Ganesa Sangga Buana


 

Terciptanya suatu karya sastra adalah sebuah olah diri dari seseorang. Mengumpulkan suatu rasa yang banyak untuk disatukan dan dituangkan dalam sebuah karya sastra. Karya yang bisa berupa puisi,prosa, dan lain-lain. Semua masing-masing memiliki karakter di didalamnya. Sama halnya seorang manusia yang diciptakan sebagai khalifah di dunia ini, sama-sama manusia tetapi berbeda-beda jalan hidupnya. Struktur ada sendiri-sendiri dalam setiap dirinya. Struktur penyusun yang membentuk kepribadian suatu hal. Sama halnya dengan karya sastra. Didalam nya terdapat unsur-unsur pembentuknya. Unsur yang akan membawa kemana arah karya sastra itu dibawa. Terstruktur akan menjadikan sebuah karya menjadi indah dan ajeg. Sehingga karya itu memiliki suatu keindahan tersendiri di dalamnya.

Seiring zaman,sesuatuyang terstruktur ini pun akan turut dalam perubahan. Struktural pada awal abad 20 akan berbeda dengan dekade 2020-an. Seorang tokoh yang bernama Ferdinand De Sausure muncul memperkenalkan nilai-nilai struktural ini pada awal abad 20. Sehingga dikenal sebagai bapak linguistik. Struktural yang dipekenalkan oleh Ferdinand De Sausure akan berubah seiring perkembangan zaman. Zaman yang diisi dengan perubahan teknologi yang dikendalikan kaum Kapitalis.

            Biografi Ferdinand De Sausure

Ferdinand de Saussure 26 November 1857 – 22 Februari 1913) adalah seorang linguis Swiss ide yang meletakkan dasar untuk perkembangan yang signifikan dalam linguistik pada abad ke-20. Ia secara luas dianggap sebagai salah satu bapak linguistik abad ke-20. Namun, ahli bahasa yang paling modern dan filsuf bahasa menganggap ide-idenya usang. Beberapa filsuf bahasa, teori meskipun terutama sastra, percaya bahwa para kritikus itu sendiri menerapkan argumentasi usang untuk menggambarkan ide-ide Saussurean sebagai kolot atau sengaja menyimpang. Sementara konsep-khususnya semiotika Saussure-telah menerima sedikit atau tidak ada perhatian di buku teks linguistik modern, ide-idenya telah secara signifikan mempengaruhi humaniora dan ilmu sosial.

 

Pada tahun 1960-an strukturalisme telah menjadi model dikota Paris. Secara sederhana strukturalisme adalah pandangan bahwa setiap wacana, baik wacana filsafat maupun lainnya adalah sekedar sebuah struktur didalam bahasa tidak lebih. Teks tidak memberikan sesuatu yang lain kecuali teks itu sendiri, tidak ada lainnya dibalik bahasa.

 

Ferdinand de Saussure (1857-1913) telah meletakkan dasar linguistik modern. Dia adalah orang Swiss yang untuk beberapa waktu mengajar di Paris dan akhirnya menjadi professor di Jenewa. Selama hidupnya ia mempublikasikan sedikit karangannya. Buku yang mengakibatkan namanya menjadi tersohor di bidang linguistik ditebitkan oleh dua orang muridnya yang bernama Charles Bally and Albert Sechehaye. Penerbitan buku itu sendiri yakni tiga tahun setelah kematiannya. Buku karya de Saussure yang diterbitkan itu diberi judul  Cours de linguistique general  pada tahun 1916 dan berisikan mengenai kursus tentang linguistik umum.

 

 

 

Sejarah Perkembangan Struktural

Sejak awal abad ke-20, teori sastra berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan ini dengan sendirinya sejajar dengan terjadinya perkembangan kehidupan manusia, yang kemudian memicu perkembangan genre sastra. Kemajuan dalam bidang teknologi informasi menopang sarana dan prasarana penelitian yang secara keseluruhan membantu memberikan kemudahan dalam proses pelaksanaannya. Ferdinand de sausure sangat berperan pada teori strukturalisme ini karena beliau termasuk pencetus dan sebagai bapak Linguistik pada abad 20.

Ide-ide Saussure memiliki dampak besar pada pengembangan teori linguistik pada paruh pertama abad ke-20. Dua arus pemikiran muncul secara independen satu sama lain, satu di Eropa, yang lain di Amerika. Hasil dari masing-masing dimasukkan pengertian dasar pemikiran Saussurean dalam membentuk prinsip utama linguistik struktural.

Teori strukturalisme sastra merupakan sebuah teori pendekatan terhadap teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks. Unsur-unsur teks secara berdiri sendiri tidaklah penting. Unsur-unsur itu hanya memperoleh artinya di dalam relasi, baik relasi asosiasi ataupun relasi oposisi. Relasi-relasi yang dipelajari dapat berkaitan dengan mikroteks (kata, kalimat), keseluruhan yang lebih luas (bait, bab), maupun intertekstual (karya-karya lain dalam periode tertentu). Relasi tersebut dapat berwujud ulangan, gradasi, ataupun kontras dan parodi (Hartoko, 1986: 135-136).

 

Secara Etimologis struktur berasal dari kata Structure,  bahasa latin yang berarti bentuk atau bangunan. Struktur berasal dari kata Structura (Latin) = bentuk, bangunan (kata benda). System (Latin) = cara (kata kerja). asal usul strukturalis dapat dilacak dengan Poetica  Aristoteles, dalam kaitannya dengan tragedi, lebih khusus lagi dalam pembicaraannya mengenai plot. Plot memiliki ciri-ciri: kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Teeuw, 1988: 121-134). Strukturalisme berasal dari bahasa Inggris, structuralism; latin struere (membangun), structura berarti bentuk bangunan. Secara Etimologis struktur berasal dari kata Structura, bahasa latin yang berarti bentuk atau bangunan.

 

Struktur sendiri adalah bangunan teoretis (abstrak) yang terbentuk dari sejumlah komponen yang berhubungan satu sama lain. Struktur menjadi aspek utama dalam strukturalisme. Dengan kata lain, strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa berbagai gejala budaya dan alamiah sebagai bangun teoritis (abstrak) yang terdiri atas unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain [relasi sintagmatis dan paradigmatis. Strukturalisme juga beranggapan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun tujuan manusia.

 

Abrams dalam Sarjono (2005:62) menyatakan keragaman teori dapat dipahami dan diteliti jika berpangkal pada situasi karya sastra secara menyeluruh ( the total situation of a work of art ). Diuraikan oleh Abrams ( 1979 : 3-29), terdapat empat pendekatan dalam menganalisis atau mengkaji karya satra, yaitu pendekatan yang menonjolkan kajiannya terhadap peran pengarang sebagai pencipta karya sastra disebut pendekatan ekspresif; pendekatan yang lebih menitikberatkan pada peranan pembaca sebagai penyambut atau penghayat sastra yaitu pendekatan pragmatik; pendekatan yang lebih berorientasi pada aspek referensial dalam kaitannya dengan dunia nyata yaitu pendekatan mimetik; sedangkan yang memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai sesuatu struktur yang otonom dengan koherensi intrinsik yaitu pendekatan objektif.

 

Secara definitif strukturalisme memberikan perhatian terhadap analisis unsur-unsur karya. Setiap karya sastra, baik baik karya sastra dengan jenis yang sama maupun berbeda, memiliki unsur-unsur yang berbeda. Disamping akibat dari ciri-ciri inheren tersebut, perbedaan unsur tersebut juga terjadi sebagai akibat perbedaan proses resepsi pembaca. Dalam hubungan inilah karya sastra dikatakan sebagai memiliki ciri-ciri yang khas, otonom, tidak bisa digeneralisasikan. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda.

 

Meskipun demikian perlu dikemukakan unsur-unsur pokok yang terkandung dalam ketiga jenis karya, yaitu prosa, puisi, dan drama. Yang mana ketiganya memiliki unsur-unsur yang terdiri dari:

 

a). unsur-unsur prosa diantaranya: tema, peristiwa atau kejadian, latar atau seting, penokohan atau perwatakan, alur atau plot, sudut pandang, dan gaya bahasa.

 

b). unsur-unsur puisi diantaranya: tema, stilistika atau gaya bahasa, imajinasi atau daya bayang, ritme atau irama, rima atau persajakan, diksi atau pilihan kata, simbol, nada, dan enjambemen.

 

c). unsur-unsur drama, dalam hal ini drama teks, diantaranya: tema, dialog, peristiwa atau kejadian, latar atau seting, penokohan atau perwatakan, alur atau plot, dan gaya bahasa.

 

Suatu konsep dasar yang menjadi ciri khas teori struktural adalah adanya anggapan bahwa di dalam dirinya sendiri karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom yang dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur pembangunnya yang saling berjalinan (Pradopo dkk, 2001:6). Oleh karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus dikaji berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari latar belakang sejarah, lepas dari diri dan niat penulis, dan lepas dari efeknya pada pembaca (Beardsley dalam Teeuw, 1983:60).

 

Sementara itu, dalam lingkup karya puisi, Wellek dan Warren (1989:186-187) menyatakan bahwa pada dasarnya karya sastra terdiri atas beberapa strata norma (lapis, unsur), yaitu (1) lapis bunyi, misalnya bunyi atau suara dalam kata frase, kalimat, (2) lapis arti, misalnya arti-arti dalam fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat, (3) lapis objek, misalnya objek-objek yang dikemukakan seperti latar, pelaku, dan dunia pengarang. Untuk hal ini, Roman Ingarden (dalam Pradopo, 1993:15) menambah satu lapis lagi, yaitu lapis ”dunia”, lapis ini sudah tersirat metafisik seperti sublim, tragis, atau yang lain yang mampu menimbulkan renungan pembaca. Ini semua berdasarkan metode fenomenologi yang dikembangkan Husserl (Wellek dan Warren, 1989:186) yaitu menekankan peranan pemahaman terhadap arti.

 

Mukarovsky (dalam Ratna, 2004:93) membagi unsur-unsur puisi diantaranya : tema, stilistika, imajinasi atau daya bayang, ritme atau irama, rima atau persajakan, diksi atau pilihan kata, simbol, nada dan enjambemen atas dasar hakikat otonom tersebut maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. Artinya, unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak, tujuan analisis dipihak lain. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global, yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian.

 

Teori strukturalisme memiliki latar belakang sejarah evolusi yang cukup panjang  dan berkembang secara dinamis. Strukturalisme menentang teori mimetic (yang berpandangan bahwa karya sastra adalah tiruan kenyataan), teori ekspresif (yang menganggap sastra pertama-tama sebagai ungkapan perasaan dan watak pengarang), dan menentang teori-teori yang dianggap satra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembacanya. Dalam perkembangannya, terdapat  banyak konsep dan istilah yang berbeda, bahkan saling bertentanga.

Misalnya strukturalisme perancis yang terutama diwakili oleh Roland Barthes dan Julia Kristeva. Barthes adalah filsuf, kritikus sastra, dan semolog Prancis yang paling eksplisit mempraktikkan semiologi Ferdinand de Saussure, bahkan mengembangkan semiologi itu menjadi metode untuk menganalisa kebudayaan. Barthes menerbitkan tiga buku, S/Z, Mythologies, dan The Fashion System, sebagai tiga dokumen yang menunjukkan usaha pengembangannya. Dalam S/Z, dia membagi-bagi novel Balzac, Sarassine, menjadi 561 lexia (satuan bacaan). Pembongkaran itu dilakukan untuk kemudian direkonstruksi kembali. Di mata Barthes, suatu teks merupakan sebentuk konstruksi belaka. Bila hendak menemukan maknanya, maka perlu dilakukan rekonstruksi dari teks itu sendiri.

Sementara, dalam The Fashion System, Barthes mengkaji fashion sebagai sebuah sistem tanda seperti model linguistik Saussure. Mythologies merupakan kumpulan esainya mengenai berbagai aspek kebudayaan Prancis, dari balap sepeda Tour de France, tarian telanjang, mainan anak-anak, wrestling, dan sebagainya. Semiotik, secara etimologis istilah semiotik berasal dari bahasa Yunani, semeion yang berarti “tanda”. Secara terminologis, semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa seluruh kebudayaan sebagai tanda.

Julia Kristeva (lahir 1941) adalah seorang teoretikus, ahli linguistik, kritikus sastra, dan filsuf yang berdarah Bulgaria.[1] Selain itu, Kristeva juga seorang psikoanalis dan novelis.[2] Kristeva lahir di Bulgaria namun hidup dan berkarya di Paris sejak pertengahan tahun 1960-an.[1] Ia menggunakan teori Marxis dan formalisme Rusia, bersama dengan strukturalisme dan psikoanalisis untuk menciptakan pendekatan yang eklektik terhadap pertanyaan-pertanyaan seputar subyektivitas.

Kristeva pernah bekerja bersama Derrida dan para filsuf lain di dalam kelompok Tel Quel.[1] Sejak itu, teori-teori Kristeva tentang teks-teks sastra, kreativitas, dan bahasa, kemudian diperluas ke dalam bidang politik, seksualitas, filsafat, dan tema-tema linguistik.[1] Beberapa karyanya mengambil tema filsafat feminis, estetika, studi kebudayaan, dan psikoanalisis.[1] Karya Kristeva yang paling menunjukkan sistematika pemikiran filsafatnya adalah “La Révolution du langage poétique“.

Roland Barthes dan Julia Kristeva mengembangkan seni penafsiran structural berdasarkan kode-kode bahasa teks sastra. melalui kode bahasa itu, diungkap kode-kode reptorika, psikoanalitis, sosiokultural. Mereka menekankan  bahwa sebuah karya sastra harus di pandang secara otonom.   Puisi khususnya dan sastra umumnya  harus diteliti secara objektif (yakni aspek intrisiknya). Keindahan sastra terletak pada penggunaan bahasa yang khas yang mengandung efek-efek estetik. Aspek-aspek ekstrisik seperti idiologi, moral, sosiokultural, psikologi, dan agama tidaklah indah pada dirinya sendiri melainkan karena dituangkan dalam cara tertentu melalui sarana bahasa puitik.

 

Pembagian Strukturalisme menurut Ferdinand de Sausesure

 

Dengan adanya perbedaan pendapat dalam teori  strukturalisme sendiri dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu strukturalisme formalis , strukturalisme genetik, strukturalisme dinamik yang pada dasarnya secara global strukturalisme menganut paham penulis paris yang dikembangkan oleh Ferdinand de Sausessure, yang memunculkan konsep bentuk dan makna ( sign and meaning).

 

  1. Strukturalisme Formalis

 

Istilah Formalisme (dari kata Latin forma yang berarti bentuk, wujud) berarti cara pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang mengesampingkan data biografis, psikologis, ideologis, sosiologis dan mengarahkan perhatian pada bentuk karya sastra itu sendiri. Para Formalis meletakkan perhatiannya pada ciri khas yang membedakan sastra dari ungkapan bahasa lainnya. Istilah Strukturalisme acap kali digunakan pula untuk menyebut model pendekatan ini karena mereka memandang karya sastra sebagai suatu keseluruhan struktur yang utuh dan otonom berdasarkan paradigma struktur kebahasaannya. Tokoh; Kaum Formalis Rusia tahun 1915-1930 dengan tokoh-tokohnya seperti Roman Jakobson, Rene Wellek, Sjklovsky, Eichenhaum, dan Tynjanov .Rene Wellek dan Roman Jakobson beremigrasi ke Amerika Serikat .

 

Sumbangan penting kaum formalis bagi ilmu sastra adalah secara prinsip mereka mengarahkan perhatian kita kepada unsur-unsur kesastraan dan fungsi puitik. Sampai sekarang masih banyak dipergunakan istilah teori sastra dan analisis sastra yang berasal dari kaum Formalis. Karya sastra merupakan sesuatu yang otonom atau berdiri sendiri .Karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari unsur-unsur pembangun karya sastra.Makna sebuah karya sastra hanya dapat diungkapkan atas jalinan atau keterpaduan antar unsur .

 

  1. Strukturalisme Dinamik

 

Secara Etimologis struktur berasal dari kata Structure, bahasa latin yang berarti bentuk atau bangunan. Struktur berasal dari kata Structura (Latin) = bentuk, bangunan (kata benda). System (Latin)= cara (kata kerja). asal usul strukturalis dapat dilacak dengan Poetica  Aristoteles, dalam kaitannya dengan tragedi, lebih khusus lagi dalam pembicaraannya mengenai plot. Plot memiliki ciri-ciri: kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Teeuw, 1988: 121-134).

 

Selama 25 abad terjadi perubahan paradigma yang sangat mendasar, yaitu dengan memberikan prioritas terhadap karya sastra, yang diawali oleh:

  1. Formalisme Rusia (1915 – 1930)
  2. Strukturalisme Praha (1930-an)
  3. Kritik baru di Amerika Serikat (1940-an)
  4. Strukturalisme Baru di Rusia (1960-an)
  5. Strukturalisme Inggris, gerakan otonomi di Jerman, Strukturalisme di Belanda, dan Strukturalisme di Indonesia melalui kelompok Rawamangun (1960-an).

 

Menurut Mukarovsky dalam (Rene Wellek, 1970: 275-276), sejarah Strukturalisme mulai diperkenalkan tahun 1934, tidak menggunakan nama metode atau teori sebab di satu pihak, teori berarti bidang ilmu pengetahuan tertentu, di pihak yang lain, metode berarti prosedur ilmiah yang relativ baik. Sebagai sudut pandang epistimologi, sebagian sistem tertentu dengan mekanisme antarhubungannya.

 

  1. Strukrutalisme Genetik

Merupakan jembatan penghubung antara teori struktural formalis dan teori semiotik .Hampir sama dengan struktural genetik (mengaitkan dengan asal-usul teks) tetapi penekanannya berbeda, Struktural Dinamik menekankan pada struktur, tanda, dan realitas.

Tokoh-tokohnya : Julia Cristeva dan Roland Bartes (Strukturalisme Prancis)

 

       Konsep-konsep

 

Menurut Yoseph( 1997; 37- 40) menjelaskan teori strukturalisme sastra menganggap karya sastra sebagai “artefak”(benda seni) maka realisi-realiasi struktural sebuah karya sastra hanya dapat dipahami dalam relasi unsur-unsur artefak itu sendiri.Jika dicermati, sebuah teks sastra terdiri dari komponen-komponen seperti; ide, tema, amanat. latar, watak dan perwatakan, insiden, plot, dan gaya bahasa.

 

Komponen-komponen tersebut memiliki perbedaan aksentuasi pada berbagai teks sastra. strukturalisme sastra memberi keluasaan kepada peneliti sastra untuk menerapkan komponen-komponen mana yang akan mendapat prioritas signifikan. Keluasan ini tetap harus dibatasi, yakni sejauh komponen-komponen itu terserat dalam teks itu sendiri. Jadi teks satra berfungsi mengontrol objektifitas dan validitas hasil penelitian sastra. Prosedur ilmiah ini menetapkan teori strukturalisme sastra berkembang dengan baik, pesat, dan diterima dalam kalangan luas.

 

Menurut Abrams(dalam Pradopo: 140-141) bahwa ada empat pendekatan terhadap karya sastra, yaitu pendekatan (1) mimetik yang menganggap karya sastra sebagai tiruan alam (kehidupan) (2) pendekatan pragmatik yang menganggap karya sastra itu adalah alat untuk mencapai tujuan tertentu, (3) pendekatan ekspresif yang menganggap karya sastra sebagai ekspresi perasaan, pikiran, dan pengalaman penyair, (4) pendekatan obyektif yang menganggap karya sastra sebagai suatu otonom, terlepas dari alam sekitarnya, pembaca, dan pengarang.

 

Menurut Zulfahnur (1997: 146-147) Struktural mempunyai konsep sebagai berikut:

a). Memberi penilaian terhadap keharmonisan semua komponen yang membentuk keseluruhan struktur dengan menjalin hubungan antara komponen tersebut sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna dan bernilai estetik.

b). Memberikan penilaian terhadap hubungan harmonis antara isi dan bentuk, karena jalinan isi dan bentuk merupakan hal yang sama penting dalam menentukan mutu sebuah karya sastra.

Adapun unsur-unsur strukturalisme ada tiga pokok jenis karya sastra adalah; (a) dalam Prosa terdiri tema, peristiwa/kejadian, latar/setting, penokohan/perwatakan, alur/plot, sudut padang, dan gaya bahasa. (b) Dalam Puisi  terdiri dari tema, stilitika/gaya bahasa, imajinasi/daya bayang, rime/irama, rima/persajakan, diksi/pilihaan kata, simbol, nada. (c) Sedangkan pada Drama (drama teks) terdiri; tema, dialog, peristiwa/kejadian, latar/setting, penokohan/perwatakan, alur/plot dan gaya bahasa.

 

Adapun tujuan teori strukturalime ini meliputi; (a) sebagai aktivitas yang bersifat inteltual, bertujuan menjelaskan eksplikasi tekstual; (b) sebagai metode ilmiah, teori ini memiliki  cara kerja teknis dan rangkaian langkah-langkah yang tertib untuk mencapai simpulan yang valid; (c) sebagai pengetahuan, teori ini dapat dipelajari dan dipahami secara umum dan luas dan dapat di buktikan kebenaran cara kerja secara cermat.

 

Pembahasan

Dilihat dari semua perkembangan teori struktural dimulai dari khususnya abad 20 hingga sekarang,setiap zamannya selalu berubah. Strukturalisme yang dicetuskan oleh tokoh bernama Ferdinand de Saussure. Akar dasar dari pemikiran ini sendiri dari Ferdianand de Saussure yakni meletakkan dasar linguistik dan tata bahasa. Ia pun akhirnya terkenal menjadi bapak linguistik (Hasan, 2012:56).

Buku yang mengakibatkan namanya menjadi tersohor di bidang linguistik ditebitkan oleh dua orang muridnya yang bernama Charles Bally and Albert Sechehaye. Penerbitan buku itu sendiri yakni tiga tahun setelah kematiannya. Buku karya de Saussure yang diterbitkan itu diberi judul  Cours de linguistique general  pada tahun 1916 dan berisikan mengenai kursus tentang linguistic umum.

Beberapa prinsip dasar yang digunakan oleh tokoh-tokoh strukturalisme berasal dari teori linguistik yang diuraiakan dalam buku tersebut. Tentu itulah hal yang kian menjadikan pemikiran de Saussure sendiri semakin bernilai dan berguna. Struktur dalam bahasa, istilah struktur berkaitan dengan bahasa sebagai sistem. Pendekatan struktural tentang bahasa mengandung arti pendekatan yang menganggap bahasa sebagai sistem dengan ciri-ciri tertentu, pemakaian kata “struktur” dalam strukturalisme disertai oleh seluruh konteks yang telah diuraikan yaitu significant-signifie, parole-langue, sinkroni diakroni.

 

Prediksi struktural pada karya sastra dekade 2020-an akan tidak sekaku seperti struktural pada saat pertama dicetuskan. Tapi tetap, namanya struktural akan ajeg menjadi suatu unsure yang tertata untuk menjadikan sebuah karya. Maksudnya tidak kaku adalah motif di tiap-tiap bahasanya. Menurut Yoseph( 1997; 37- 40) menjelaskan teori strukturalisme sastra menganggap karya sastra sebagai “artefak”(benda seni) maka realisi-realiasi struktural sebuah karya sastra hanya dapat dipahami dalam relasi unsur-unsur artefak itu sendiri.Jika dicermati, sebuah teks sastra terdiri dari komponen-komponen seperti; ide, tema, amanat. latar, watak dan perwatakan, insiden, plot, dan gaya bahasa.

 

Komponen seperti ide,tema,amanat,latar,watak dan perwatakan,insiden,plot,dan gaya bahasa inilah yang peulis maksud. Komponen ini akan tetap ada di ada dalam struktur teks sastra,tapi pola penulisannya akan berubah. Seiring perkembangan teknologi akan semakin maju pola piker manusia sehingga akan semakin aneh-aneh dalam menuliskan teks sastra.  Aneh-aneh ini akan menjadikan struktural yang lebih beragaram. Bisa terlihat tidak beraturan yang sebenarnya teratur untuk membentuk suatu teks sastra.

 

 

 

Simpulan

Teori struktural mulai ramai khususnya pada abad ke 20. Diperkenalkan oleh Ferdinand De Sausure. Intinya pada setiap zaman nya selalu berkembang. Mulai dari struktural yang baku dan lebih tertata menjadi struktural yang kelihaan lebih dinamis. Perkembangan teknologi dan perubahan mode zaman juga berpengaruh akan perubahan teori strukural ini. Walaupun kelihatan tidak sebaku pada awal abad 20 tapi tetap,decade 2020 an ini akan membentuk struktural yang lebih dinamis. Walaupun dinamis tapi tetap pada tujuan membentuk suatu karya sastra . Tanpa merusak strukturnya,tapi lebih berfariasi strukturalnya.

Secara definitif strukturalisme memberikan perhatian terhadap analisis unsur-unsur karya. Setiap karya sastra, baik baik karya sastra dengan jenis yang sama maupun berbeda, memiliki unsur-unsur yang berbeda. Komponen seperti ide,tema,amanat,latar,watak dan perwatakan,insiden,plot,dan gaya bahasa inilah yang peulis maksud. Komponen ini akan tetap ada di ada dalam struktur teks sastra,tapi pola penulisannya akan berubah. Seiring perkembangan teknologi akan semakin maju pola piker manusia sehingga akan semakin aneh-aneh dalam menuliskan teks sastra.

Daftar Pustaka

Hartoko.Dick. 1984. Pengantar Ilmu Sastra, PT.Gramedia: Jakarta

Kutha.R.Nyoman ,2004, Teori dan Metode, dan Praktik Penelitian Sastra

.Pustaka Pelajar : Jogjakarta.

Teeuw,A. 1988. Sastra dan Ilmu Satra, Teori pengantar Sastra .Pustaka

Jaya : Jakarta

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s