Latifah


Dan dapat dikatakan bahwa berbicara dengan diri sendiri adalah awal mula bersastra

-Gao Xingjian

I

Atas pengamatan amatir saya, mereka yang memilih masuk perminatan sastra dalam program studi sastra Indonesia, dianggap golongan yang serius untuk menjadi sastrawan. Golongan yang siap untuk mengkaji buku-buku tebal nan mahadewa bahasanya. Golongan berpeluru pengetahuan sejarah yang memiliki cukup banyak amunisi.

Sedangkan mereka yang memilih perminatan linguistik, ada yang kebelet belajar tentang linguistik forensik. Apalagi pekerjaan macam itu di era pencemaran nama baik ini tengah harum diperbincangkan. Selain itu, belajar linguistik ibarat belajar matematika yang berumus. Sehingga tak perlu sulit-sulit mengungkap historis dari suatu karya. Berkutat dengan teks sastra saja dan membedahnya dengan ragam unsur sudah sangat menyenangkan.

Semestinya, kedua perminatan ini tidak harus ada dikotomi. Sastra tetap akan belajar Sintaksis-Semantik-Pragmatik-Wacana. Linguistik tetap belajar kajian prosa-drama. Sebagai suatu rumpun, keduanya sudah pasti memiliki keterhubungan yang erat. Hanya saja terpisahkan oleh keyakinan saja. Atau bahasa kerennya prinsip.

II

Kajian terhadap suatu karya sastra kebanyakan dilakukan pada unsur eksternalnya. Terbukti dari jajaran judul skripsi yang dominan akan hal tersebut, khususnya di Universitas Negeri Jakarta sendiri. Sapardi Djoko Damono (1978:37) mengungkapkan bahwa sastra pada akhir abad kesembilan belas kebanyakan hanya dianggap sebagai gejala kedua dari struktur sosial: sebagai cermin zaman atau cermin kehidupan pengarang. Kreativitas sastra dianggap sebagai tak lebih dari hasil hal-hal yang bersifat ekstrinsik. Yang menjadi perhatian utama adalah latar belakang sejarah dan sosial; kedua latar belakang itulah yang menjadi titik tolakk penganalisisan kesusastraan.

Pada 1913 muncul respon dari Roman Jakobson dan Tomashevsky dan kelompok linguis Rusia lainnya. Mereka menawarkan sebuah pendekatan nonsosiologis yang kemudian kita kenal dengan Formalisme Rusia. Bagi kelompok ini, mereka meyakini teks sastra sebagai satu-satunya bahan untuk kritik sastra. Sastra merupakan sesuatu yang otonom alias dapat berdiri sendiri. Bila ada hal-hal dari luar, tidak serta merta disebut sebagai pengaruh.

Tentu saja pemikiran yang memisahkan sastra dengan kondisi masyarakat semacam ini ditentang oleh pemimpin Rusia kala itu, Stalin. Ia beranggapan, sastra haruslah berpengaruh terhadap masyarakat. Atas dalih tersebut, kemudian ia membubarkan kelompok ini.

Tak patah arang, Jakobson membawanya ke negeri lain, Praha. Kemudian ia mendirikan Lingkaran Linguistik Praha. Selain mengembangkan apa yang sudah ada, Lingkaran Linguistik Praha juga banyak dipengaruhi oleh pemikiran linguis Swiss, Ferdinand de Saussure. Saussure meyakini bahwa bahasa merupakan lembaga sosial yang berada di luar manusia, yang memiliki sistem linguistic (kode) yang sudah ada sebelom orang menyampaikan pesannya dalam bentuk tuturan. Dua aspek yang menjadi penting di sini ialah pelambang dan linambang atau yang dilambangkan. Poin penting dari strukturalisme menurut Saussure ialah makna sistem pada saat tertentu (sinkronik) atau cenderung bersifat ahistoris.

Ketika strukturalisme ahistoris berkembang, kemudian muncul dan berkembang juga strukturalisme historis. Pendekatan ini lah yang kemudian mempertemukan struktur dalam sebuah teks karya sastra dengan unsur ekstrinsiknya. Sebut saja tokohnya Goldmann. Baginya, karya sastra benar adanya sebagai suatu keutuhan yang hidup. Namun sebagai produk dari sosial, sastra juga berfungsi sebagai perwujudan nilai-nilai dan peristiwa-peristiwa penting di zamannya.

Ada empat ciri dari metode strukturalisme. Pertama, yakni keutuhan terhadap totalitas. Kedua, strukturalisme tidak menelaah struktur pada permukaan, tapi sampai pada dibalik kenyataan empirisnya. Metode ini memercayai bahwa struktur permukaan hanyalah hasil dari adanya struktur itu sendiri. Ketiga, sebagaimana yang disebutkan Saussure, analisis strukturnya merupakan sinkronis, bukan diakronis. Sedangkan terakhir, strukturalisme tidak percaya akan hukum sebab akibat atau antikausal. Mereka hanya meyakini hukum perubahan bentuk.

Ryan dan Tyson juga bicara mengenai struktural. Menurutnya (dalam Nurgiyantoro 2013:58)   struktur dapat dipahami sebagai sistem aturan yang menyebabkan berbagai elemen itu membentuk sebuah kesatuan yang “bersistem” sehingga menjadi bermakna. Struktur itu sendiri sebenarnya tidak berwujud, tidak tampak, tetapi ia sangat penting kehadirannya. Tak ubahnya sebagai benang merah yang menghubungkan semua elemennya.

III

Ada hal yang menarik dari pemikiran Goldmann, yakni rumusannya mengenai kosep pandangan dunia. Pandangan dunia merupakan suatu bentuk kesadarankelompok kolektif yang menyatukan individu-individu menjadi suatu kelompok yang memiliki identitas kolektif. Kepaduan internal suatu karya sastra tergantung pada pandangan dunia yang dimiliki oleh sang pengarang.

Menurut penilaiannya, karya sastra besar ialah karya yang menggarap masalah besar pula. Di mana  pengarang mampu membaca posisi dirinya sedang berada di kelas mana, berdasarkan perenungan dari sadar zamannya. Sedangkan oposisinya adalah pengarang yang sekadar menawarkan periode historis dan bersifat dokumenter saja. Sehingga Goldmann berkesimpulan, hanya sastra besar yang berbau sosiologis dan filsafat saja yang pantas di telaah (1978:37). Goldmann berpendapat fungsi pengarang adalah lawan kritis dari perkembangan masyarakat borjuis.

Namun pasca revolusi pada 1848, titik di mana menurut Sapardi, pengarang merasa bingung untuk menentukan pilihan antara melancarkan kritik atau berpihak pada nilai-nilai borjuis yang tengah berkuasa. Keterombang-ambingan pengarang yang melepas diri dari masyarakatnya ini mencapai puncaknya ketika pengarang tidak mau lagi terikat baik pada borjuis maupun proletar.

Padahal Goldmann menyebutkan, tanpa adanya pandangan dunia, sebuah karya sastra besar tidak akan tercipta. Akan tetapi tidak selamanya pendapat Goldmann menemukan kebuntuan. Sapardi sempat membantah prihal keharusan adanya masa krisis antara hubungan manusia dengan manusia lainnya untuk memicu karya sastra besar keluar. Akan tetapi sepertinya pemikiran Goldmann tentang hal tersebut sempat mewarnai keputusan panitia Nobel untuk memenangkan Gao Xingjian pada tahun 2000. Ling Shan atau Soul Mountain atau Gunung Jiwa, merupakan karya yang dihasilkan dari  krisisnya hubungan antara Gao Xingjian dengan pemerintahan Cina.

IV

Adalah Gao Xingjian, sastrawan Cina pertama yang mendapat ganjaran Nobel Sastra. Pria kelahiran 1940 ini merupakan lulusan Bahasa dan Sastra Prancis dari perguruan tinggi di Beijing pada 1962. Kemudian ia berkarier sebagai seorang kritikus dan penerjemah. Tidak hanya di bidang tulis menulis, Gao juga merupakan seniman lukis.

Masa krisis yang disebutkan sebelumnya bernama Revolusi Kebudayaan. Mao Zedong adalah aktor di baliknya. Pasca penurunannya sebagai pemimpin Cina, Mao melihat upaya-upaya yang dilakukan oleh Liu Shaoqi, penggantinya makin akrab dengan kapitalisme. Perencanaan demi perencanaan yang digagasnya mengarah pada liberalisme. Kegeraman Mao akan kondisi ini kemudian mencetuskan ide Revolusi Kebudayaan pada 1966.

Ribuan mahasiswa, buruh, petani, dan lainnya melakukan pergerakan pemutihan budaya dari kediktatoran pemimpin borjuis terhadap kaum proletar. Tahun-tahun itu Buku Merah Mao menjadi sangat tenar. Buku tersebut berisi pidato-pidato Mao guna mengguyurkan semangat revolusi.

Tidak ada lagi yang namanya kebebasan berekspresi. Apalagi bila itu mengandung unsur barat. Lukisan-lukisan mengenai keindahan alam dihangunskan. Terganti oleh lukisan mengenai traktor sawah, bendera merah, atau wajah heroik Mao. Banyak dari kaum intelektual dan seniman yang dimasukkan ke kamp pengasingan, Gao menjadi salah satu diantara mereka. di kamp tersebut, Gao dipaksa untuk membakar karya-karyanya.

Meski berakhir pada 1976, Gao masih tidak bisa menerbitkan karyanya hingga tahun 1981. Ia berhasil mengeluarkan kumpulan esai yang bila diterjemahkan berjudul Sebuah Diskusi Pembuka pada Seni Fiksi Modern. Namun dramanya berjudul Chezan berhasil membuat pemerintah gusar sehingga terjadi pembredelan termasuk beberapa karya lainnya.

Ada suatu peristiwa yang kemudian membuat Gao bertekad untuk tidak pernah kembali ke negara kelahirannya. Yaitu peristiwa di Lapangan Tiananmen pada 1989. Di mana demonstrasi besar-besaran dilakukan dan ribuan orang mati dan tentara dinilai sebagai penyebabnya. Ia meninggalkan Cina dan mendarat di Prancis. Setahun setelahnya ia pun menjadi warga dari negara romantis tersebut (penerjemah M. Rodhi As’ad, 2006:98).

Soul Mountain dikatakan oleh panita Nobel sebagai, “permadani naratif dengan beberapa tokoh utama yang saling mencerminkan satu sama lain dan mungkin menghadirkan kesatuan dan kesamaan ego.” Novel ini menghabiskan waktu selama 7 tahun. Digarap berdasarkan perjalanannya selama sepuluh bulan di Sungai Yangtze. Soul Mountain merupakan penceritaan pengembaraan di pedesaan-pedesaan Cina, pertemuan dengan petani-petani. Sebuah kisah tentang pencarian makna akan hidup.

Gao tidak memberikan nama pada tokohnya. Ia menggunakan pronomina sebagai narator. Narator pertama ialah Aku. Ia merupakan seorang pengarang yang ‘kabur’ dari ibu kota dan menyusuri sungai Yangtze. Perjalanan itu ia gunakan untuk memerhatikan kondisi masyarakat di tengah peradaban Han. Melihat bagaimana praktek perdukunan dan naluri primitif dari pesisir hutan rimba. Aku banyak bicara mengenai bagaimana revolusi kebudayaan mencoba menghapus segala kegiatan tersebut.

I have come in trough a long  and narrow valley, the two sides, of which are brown sheer rock cliffs with only some patches of dark green moss growing where there is a trickle of water. The last rays of the setting sun on the ridge at the end of the valley are red, like sheets of flames. (Soul Mountain, 94)

Narator selanjutnya ia gunakan pronominal Engkau. Engkau banyak mengeksplorasi mengenai hubungannya terhadap perempuan di masa lalu. Memunculkan Engkau, mengistirahatkan Aku dan menjadikannya sebagai penonton dari tuturan mengenai Engkau.

Tokoh Aku juga menciptakan narator ketiga, yaitu Dia. Pronomina ini yang muncul berdampingan dengan Engkau. Menuturkan apa saja. Tentang kehidupan ataupun pembicaraan mengenai orang yang mereka kenal.

Kehadiran pronomina-pronomina ini disinyalir sebagai alasan mengapa terasa tidak ada puncak konflik dalam Soul Mountain. Sebagaimana pertentangan antara tokoh protagonis dan antagonis yang dramatis tidak didapatkan di sini. Hal ini merujuk pada tema besar dari Soul Mountain, yaitu perjalanan pencarian jati diri itu sendiri. Sehingga konflik dominan justru lahir dari dalam diri.

Di laman yang dibuatnya, Zen RS, yang juga merupakan editor dari buku Pengakuan Para Sastrawan Dunia Pemenang Nobel, menyandingkan Soul Mountain dengan strategi tiki-taka ala Pep Guardiola yang masyur di dunia persepakbolaan. Pengisian peran antara tiga aktor utama di lapangan, diibaratkannya dengan penggantian peran antara Aku, Engkau dan Dia. Berikut kutipan dari bab 52 novel Soul Mountain yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. yang dilansir dari lamannya:

Engkau tahu bahwa aku bicara kepada diriku sendiri untuk meringankan kesepianku. Engkau tahu bahwa kesepian ini tak tersembuhkan, bahwa tak seorang pun bisa menyelamatkanku, bahwa aku hanya bisa mengatakannya kepada diriku sendiri sebagai teman bicaraku.

Ketika aku dengarkan engkau yang muncul dari diriku, aku biarkan engkau menciptakan dia, sebab engkau seperti aku tak sanggup menanggung kesepian, dan juga harus menemukan teman bicara.

Maka engkau bicara dengan dia seperti aku bicara denganmu. Dia terlahir dari engkau namun mengukuhkan diriku.

Sebuah perjalanan, terutama tentang pencarian jati diri, tidak akan terhenti pada sebuah akhir. Setelah pengembaraan panjangnya, tokoh utama justru hanya menemukan seekor katak kecil. Cerita itu yang kemudian dijadikan bab penutup oleh Gao.

Sejak kecil, Gao aktif menulis buku harian. Kebiasaan itu yang pada mulanya melatarbelakangi penciptaan Soul Mountain. Tidak ada tendensi dalam dirinya untuk bisa menerbitkan karyanya tersebut.

Di bawah tekanan Mao Zedong, kebebasan berintelektual hanya didapat dari berbicara dengan diri sendiri. Sastra, bagi Gao, tidak akan pernah berkembang dalam situasi seperti itu. Sebab Gao mulai menyadari bahwa kedudukan sastra menjadi penting sebagai pemelihara kesadaran manusia.

Apa yang ingin saya katakan di sini adalah bahwa sastra itu hanya dapat menjadi suara individu dan selalu seperti itu. Tatkala sastra diusung sebagai himne suatu bangsa, bendera suatu ras, musik suatu partai politik atau suara suatu kelas atau kelompok, sastra berubah menjadi alat propaganda yang perkasa. Bagaimanapun, sastra seperti itu kehilangan jiwa sastrawinya, berhenti menjadi sastra dan menjadi pengganti kuasa dan laba. (Gao Xingjian, 2006:16)

Begitulah kutipan dari pidato Gao ketika menerima hadiah Nobel Sastra. Ia keras bicara bahwa sastra haruslah otonom, seperti halnya yang dikatakan oleh aliran strukturalisme. Sebab Gao sendiri yang merasakan bagaimana suatu ideologi politik mendikte sastra sehingga sastra tidak lagi lahir sebagai suatu keindahan yang memiliki nilai, melainkan sebatas alat.

Beberapa literatur menyebutkan bahwa Soul Mountain merupakan otobiografi. Gao mengakuinya dengan mengatakan Soul Mountain merupakan rekaman kesepian dirinya akan sensor yang terlampau mengekang kreativitasnya. Baginya, menulis merupakan sebuah kebutuhan. Oleh sebab itu, baginya, alasan utama dari lahirnya karya sastra ialah sebagai pemenuh kebutuhan dari sang pengarang itu sendiri. Perihal pengaruhnya terhadap masyarakat, sebagaimana yang digadang-gadang oleh Mao Zedong, tidaklah dipengaruhi oleh keinginan pengarang. Sehingga proses suatu karya terlepas dari keinginan untuk menciptakan pengaruhnya terhadap masyarakat.

V

Di tengah permasalahan sastra dan pengharapan sebagai alat perubahan dalam masyarakatnya, Gao juga cukup kritis membaca zaman. Mungkin saja ini dipengaruhi oleh budaya Eropa, tempanya hidup kini. Persoalan sastra bukan berarti berhenti tatkala Revolusi Kebudayaan runtuh. Namun ada semacam permasalah global, yang bisa terjadi di belahan dunia manapun.

Gao mengakui bahwa karya sastra tidak terlepas dari problematika mekanisme pasar. Di mana sebuah selera ramai-ramai diproduksi dan diperbaharui. Baginya, sastra hanya akan bunuh diri apabila menggantungkan nilai estetisnya berdasarkan pasar. Bukan ranah pengarang untuk merisaukan apakah bukunya akan diterima oleh masyarakat atau tidak.

Hubungan antara pembaca dan pengarang hanyalah sebatas teks sastra. Sebab seperti yang selalu disebutkan di sini, sastra tidak memiliki tanggung jawab apapun terhadap suatu kondisi masyarakatnya. Gao menyebutnya sebagai sastra dingin.

Akan tetapi terciptanya hubungan sebagaimana Gao inginkan nampaknya akan sulit tercipta. Ketika di masa lampau, sastra harus bertarung dengan politik. Di masa ini, perjuangan sastra tidak berhenti untuk melawan budaya konsumerisme.

Rujukan:

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasan Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan

Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

  1. Pengakuan Para Sastrawan Dunia Pemenang Nobel. Diterjemahkan oleh: M. Rodhi As’ad. Yogyakarta: Pinus Book Publisher

http://www.tionghoa.info/revolusi-kebudayaan-di-china/

http://panditfootball.com/editorial/170103/tiki-taka-gunung-jiwa/2

http://docs.lib.purdue.edu/clcweb/vol14/iss4/1>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s