Muhammad Bismo Pratomo Yudanto


 

Karya sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat, hal tersebut karena sastra merupakan hasil tulisan pengarang yang ia ciptakan berdasarkan lingkungan yang ada di sekitarnya dan ia rasakan. Dan aspek-aspek kehidupan itu saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Aspek kehidupan tersebut berupa aspek sosiolologis, psikologis, filsafat, budaya, dan agama.

Salah satu karya sastra yang dihasilkan berdasarkan lingkungan yang ia rasakan adalah sebuah novel berjudul “Fateless” karya Imre Kertesz. Imre kertesz adalah seorang novelis Hungaria dan seorang Yahudi. Lahir pada tahun 1929 di Budapest dan meninggal pada Maret 2016 lalu di Budapest karena menderita penyakit Parkinson selama beberapa tahun. Novel “Fateless” ini ia tulis berdasarkan pengalamannya di kamp konsentrasi Nazi pada Perang Dunia II. Saat pertama kali diterbitkan, novel ini tak disambut dengan baik.

Kertesz pernah bekerja sebentar pada surat kabar Budapest, tetapi kemudian dipecat ketika catatannya dianggap mendukung partai Komunis Hungaria. Lalu ia pun hidup sebagai penulis lepas dan penerjemah sastra Jerman. Setelah komunisme jatuh pada tahun 1989, ia menjadi dikenal di Hungaria dengan lebih baik. Kertesz menjadi orang Hungaria pertama yang memenangkan Hadiah Nobel Sastra.

Atas dsrah Yahudinya, Kertesz menjelaskan dalam sebuah waeancara dengan El Pais, sebuah harian Spanyol: “Saya bukan orang Yahudu yang beriman. Namun karena sebagai orang Yahudi saya dibawa ke Auschwitz, sebagainYahudi saya berada di kamp lematian dan sebagai Yahudi saya di lingkungan yang membenci Yahudi, dengan besarnya anti-semitisme. Saya selalu merasa bajwa saya wajib menjadi Yahudi. Saya Yahudi, saya menerimanya, namun di tingkat yang lebih luas juga benar bahwa hal itu dipaksakan pada saya.” (The Jerusalem Report, 4 November 2002).

Sinopsis Fateless

Gyorgi Koves berusia lima belas tahun saat suatu hari bus yang dinaikinya ke tempat ia biasa kerja di sebuah kilang minyak di Csepel, dicegat polisi. Polisi-polisi tersebut merazia mereka yang mengenakan tanda bintang bersegi enam berwarna kuning–pengenal yang wajib dipakai oleh setiap orang Yahudi di masa pemerintahan Hitler untuk membedakannya dengan bangsa lain–di dada agar turun dari bus. Hari itu, polisi menghentikan semua bus di seluruh jalan dan selanjutnya membawa para penumpang yang terjaring itu menuju, seperti sejarah sering menyebutnya, neraka Auschwitz.

Mereka diangkut dengan kereta api dalam gerbong-gerbong yang dimuati penumpang melebihi kapasitas maksimal (satu gerbong sampai dimuati 80 orang). Penderitaan pertamapun segera dimulai : dahaga. Mereka membutuhkan air. Namun, itu tidaklah seberapa, mengingat apa yang masih akan menanti mereka di Auschwitz.

Dan kini, ia ada di Auschwitz, jauh dari rumahnya yang hangat, memakai seragam tahanan serta rambut seluruh tubuh tercukur gundul. Dimulailah hari-hari yang panjang di kamp konsentrasi, yang baginya merupakan kebahagiaan tersendiri dan akan selalu menjadi pengalaman berkesan selama hidupnya.

Dalam masa kekuasaan Nazi ini, ada banyak sekali kamp konsentrasi dibangun dan ternyata tidak semuanya sama. Misalnya ada yang disebut Vernichtungslager (kamp pembinasaan), biasanya di dalamnya terdapat kamar-kamar gas serta krematorium tempat para tahanan (wanita, pria, dewasa, orangtua maupun anak-anak) dieksekusi mati. Di kamp konsentrasi inilah Gyorgi menghabiskan satu tahun dalam hidup yang akan selalu dikenangnya.

Kamp konsentrasi jenis lainnya adalah Arbeitslager (kamp kerja paksa); tempat yang sangat berbeda dengan kamp sebelumnya. Kehidupan di sini terasa lebih mudah; situasi dan makanannya jauh lebih baik, sebab tujuan kedua kamp tersebut memang berbeda..

Hari ke empat, Gyorgi dipindahkan ke Buchenwald dan lalu Zeitz. Di sini, kembali Gyorgi mendapat perlakuan yang tidak jauh berbeda seperti yang ia terima di Auschwitz, yang agak berbeda hanya di kamp ini, ia harus bekerja lebih keras sampai akhirnya jatuh sakit, luka bernanah di lutut dan pinggulnya yang mengharuskannnya masuk rumah sakit. Gyorgi dengan tabah melewati masa sakitnya, tak ada kecengengan, tak ada keluh kesah minta dikasihani. Kita bahkan kadang-kadang terpaksa tersenyum, meski pahit, membaca penuturannya. Misalnya saja saat lukanya digerogoti sejenis kutu busuk, ia menyikapinya dengan humor yang getir.

Kerangka Pendekatan

Abrams dalam Nurgiyantoro (1994:36) menjelaskan bahwa “struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah”.

Analisis struktural merupakan salah satu kajian kesusastraan yang menitikberatkan pada hubungan antar unsur pembangun karya sastra. Struktur yang membentuk karya sastra tersebut yaitu: penokohan, alur, pusat pengisahan, latar, tema, dan sebagainya. Struktur novel/cerpen yang hadir di hadapan pembaca merupakan sebuah totalitas. Novel/cerpen yang dibangun dari sejumlah unsur akan saling berhubungan secara saling menentukan sehingga menyebabkan novel/cerpen tersebut menjadi sebuah karya yang bermakna hidup. Adapun struktur pembangun karya sastra yang dimaksud dan akan diteliti meliputi: tema, pemplotan, penokohan, pelataran, penyudutpandangan, gaya bahasa.

  1. Tema

Tema adalah makna yang dikandung sebuah cerita.

  1. Plot/Alur

“Alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain” (Stanton dalam Burhan Nurgiyantoro, 1995:113). Sejalan dengan itu, Atar Semi menyatakan bahwa “alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi” (Atar Semi, 1993:43).

  1. Tokoh dan Penokohan

“Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita” (Jones dalam Burhan Nurgiyantoro, 1995:165).

Ada dua macam cara dalam memahami tokoh atau perwatakan tokoh-tokoh yang ditampilkan yaitu:

  1. Secara analitik, yaitu pengarang langsung menceritakan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.
  2. Secara dramatik, yaitu pengarang tidak menceritakan secara langsung perwatakan tokoh-tokohnya, tetapi hal itu disampaikan melalui pilihan nama tokoh, melalui pengambaran fisik tokoh dan melalui dialog (Atar Semi, 1993:39-40).
  3. Latar

“Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan” (Abrams dalam Burhan Nurgiyantoro, 1995: 216). Kadang-kadang dalam sebuah cerita ditemukan latar yang banyak mempengaruhi penokohan dan kadang membentuk tema. Pada banyak novel, latar membentuk suasana emosional tokoh cerita, misalnya cuaca yang ada di lingkungan tokoh memberi pengaruh terhadap perasaan tokoh cerita tersebut.

Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu:

  1. Latar tempat, yang menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
  2. Latar waktu, berhubungan dengan peristiwa itu terjadi.
  3. Latar sosial, menyangkut status sosial seorang tokoh, penggambaran keadaan

masyarakat, adat-istiadat dan cara hidup (Burhan Nurgiyantoro, 1995:227–333).

  1. Sudut Pandang

Sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan : Siapa yang menceritakan atau dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Pengertian sudut pandang adalah pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan ceritanya. Sudut pandang dapat disamakan artinya dan bahkan dapat memperjelas dengan istilah pusat pengisahan.

Sudut pandang banyak macamnya tergantung dari sudut mana ia dipandang dan seberapa rinci ia dibedakan. Yaitu :

  1. Sudut Pandang Persona Ketiga: “dia”
  2. Sudut Pandang Persona Pertama: “aku”
  3. Sudut Pandang Campuran

 

Pembahasan

  1. Tema

Tema yang terkandung dalam cerita novel “Fateless” karya Imre Kertesz adalah perjuangan hidup. Hal itu dapat dilihat dari perjuangan sang karakter utama yaitu Gyorgi Koves dalam menjalani kehidupannya di kamp konsentrasi Nazi. Ia harus menahan lapar dan juga mengatur siasat untuk makan agar tidak kelaparan. Untunglah ia diajari oleh seorang penghuni kamp juga yang bernama Citrum Bandi. Ia juga harus menyiasati teknik mandinya agar tubuhnya tidak ditumbuhi jamur. Hari-hari yang berat ia jalani setiap hari di kamp konsentrasi Nazi, dia harus terus berjuang untuk brrtahan hidup

  1. Plot/Alur

Alur dalam cerita “Fateless” karya Imre Kertesz adalah alur maju. Hal itu terlihat dari ceritanya yang selalu berjalan maju. Berikut adalah kronologi ceritanya.

– Pada cerita awal diceritakan ia menghadiri sebuah pesta perpisahan untuk ayahnya yang harus pergi ke kamp konsentrasi Nazi.

– Lalu ketika ia hendak pergi ke tempat ia biasa bekerja, bisnya dihentikan oleh seorang polisi dan menyuruh setiap orang yang memiliki tanda bintang persegi enam untuk turun dari bis itu, tanda bintang persegi enam itu sendiri merupakan tanda yang wajib dikenakan oleh semua orang Yahudi pada masa itu.

– Semua orang itu lalu dikumpulkan di suatu tempat untuk kemudia dibawa ke luar Hungaria, ke kamp konsentrasi Nazi yang bernama Auschwitz.

– Di sana ia harus bertahan hidup dalam kerasnya kehidupan kamp konsentrasi itu.

– Berpindah dari satu kamp ke kamp yang lain, hingga suatu hari ia seperti mati rasa dan menerima begitu saja rasa sakit yang diterimanya, ia tidak lagi mengeluhkan sakit, dan melanjutkan hidupnya begitu saja.

  1. Tokoh dan Penokohan

Sebenarnya hanya ada satu tokoh inti dalam cerita namun dalam cerita tersebut juga ada beberapa tokoh sampingan. Tiap-tiap tokoh memiliki penokohan yang berbeda. Berikut penokohan dalam cerita “Fateless”

  1. Gyorgi Koves

Tenang

Saat ia diberhentikan dan  dikumpulkan dengan orang-orang berbintang segi enam, ia tetap tenang dan mengikuti setiap instruksi yang diberikan.

Tegar

Meskipun kehidupan di kamp konsentrasi Nazi sangat berat, ia tetap menjalani hari-harinya di sana dengan tegar.

  1. Citrum Bandi

Setia Kawan

Sejak bertemu dengan Gyorgi, ia selalu menolongnya dan mengajarinya bagaimana untuk menyiasati hidup di dalam kamp konsentrasi.

Optimis

Ia selalu yakin bahwa suatu saat ia akan kembali lagi ke kotanya dan berjalan-jalan seperti yang dulu ia lakukan.

  1. Latar

“Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan” (Abrams dalam Burhan Nurgiyantoro, 1995: 216).

Latar tempat yang terdapat dalam cerita “Fateless” karya Imre Kertesz adalah Kamp konsentrasi Nazi Auschwitz dan Buchenwald. Hampir seluruh ceritanya berlatar di kamp konsentrasi Nazi, karena memang fokus cerita ini sendiri adalah pengalaman orang yang pernah berada di kamp konsentrasi Nazi itu.

  1. Sudut Pandang

Pembahasan yang terakhir adalah sudut pandang penceritaan. Dalam cerita “Fateless” karya Imre kertesz, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang persona pertama atau aku. Hal ini terlihat dari tokoh utamanya yang selalu mengungkapkan dirinya adalah ‘aku” dalam narasinya.

Simpulan

Simpulan dari analisis cerita “Fateless” karya Imre Kertesz dengan menggunakan teori struktural milik Abrams dari buku Nurgiyantoro adalah tema yang dominan dalam cerita adalah perjuangan hidup. Lalu alur atau plot yang digunakan adalah maju karena cerita berjalan sesuai dengan urutan waktu tanpa ada kilas balik.

Penokohan tidak terlalu banyak, karena hanya ada satu tokoh inti dan selalu mendominasi cerita. Latar yang paling dominan dalam cerita “Fateless” karya Imre Kertesz adalah latar tempat, yaitu Kamp konsentrasi Nazi. ti meskipun mereka menolak untuk melihatnya. Yang terakhir adalah sudut pandang. Sudut pandang yang digunakan oleh Mo Yan dalam cerita “Obat Mujarab” adalah sudut pandang orang pertama. Hal ini dibuktikan dengan tokoh utama yang selalu menyebut Aku dalam narasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Burhan Nurgiyantoro. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Imre_Kertész

http://www.goodreads.com/review/show/36159245

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s