kamp diletakkan tersembunyi dari pandangan kota di jalan yang menuju entah ke mana. Tapi ia masih belum percaya bahwa dua laki-laki muda di serambi pos jaga bisa duduk dan menonton dengan tenang sambil menguap, merokok, dan sebentar-sebentar masuk untuk tidur-tiduran sementara orang-orang di depan mata mereka tengah sekarat. Bila orang-orang mati mereka membiarkan begitu saja. Bahkan orang mati kelaparan pun dibiarkan begitu saja. Tubuh tanpa nyawa sama hina dengan tubuh masih bernyawa, jika memang benar bahwa tubuh bernyawa bisa dihina.(hlm.128.)

Bahkan perlakuan polisi terhadap penghuni kamp penampung tunawisma itu benar-benar tak beradab, entah kepada seorang perempuan ataupun anak kecil.

 

Berdasarkan  kutipan-kutipan tadi, kehidupan sosial yang dialami Michael K terlihat tidak bisa berjalan seperti orang kebanyakan. Ia tidak bisa bergerak bebas dan mengemukakan pendapatnya. Bahkan untuk sekedar berjalan bebas di jalan rayapun ia tak bisa. Ia hadir sebagai seorang yang termarginalkan, baik dalam interaksi sosial dalam keluarga atau pun masyarakat. Dengan adanya penolakan dari berbagai elemen masyarakat Kehidupan subaltern-nya, membuat ia merasa tertekan dengan semua yang terjadi di sekitarnya. Keinginan Michael K untuk melawan menjadi tertahan dan membuatnya menjadi rendah diri, sehingga ia merasa dirinya pantas untuk memdapatkan perlakuan kasar dari semua orang.

KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kondisi Michael K sebagai subaltern di masyarakat terlihat dalam berbagai bidang kehidupan. Michael K mengalami perlakuan tidak adil yang membuat ia merasa rendah diri dan tertekan. Posisinya sebagai subaltern membuat ia tidak memiliki keberanian untuk menentang perlakuan orang-orang, karena tidak ada telinga yang mau mendengarnya. Sampai pada akhir hayatnya, ia tetap menjadi subaltern yang tidak dapat berbicara. Tetap menjadi gelandangan yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s