Mia Karnia Sari


Sejarah dan sastra selalu memiliki hubungan mesra dari zaman ke zaman. Keduanya begitu karib dan saling bersinggungan. Seperti yang diujarkan oleh Niduparas Erlang seorang cerpenis dan esais dalam sebuah topik diskusi, bahwa “sejarah dan sastra memiliki hubungan yang kompleks dan paradoksal. Keduanya tak pernah benar-benar berjauhan, sekaligus tak pernah benar-benar berlekatan.” Dikatakan demikian karena sejarah biasanya lahir dan hadir dari dorongan yang bersifat objektif, sedangkan sastra muncul dan berkembang dari kepentingan subjektif; sejarah mengungkap fakta degan sumber-sumber rujukan yang berisi data konkret, sedangkan sastra menciptakan suatu karya dengan latar fiksi yang sifatnya khayal dan imajinatif; sehingga nampaklah betapa sejarah dan sastra dibentengi oleh perbedaan yang amat mendasar.

Berkenaan dengan sejarah, suatu karya sastra boleh pula ditulis berdasarkan kisah-kisah sejarah yang pernah terekam oleh peradaban. Hingga sampai pada hari ini terbukti bahwa karya sastra mengenai sejarah telah  banyak ditulis. Melihat hubungan antara keduanya membuat kita menemui beberapa perihal, misalnya dengan terbitnya karya sastra berbasis data-data kesejarahan kita dapat mengecap kembali sisa-sisa pengasingan dalam wilayah perjuangan suatu bangsa pada saat itu. Menyebut hal semacam itu membawa saya pada tulisan-tulisan V.S. Naipaul yang banyak meletakkan suasana-suasana di mana suatu pengasingan telah memunculkan polemik bagi masyarakat yang merasakannya.

Vidiadhar Surajprasad Naipaul lahir di dekat Port of Spain dalam keluarga Hindu India. Dia sekolah di Queen’s Royal College di Port of Spain dan kemudian di Universitas Oxford di Inggris. Setelah menjadi warga Negara Inggris, Naipaul diberi gelar bangsawan pada 1989. Setelah menerima gelar B.A. dari Oxford pada 1953, Naipaul bekerja sebagai wartawan lepas selama beberapa tahun ssebelum menerbitkan novel-novel pertamanya, The Mystic Masseur (1957), The Suffrage of Elvira (1958), dan Miguel Street (1959). Dalam gambaran komiknya, Naipaul menyatukan anekdot-anekdot penduduk Trinidad serta autobiografi yang sangat samar. Kemudian terbit novel terbaiknya, A House for Mr. Biswas (1961) yang mengisahkan tentang usaha seorang India berlogat Inggris dalam mencari identitasnya dan membangun kemerdekaannya di dunia kreol.

Naipaul memperluas cakupan tokoh, tempat dan gagasannya dalam karya setelahnya, meski ia masih memakai tokoh-tokoh orang India Barat. Novel tetraloginya dimulai pada 1960 yang berisi tentang pengasingan, pemencilan dan kekecewaan. Karya-karya ini adalah Mr. Stone and The Knight Companion (1963), The Mimic Men (1967), A Flag on The Island (1967), dan In A Free State (1971) yang memenangkan Booker Prize.

Dalam Guerrillas (1975) dan A Bend in The River (1979), Naipaul berurusan dengan fiksi yang berisi peristiwa-peristiwa di India Barat dan Zaire. The Enigma of Arrival (1987) dan A Way in The World (1994) adalah autobiografi besar yang terkait dengan tema pengasingan dan gagasan tentang rumah Naipaul. Dalam karya ini Naipaul dihantui oleh sebuah pemandangan yang mencerminkan masa lampau yang ditandai oleh perubahan sosial yang semakin dalam.

Naipaul juga menulis buku sejarah dan perjalanan seperti pada The Middle Passage (1962), An Area Darkness (1964), The Loss of El Dorado (1969), India: A Wounded Civillization (1977), dan India: A Million Mutinies Now (1990). Believers (1981) dan Beyond Belief (1998) adalah kisah tentang perjalanannya di Negara-negara muslim non-Arab seperti Indonesia, Malaysia, Iran dan Pakistan, yang berisi penilaian kritis atas fundamentalisme Islam di Negara-negara itu. Naipul kembali menulis fiksi pada Half a Life (2001), novel dan tokoh utamanya berpindah dari India ke Inggris lalu ke Afrika.

Meskipun memiliki latar belakang yang sederhana dan kacau, Naipaul telah mampu meloloskan karyanya dari penghargaan bergengsi Nobel Sastra pada 2001.Ketika Naipaul menjadi penulis, wilayah gelap di sekitarnya sewaktu kecil menjadi temannya: daratan, penduduk asli, dunia baru, penjajahan, sejarah, India, dunia Islam,sebab ia merasa dekat dengan itu; Afrika dan kemudian Inggris, tempat ia mengerjakan tulisannya. Itulah yang dimaksud olehnya ketika berbicara dalam sebuah pidato bahwa bukunya tak terpisahkan antara yang satu dengan yang lain, dan ialah  merupakan hasil penjumlahan dari bukunya. Itulah sebabnya mengapa ia menyebut latar belakang kehidupannya begitu sederhana dan kompleks.

Mungkin kita akan merasa bahwa buku-buku karangan Naipaul sangatlah kaya dan tak ada masalah selama proses penulisannya. Apa yang disebutnya sebagai latar belakag, bagaimanapun datang dari pengetahuan yang ia peroleh bersama tulisannya. Yang menjadi persoalan terbesar dari pria peraih nobel sastra ini adalah menguraikan tulisannya kepada orang-orang untuk mengatakan hal apa saja yang telah banyak ia lakukakan.

Ketika Naipaul sempat menyebut dirinya adalah seorang penulis yang dengan membawa sikap intuitif, memang benar adanya. Ia tidak pernah memiliki rencana, tidak mengikuti sistim apa pun, dan terus setia mengikuti intuisinya. Tujuannya sepanjang waktu hanyalah menulis buku, merangkai hal-hal menarik untuk dibaca. Pada setiap langkangkahnya, ia hanya bisa bekerja dengan pengetahuan, perasaan, bakat dan pandangan-dunianya. Hal-hal itulah yang menghasilkan buku demi buku. Ia merasa perlu menulis buku, sebab tidak ada buku yang menyajikan tema-tema seperti yang diingininya. Dengan itu, timbullah niat untuk membuka dunianya sendiri agar mampu menerangi dirinya.

 

Alienasi

Alienasi atau perasaan “terasing” dari dunia atau lingkungan merupakan suatu kondisi yang bisa terjadi pada seorang atau sekelompok orang yang berada di bukan lingkungannya sendiri, yakni lingkungan tempat mereka berasal. Lingkungan bisa berarti tempat atau komunitas. Kondisi ini biasanya lalu menimbulkan suatu jarak atau pemisah sehingga seseorang tidak merasa sebagai bagian dari lingkungan atau komunitas yang membuatnya asing tersebut. Maka, sehubungan dengan identitas, sesorang yang teralienasi dari lingkungan akan merasa bahwa identitasnya tidak bersumber dari lingkungan tersebut.

Contoh konkret tentang kondisi teralienasi ialah fenomena yang umumnya terjadi pada masyarakat imigran. Dibandingkan dengan penduduk asli, masyarakat imigran tentu memiliki perasaan yang berbeda terhadap lingkungan baru tempat mereka tinggal. Rasa memiliki dan rasa menjadi bagian dari lingkungan barunya mungkin sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada diri penduduk asli. Dengan lain perkataan, alienasi kaum imigran terjadi karena benturan suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain, sumber identitas cultural mereka, dengan budaya asing setempat.

V.S. Naipaul merupakan salah satu penulis yang berupaya mengungkap realitas pergulatan masyarakat imigran terhadap budaya nenek moyang dan kolonial. Suara imigran dalam karya-karya V.S. Naipaul tidaklah secara frontal dan membabi buta menentang ideologi kolonial sebagaimana terjadi pada gerakan masyarakat pascakolonial yang termasuk dalam dunia ketiga. Menurut dia tidak semua yang dilakukan pihak kolonial bernilai negatif bagi pihak yang terkoloni.

Upaya memunculkan suara imigran dalam karya V.S. Naipaul pun menjadi sangat efektif, karena ternyata figur tokoh ini sendiri adalah seorang tokoh imigran keturunan India. Meskipun ia dilahirkan di Trinidad (1932), nenek moyangnya keturunan Brahmin, sehingga kultur India sudah ada dalam dirinya. Terlebih lagi, setelah dewasa V.S. Naipaul mendapat kesempatan untuk belajar ke Inggris (1950). Sehingga, pemahaman tentang kondisi factual kaum imigran secara objektif dapat terinternalisasi dalam dirinya.Dengan demikian, sebagai pembaca kita nampaknya tidak berhadapan dengan sekedar cerita tentang kaum imigran, namun lebih-lebih kita mendengarkan “suara imigran”.

Produktivitas tulisan V.S. Naipaul boleh dikatakan setelah ia mendapatkan beasiswa ke Oxford pada tahun 1950. Mulai tahun 1957 dan seterusnya, karya-karyanya bermunculan. Beberapa diantaranya ialah Miguel Street (1959) yang mengungkapkan ekspresi perpisahannya dengan Port of Spain, Trinidad, Negara tempat Naipaul dilahirkan. Pada tahun 1961 terbitlah A House for Mr. Biswas yang menceritakan kisah menyedihkan seorang Brahmin India, hidup di Trinidad, yang mencoba mencari kemerdekaan dan identitasnya. Kemudian berturut-turut muncul karya-karya yang juga menyoroti persoalan-persoalan rasial di Negara-negara dunia ketiga, terutama setelah ia melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia, seperti India, Amerika Latin, Afrika, Iran, Pakistan, Malaysia dan lain-lain.

Masyarakat poskolonial bangkit dan menata kembali identitasnya yang telah terobrak-abrik sebagai akibat dominasi kultural dari bangsa penguasa koloni. Upaya penataan ini paling tidak hendak membebaskan masyarakat tersebut dari posisi tersubordinasi, sehingga bisa menentukan nasibnya sendiri untuk kehidupan selanjutnya. Hal tersebut terjadi karena pada dasarnya, menurut Mike Storry dan Peter Childs (1997: 6), di dalam identitas inilah termaknai  2 (dua) hal pokok, yakni bagaimana suatu masyarakat/bangsa memandang dirinya dan bagaimana sekelompok masyarakat/bangsa lain memandang mereka. Kesadaran sebagai bangsa bermartabat dengan identitasnya menjadi penting  terlebih sejak zaman kolonialisme bangsa-bangsa terkoloni, yakni masyarakat dari “Timur” . Oleh karena itu, upaya merepresentasikan diri terbebas dari dominasi kultural imperialis menjadi faktor penting bagi bangsa-bangsa terjajah, atau masyarakat pascakolonial, untuk kembali menemukan identitas diri yang berasal dari masa lampau.

Kebanggan terhadap budaya lokal yang diturunkan oleh nenek moyang, menjadi sarana ampuh untuk melawan budaya asing, yang dibawa penjajah dalam masa kolonialisme. Hadirnya pembedaan ini menciptakan fenomena baru antara “kami” dan “mereka” sehingga kecenderungan kembali ke budaya dan tradisi justru merupakan alat perlawanan untuk melawan dominasi budaya asing. Di sinilah budaya nenek moyang menjadi sumber identitas kultural dalam rangka upaya resistensi tersebut. Namun demikian, pemahaman akan identitas kultural sendiri pada dasarnya merupakan permasalahan tersendiri, khususnya bagi masyarakat poskolonial yang terbentuk atas berbagai etnik, yang memiliki beragam nenek moyang. Peristiwa kolonialisasi di kawasan ini menciptakan kelompok masyarakat imigran yang berasal dari berbagai penjuru dunia, dan bahkan eksistensi native masyarakat lokal yang asli, sudah dimusnahkan sejak awal kedatangan bangsa Eropa ke tempat ini. Dengan demikian tak ada identitas kultural  nenek moyang yang dapat menjadi identitas utama bagi mereka. Di sinilah terjadi alienasi identitas cultural (Ashcroft, 1989: 9), karena di satu sisi masyarakat tersebut sudah tidak menjadi bagian dari identitas nenek moyang di tanah asal dan di lain pihak mereka pun tidak memiliki identitas kulturnya sendiri yang menyatukan dengan etnik-etnik lain.

Eksistensi diri sebagai bagian dari identitas social dapat tercerabut baik oleh peristiwa perpindahan tempat karena kehendak pribadi atau kekuatan eksternal maupun ole penindasan kultural, secara langsung dan tidak langsung, yang dilakukan oleh pihak yang lebih superior atau dominan. Terdapat pergeseran makna dalam konteks poskolonialisme Karena di sini yang terjadi bukan paduan dua macam budaya, yang saling berbeda, dan membentuk suatu budaya baru, melainkan suatu proses perpaduan antara berbagai  budaya yang saling berbeda sebagai konsekuensi dari realitas hadirnya beragam manusia dan budaya pada suatu tempat.

 

An Area of Darkness dan A War In The World

Di antara karya-karya tersebut, terdapat dua karya yang sangat berbeda, ditilik dari latar tempat yang menunjukkan perbedaan kultur yang tajam, meskipun di kedua fiksionalitas dirinya diposisikan sebagai bagian dari kedua kultur tersebut. Karya tersebut ialah An Area of Darkness dan A Way In The World. 

Vidiadhar Surajprasad Naipaul adalah keturunan generasi ketiga buruh kontrak India yang lahir di Trinidad dan menempuh pendidikan tinggi di Inggris. Ia menuliskan perjalanan pertamanya ke India dalam novel perjalanan An Area of Darkness dan ia mempersonifikasikan dirinya sebagai tokoh ‘Aku’ dalam teks. Dalam perjalanan tersebut V.S. Naipaul juga seringkali mengingat dan membandingkan India dengan pengalaman hidupnya di Trinidad dan di Inggris. Hal ini menunjukkan betapa kehidupannya di kedua tempat itu memengaruhi caranya melihat India sebagai negeri nenek moyangnya. Kontradiksi dalam identitas tokoh ‘Aku’ diteliti berdasarkan kajian-kajian pascakolonial yang membahas tentang identitas. Hall menyatakan adanya dua macam identitas budaya: pertama, identitas budaya yang bersifat tetap dan kolektif sehingga menyatukan orang-orang dengan kesamaan budaya; kedua, identitas budaya yang terus berubah karena perjalanan waktu dan perbedaan pengalaman masing-masing orang dalam lingkup budaya tersebut. Treacher menuliskan adanya kontradiksi keinginan yang dimiliki kaum diaspora, antara lain keinginan untuk tidak berbeda dengan orang lain dan pada saat yang bersamaan penolakan untuk dianggap sama; serta keinginan untuk pergi dan hasrat untuk pulang. V.S. Naipaul dalam buku An Area of Darkness sebagai tokoh `Aku’, dengan menggunakan dua buah konsep yang dikemukakan di atas sebagai dasar pembacaan. Pembahasan dalam segmen India dibagi ke dalam beberapa subbagian yang lebih spesifik untuk menunjukkan identitas tokoh di awal, pertengahan, dan akhir perjalanan. Analisis karakter tokoh `Aku’ difokuskan pada pikiran, emosi, dan reaksi yang terkait dengan identitas diaspora tokoh tersebut yang terjadi dalam segmen-segmen geografis seperti disebutkan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan identitas tokoh ‘Aku’ dalam perjalanan, baik perjalanan hidup dalam lingkup besar, maupun dalam lingkup yang lebih spesifik yaitu perjalanan di India, Perubahan tersebut menunjukkan bahwa walaupun ia percaya akan identitas budaya yang bersifat tetap dari masa lalu, ia sebetulnya adalah bukti hidup dari identitas budaya yang terus berubah karena pengalaman perpindahan tempat dan ketercerabutan dari akar budayanya. Hasil temuan penelitian ini menggambarkan bagaimana identitas budaya seseorang yang berlatar belakang diaspora cenderung mengalami perubahan karena perpindahan tempat dan perbedaan budaya yang menuntut terjadinya adaptasi.

An Area of Darkness diterbitkan tahun 1964 setelah kunjungannya ke India. Di sini digambarkan bagaimana potret masyarakat yang mencoba bangkit mendapatkan identitasnya sebagai masyarakat yang merdeka dengan berbagai kompleksitas permasalahan, terutama kebudayaan. Apa yang telah ditinggalkan oleh imperialism Inggris menjadi fokus utama masyarakat India dalam upaya resistensi dan rekonstruksi. India hadir sebagai masyarakat yang mencoba bangkit dari keterpurukan dan berusaha menghilangkan “luka lama” akibat proses kolonialisasi yang sudah bertahun-tahun dialaminya dari bangsa Inggris.

Tokoh “aku”, yang merupakan fiksionalitas dari tokoh V.S. Naipaul, muncul seolah-olah sebagai orang asing yang sedang dalam budaya setempat, yakni India. Konflik batin dalam diri sang tokoh terjadi. Satu sisi ia merasa bagian dari budaya tersebut, karena darah nenek moyang yang mengalir dalam dirinya, tetapi di lain sisi sang tokoh “aku” ini merasa tidak terterima dalam budaya tersebut sehingga sang tokoh pun harus mengambil jarak. Kegagalannya menempatkan diri sebagai bagian dari budaya setempat mau tidak mau menggiringnya untuk menyadari dan mengakui eksistensi faktual dirinya “aku” sudah bukan lagi orang India, dan ia pada dasarnya telah memliki identitas budayanya sendiri, yakni sebagai orang Trinidad dan Tobago. Di dalam novel ini V.S. Naipaul menunjukkan bagaimana konflik terjadi ketika seorang imigran India, yang sudah tercerabut berhadapan dengan identitas kultural masyarakat India.

Karya kedua, A War In The World yang terbit tahun 1994, merupakan refleksi tentang proses kolonialisasi dan dekolonialisasi yang terjadi di Trinidad. Tokoh “aku” yang dihadirkan nampaknya jelas merupakan fiksionalitas dirinya sendiri. Kesadaran dan identitas diri justru muncul tatkala berada di luar komunitas asalnya, yakni di Inggris. Kematangan intelektual “aku” telah membuka wawasannya dan pentingnya jati diri yang tidak dalam dominasi atau subordinasi budaya kolonial. Demikian juga, kematangan tersebut mendorong untuk menyadari bahwasanya identitas kulturnya sebagai bagian dari masyarakat India tidak mungkin dipertahankan secara murni. Perubahan menyeluruh tentu terjadi, karena sekarang masyarakat tempat hidupnya merupakan masyarakat baru di dunia baru (new world) pula. Terlebih nenek  moyang mau tidak mau telah menjadi ikon sebagai bangsa tersubordinasi di bawah bangsa colonial, sehingga harus dihapuskan. Sebagai konsekuensinya, mereka pun kemudian harus menkonstruksi sejarah masa lampaunya sendiri yang diawali sejak dekade “penemuan” (the discovery) bangsa imperialis Spanyol hingga dekade perjuangan mendapatkan kemerdekaan dari bangsa kolonial Inggris.

Poin yang sangat menarik diketengahkan oleh sang pengarang ialah bagaimana upaya kelompok masyarakat imigran yang sangat pluralis mencoba merekonstruksi diri dengan berbagai perubahan-perubahan sebagai konsekuensinya. Identitas kultural yang dibangun dan dibentuk terutama bukan berdasrkan kesamaan tetapi justru perbedaan-perbedaannya. Namun demikian, keseragaman kesadaran sebagai korban kolonialisasi mengantar kaum imigran tersebut akan kebutuhan kemerdekaan, terutama menganai identitas dirinya sebagai suatu kelompok masyarakat baru yang hidup di The New World. Hibriditas identitas akhirnya muncul sebagai representasi mereka.

Pada umumnya masyarakat pascakolonial merupakan representasi dari Dunia Ketiga, namun V.S. Naipaul lewat karya-karyanya mengungkapkan bahwa telah muncul pula kelompok masyarakat pascakolonial yang masuk dalam kategori Dunia Kelima. Pemisahan kategori ini terjadi karena identitas yang mereka sanding memang berbeda, bahkan dalam representasinya  masyarakat imigran menunjukkan upaya resistensi justru terhadap identitas kultural nenek moyang, yang merupakan masyarakat dari kategori Dunia Ketiga. Di samping upaya resistensi, masyarakat baru ini pun merepresentasikan diri pula lewat upaya rekonstruksi demi berdiri sejajar dengan mereka yang ada dalam kelompok bangsa kolonial. Lewat dua karya V.S. Naipaul, An Area Of Darkness dan A Way In The World, tesis ini mengkaji upaya-upaya resistensi dan rekonstruksi yang telah dijalani masyarakat imigran tersebut untuk muncul sebagai “masyarakat baru”. Bahwa figur sang pengarang sendiri, V.S. Naipaul, sebagai seorang imigran keturunan India menjadikan kajian persoalan masyarakat imigran dilihat dalam perspektif “suara imigran” daripada perspektif mengenal imigran. Novel pertama, An Area Of

Darkness, merupakan korpus guna mengkaji secara mendalam upaya masyarakat keturunan imigran dalam berproses menuju suatu hibriditas bagi identitasnya. Di sini sang pengarang mencoba mengetengahkan suatu realitas yang terjadi pada masyarakat imigran yang telah tercerabut dari tanah leluhurnya, teristimewa secara kultural. Ketercerabutan ini telah menciptakan kondisi teralienasi baik dengan budaya nenek moyang maupun dengan orang-orang yang masih memiliki budaya tersebut sebagai identitas kulturolnya. Kondisi teralienasi ini hanya salah satu aspek saja yang mengantar mereka pada sikap penolakan atau resistensi terhadap budaya nenek moyangnya. Aspek yang lain ialah stereotip masyarakat Timur (East) yang merupakan representasi akan keterbelakangan dan “masa lampau”. Aspek kedua ini sangat penting bagi masyarakat imigran untuk melakukan upaya resistensi pula terhadap dominasi kolonial, sehingga mereka tidak lagi berada dalam bayang-bayang masyarakat yang dikuasai oleh kolonial. Dalam novel kedua, A Way In The World, V.S. Naipaul kembali menegaskan pentingnya upaya rekonstruksi sebagai proses untuk bangkit dan melepaskan diri dari inferioritas karena dominasi kolonial. Rekonstruksi ini dapat diamati lewat beberapa proses, misalnya proses memutus hubungan dengan “nenek moyang”, proses membuat sejarah sendiri bersama-sama dengan kelompok imigran dari etnik lain, dan juga proses memperluas wawasan dengan dunia luar dalam kerangka melakukan perubahan¬perubahan yang lebih baik demi masa depan bangsa. Upaya rekonstruksi ini memang melampaui proses yang panjang dan waktu yang juga lama karena tujuan utamanya ialah melahirkan bagi mereka suatu identitas yang pasti. Bahwa identitas yang mereka bentuk merupakan proses dialog baik dengan identitas kultural nenek moyang maupun colonial memhuktikan upaya mereka untuk memiliki posisi mereka sendiri, khususnya dalam merepresentasikan diri di tengah-tengah bangsa yang lain. Muncul pula herbagai kecurigaan tentang fenomena ini, karena seolah- olah masyarakat ini merupakan bentukan masyarakat kolonial yang bermaksud melestarikan hegemoninya.

 

Miguel Street

Novel karangan V.S. Naipaul yang berjudul Miguel Street menceritakan tentang seorang narator bernama Sonny yang  tinggal di jalan itu dan berusaha untuk mencari jati dirinya dengan belajar banyak  dari masyarakat dan lingkungan. Ada suatu hubungan kuat antara karya sastra dan  pengarang. Banyak karya sastra seperti novel telah terbukti sebagai karya fiksi  autobiografi. Karya-karya sastra tersebut merepresentasikan kehidupan atau  pengalaman pribadi pengarang melalui karakter-karakter fiktif, kejadian dan  tempatnya. Karena alasan tersebut, pada studi ini, penulis berusaha untuk menganalisis sejauh mana pengalaman pribadi pengarang mendukung penciptaan  novel Miguel Street.  Sonny sang narator sebagai karakter  utama pada novel Miguel Street mencerminkan masa muda Naipaul. Sonny  sebagai Narrator dikarakterisasikan sebagai seorang pengamat atau seseorang yang belajar banyak dari masyarakat. Dia juga digambarkan sebagai seorang kutu  buku, selain itu dia merupakan seseorang yang tidak suka mengambil resiko  dalam hal apapun yang akan dia lalui. Sonny yang juga bijaksana berpikir bahwa  suatu peranan dalam masyarakat tidak begitu penting, dia hanya ingin menjadi  dirinya sendiri. Ketika dibandingkan dengan Naipaul, banyak kesamaan diantara  mereka. V.S. Naipaul mempunyai kesamaan karakter dengan Sonny. V.S.   dikarakterisasikan sebagai seorang pengamat, seorang yang suka sekali membaca,  tidak suka mengambil resiko dan juga bijaksana. Dan yang terakhir dia ingin  menjadi dirinya sendiri seperti Sonny. Itu dapat disimpulkan bahwa Sonny  mencerminkan masa muda V.S. Naipaul.

 

Daftar rujukan

Hapsari, Tyagita Silka. Kontradiksi dalam Identitas Diaspora: Kajian Novel Perjalanan An Area of Darkness karya V.S. Naipaul. Skripsi Sarjana pada Sastra Indonesia UI: tidak diterbitkan.

Aji, Gabriel Fajar. Resistensi dan Rekonstruksi Masyarakat Baru Kaum Imigran di Trinidad dalam 2 Karya V.S. Naipaul: An Area of Darkness dan Way In The World. Tesis Ilmu Susastra UI: tidak diterbitkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s