Nopriandi Saputra


The Nobel Prize in Literature atau Penghargaan Nobel Sastra merupakan hadiah kesusastraan yang paling bergengsi di dunia yang berawal dari kekecewaan Alfred Nobel (1933) terhadap penyalahgunaan dinamit hasil temuannya. Penghargaan ini diberikan kepada orang-orang yang berjasa dibidang perdamaian, sastra dan ilmu. Hadiah nobel yang berkaitan dengan kesusastraan mencakup puisi, roman, cerita pendek, esai, dan pidato/suara.
Sully Prudhome (Perancis) merupakan orang pertama yang mendapatkan hadiah Nobel (1901) atas karya-karyanya (puisi dan esai) untuk komposisi puitisnya, yang memberikan bukti idealisme tinggi, kesempurnaan artistik dan kombinasi langka dari kualitas baik hati dan pikiran. Sampai saat ini penghargaan Nobel ini masih terus berjalan.
Di tahun 2013 untuk pertama kalinya seorang cerpenis berhasil mendapatkan penghargaan sekelas Nobel Sastra, yang biasanya penghargaan ini diberikan kepada novelis. Ia juga merupakan perempuan ketiga belas yang berhasil meraih hadiah nobel sastra. Ia adalah Alice Munro seorang cerpenis yang karya-karyanya bercerita tentang kelemahan-kelemahan manusia.

BIOGRAFI ALICE MUNRO
Alice Munro merupakan penulis yang berasal dari Kanada. Ia lahir dan besar di Wingham, Ontario, Kanada. Lahir pada tahun 1931 dari keluarga petani, Alice Munro bisa mendapatkan beasiswa dari University of Western Ontario. Dia belajar hanya sekitar 2 tahun saja, 1949-1951, dan ia memutuskan untuk pindah ke Vancouver sebelum ia lulus. Ia sempat menjadi pengelola toko buku di Victoria, British Colombia selama beberapa tahun.
Terbukti, ia merupakan penulis yang produktif. Ia mengeluarkan beberapa karya seperti Friend of My Youth (1990) dan The Love of a Good Woman (1998). Dan karya-karyanya tersebut juga memenangkan beberapa penghargaan seperti Canadian Booksellers Association Award.
Pada tahun 2013, Munro memenangkan Penghargaan Nobel Sastra. Kemenangan Munro dinilai cukup unik karena untuk pertama kalinya seorang penulis cerpen memenangkan penghargaan ini. Dalam cerpen-cerpennya, penulis asal Kanada, Alice Munro bercerita tentang kelemahan-kelemahan manusia. Munro menjadi penulis perempuan ke-13 yang memenangkan hadiah Nobel Sastra yang mulai diselenggarakan pada tahun 1901.
Buku Alice Munro dalam Bahasa Inggris
Dance of the Happy Shades and Other Stories (1968), Lives of Girls and Women (1971), Something I’ve Been Meaning to Tell You (1974), Who Do You Think You Are?: Stories (1978), The Moons of Jupiter: Stories (1982), The Progress of Love (1986), Friend of My Youth: Stories (1990), Open Secrets: Stories (1994), The Love of a Good Woman: Stories (1998), Queenie: a Story (1999), Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage (2001), Runaway (2004), The View from Castle Rock (2006), Away from Her (2007), Too Much Happiness (2009), dan Dear Life (2012). Dear Life adalah buku terakhirnya yang di tulis sebelum menggantung pena.

SINOPSIS DEAR LIFE KARYA ALICE MUNRO
Dear life merupakan karya terakhir dari seorang Alice Munro sebelum memutuskan menggantung pena. Buku Dear Life karya Alice Munro merupakan kumpulan cerita pendek yang didalam bukunya terdapat 10 judul cerita, yakni Sampai Ke Jepang, Amundsen, Meninggalkan Maverley, Kerikil, Surga, Harga Diri, Corrie, Kereta, Dari Danau, Dolly, Mata, Malam, Suara, dan Kehidupan Yang Berharga. Empat cerita penutup yang disebut Munro “terasa autobiografis” karena akan membawa pembaca menilik masa kecil Munro.

SINOPSIS CERPEN SAMPAI KE JEPANG
Sekali waktu ketika membawakan koper Greta naik kereta, Peter tampak sangat ingin pergi. Namun, dia tak beranjak. Peter menjelaskan bahwa mereka hanya gelisah dan kereta itu seharusnya segera berangkat.
Musim panas itu Peter akan menghabiskan sebulan atau mungkin lebih untuk menjalakan tugas di Lund, sangat jauh ke utara sejauh yang kau bisa, di tanah daratan. Tak asa akomondasi untuk Katy dan Greta.
Akan tetapi, Greta terus menjaga hubungan dengan seorang perempuan yang pernah bekerja dengannya di perpustakaan Vancouver dan kini sudah menikah dan tinggal di Toronto. Dia dan suaminya akan menghabiskan sebulan di Eropa musim panas itu—suaminya itu seorang guru. Teman tadi menyurati Greta, menanyakan apakah Greta dan keluarganya bisa membantu mereka—perempuan itu sangat sopan—dengan menempati rumah di Toronto sebulan itu agar tak terlalu lama kosong. Greta telah membalas dengan cerita tentang pekerjaan Peter, tapi mengiyakan tawaran untuk menempati rumah itu bersama Katy.
Itulah sebabnya mereka kini melambai dan terus melabai sejak dari peron dan dari dalam kereta.

Waktu itu ada majalah The Echo Answers yang tak tentu tanggal terbitnya di Toronto. Greta menemukan di perpustakaan dan mengirim puisi-puisi ke majalah itu. Dua puisinya dipublikasikan dan ketika editor majalah tersebut datang ke Vancouver musim gugur yang lalu, dia mengundang Greta ke pesta bersama penulis lain.
Pesta itu berlangsung di rumah seorang penulis yang namanya sudah akrab di telinga Greta, agaknya, sejak lama sekali. Pesta di selenggarakan pada rembang petang, ketika Peter masih di tempat kerja. Oleh karena itu Greta menyewa pengasuh, lalu berangkat dengan bus North Vancouver menyebrangi Lions Gate Bridge dan melintasi Stanley Park. Kemudian, dia harus menunggu di depan Hudson’s Bay untuk perjalanan panjang ke kampus universitas, tempat si penulis tinggal.
Di acara pesta itu Greta bertemu dengan seorang pria di hadapannya. Dia berujar, “Kenapa kau sampai ke sini?”
Greta menukas bahwa dirinya diundang.
“Ya, tapi apa kau datang naik mobil?”
“Aku berjalan kaki.” Namum, itu tak cukup, selang sebentar saja Greta sudah menjelaskan semuanya. Dan pria itu mengantarkan Greta pulang.
“Pertama-tama, aku berterima kasih karena kau mengantarkanku pulang,” ujar Greta. “Jadi, tolong beri tahukan namamu.”
Lelaki itu berkata telah memberitahukan namanya. Mungkin malah dua kali. Tapi, sekali lagi, tak apalah. Harris Bennett. Bennett. Dia menantu dari penyelenggara pesta. Itu anak-anaknya, yang pingsan saking kebanyakan minum. Dia dan anak-anaknya datang di Toronto. Apakah Greta puas?
“Mereka punya ibu?”
“Tentu saja. Tapi, dia di rumah sakit.”
“Oh, aku turut prihatin.”
“Tak perlu. Rumah sakitnya cukup bagus. Untuk penderita gangguan mental. Atau mungkin kau akan bilang gangguan emosional.”
Greta buru-buru mengatakan bahwa suaminya bernama Peter, seorang Insinyur, dan mereka mempunyai anak perempuan bernama Katy.
“Oh, itu sangat manis,” kata Beenett, dan mulai memundurkankan mobil.
Di Lions Gate Bridge, Beenett berujar, “Maafkan aku mengatakan ini. Aku bertanya-tanya akan menciummu atau tidak, lalu keputusannya tidak.”
Greta berpikir lelaki itu mengatakan karena ada sesuatu dalam diri Greta yang membuatnya kurang menarik untuk dicium. Rasa malu Greta bagaikan tamparan keras yang mengembalikan kesadarannya.
Setelah kejadian itu Greta selalu memikirkan Beenett, lalu tahu-tahu Greta menulis sebuah surat. Surat itu tak dibuka dengan sapaan seperti umumnya. Bukan “Dear Harris.” Bukan. “Ingat Aku?”.
Menulis surat ini seperti menaruh seberkas catatan dalam botol—
Seraya berharap
Ia akan sampai Jepang.

Katy benar-benar tak mengerti bahwa keberadaan Peter di luar Peron berarti dia tak akan ikut mereka. Tatkala kerata mulai berangkat dan peter tidak ikut, Katy mulai cemas dan muram sekali. Setelah Greta mengatakan Peter akan menyusul besok pagi Katy mulai diam.
Dari seberang gang terdengar suara seorang pemuda, hampir-hampir setenang suara Katy:
Mereka mengganti pengawal di Istana Buckingham—
Christoper Robin berjalan bersama Alice.
Lalu si pemuda itu berbicara kepada Katy.
“Kupikir aku bisa menebak namamu. Apa ya? Rufus-kah atau Rover?”
Katy mengatupkan mulutnya, tetapi tak urung menjawab pertanyaan dari si pemuda itu. Lalu si pemuda mengenalkan dirinya.
“Aku anak lelaki namaku Greg. Anak ini laurie.” Greg pun mulai melanjutkan ceritanya lagi.
Dia dan Greg sebetulnya sedang minum ketika perbincangan yang mencemaskan sekaligus menyenangkan ini berlangsung. Greg lalu mengeluarkan ouzo. Greta cukup hati-hati dengannya, sebagai pelbagi minuman beralkhol yang pernah direguknya semenjak pesta penulis, tetapi efeknya sudah tampak. Cukup membuat mereka berpegangan tangan, disusul ciuman-ciuman dan belaian. Semuannya berlangsung di samping tubuh seorang anak yang sedang tidur.
“Sebaiknya kita berhenti,” ujar Greta. “Jika tidak, kita akan menyesalinya.” Bagaimana dengan anakku yang polos?”
“Kita bisa ke tempat tidurku. Tak jauh dari sini.”
Mereka pun merapikan kembali pakaian yang berantakan, kemudian menyelinap keluar dari kompartemen, dengan hati-hati mengancingkan tempat Katy sedang terlelap dan dengan sikap acuh tak acuh berjalan dari gerbong Greta ke gerbong Greg.
Di tempat tidur Greg yang tak rapi, mereka melanjutkan. Tak ada ruangan yang cukup nyaman untuk berbaring, tapi mereka lantas bergulung satu sama lain.
Setelah beberapa saat. Greta memutuskan untuk kembali ke gerbongnya untuk mengecek keadaan Katy.
Greta meraih gorden, lalu membuka seluruhnya, tapi Katy tak ada disana. Greta sangat panik. Dia lantas mencarinya ke gerbong-gerbong lain.
Dan di sana, di antara gerbong-gerbong, di salah satu lempengan logam yang terus menerus menimbulkan kegaduhan—duduklah Katy. Sepasang matanya terbuka lebar dan mulutnya sedikit terbuka, takjub dan sendirian. Tak menangis sama sekali, tapi saat melihat ibunya dia mulai menangis.
Greg pun sampai di tempat tujuannya. Ia segera turun dan melambaikan tangan kepada Greta dan Katy.
Kereta pun kembali berjalan. Saat ini hari sudah malam dan sebentar lagi Greta dan Katy sampai di Toronto.

Mereka tiba di Toronto. Disana orang-orang yang berjalan di depan Katy dan Greta mulai keluar, disambut mereka yang menunggu, memanggil, atau berjalan naik, lantas mengambilkan koper-koper.
Seperti seseorang yang kini mengambil koper mereka. Mengambil koper, membimbing Greta, dan menciumnya untuk kali pertama, dengan gembira dan mantap.
Harris.
Semula Greta terkejut, lantas batinnya bergemuruh, suatu guncangan dahsyat.
Dia berusaha terus memegang Katy, tapi kali ini si anak menjauh dan melepaskan tangan.
Anak itu tak berusaha melarikan diri. Dia hanya berdiri menunggu apa pun yang akan terjadi selanjutnya. []

KERANGKA TEORI
TEORI STRUKTURAL
Adapun cara menganalisis novel ini melalui pendekatan struktural. Pendekatan ini dipandang lebih obyektif karena hanya berdasarkan sastra itu sendiri. Tanpa campur tangan unsur lain, karya sastra tersebut akan dilihat sebagaimana cipta estetis (Suwardi, 2011:51 ).
Struktur berasal dari kata structura (bahasa latin) yang berarti bentuk atau bangunan. Struktural berarti paham mengenai unsur-unsur yaitu struktur itu sendiri dengan mekanisme antar hubungannya, Hubungan unsur yang satu dengan yang lainnya, dan hubungan antar unsur dengan totalitasnya. Strukturalisme sering digunakan oleh peneliti untuk menganalisis seluruh karya sastra, dimana kita harus memperhatikan unsur-unsur yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Struktur yang membangun sebuah karya sastra sebagai unsur estetika dalam dunia karya sastra antara lain: alur, penokohan, sudut pandang, gaya bahasa, tema dan amanat (Ratna, 2004 : 19-94).
Pendekatan strukturalisme murni hanya berada di seputar karya sastra itu sendiri. Prinsipnya jelas : analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, sedetail, dan mendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh ( Teeuw, 1984:135 ).
Dalam lingkup karya fiksi, Stanton ( 1965: 11-36, dalam Drs. Tirto Suwondo, Metodologi Penelitian Sastra, 2001:56 ) mendeskripsikan unsur-unsur struktur karya sastra seperti berikut. Unsur-unsur pembangun struktur terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana sastra. Fakta cerita itu sendiri terdiri atas alur, tokoh, dan latar; sedangkan sarana sastra biasanya terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol, imaji-imaji, dan juga cara-cara pemilihan judul. Di dalam karya sastra, fungsi sarana sastra adalah memadukan fakta sastra dengan tema sehingga makna karya sastra itu dapat dipahami dengan jelas. Adapun struktur yang membangun karya sastra meliputi; tema, plot/alur, latar, penokohan, dan sudut pandang.
1. Tema
Tema adalah gagasan atau ide dasar yang akan mendasari keseluruhan dari isi cerita. Tema ini menjadi sangat penting bagi pengarang akan membuat sebuah cerpen, karena terkait dengan apa yang akan diceritakan lewat cerpen atau novel yang akan dibuat. Tema sebaiknya bersifat aktual. Tema ini dapat berasal dari lingkungan sekitar, permasalahan dalam kehidupan masyarakat, bahkan bisa juga berasal dari permasalahan dalam diri pengarang sendiri. Permasalahan tersebut bersatu padu dengan imajinasi pengarang hingga menjadi pengisahan yang menarik dan dramatik.
2. Plot/Alur
Alur tidak begitu nampak jelas. Penyebabnya adalah pendeknya cakupan cerita dari cerpen. Olehnya itu, cara yang paling baik untuk memahami alur dari sebuah cerita, kita dapat menyampaikan kejadian/peristiwa dengan tahapan-tahapan tertentu.
3. Penokohan
Penokohan ini meliputi penentuan tokoh utama, pemberian nama, dan penggambaran wataknya. Penggambaran watak tokoh dengan segala sifatnya dalam cerita, baik secara jelas maupun samar-samar.
4. Latar
Latar cerpen dapat berupa tempat, waktu, suasana, dan budaya yang melingkupi cerpen. Latar pada cerpen sifatnya fiktif tetapi realistis. Artinya, semua latar ini hadir secara imajinatif, namun memiliki hubungan sebab akibat yang masuk akal, wajar, dan bisa diterima oleh pembaca sebagai kenyataan.
5. Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara pengarang bercerita dengan menempatkan pengarang sebagai orang pertama, kedua, ketiga, atau bahkan di luar cerita.
PEMBAHASAN

1. Tema

Tema yang terdapat dalam cerpen “Sampai Ke Jepang” karya Alice Munro ialah perselingkuhan. Ini terlihat ketika si tokoh perempuan Greta yang langsung memikirkan terus seseorang yang ia temuinya di pesta, padahal ia sendiri sudah mempunyai suami yaitu Peter. Untuk lebih lengkapnya liat kutipan berikut:

Selama musim gugur, musim dingin, musim semi berikutnya, hampir setiap hari Greta memikirkan Bennett. Rasanya seperti memimpikan hal yang sama setiap kali jatuh tertidur. Greta menyandarkan kepala ke bantal sofa sembari membayangkan terbaring dalam pelukan Bennett. (Hlm 12)

2. Plot/Alur

Alur yang terdapat dalam cerpen “Sampai Ke Jepang” karya Alice Munro ialah alur campuran atau maju mundur, karena cerpen “Sampai Ke Jepang” ini bercerita tentang Greta dan anaknya Katy yang ingin pergi ke Toronto menggunakan kereta. Setelah dalam kereta, Greta mulai memikirkan tentang pertemuannya dengan seorang pria di pesta. Beriku(t kutipannya:

Ini adalah kutipan ketika Greta ingin berangkat naik kereta.

Sekali waktu ketika membawakan koper Greta naik kereta, Peter tampak sangat ingin pergi. Namun, dia tak beranjak. Peter hanya menjelaskan bahwa dia hanya gelisah dan kereta itu seharusnya segera berangkat. (Hlm 1)

Dan di dalam kereta Greta bercerita pergi ke pesta seorang temannya. ini adalah kutipan:

Waktu itu ada majalah The Echo Answers yang tak tentu tanggal terbitnya di Toronto. Greta menemukan di perpustakaan dan mengirim puisi-puisi ke majalah itu. Dua puisinya dipublikasikan dan ketika editor majalah tersebut datang ke Vancouver musim gugur yang lalu, dia mengundang Greta ke pesta bersama penulis lain.
Pesta itu berlangsung di rumah seorang penulis yang namanya sudah akrab di telinga Greta, agaknya, sejak lama sekali. Pesta di selenggarakan pada rembang petang, ketika Peter masih di tempat kerja. Oleh karena itu Greta menyewa pengasuh, lalu berangkat dengan bus North Vancouver menyebrangi Lions Gate Bridge dan melintasi Stanley Park. Kemudian, dia harus menunggu di depan Hudson’s Bay untuk perjalanan panjang ke kampus universitas, tempat si penulis tinggal. (Hlm 5)

3. Penokohan
Dalam cerpen “Sampai Ke Jepang” terdapat 5 tokoh utama. Berikut namanya: Greta, Peter, Katy, Bennett, dan Greg.
1) Greta. Berikut karakter dari Greta:
Cuek
Greta seharusnya menyadari bahwa bebiasaan ini—sikap lepas tangan, toleran—adalah berkah, sebab Greta seorang penyair. Ada sesuatu dalam puisi-puisinya yang sungguh muram dan sulit dijelaskan. (Hlm 3)
Kurang percaya diri
Greta berpikir lelaki itu mengatakannya karena ada sesuatu dalam diri Greta yang membuatnya kurang menarik untuk dicium. (Hlm 11)
Tertutup
Greta berpikir, begitulah aku. Aku terlalu menjaga sikap, hampir selama hidupku. Berhati-hati dengan Katy, berhati-hati dengan Peter. (Hlm 18)
2) Greg (teman Greta). Berikut karakter dari Greg:
Napsuan
Greg lalu mengeluarkan ouzo. Greta cukup hati-hati dengannya, sebagai pelbagi minuman beralkhol yang pernah direguknya semenjak pesta penulis, tetapi efeknya sudah tampak. Cukup membuat mereka berpegangan tangan, disusul ciuman-ciuman dan belaian. Semuannya berlangsung di samping tubuh seorang anak yang sedang tidur. (Hlm 21)
3) Katy (anak Greta). Berikut karakter Katy:
Cemas
Katy benar-benar tak mengerti bahwa keberadaan Peter di luar Peron berarti dia tak akan ikut mereka. Tatkala mereka beranjak dan Peter tidak, bersamaan dengan semakin cepatnya laju kereta meninggalkannya di belakang, Katy terlihat muram sekali. Namun dia sebentar kemudian bisa ditenangkan, setelah Greta mengatakan Peter akan menyusul pada pagi harinya. (Hlm 14)
Cuek
Seorang pemuda dan seorang gadis menaiki tangga, lalu duduk di seberang Greta dan Katy. Mereka mengucapkan selamat pagi dengan sangat riang dan Greta membalasnya. Katy agaknya kurang tak begitu setuju dengan respons Greta dan terus membaca dengan suara lembut sambil tetap menantap buku. (Hlm 15)
4) Peter (Suami Greta). Berikut karakter Peter:
Pekerja Keras
Musim panas itu Peter akan menghabiskan sebulan atau mungkin lebih untuk menjalankan tugas di Lund, sangat jauh, ke utara, sejauh yang kau bisa, di tanah daratan. Tak ada akomondasi untuk Katy dan Greta. (Hlm 4)
5) Bennett (Teman Greta). Berikut karakter Bennett:
Baik
Di acara pesta itu Greta bertemu dengan seorang pria di hadapannya. Dia berujar, “Kenapa kau sampai ke sini?”
Greta menukas bahwa dirinya diundang.
“Ya, tapi apa kau datang naik mobil?”
“Aku berjalan kaki.” Namum, itu tak cukup, selang sebentar saja Greta sudah menjelaskan semuanya. Dan pria itu mengantarkan Greta pulang. (Hlm 9)

4. Latar
Latar utama tempat yang terdapat dalam cerpen “Sampai Ke Jepang” karya Alice Munro adalah di kereta, karena sebagian besar isi cerita ini terdapat di kereta, hanya saat flashback aja cerita ini berbeda di latar selain kereta. Berikut kutipannya:
I. Latar Tempat
Ini saat Peter berada di Peron, sementara Katy dan Greta di dalam kereta.
Sekali waktu ketika membawakan koper Greta naik kereta, Peter tampak sangat ingin pergi. Namun, dia tak beranjak. Peter menjelaskan bahwa mereka hanya gelisah dan kereta itu seharusnya segera berangkat. (Hlm1)
Ini saat Greta datang ke pesta temannya di Toronto
Pesta itu berlangsung di rumah seorang penulis yang namanya sudah akrab di telinga Greta, agaknya, sejak lama sekali. Pesta di selenggarakan pada rembang petang, ketika Peter masih di tempat kerja. Oleh karena itu Greta menyewa pengasuh, lalu berangkat dengan bus North Vancouver menyebrangi Lions Gate Bridge dan melintasi Stanley Park. Kemudian, dia harus menunggu di depan Hudson’s Bay untuk perjalanan panjang ke kampus universitas, tempat si penulis tinggal. (Hlm 5)
Ini latar dimana tempat Peter bekerja
Musim panas itu Peter akan menghabiskan sebulan atau mungkin lebih untuk menjalankan tugas di Lund, sangat jauh, ke utara, sejauh yang kau bisa, di tanah daratan. Tak ada akomondasi untuk Katy dan Greta. (Hlm 4)
Vancouver adalah nama kota tempat tinggalnya Greta, Katy, dan Peter.
Waktu itu ada majalah The Echo Answers yang tak tentu tanggal terbitnya di Toronto. Greta menemukan di perpustakaan dan mengirim puisi-puisi ke majalah itu. Dua puisinya dipublikasikan dan ketika editor majalah tersebut datang ke Vancouver musim gugur yang lalu, dia mengundang Greta ke pesta bersama penulis lain. (Hlm 5)
II. Latar Suasana
Mengharukan. Sebab Peter harus meninggalkan Katy dan Greta untuk sementara, karena Peter harus bekerja di tempat lain. Berikut kutipannya:
Katy benar-benar tak mengerti bahwa keberadaan Peter di luar Peron berarti dia tak akan ikut mereka. Tatkala kerata mulai berangkat dan peter tidak ikut, Katy mulai cemas dan muram sekali. Setelah Greta mengatakan Peter akan menyusul besok pagi Katy mulai diam. (Hlm 14)
III. Latar Waktu
Siang hari.
Mereka tiba di Toronto menjelang siang. Hari sudah gelap. Ada kilat dan halilintar musim panas. Katy tak pernah melihat kegaduhan semacam itu di pantai barat, tetapi Greta mengatakan tak ada yang perlu ditakutkan dan agaknya Katy tenang-tenang saja. Juga ketika melihat kegelapan yang lebih merebak dan lebih mengejutkan lagi saat mereka melewati terowongan dan kereta akan berhenti. (Hlm 27)
Petang hari.
Petangnya, sesuai dugaan Greta, anak-anak pergi tidur. Ibu beberapa anak pun begitu. Yang lainnya bermain kartu. Greg dan Greta melambaikan tangan kepada Laurie saat dia berangkat ke Jasper.

5. Sudut Pandang
Sudut pandang yang di gunakan dalam cerpen “Sampai Ke Jepang” karya Alice Munro adalah orang ketiga serba tahu, karena pengarang disini berposisi sebagai pencerita yang mengetahui segalanya.

KESIMPULAN
Cerpen “Sampai Ke Jepang” merupakan salah satu cerpen yang terdapat dalam buku “Dear Life”. Yang merupakan karangan terakhir dari seorang “Master of the Contemporary Short Story” Alice Munro.
Cerpen yang sarat akan makna dan edukasi di dalamnya. Bercerita tentang kehidupan seorang keluarga, walaupun berbau unsur perselingkuhan dan seks yang membuat cerita ini menjadi variatif dan tidak menoton
Di analisis menggunakan teori struktural. Pendekatan ini dipandang lebih obyektif karena hanya berdasarkan sastra itu sendiri. Tanpa campur tangan unsur lain, karya sastra tersebut akan dilihat sebagaimana cipta estetis yang merupakan sebuah teori dapat membuat kita mengetahui seluk-beluk struktur cerpen ini secara keseluruhannya.

DAFTAR RUJUKAN
Burhan, Nurgianto. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Munro, Alice. 2014. Dear Life. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.
Alice Munro Dear Life

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s