FEBRI IRDIAN


Dalam berbagai hal kata terbaik atau menjadi yang terbaik , memiliki peran tersendiri , dalam sebuah acara penghargaan, entah itu hanya sebagai bentuk retorika belaka  dan perayaan semu bagi kita yang mengganggapnya skeptis, atau pemenangnya telah di atur bagi kita yang antipati terhadap acara tersebut, namun tidak adil bukan , jika kita tidak melihatnya dari segi yang berlawanan, mungkin saja ada hal positif yang bisa kita dapat , entah itu kita bisa membahas kenapa ia bisa menang, bagaimana, dan mengapa?

Dalam dunia kesusastraan , melihat yang terbaik tentulah menjadi hal yang cukup mengereyitkan dahi, berbagai pendapat dan argumen bisa saling sikut untuk menentukan mana yang lebih baik di antara yang terbaik, terlepas dari pertimbangan dan alasan apapun , jika kita merujuk untuk melihat karya sastra apa yang “terbaik” ,mungkin pagelaran Nobel sastra dapat di jadikan referensi karya sastra dunia apa yang sekarang sedang mendunia dan di akui dunia

Melihat perkembangan kesusastraan dunia belakangan ini , ada baiknya kita melihat daftar karya karya yang berhasil meraih gelar nobel sastra terakhir , sekaligus mengulas karya tersebut , kenapa dapat meraih penghargaan itu , karna tidak mungkin bukan, dia terpilih begitu saja tanpa alasan yang jelas, pasti terdapat nilai lebih yang membuat karya sastra itu terpilih , namun saya tidak hanya membahas buku dari peraih nobel sastra saja buku buku lain yang juga berpengaruh dalam rentang waktu 15 tahun terakhir , tentu cukup layak untuk di bahas .

Omar paruk adalah salah satu orang yang berhasil meraih perhargaan nobel sastra. Salah satu karya sastra nya  berjudul Snow , atau yang dalam bahasa indonesia oleh penerbit serambi di beri judul di balik keheningan salju adalah salah satu buku terbaik yang membuat ia berhasil meraih gelar itu pada tahun 2004.

Buku snow adalah buku   yang membahas konflik antara Islamisme dan Baratisme di Turki modern. New York Times mencatat Snow sebagai salah satu dari Sepuluh Buku Terbaik untuk 2004. Ia juga menerbitkan sebuah memoir/catatan perjalanan İstanbul-Hatıralar ve Şehir pada 2003 (Versi Inggris, Istanbul-Memories and the City (Istanbul-Kenangan dan Kota) 2005). Pada 2005 Orhan Pamuk memenangkan Hadiah Perdamaian Pameran Dagang Buku Jerman senilai 25.000 Euro untuk karya sastranya di mana Eropa dan Turki Islam menemukan tempat untuk satu sama lain. Ini adalah hadiah buku paling bergengsi Jerman yang diberikan di Gereja St. Paulus di Frankfurt.

Tokoh utama Snow adalah Kerim Alakuşoğlu yang lebih suka dipanggil inisialnya, Ka, seorang penyair yang masih lajang dalam usianya yang ke-42. Ia meninggalkan Istanbul menuju sebuah kota bernama Kars, dalam sebuah perjalanan di tengah-tengah badai salju. Ka baru datang dari Jerman setelah 12 tahun meninggalkan Turki dan menjadi tahanan politik, kendati ia tidak pernah benar-benar menjadi aktivis politik. Ka adalah seorang pria yang jujur, beriktikad baik, dan melankolis (hlm. 11). Ia bermasalah dengan kebahagiaan, menghindari kebahagiaan karena takut akan kepedihan yang mungkin mengikuti kebahagiaan itu.

 

Sebenarnya Ka datang ke Istanbul hanya untuk menghadiri pemakaman ibunya. Tapi setelah 4 hari di kota itu, ia memutuskan mengadakan perjalanan ke Kars, kota yang ia pernah kunjungi 20 tahun berselang. Ia datang ke Kars dengan tujuan meliput pemilihan walikota yang akan segera berlangsung setelah walikota Kars tewas dibunuh. Selain itu ia bermaksud menguak misteri epidemi bunuh diri yang melanda sejumlah gadis di Kars, salah satunya, gadis dari kelompok ‘gadis-gadis berjilbab’.

 

Seorang teman sekelas Ka dahulu di Istanbul, si cantik Ipek Yildiz, ternyata telah menetap di Kars bersama Turgut, ayahnya yang ateis, dan Kadife -adiknya, mantan model yang telah menjadi pemimpin ‘gadis-gadis berjilbab’. Mereka mengelola Hotel Istana Salju. Ipek telah bercerai dari suaminya, Muhtar, yang berambisi menjadi walikota Kars. (Saya tidak setuju dengan sinopsis sampul belakang novel yang menyebutkan bahwa Ka berhasrat untuk menemukan cinta masa lalunya karena dalam novel tidak digambarkan jika Ka pernah jatuh cinta atau menjalin cinta dengan Ipek sebelumnya). Di Kars, Ka menghuni Hotel Istana Salju sambil melakukan investigasi. Seiring dengan investigasinya, badai salju menutup jalan keluar dari Kars dan membuat kota ini terisolasi.

 

Kedatangan Kar dalam posisi sebagai jurnalis koran Republican membuat berbagai kalangan penasaran dan ingin tahu motivasi Ka yang sebenarnya. Hal ini membuat hidupnya mau tidak mau berpapasan dengan berbagai karakter seperti pengelola koran lokal Kars (Serdar), anggota kepolisian, prajurit pembela negara sekuler Turki, agen MIT, syekh karismatik bernama Saadettin Cevher, seorang lelaki cacat yang menganggap dirinya sebagai agen Islam tetapi bermental Casanova, murid-murid madrasah aliah yang tengah bergelut dengan cinta dan cita-cita serta seorang seniman teater yang mencoba bangkit dari kegagalan karier masa lalunya. Kars yang terisolasi dalam selimut salju, ternyata bukan tempat yang damai dan bebas teroris seperti yang diungkapkan oleh Kasim Bey, asisten kepala polisi Kars.

Diawali dengan peristiwa pembunuhan direktur Institut Pendidikan Kars -Profesor Nuri Yilmaz- oleh seorang ekstremis Muslim yang disaksikan Ka dan Ipek di sebuah toko kue, investigasi Ka berubah menjadi usaha untuk menyelamatkan diri sendiri. Ia mesti melalui rangkaian peristiwa yang akhirnya meledak dalam sebuah kudeta berdarah pada sebuah pementasan teater dan berakhir dengan terbunuhnya seorang seniman teater yang ambisius.

Snow hadir bagaikan refleksi kehidupan bangsa Turki sendiri. Sebuah bangsa yang terbelah antara tradisi, agama, dan modernisasi. Terdapat kalangan yang membenci modernisasi dan pengaruh Eropa, tapi juga ada kalangan yang menyukai dan mendukungnya. Eropa dianggap kafir dan menjadi impian yang membuat bangsa Turki mengabaikan kebudayaannya sendiri. Pertentangan dua kubu membuat terciptanya perseteruan yang merambat ke dunia politik antara kaum sekuler dan kaum islamis. Dalam novel ini pertentangan diperlihatkan secara jelas melalui kasus pelarangan pemakaian jilbab terhadap siswa-siswa perempuan di institusi pendidikan yang antara lain telah menyebabkan seorang gadis berjilbab memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Pelarangan ini merupakan keputusan negara sekuler Turki. Hal ini tentu saja mendatangkan kemarahan pada berbagai kalangan Muslim yang mendukung teguh pemakaian jilbab dan rela membela walau harus melakukan tindakan kriminal. Kenyataannya, di Turki, memang tidak leluasa warganya untuk memilih keyakinan yang diinginkan. Lihat saja apa yang membawa Ka bertengger di ujung tanduk.

Dalam novel ini, Orhan Pamuk memperlihatkan dirinya sebagai novelis yang senang menggunakan narator spoiler. Narator yang ada dalam novel tak segan-segan menceritakan apa yang akan terjadi pada tokoh-tokoh yang ditemui Ka, sementara dalam ceritanya Ka sendiri belum mengetahuinya. Dan hal ini telah dimulai sejak bab pertama.

 

Dear Life karya Alice munro adalah karya berikutnya yang menurut saya sangat menarik untuk di bahas, karna Saat Alice Munro dianugerahi hadiah nobel, banyak yang mengatakan ini adalah kebangkitan para cerpenis. Selama ini cerpen selalu dianggap berada di belakang novel. Namun Alice Munro yang sepanjang karir menulisnya hanya menulis cerpen, dianugerahi sebagai “master of the contemporary short story“ bahkan disebut-sebut sebagai Canadian’s Chekov “Chekov dari Kanada”. Dear Life adalah kumpulan cerpen terakhirnya setelah menggantung pena (red: pensiun menulis).

Kesan feminis atau minimal pembelaan terhadap kaum perempuan terasa sepanjang cerita-cerita Alice Munro. Tokoh-tokoh perempuan yang digambarkan Alice Munro memiliki banyak layer dalam kehidupannya. Sebaliknya tokoh laki-laki digambarkan sebagaimana laki-laki pada umumnya, bahkan beberapa digambarkan berperangai buruk terhadap pasangannya. Dalam cerpen Leaving Maverley, suami Leah memiliki kebiasaan minum alkohol dan berperilaku kasar pada Leah. Bahkan dalam cerpen Amudsen, kekasih Miss Hyde adalah lelaki yang tidak pernah disukainya.

Kesan laki-laki yang mendominasi juga tampak secara jelas dalam cerpen Haven (diterjemahkan menjadi Surga). Cerpen ini juga menjadi salah satu cerpen favorit saya. Paman Jasper, suami Bibi Dawn, bersikap konservatif, agamis, tidak suka musik, dan terkesan selalu ingin dihormati oleh istrinya. Bibi Dawn bahkan secara tegas mengatakan bahwa tugas terpenting seorang perempuan adalah menciptakan surga bagi suaminya.(hal.112) Sikap Paman Jasper terhadap saudara perempuannya Mona juga terkesan sangat kaku. Paman Jasper tidak setuju dengan pilihan Mona untuk menjadi musisi. Paman Jasper yang seorang dokter terhormat digambarkan mengalami titik balik saat kematian Mona.

Kekuatan cerpen Alice Munro terletak bagaimana dia mengungkapkan pemikiran tokoh perempuan, serta kejernihan dalam bahasa, bila membaca versi english tidak akan menemukan banyak metafora yang lebay. Hampir semua ceritanya berkisah tentang perempuan dengan aneka persoalan. Alice Munro pula menyisipkan pembelaan terhadap perempuan.

Kejernihan bahasa yang realis menjadi kekuatan dominan Alice Munro. Gaya ini menguatkan pilihan tema Alice Munro, sehingga pesan akan tersampaikan tanpa distorsi. Kebanyakan cerita Alice Munro adalah deretan kejadian-kejadian dengan durasi yang panjang, atau para kritikus sastra menyebutnya bildungsroman. Saya sendiri membayangkan Alice Munro duduk di dalam kereta, kemudian menggunakan jendela kaca yang terus bergerak untuk menuliskan cerita. Sehingga ceritanya memiliki durasi yang panjang dan mampu merekam banyak kejadian.

Buku berikutnya ada buku dari etgar keret yang berjudul the seven good years , buku yang terbit tahun 2016 ini cukup unik, selain karna sang penulis berasal dari israel yang notabene menjadi musuh perdamaian dunia, kita bisa melihat sisi lain dari masyarakat dan sudut pandang mereka yang berbeda lewat karya dari etgar keret ini.

The Seven Good Yearssebagaimana judulnya, menceritakan rentang tujuh tahun dalam masa hidup Etgar Keret, yang sebetulnya tidak bisa dibilang membahagiakan juga, menurut saya. Dan benar, buku ini adalah memoir,kisah-kisah dalam buku ini pun penuh dengan lelucon khas Keret.

Keret membuka dan menutup memoarnya dengan cerita yang tepat. Seorang wartawan meminta pendapatnya tentang perang dan ia kecewa ketika Keret tidak bisa memberi opini yang orisinil. “Hal baru apa yang bisa orang katakan tentang perang?” Ia menatap anaknya yang baru lahir dan berharap suatu hari dunia akan lebih damai dan ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentang perang dengan visi yang baru. Cerita penutup, “Pastrami” adalah salah satu favorit saya, menggambarkan dengan sangat bagus bagaimana Keret dan istrinya bekerjasama menenangkan anak mereka di tengah situasi perang.

 

Selain bikin ngakak, kadang-kadang cerita Etgar Keret juga membuat sedih dan terharu. Lebih sering ketika ia mulai bercerita tentang ayahnya-orang yang memunculkan sikap optimisme dalam pikiran-pikiran sinis Keret. Dalam sebuah fragmen, Keret menulis tentang sepatu ayahnya. Ia pergi ke sebuah acara sastra di luar Israel beberapa minggu setelah ayahnya meninggal. Alih-alih membawa sepatunya sendiri, ia membawa sepatu ayahnya. Namun, ketika ia mengenakan sepatu itu, ternyata ukurannya pas.

 

“Buku adalah cermin, ia hanya merefleksikan apa yang sebenarnya sudah ada di dalam dirimu,” kata Carlos Ruiz Zafón. Rasanya saya cukup sepakat. Membaca The Seven Good Years bikin saya kangen sama ayah, ibu, dan adik saya sendiri. Saya merantau dan hanya pulang sekali setahun dan hanya menelepon mereka di saat mereka berulangtahun. Kadang-kadang saya merasa bersalah. Buku-buku yang bercerita tentang keluarga, seperti memoar Etgar Keret tersebut, kerap memunculkan perasaan-perasaan semacam itu.

Life of Pie karya yann martel menjadi buku selanjutnya yang pantas untuk di bahas , Buku ini adalah salah satu buku peraih penghargaan Booker Prize tahun 2002. Life of Pie bercerita tentang Kehilangan seluruh anggota keluargamu sekaligus, kemudian mendapat sebuah keluarga yang sama sekali baru mungkin adalah mimpi buruk, tapi tidak begitu buruk bagi Piscine Molitor Patel. Setidaknya itu tidak seburuk ketika keluarga barumu adalah sekumpulan binatang: Seekor Harimau seberat 225 kg, seekor zebra, seekor orang utan, dan seekor hyena yang kelaparan. Seakan belum cukup, Pi–panggilan piscine, harus hidup bersama “keluarga baru”nya selama 7 bulan di tengah samudera pasifik, setelah tragedi yang menenggelamkan kapal yang ditumpanginya menuju Kanada, yang menenggelamkan serta seluruh keluarga dan kenangan-kenangan yang dicintainya.

Dalam 2 hari saja sejak hidup baru Pi di tengah laut, penumpang sekoci Pi hanya tinggal dirinya dan si harimau. lainnya tumbang dan kalah oleh hukum rimba; siapa yang kuat dia yang makan. Korban terakhir yang jatuh adalah si hyena lapar yang diterkam dengan santai oleh Richard parker, harimau berkulit jingga dan bergigi tajam itu. Tidak mau menjadi korban selanjutnya, Pi mengupayakan segala akal dan tenaga agar mereka berdua dapat hidup berdampingan tanpa saling membunuh.

Inti cerita dari buku ini adalah Survival, memahami perilaku binatang, lalu ada juga dialog antar agama dalam kisah nya, dan sarat akan filosofi kehidupan ,lewat pemikiran pemikiran tokohnya, Apa yang luar biasa dari kisah Pi ini? Ia tidak pernah menyalahkan Tuhan sekalipun ia karam di tengah lautan dengan seekor harimau besar. Bahkan, sang Richard Parker pun pergi begitu saja tanpa pernah menyakiti Pi ketika mereka akhirnya terdampar di pantai Meksiko.

Middlesexmenjadi best seller internasional. Melalui novel ini pula JefreyEugenides memperoleh hadiah Pultiltzer Prize pada tahun 2003. Middlesex juga masuk dalam Book Club Oprah, dan seperti yang sudah-sudah, setiap buku yang masuk dalam Book Club Oprah, pastilah akan menuai sukses yang berkepanjangan.

Novel tebal (810 hl) ini memang menarik untuk disimak. Eugenides membaginya kedalam 4 bagian besar yang dibagi lagi kedalam 28 bab dengan Call sebagai naratornya. Karakter Call yang diciptakan Eugenides dan cara beruturnya tampak begitu hidup sehingga pembaca seolah-olah sedang membaca kisah nyata dari kehidupan seorang berkelamin ganda. Apalagi ditambah dengan tersajinya penelitian-penelitian Dr Luce mengenai kasus hermaprodit pada manusia yang tampaknya diambil oleh penulisnya dari berbagai jurnal kedokteran.

Eugenides juga tampak begitu sabar dalam mencari akar kelainan yang dialami Call. Setting waktunya membentang lebih dari 50 tahun. Melewati berbagai kejadian politik di Yunani, melewati masa-masa PD II dan perang Vietnam, mengungkap mencekamnya situasi kerusuhan rasial di Detroit Amerika di tahun 67. Kisahnya mengurai kehidupan 3 generasi keluarga Stephanides dengan detail. Setiap generasi memiliki kisahnya sendiri, eksplorari karakter tokoh-tokohnya sama-sama kuat.

Tak ada yang berlebihan dalam kisah dan karakter tokoh-tokohnya, novel ini tersaji dengan sangat wajar dan manusiawi sehingga kita seolah-olah sedang membaca sebuah memoar dari seorang tokoh nyata. Melalui kisah Call ini kita akan tersentuh oleh pencarian jati diri Call, tertawa dengan kejenakaan yang kadang muncul dalam kisahnya, dan memperoleh pengetahuan baru tenan dunia gen, bagiamana terbentuknya alat kelamin pada janin dan kasus hermaprohdit pada manusia. Sungguh sebuah novel yang mencerdaskan dan layak dibaca oleh siapa saja.

Afghanistan, debu, perang tak berkesudahan, kekolotan dan fanatisme. Itu mungkin gambaran banyak orang tentang negara tak berlaut di Asia Tengah. Afhanistan adalah kisah tentang perjuangan bangsa-bangsa menaklukkan bentang alam yang angkuh, yang bergunung-gunung, yang menyisakan debu di setiap mata memandang.

The Kite Runner adalah novel yang ditulis oleh penulis kelahiran Afghanistan, Khaled Hoseeini. Hosseini yang kini bermukim di Amerika adalah seorang putra diplomat yang yang dilahirkan di Kabul pada 1965. Saat ayahnya ditugaskan ke Paris 1976, ia meninggalkan Afghanistan dan tak bisa kembali ke tanah kelahirannya karena pada 1980 Rusia telah menduduki Afghanistan. Keluarga Hossseini akhirnya mendapat suaka politik dari pemerintah Amerika Serikat dan hingga kini ia tinggal di California dan menjadi seorang dokter.

Novel The Kite Runner merupakan karya perdananya dan juga novel Afghan pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris. Novel ini menggambarkan suasana Afghanistan sebelum Rusia menginvasi negara ini (1979) hingga jatuhnya kekuasaan rezim Taliban. Ceritanya sendiri mengisahkan tokoh Amir yang dalam novel ini bertindak sebagai narator. Di masa kecilnya, Amir-yang ditinggal mati ibunya ketika melahirkannya-tinggal bersama ayah yang dipanggilnya Baba, dan pelayannya Ali serta putra Ali, Hasan, yang juga menjadi sahabatnya.

Awalnya hanya kisah antara 2 anak manusia, Amir dan Hassan. 2 anak kecil yang tak tahu apa-apa namun terpisah strata. Satu anak orang berpunya, satu anak orang papa. Kisah ini lalu berlanjut menjadi kisah persahabatan, sedikit dibumbui segregasi strata.

Perbedaan garis antara si kaya dan si miskin sudah dipaparkan dengan tegas oleh Khaled Hosseini, si pengarang sejak kisah ini bermula. Hassan dicitrakan selalu melindungi dan melayani Amir, seolah Hassan mengikuti garis nasib keluarganya yang turun temurun ditakdirkan sebagai khadimat keluarga Amir.

Garis pemisah tak hanya disini saja. Afghanistan adalah persoalan dimana perbedaan suku dan kepercayaan bisa membuat orang berkalang darah. Amir adalah Pashtun – Sunni tulen, sementara Hassan adalah Hazara – Syiah yang taat. Garis mendasar itu seharusnya bisa membuat alur cerita tragik, Amir dan Hassan saling bunuh atas nama suku dan Tuhan. Tapi Khaled menolak mengikuti arus umum itu, dia memilih melembutkan cerita bahwa di Afghanistan pun perbedaan suku dan kepercayaan bisa berujung indah dan rukun.

Kisah ini kemudian mengalir, awalnya lembut lalu lambat laun semakin deras. Hassan adalah martir bagi Amir, setiap Amir ditimpa kesusahan, datang Hassan membela. Setiap Amir dirudung derita, Hassan datang menggantikan Amir menanggung derita.

Dalam novel ini, Khaled dengan pintar membuat twist cerita. Mencampuradukkan emosi pembaca. Sekaligus memberikan deskripsi latar di cerita ini. Dari apa yang digambarkan Khaled, saya bisa menebak kira-kiri di era berapa lini waktu cerita ini bermula.

Kisah ini sebenarnya dibaca dengan cermat juga bermuatan sejarah dan politis. Sisi politis ini bisa dibaca tersirat ketika di Novel ini diceritakan bagaimana Soviet datang dan memporak-porandakan tatanan di Afghanistan. Komunis merubah tatanan islam yang sudah mengakar dan mereka yang tidak setuju dengan haluan politik dipaksa berdiaspora meninggalkan Afghanistan. Termasuk Amir.

The Namesake, karya Jhumpa Lahiri sebuah kisah menarik yang mengambil tema besar persoalan identitas. Novel ini mengisahkan kehidupan dua generasi keluarga Benggali yang bermukin di Amerika Serikat. Generasi pertama diwakili oleh pasangan Ashoke Gangali dan Ashima, generasi kedua diwakili oleh anak pertama mereka, Gogol. Kisahnya membentang sepanjang tiga dekade, sejak tahun 1968 hingga 2000.

Novel ini dibuka dengan peristiwa-peristiwa menjelang kelahiran anak pertama pasangan Ashoke dan Ashima Gangali di Amerika Serikat. Sesuai dengan tradisi keluarga, nenek Ashimalah yang akan memberi nama pada bayi mereka, karenanya mereka sepakat untuk menunda memberi nama bayi hingga surat sang nenek yang berada di Calluta datang. Nenek Ashima mengeposkan suratnya sendiri. Surat itu berisi satu nama bayi laki-laki, satu nama bayi perempuan. Tak seorangpun tahu apa yang ditulis oleh sang Nenek.

Malangnya ketika Ashima sudah melahirkan, surat berisi nama bayi itu belum mereka terima. Bahkan hingga tiba saat Ashima dan bayinya harus dibawa pulang ke rumah, surat berisi nama pemberian tersebut tidak pernah datang. Hingga Nenek Ashima hilang ingatan dan meninggal dunia, surat tersebut tak pernah sampai.

Keharusan untuk memberi nama bayi sebelum pulang oleh petugas catatan sipil di rumah sakit tiba-tiba dalam benak Ashoke muncul sebuah nama untuk putranya. “Gogol”.Seketika itu juga dicatatlah bayi pasangan Ashoke dan Ashima dengan nama Gogol Ganguli , nama yang aneh dan tak lazim bagi keluarga Bengali.

Walau tokoh utama dalam novel ini adalah Gogol, kehadiran tokoh-tokoh lain seperti Ashoke, Ashima, Sonia, Moushomi, dll, disajikan sesuai dengan porsinya masing-masing sesuai dengan tuntutan cerita. Perpindahan cerita dari satu tokoh ke tokoh lainnya pun tersaji dengan lancar sehingga tak membingungkan pembacanya. Selain itu kedalaman dalam mendeskripsikan satu persatu tokoh-tokoh dalam novel ini baik fisik maupun pikiran mereka, ditambah infromasi mengenai budaya masyarakat India di Amerika membuat kisah ini menjadi kaya akan informasi.

Melalui novel ini juga pembaca seakan diajak menyelami kehidupan keluarga imigran India di AS. Walau sudah tinggal dan menetap sekain lama di Amerika mereka tetap melakukan ritual sehari-hari yang biasa mereka lakukan di tanah kelahiran mereka, begitu pula dengan tradisi tahunan yang berlatarkan agama Hindu. Hal-hal tersebut kerap dilakukan oleh masyarakat Bengali yang lahir di India dan menetap di Amerika seperti halnya Ashoke dan Ashima. Mulai dari pakaian Ashima yang selalu mengenakan sari, memasak makanan India, pertemuan rutin sesama keluarga Bengali, dll. Dengan demikian, walau mereka sudah berwarga negara Amerika akar budaya India tetap melekat dalam diri mereka.

Membaca judul novel ini, The Brief Wondrous Life of Oscar Waokarya Junot Diaz saya mengira cerita akan berpusat pada tokoh utama bernama Oscar Wao, dan ia akan menjadi tokoh tunggal di mana seluruh plot bermula atau bermuara padanya. Ternyata saya keliru. The Brief Wondrous Life of Oscar Wao adalah kronik tentang sebuah keluarga. Lebih tepatnya lagi, kronik tentang sebuah keluarga Republik Dominika yang hidup di bawah rezim seorang diktator: Rafael Leónidas Trujillo Molina.

Rafael Leónidas Trujillo Molina, alias El Jefe, adalah politikus dan tentara yang kemudian memerintah Republik Dominika selama 31 tahun (kita juga punya sosok yang hampir sama dengan El Jefe yang memerintah Indonesia selama 31 tahun). Ia memegang tampuk tertinggi pemerintahan sejak 1930 hingga tewas dibunuh pada 1961. Junot Díaz mengambil rentang waktu ini untuk membangun plot cerita Oscar Wao dan keluarganya. Saya tidak tahu mana yang datang lebih dulu ke kepala Díaz, gagasan tentang rezim Trujillo, atau kisah tentang Oscar. Saya pikir keduanya bisa saja datang di waktu yang bersamaan (tapi saya cenderung mengira gagasan tentang rezim El Jefe datang lebih dulu).

 

Satu hal yang sangat saya senangi dari Junot Díaz adalah penulis ini punya cara yang menyenangkan untuk menyampaikan informasi ‘berat’ tentang tragedi politik dan dunia sekitarnya. Dimulai dengan seorang karakter culun dengan serba-serbi kisah cintanya yang gagal dan membuat saya tertawa-tawa, Díaz sedikit demi sedikit menyeret saya masuk ke dalam sejarah kelam Republik Dominika. Semakin menyenangkan ketika menyadari bahwa saya tak sadar sedang diseret ke sana! Saya hanya tertarik dan tertawa-tawa mengikuti kelucuan kisah Oscar, kakaknya, lalu ibunya, sampai kakeknya dan di sana lah saya tak bisa lagi tertawa, sebab Díaz menunjukkan kekejaman dan kebrutalan El Jefe, dan betapa orang-orang yang hidup di Republik Dominika tak bisa berkutik selain menuruti keinginan sang diktator, sebab El Jefe mengisolasi negaranya dari dunia luar. Hidup Oscar dan keluarganya berada dalam cengkeraman kaki-tangan El Jefe, meski pada akhirnya, sebagai sebuah anomali besar, setiap anggota keluarga Oscar memiliki jiwa seorang pelawan, pemberontak, dan keinginan murni untuk hidup dan menangkal kutukan abadi itu. Seperti La Inca, tokoh nenek, si abuela yang percaya pada kekuatan doa-doa.

Saya kira, The Brief Wondrous Life of Oscar Wao adalah sebuah pesan tak langsung kepada kita bahwa hidup selalu perihal pertempuran antara fukú dan zafa, kutukan dan doa, nasib buruk dan niat baik, iblis dan malaikat, penjahat dan pahlawan. Satu-satunya perbedaan dari kedua hal yang terkadang bisa menjadi sama kuat itu adalah, kutukan bisa datang dalam berbagai wujud, namun penangkalnya, zafa, selalu sama, yakni niat baik, tekad kuat, dan ketulusan. Setiap orang mungkin saja memiliki kutukan dalam hidupnya, atau setidaknya yang ia anggap sebagai kutukan. Namun, sesungguhnya tak ada yang mendominasi dalam dunia sempit ini, di sebelah fukú, senantiasa berdiam zafa, menunggu dipanggil oleh hati yang jernih dan berharap. Maka, kita tahu, dengan kehadiran dua hal yang berkontraposisi itu, fukú dan zafa, dunia adalah sebuah arena pertempuran yang abadi. Tak pernah usai. ***.

The Book of Laughter and Forgetting  karya Milan Kundera dibuka dengan sebuah deskripsi atas foto Klement Gottwald dan Vladimír Clementis. Klement Gottwald adalah tokoh komunis Ceko, perdana menteri Ceko pada 1946 – 1948, dan presiden Republik Ceko pada 1948 – 1953. Vladimír Clementis merupakan tokoh berpengaruh Partai Komunis Ceko yang pada foto tersebut digambarkan berdiri di samping  Klement Gottwald. Clementis dihilangkan dari foto terkenal yang diambil pada 1948 tersebut sebagai bagian dari propaganda pemerintah di masa itu

The Book of Laughter and Forgetting terdiri dari tujuh bagian yang memiliki premis serupa. Namun, ketujuh bagian tersebut memiliki plot yang tidak sangat berkesinambungan, sehingga sebenarnya The Book of Laughter and Forgetting bisa saja dibaca sebagai sekumpulan novela. Payung besar ketujuh novela tersebut adalah tentang melupakan, forgetting. Alih-alih menganggapnya sebagai karya fiksi, saya lebih memandang novel Kundera ini sebagai karya fiksi-semiotobiografi, karena meskipun membalutnya dengan cerita yang dikarang, si penulis juga menuturkan kisah hidupnya sendiri di beberapa bagian.

Politik memori dan amnesia sosial adalah apa yang saya kira coba dikatakan oleh Kundera. Kerap ia bertutur bagaimana warga kota Praha merupakan manusia-manusia yang tidak lagi memiliki kontrol atas ingatannya sendiri. Dari waktu ke waktu, dari satu masa penjajahan ke masa penjajahan lain atas kota tersebut, nama-nama jalan di kota terus-menerus berubah dan berganti, sehingga orang-orang tidak lagi ingat bagaimana nama asli jalan-jalan tersebut. Bahkan, tidak lagi merasa bahwa itu penting untuk diingat. Bukankah ‘pelupaan massal’ ini juga terjadi di tempat-tempat lain, tidak terkecuali di tempat kita tinggal, di negara kita? Atau bahkan, di diri kita sendiri? ‘Pelupaan’ yang dituturkan oleh Kundera bisa menelusup hingga ke berbagai lapisan konteks. Sejarah umum maupun sejarah individu. Dan, memang demikianlah sepertinya yang ia tuliskan di dalam The Book of Laughter and Forgetting. Kundera menuliskan bagaimana manusia-manusia dibuat lupa oleh sejarah kota dan bangsa mereka sendiri, dan tentu saja, ‘pelupaan’ ini bukannya tidak dirancang dan direncanakan. Ingat kembali foto Klement Gottwald dan Vladimír Clementis, yang dimanipulasi setelah kudeta demi kepentingan ‘membentuk’ sejarah dan membuat orang-orang lupa pada elemen-elemen yang sebenarnya dan seharusnya muncul di foto tersebut.

Hal paling cerdas yang telah dilakukan Markus Zusak di novelnya The Book Thiefsaya kira, adalah keputusannya untuk bercerita menggunakan sudut pandang Kematian. Andai Zusak tidak melakukannya dan bertutur memakai sudut pandang salah satu tokoh dalam kisah keluarga berlatar belakang perang Nazi Jerman itu, barangkali, sosok Liesel Meminger dan apa saja yang terjadi dengan orang-orang di sekitarnya tidak menjadi lebih menarik.

 

The Book Thief dibuka dengan deskripsi yang dilihat dari kacamata-dan digambarkan oleh-si narator utama: Kematian. Bab pertama pada bagian prolog novel tersebut diberi judul “Death and Chocolate”. Dengan sudut pandang orang pertama, Kematian menuturkan apa yang dia lihat, setiap kali terjadi kematian.

Tokoh Kematian atau Malaikat Maut dibangun oleh Zusak menggunakan citraan yang berbeda dari persepsi kebanyakan orang atas kematian. Kematian, kita tahu, pada umumnya adalah sesuatu yang menakutkan. Menyeramkan. Menyebutkannya saja bikin bergidik. Namun, lewat tuturannya sebagai narator utama, Kematian di novel Zusak adalah sosok (sesuatu) yang lembut, bergerak dengan perlahan, bahkan indah. Jauh dari bayangan atau persepsi manusia atas kematian. Ini dapat dilihat dari bagaimana Kematian menyampaikan isi pikirannya, apa yang ia lihat, dan (bahkan) perasaannya. Atau, setidaknya, yang kita lihat sebagai perasaannya.

Meski konteks yang diangkat terbilang berat (Perang Dunia, Nazi Jerman, Hitler, Yahudi)The Book Thief adalah novel remaja. Barangkali karena hal tersebut, Markus Zusak sadar bahwa ia tetap harus memberikan hiburan. Rudy Steiner, bocah lelaki penggemar atlet lari kulit hitam yang kemudian jatuh cinta pada Liesel Meminger, adalah salah satu karakter yang diciptakan Zusak untuk tujuan tersebut. Di sepanjang cerita saya dibuat tersenyum-senyum oleh tingkahnya dan interaksi Rudy dengan Liesel, juga bagaimana hubungan cinta monyet mereka terbangun dari rasa kesal, kejailan-kejailan, dan kenakalan-kenakalan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s