Zahra Salsabila


Nobel adalah suatu penghargaan bergengsi dimana beberapa orang mendapatkan penghargaan atas karya mereka yang dianggap paling inovatif, menginspirasi, dan paling berpengaruh. Nobel diberikan secara tahunan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, Akademi Swedia, Institut Karolinska, dan Komite Nobel Norwegia kepada individual dan organisasi yang membuat jasa-jasa atau penemuan yang dianggap menakjubkan.

Pada awalnya, penghargaan ini muncul karena bentuk kekecewaan Alfred Nobel, seorang industrialis asal Swedia, yang telah berhasil menemukan sebuah benda bernama dinamit, namun kemudian hasil penemuannya tersebut disalahgunakan oleh banyak orang, digunakan untuk tujuan-tujuan negatif yang tentu saja merusak. Ia menginginkan agar penghargaan nobel diberikan untuk orang-orang yang sangat berdedikasi tinggi atau berjasa terhadap penemuannya sehingga menimbulkan pengaruh positif bagi banyak orang. Oleh karena itu, sejak tahun 1901 hingga tahun ini, dan entah berapa tahun ke depan, penghargaan ini akan selalu ada dan terbagi atas beberapa kategori, yaitu Sastra, Fisika, Kimia, Fisiologi dan Kedokteran, Perdamaian, dan Ekonomi.

Uniknya, pada beberapa tahun tidak ada penganugerahan nobel yang diberikan pada kategori tertentu karena para juri merasa, penghargaan tersebut dapat ditangguhkan hingga tahun berikutnya jika tak ada nominasi yang sesuai. Tentunya banyak hal-hal unik mengenai penghargaan bergengsi yang satu ini. Salah satunya ialah, penolakan atau pengabaian dari dua pemenang nobel sastra pada tahun 1964 yaitu Jean-Paul Sartre dan yang paling anyar diperbincangkan pada tahun 2016, yaitu Bob Dylan.

Namun, tulisan ini tak akan membicarakan dua pemenang nobel tersebut. Saya akan sedikit melompat ke tahun sebelum 2016, yaitu pemenang nobel sastra 2015. Salah satu hal yang unik dari peraih nobel sastra pada tahun 2015 yakni sang pemenang bukanlah sastrawan, melainkan jurnalis. Hal ini sebenarnya bukanlah kali pertama, karena memang beberapa pemenang nobel sastra terdahulu bukanlah dari kalangan sastrawan. Kontroversi tentunya mewarnai masalah ini, karena banyak yang menganggap bahwa masih banyak sastrawan yang berkualitas namun belum pernah mendapatkan nobel. Terkait hal ini, tentunya para juri memiliki penilaian tersendiri terhadap nominasi-nominasi yang dianggap berpengaruh ini.

Sastra sendiri sebenarnya adalah suatu karya atau tulisan yang indah, menggugah, dan dapat merupakan dokumentasi sejarah tempat atau waktu yang sesuai dengan masa sang penulis ketika menulisnya. Oleh karena itu, beberapa pemenang nobel sastra yang bukan berasal dari kalangan sastrawan tentunya memiliki karya yang sangat berpengaruh dan mangandung banyak pelajaran atau perspektif baru yang mungkin belum diketahui banyak orang di dunia.

Tentang Svetlana Alexievich

Pemenang nobel sastra pada tahun 2015 bernama Svetlana Alexievich, seorang wanita yang lahir pada tanggal 31 Mei 1948 di Ukraina, dari seorang ayah yang berasal dari Belarusia dan ibu yang berasal dari Ukraina. Ketika ayahnya telah menyelesaikan program militer, mereka sekeluarga pun pindah ke Belarus. Di sana, kedua orangtuanya bekerja sebagai guru. Setelah lulus, Alexievich bekerja sebagai guru dan jurnalis. Ia adalah alumnus jurusan Jurnalis di University of Minsk sejak tahun 1967 hingga 1972.

Setelah lulus kuliah, Svetlana Alexievich dirujuk ke sebuah surat kabar lokal di Brest dekat perbatasan Polandia, karena pandangan oposisinya. Dia kemudian kembali ke Minsk dan memulai kerja di koran Sel’skaja Gazeta. Selama bertahun-tahun, ia mengumpulkan bahan untuk buku pertamanya U vojny ne ženskoe Lico (1985; War’s Unwomanly Face, 1988), yang didasarkan pada wawancara dengan ratusan wanita yang berpartisipasi dalam Perang Dunia Kedua. karya ini adalah yang pertama dalam siklus besar Alexievich untuk buku, “Voices of Utopia“, di mana kehidupan di Uni Soviet digambarkan dari perspektif individu.

Dengan menggunakan metode yang luar biasanya—yang terdiri dari kolase suara manusia—Alexievich memperdalam pemahaman kita tentang era keseluruhan pada masa ia menulis karya-karyanya tersebut. Konsekuensi dari bencana nuklir di Chernobyl 1986 adalah topik dari buku Černobyl’skaja molitva (1997; Voices from Chernobyl – Chronicle of the Future, 1999) yang akan dibahas lebih dalam setelah ini. Cinkovye mal’čiki (1990; Zinky Boys – Soviet Voices from a Forgotten War, 1992) adalah gambaran perang Uni Soviet di Afghanistan 1979-1989, dan kemudian karyanya Vremja second chènd (2013; “Second-hand Time: The Demise of the Red (Wo)man”) adalah yang terbaru dalam” Voices of Utopia“. Buku lain yang juga termasuk dalam proyek seumur hidup ini adalah Poslednie svideteli (1985; “Last Witnesses“).

Semua buku yang ditulis oleh Alexievich di atas mendapatkan rating tinggi di situs pembaca seluruh dunia, yaitu Goodreads. Hal ini tentu saja adalah sebagai pembuktian bahwa karya-karya Alexievich memang memiliki nilai yang membuatnya dapat digemari oleh berbagai kalangan.

Pengaruh penting pada karya-karya Alexievich adalah catatan oleh perawat dan penulis Sofia Fedorchenko (1888-1959) dari pengalaman tentara dalam Perang Dunia Pertama, dan laporan dokumenter oleh penulis Belarusia Ales Adamovich (1927-1994) dari Perang Dunia II. Karena kritiknya terhadap rezim, Alexievich berpindah secara berkala dan tinggal di luar negeri, seperti di Italia, Prancis, Jerman, dan Swedia, dan tempat-tempat lain.

Voices from Chernobyl – Chronicle of the Future

Berikut ini adalah cuplikan salah satu cerita dari bab satu yang diberi judul The Land of the Dead yang diambil dari buku Voices from Chernobyl – Chronicle of the Future (2005).

MONOLOGUE ABOUT A WHOLE LIFE WRITTEN DOWN ON DOORS

I want to bear witness . . .

It happened ten years ago, and it happens to me again every day.

We lived in the town of Pripyat. In that town.

I’m not a writer. I won’t be able to describe it. My mind is not capable of understanding it. And neither is my university degree. There you are: a normal person. A little person. You’re just like everyone else—you go to work, you return from work. You get an average salary. Once a year you go on vacation. You’re a normal person! And then one day you’re suddenly turned into a Chernobyl person. Into an animal, something that everyone’s interested in, and that no one knows anything about. You want to be like everyone else, and now you can’t. People look at you differently. They ask you: was it scary? How did the station burn? What did you see? And, you know, can you have chil-dren? Did your wife leave you? At first we were all turned into animals. The very word “Chernobyl” is like a signal. Everyone turns their head to look at you. He’s from there!

That’s how it was in the beginning. We didn’t just lose a town, we lost our whole lives. We left on the third day. The reactor was on fire. I remember one of my friends saying, “It smells of reactor.” It was an indescribable smell. But the papers were already writing about that. They turned Chernobyl into a house of horrors, although actually they just turned it into a cartoon. I’m only going to tell about what’s really mine. My own truth.

It was like this: They announced over the radio that you couldn’t take your cats. So we put her in the suitcase. But she didn’t want to go, she climbed out. Scratched everyone. You can’t take your belongings! All right, I won’t take all my belong-ings, I’ll take just one belonging. Just one! I need to take my door off the apartment and take it with me. I can’t leave the door. I’ll cover the entrance with some boards. Our door—it’s our talisman, it’s a family relic. My father lay on this door. I don’t know whose tradition this is, it’s not like that everywhere, but my mother told me that the deceased must be placed to lie on the door of his home. He lies there until they bring the coffin. I sat by my father all night, he lay on this door. The house was open. All night. And this door has little etch-marks on it. That’s me growing up. It’s marked there: first grade, second grade. Seventh. Before the army. And next to that: how my son grew. And my daughter. My whole life is written down on this door. How am I supposed to leave it?

I asked my neighbor, he had a car: “Help me.” He gestured toward his head, like, You’re not quite right, are you? But I took it with me, that door. At night. On a motorcycle. Through the woods. It was two years later, when our apartment had already been looted and emptied. The police were chasing me. “We’ll shoot! We’ll shoot!” They thought I was a thief. That’s how I stole the door from my own home.

I took my daughter and my wife to the hospital. They had black spots all over their bodies. These spots would appear, then disappear. About the size of a five-kopek coin. But nothing hurt. They did some tests on them. I asked for the results. “It’s not for you,” they said. I said, “Then for who?”

Back then everyone was saying: “We’re going to die, we’re going to die. By the year 2000, there won’t be any Belarussians left.” My daughter was six years old. I’m putting her to bed, and she whispers in my ear: “Daddy, I want to live, I’m still little.” And I had thought she didn’t understand anything.

Can you picture seven little girls shaved bald in one room? There were seven of them in the hospital room . . . But enough! That’s it! When I talk about it, I have this feeling, my heart tells me—you’re betraying them. Because I need to describe it like I’m a stranger. My wife came home from the hospital. She couldn’t take it. “It’d be better for her to die than to suffer like this. Or for me to die, so that I don’t have to watch anymore.” No, enough! That’s it! I’m not in any condition. No.

We put her on the door … on the door that my father lay on. Until they brought a little coffin. It was small, like the box for a large doll.

I want to bear witness: my daughter died from Chernobyl. And they want us to forget about it.

Nikolai Fomich Kalugin, father

Dalam buku Voices from Chernobyl – Chronicle of the Future yang ditulis oleh Svetlana Alexievich, terdapat beberapa cerita dari perspektif anggota keluarga yang menjadi korban tragedi Chernobyl. Dari sudut pandang seorang ayah, istri, pemukim, dan lain-lain yang menyuarakan isi hati mereka yang terdalam dan membuat pembaca dapat merasakan kesedihan dan perasaan mereka.

Tema—yang dapat diartikan sebagai makna yang dikandung sebuah cerita—dalam buku ini tentu saja curahan hati para anggota keluarga korban mengenai tragedi Chernobyl yang terjadi pada tanggal 26 April 1986. Tragedi ini menarik perhatian dunia kala itu, karena meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl yang berada di kota Pripyat, Ukraina, yang saat itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet, melepaskan partikel radioaktif dalam jumlah besar ke atmosfer bumi yang kemudian menyebar ke wilayah lain Uni Soviet dan Eropa.

Bencana Chernobyl adalah insiden nuklir terburuk di dunia dalam hal kerugian finansial dan korban jiwa. Bencana ini menewaskan 31 orang dan membutuhkan 500.000 orang pekerja untuk upaya pemulihan. Selain itu, bencana ini mengakibatkan kerugian material sebesar 18 miliar rubel atau setara dengan Rp 3,5 triliun dan efek jangka panjang radiasi terhadap manusia masih terus diselidiki hingga kini.

Bencana ini diawali saat sebuah uji coba sistem dilakukan di reaktor nomor 4 Chernobyl yang terletak di kota Pripyat, tak jauh dari perbatasan dengan Belarus dan Sungai Dnieper. Tiba-tiba, terjadi lonjakan daya dan saat prosedur darurat untuk mematikan reaktor dilakukan, terjadi gelombang daya yang lebih besar yang memicu pecahnya reaktor dan serangkaian ledakan. Api yang dihasilkan ledakan reaktor itu mengirim debu radioaktif ke udara dan mengirimnya ke sebagian besar wilayah Uni Soviet dan Eropa. Akibatnya, dari 1986-2000 atau selama 14 tahun, sebanyak 350.400 orang dievakuasi dan dipindahkan dari daerah-daerah yang paling terkontaminasi di Belarus, Rusia, dan Ukraina.

Alur atau plot—yang dapat diartikan sebagai urutan kejadian yang dihubungkan secara sebab akibat—dalam buku ini adalah alur mundur. Karena para pencerita menceritakan kembali apa yang telah terjadi dan menimpa mereka sehingga hidup mereka menjadi seperti sekarang. Simaklah cuplikan cerita berikut:

We were newlyweds. We still walked around holding hands, even if we were just going to the store. I would say to him, “I love you.” But I didn’t know then how much. I had no idea . . . We lived in the dormitory of the fire station where he worked. On the second floor. There were three other young couples, we all shared a kitchen. On the first floor they kept the trucks. The red fire trucks. That was his job. I always knew what was happening—where he was, how he was.

Cuplikan di atas berdasarkan perspektif seorang istri yang menceritakan bagaimana kebahagiaan awal kehidupan mereka, sebelum peristiwa Chernobyl merengut suaminya yang sangat ia cintai.

The scariest thing for me was during my childhood—that was the war.

I remember how we boys played “mom and dad”—we’d take the clothes off the little ones and put them on top of one another. These were the first kids born after the war, because during the war kids were forgotten. We waited for life to appear. We played “mom and dad.” We wanted to see how life would appear. We were eight, ten years old.

Kemudian ada juga seorang psikolog yang mengenang masa kecilnya, saat sebelum peristiwa itu terjadi.

Tokoh dalam buku ini tentu saja ada beberapa orang, yang agak sulit untuk ditulis semua.  Tokoh-tokoh yang menceritakan peristiwa Chernobyl ini tentu saja memiliki gambaran yang jelas mengenai anggota keluarga yang telah meninggalkan mereka, yang diceritakan dalam buku ini. Perhatikan cuplikan berikut:

He looks so funny, he’s got pajamas on for a size 48, and he’s a size 52. The sleeves are too short, the pants are too short. But his face isn’t swollen anymore. They were given some sort of fluid.

Cuplikan di atas adalah saat seorang istri menggambarkan bagaimana keadaan suaminya saat di rumah sakit.

I saw a woman trying to kill herself. In the bushes by the river. She had a brick and she was hitting herself in the head with it. She was pregnant from an occupying soldier whom the whole village hated.

Lalu, ada juga perspektif seorang lelaki yang melihat seorang wanita mencoba bunuh diri karena suaminya seorang pekerja yang dibenci oleh semua orang.

And then I hear about how the soldiers were evacuating one village, and this old man and woman stayed. Until then, when people were roused up and put on buses, they’d take their cow and go into the forest. They’d wait there. Like during the war, when they were burning down the villages. Why would our soldiers chase us? [Starts crying.] It’s not stable, our life. I don’t want to cry.

Kemudian, perspektif seorang pemukim terhadap orang-orang di sekitarnya. Apa yang mereka lakukan karena peristiwa tersebut.

But here’s what did happen. My grandfather kept bees, five nests of them. They didn’t come out for two days, not a single one. They just stayed in their nests. They were waiting. My grandfather didn’t know about the explosion, he was running all over the yard: what is this? What’s going on? Something’s happened to nature. And their system, as our neighbor told us, he’s a teacher, it’s better than ours, better tuned, because they heard it right away. The radio wasn’t saying anything, and the papers weren’t either, but the bees knew. They came out on the third day. Now, wasps—we had wasps, we had a wasps’ nest above our porch, no one touched it, and then that morning they weren’t there anymore—not dead, not alive. They came back six years later. Radiation: it scares people and it scares animals. And birds. And the trees are scared, too, but they’re quiet. They won’t say anything. It’s one big catastrophe, for everyone. But the Colorado beetles are out and about, just as they always were, eating our potatoes, they scarf it down to the leaf, they’re used to poison. Just like us.

Sedangkan latar—yang dapat diartikan sebagai tempat, waktu, lingkungan tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Nurgiyantoro, 1995: 216)—dalam buku ini sudah terlihat jelas dari judulnya, yaitu mengenai Chernobyl. Lebih tepatnya seperti yang telah dikemukakan di atas, yaitu pada 26 April 1986 di kota Pripyat, Ukraina. Selain tempat dan waktu, suasana yang muncul dalam cerita juga termasuk dalam latar. Maka, latar suasana dalam buku ini ialah kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan.

I couldn’t get into the hospital that evening. There was a sea of people. I stood under his window, he came over and yelled something to me. It was so desperate! Someone in the crowd heard him—they were being taken to Moscow that night. All the wives got together in one group. We decided we’d go with them. Let us go with our husbands! You have no right! We punched and clawed. The soldiers—there were already soldiers—they pushed us back. Then the doctor came out and said, yes, they were flying to Moscow, but we needed to bring them their clothes. The clothes they’d worn at the station had been burned. The buses had stopped running already and we ran across the city. We came running back with their bags, but the plane was already gone. They tricked us. So that we wouldn’t be there yelling and crying.

Contoh cuplikan di atas adalah bentuk kekecewaan seorang istri yang tidak dapat bertemu dengan suaminya di rumah sakit. Ia berjuang dengan keras untuk dapat bertemu suaminya, namun ia hanya dapat berteriak dan menangis karena semuanya sia-sia.

Later in the day I started throwing up. I was six months pregnant. I felt awful. That night I dreamed he was calling out to me in his sleep: “Lyusya! Lyusenka!” But after he died, he didn’t call out in my dreams anymore. Not once. [She starts crying] I got up in the morning thinking I have to get to Moscow. By myself. My mother’s crying: “Where are you going, the way you are?” So I took my father with me. He went to the bank and took out all the money they had.

Lalu, ada juga kesedihan saat seorang istri yang sedang hamil namun juga merasa depresi sehingga apa yang dapat ia lakukan hanya menangis.

I’ll get down on my knees to beg you—please, find our Anna Sushko. She lived in our village. In Kozhushki. Her name is Anna Sushko. I’ll tell you how she looked, and you’ll type it up. She has a hump, and she was mute from birth. She lived by herself. She was sixty. During the time of the transfer they put her in an ambulance and drove her off somewhere. She never learned how to read, so we never got any letters from her. The lonely and the sick were put in special places. They hid them. But no one knows where. Write this down . . .

Lalu, keputusasaan seorang tetangga yang menginginkan agar seorang wanita bernama Anna Sushko ditemukan.

Sudut pandang yang merupakan siapa yang menceritakan dalam buku ini memang selalu menggunakan sudut pandang orang pertama, yang dapat dicirikan dengan penggunakan kata ‘saya’. Contoh cuplikannya seperti di bawah ini:

The wolf came into the yard at night. I look out the window and there he is, eyes shining, like headlights. Now I’m used to everything. I’ve been living alone for seven years, seven years since the people left. Sometimes at night I’ll just be sitting here thinking, thinking, until it’s lights out again. So on this day I was up all night, sitting on my bed, and then I went out to look at how the sun was. What should I tell you? Death is the fairest thing in the world. No one’s ever gotten out of it. The earth takes everyone—the kind, the cruel, the sinners. Aside from that, there’s no fairness on earth. I worked hard and honestly my whole life. But I didn’t get any fairness. God was dividing things up somewhere, and by the time the line came to me there was nothing left. A young person can die, an old person has to die … At first, I waited for people to come—I thought they’d come back. No one said they were leaving forever, they said they were leaving for a while. But now I’m just waiting for death. Dying isn’t hard, but it is scary. There’s no church. The priest doesn’t come. There’s no one to tell my sins to.

Buku Voices from Chernobyl – Chronicle of the Future yang ditulis oleh Alexievich ini tentunya sedikit banyak memiliki pengaruh dari latar belakang kehidupannya. Seperti yang telah dijelaskan pada paragraf-paragraf sebelumnya, Alexievich memang berkebangsaan Ukraina, dan tentunya memiliki rasa persaudaraan yang sangat tinggi terhadap orang-orang yang ia wawancara dan kemudian dituliskan ungkapan perasaan mereka dalam buku ini. Terlebih lagi, Alexievich adalah seorang jurnalis, yang memiliki sifat kritis dan menginginkan semua peristiwa—khususnya peristiwa besar yang terjadi di negaranya—dapat dinilai oleh orang-orang dari bagian dunia mana pun dengan sisi objektif. Ia tak menginginkan adanya kesalahpahaman atau pun penilaian subjektif terhadap peristiwa-peristiwa besar yang menggemparkan dunia. Apalagi, ketika peristiwa itu terjadi, ia sedang berusia 38 tahun, yang berarti pikiran-pikiran kritisnya sedang sangat bergejolak. Oleh karena itulah, ia menulis buku ini.

Dalam buku ini tentunya banyak nilai-nilai yang dapat diambil oleh pembaca, selain apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa ini. Contohnya adalah nilai moral dan nilai sosial.

We had a motherland, and now it’s gone. What am I? My mother’s Ukrainian, my father’s Russian. I was born and raised in Kyrgyzstan, and I married a Tatar. So what are my kids? What is their nationality? We’re all mixed up, our blood is all mixed together. On our passports, my kids and mine, it says “Russian,” but we’re not Russian. We’re Soviet! But that country—where I was born—no longer exists. The place we called our motherland doesn’t exist, and neither does that time, which was also our motherland. We’re like bats now. I have five children. The oldest is in eighth grade, and the youngest is in kindergarten. I brought them here. Our country no longer exists, but we do.

I was born there. I grew up there. I helped build a factory, then I worked at the factory. “Go back where you’re from; this is all ours.” They didn’t let me take anything but my kids. “This is all ours.” And where is mine? People are fleeing. All the Russians are. The Soviets. No one needs them, and no one is waiting for them.

Kesimpulan

Berdasarkan tulisan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa setiap peristiwa memang penting didokumentasikan dalam bentuk apa pun—khususnya dalam hal ini tulisan—karena hal tersebut dapat membuat orang lain tahu apa yang sebenarnya terjadi dari perspektif orang yang berbeda-beda sehingga kita dapat bersikap objektif dalam menilai suatu peristiwa.

Karena kemahirannya dalam membuat hasil wawancara dengan anggota para keluarga korban peristiwa Chernobyl menjadi tulisan yang menarik dan menggugah seperti cerita, maka Svetlana Alexievich—jurnalis wanita asal Belarusia—berhasil meraih nobel sastra tahun 2015. Buku-buku yang ia tulis memang mempunyai jiwa sehingga selalu memuaskan para pembaca. Ia menulis dengan hati, yang kemudian membuat pembaca selalu menanti-nantikan tulisan-tulisannya.

Salah satu buku yang ia tulis, yaitu Voices from Chernobyl – Chronicle of the Future memang memiliki suatu ciri khas. Ia menampilkan kemahirannya dalam menyajikan kata-kata yang kemudian tersusun menjadi kumpulan cerita yang mengalir sangat halus—khas seorang wanita—namun tetap tegas dalam menampilkan kebenaran. Buku yang sebenarnya membahas suatu topik yang agak berat ini entah bagaimana dibuat menjadi buku yang dapat dinikmati semua kalangan, sehingga semua yang telah membaca buku ini akan dapat merasakan apa yang telah dirasakan tokoh-tokoh dalam buku ini dan juga mendapatkan pengetahuan dari apa yang sebenarnya terjadi.

Daftar Pustaka

Alexievich, Svetlana. 2005. Voices from Chernobyl – Chronicle of the Future. London: Dalkey Archive Press

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Kiev. 2016. 26 April 1986, Reaktor Nuklir Chernobyl Meledak, (online), (http://internasional.kompas.com/read/2016/04/26/12171741/26.April.1986.Reaktor.Nuklir.Chernobyl.Meledak diakses 3 Januari 2017)

The Swedish Academy. 2015. The Nobel Prize in Literature 2015 – Svetlana Alexievich, (online), (https://www.nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/2015/bio-bibl.html diakses 3 Januari 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s