Ummi Anisa


Segala hal yang di lakukan dunia ini –apalagi jika hal tersebut dapat mengubah dunia ke arah yang lebih baik, akan terasa lebih menyenangkan jika mendapatkan apresiasi. Salah satu dari apresiasi yang sangat ternama di dunia ialah penghargaan Nobel atau akrab disebut Nobel Prize. Penghargaan Nobel ini pun bermula pada sosok Alfred Bernhard Nobel, ia merupakan seorang ilmuwan Swedia yang berhasil menemukan penemuan besar bagi dunia, yakni dinamit. Berkat penemuannya tersebut, ia mendapatkan limpahan kekayaan yang begitu besar namun sangat disayangkan, penemuannya disalahgunakan sebagai senjata pemusnah oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Atas dasar kekecewaannya itulah, ia mengalami penyesalan dan memutuskan untuk menghibahkan segala harta kekayaannya untuk orang-orang berdedikasi tinggi yang berhasil menciptakan penemuan yang bermanfaat bagi banyak orang atau mengubah dunia ke arah yang positif.
Pada tahun 1901, Alfred akhirnya mendirikan Nobel Foundation dan mulai resmi setelah ia menganugerahkan penghargaan perdana tersebut kepada 6 orang tokoh untuk 6 kategori, yakni dalam bidang Fisika, Kimia, Kedokteran, Sastra, Perdamaian, serta Ekonomi. Penghargaan tersebut dilakukan rutin setiap tahun dan diberikan setiap tanggal 10 Desember atau bertepatan dengan hari kematian Alfred Bernhard Nobel. Penganugerahan Nobel ini digelar di Stockholme Concert Hall, Swedia. Akan tetapi, penghargaan di bidang Perdamaian, penganugerahannya digelar di Oslo City Hall, Norwegia. Tentunya, karena Nobel Prize ini merupakan penghargaan yang bertaraf internasional, maka para peraih Nobel ini pun bukan sembarang orang. Seleksi para peraih Nobel ini melibatkan hingga 3.000 orang kaum intelektual yang berasal dari Lembaga Pemerintahan, Mahkamah Internasional, para Rektor, para Guru Besar, Lembaga-lembaga Penelitian, penerima-penerima Nobel sebelumnya, serta para anggota dari Nobel Foundation di seluruh dunia. Oleh sebab itu, proses pemilihan tersebut memakan waktu yang tidak sedikit, yakni satu tahun lamanya.

Perihal Tomas Gösta Tranströmer
Dari sekian banyak kategori atas penghargaan Nobel, belakangan ini yang menjadi topik perbincangan hangat ialah penghargaan Nobel Sastra yang pada tahun 2016 yang diberikan kepada Bob Dylan. Hal ini menjadi kontroversi bagi beberapa kalangan sebab menganggap Bob Dylan bukanlah orang yang berkecimpung atau bergelut di bidang Sastra. Ia bukan seorang penyair atau pun penulis, melainkan seorang Musisi. Dan yang lebih menjadi sorotan ialah sikap Bob Dylan yang menolak hadiah Nobel tersebut.
Beralih dari kasus Bob Dylan yang sangat fenomenal, mari mundur sedikit untuk bernostalgia dengan peraih Nobel Sastra tahun 2011. Yang menarik dari sosok lelaki yang menerima hadiah Nobel pada usia senja ini ialah ia berasal dari Swedia. Ia lahir di Stockholm, Sweden tepatnya pada tanggal 15 April 1931. Walaupun atas kemenangannya itu ia berhak atas hadiah senilai 10 juta kron Swedia atau setara US$ 1,45 juta atas penghargaan Nobel yang diumumkan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, ia merupakan peraih Nobel Sastra kedua yang berasal dari Swedia, yang sebelumnya pada tahun 1974 pernah di raih oleh Eyvind Johnson dan Harry Martinson. Alih-alih berasal dari negara yang sama dengan negara tempat penganugerahan nobel, Tomas Gösta Tranströmer tidak sedikit menuai cibiran yang kurang sedap didengar. Ada yang mengkritik terkait ketidakmerataan peraih Nobel yang sejak tahun 2011, 10 peraih Nobel Sastra terakhir berasal dari Eropa dan Tomas Gösta Tranströmer merupakan orang ke delapan. Namun, dilansir dari website resmi Nobel Prize, para dewan juri mengatakan bahwa alasan Tomas Transtromer menjadi peraih Nobel pada masa itu ialah “because, through his condensed, translucent images, he gives us fresh access to reality.” atau yang berarti “karena, melalui gambar-gambar ringkas, tembung pandang, ia memberi kita akses segar ke realitas.”. Sekretaris tetap di Swedish Academy pun, Peter Englund selaku yang menyerukan pengumuman peraih Nobel Sastra, membenarkan bahwa keputusan memilih orang Swedia sebagai pemenangnya telah dilakukan dan dipikirkan secara matang-matang.
Lebih lanjut, sosok Tomas Gösta Tranströmer sendiri sudah pernah masuk sebagai nominasi Nobel Sastra sejak tahun 1993. Namun baru mendapatkan penghargaan tersebut pada tahun 2011 setelah mengalahkan para sastrawan dunia terkemuka seperti novelis Haruki Murakami asal Jepang, Adonis dari Suriah, dan musisi Amerika: Bob Dylan.
Kabar mengenai Tomas Gösta Tranströmer atas kesuksesannya meraih Nobel Sastra pun nampaknya bukan sesuatu yang mengherankan, sebab puisi-puisinya telah diterjemahkan hampir ke dalam 60 bahasa dalam kurun waktu 5 dekade terakhir, ia pun kerap meraih berbagai penghargaan bergengsi lainnya, yakni Bellmanpriset (1966), Petrarca-Preis (1981), Neustadt International Prize for Literature (1990), Nordic Council Literature Prize (For the Living and the Dead, 1990), Swedish Academy Nordic Prize (1991), Horst Bienek Prize for Poetry (1992), Augustpriset (1996), Jan Smrek Prize (1998), Struga Poetry Evenings Golden Wreath (2003), Griffin Poetry Prize (The Griffin Trust, Lifetime Recognition Award, 2007), serta Title of Professor (The Cabinet of Sweden, 2011).
Selain menjadi pegiat sastra –dalam hal ini puisi, Tomas Gösta Tranströmer juga seorang psikilog. Ia selalu mahir membagi waktunya antara kegiatan menulis dengan pekerjaannya sebagai seorang psikolog. Buku-buku puisi yang pernah ditulis olehnya, antara lain 17 Poems (17 dikter, 1954), Secrets on the Way (Hemligheter på vägen, 1958), The Half-Finished Heaven (Den halvfärdiga himlen, 1962), Bells and Tracks (Klanger och spår, 1966), Seeing in the Dark (Mörkerseende, 1970), Paths (Stigar, 1973), Baltics (Östersjöar, 1974), The Truthbarrier (Sanningsbarriären, 1978), The Wild Market Square (Det vilda torget, 1983), For the Living and the Dead (För levande och döda, 1989), The Sorrow Gondola (Sorgegondolen, 1996), Prison (Fängelse, Edition Edda, 2001 from 1959), dan The Great Enigma (Den stora gåtan, 2004).
Ia mulai dikenal khalayak pertama kali pada tahun 1954 melalui buku puisinya yang berjudul 17 Poems yang menjadi debut sastra terbaik pada dekadenya. Setelah menerima Nobel Sastra, ia pun semakin di kenal di kancah dunia internasional. Karya-karyanya yang penuh dengan metafora membuat orang-orang menggemari puisi-puisinya. Berbagai puisinya pun kerap menggambarkan alam Swedia yang dipaparkan melalui tema kematian, kenyataan, kesepian, penebusan, dan lain sebagainya. Secara keseluruhan, puisi-puisi karangan Tomas Gösta Tranströmer bercerita mengenai perjalanannya ke Balkan, Spanyol, dan Amerika, juga tentang keresahannya terhadap konflik Baltik yang dianalogikannya sebagai pertentangan antara lautan dan daratan.

Analisis Struktural Puisi National Insecurity
Dari sekian banyak puisi yang telah diciptakan oleh Tomas Gösta Tranströmer, ada salah satu puisi yang menarik minat untuk menganalisisnya dengan pendekatan struktural. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, puisi-puisi Tomas Gösta Tranströmer mengandung metafora yang dapat melahirkan berbagai tafsiran yang beragam bagi para pembacanya. Teori struktural sendiri merupakan pendekatan yang berlandaskan pada hubungan unsur-unsur puisi yang menjadikan puisi tersebut terstruktur.
Pendekatan struktural mulanya dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Strukturalisme Praha. Sebuah karya sastra, puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Di satu pihak, struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah (Abrams, 1981:68 dalam Nurgiyantoro, 2007:36). Di pihak lain, struktur karya sastra juga mengarah pada pengertian hubungan antar unsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh (Nurgiyantoro, 2007:36).
Berikut merupakan salah satu puisi dari Tomas Transtromer yang berjudul National Insecurity yang dikutip dari ofiicial website resminya di https://tomastranstromer.net/transtromer-in-translation/poetry/. Puisi tersebut termuat dalam buku New and Collected Poems pada tahun 1997 yang diterjemahkan oleh Robin Fulton ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh Bloodaxe Books.

National Insecurity
By Tomas Gösta Tranströmer
The Under Secretary leans forward and draws an X
and her ear-drops dangle like swords of Damocles.
As a mottled butterfly is invisible against the ground
so the demon merges with the opened newspaper.
A helmet worn by no one has taken power.
The mother-turtle flees flying under the water.

Struktur fisik puisi ialah unsur pembangun puisi yang nampak. Unsur-unsur itu terbentuk atas susunan-susunan kata yang ada di dalam sebuah puisi. Struktur fisik puisi terdiri atas diksi, citraan atau imaji, kata konkret, dan bahasa figuratif.
Diksi –merupakan pilihan kata yang digunakan penyair agar puisi yang diciptakannya memiliki nilai seni dan unsur estetika. Dalam puisi tersebut, Tomas Gösta Tranströmer menggunakan pilihan kata yang cukup rumit. Kata-kata yang digunakannya tidak langsung tertuju pada pesan yang ingin disampaikannya. Ia begitu banyak menggunakan metafora di dalam puisi National Insecurity ini.
Citraan atau imaji, adalah susunan kata-kata yang merupakan bagian dari pengalaman indrawi. Dalam hal ini, imaji dibagi menjadi tiga macam, yakni imaji penglihatan, pendengaran, dan imaji peraba. Di dalam puisi National Insecurity ditemukan adanya imaji penglihatan yang terdapat pada larik ketiga yang berbunyi /As a mottled butterfly is invisible against the ground/, larik kedua yang berbunyi /and her ear-drops dangle like swords of Damocles./, dan larik keenam yang berbunyi /The mother-turtle flees flying under the water./. Selain itu juga ada imaji peraba yang terdapat pada larik pertama yang berbunyi /The Under Secretary leans forward and draws an X/.
Kata Konkret, ialah kata yang dapat ditanggap oleh indera yang memungkinkan munculnya imaji oleh pembaca. Berikut ini adalah kata konkret yang terdapat dalam puisi National Insecurity: /draws/, /dangle/, /mottled/, /newspaper/, /helmet/, /flees/, dan /flying/.
Bahasa Figuratif atau bahasa kiasan merupakan unsur yang diciptakan penyair untuk memberi kesan puitis terhadap karangannya. Bahasa figuratif juga biasa disebut dengan majas. Dan di dalam puisi National Insecurity terdapat beberapa majas, yakni majas simile yang terlihat pada larik kedua yang berbunyi /and her ear-drops dangle like swords of Damocles./ di dalam larik tersebut telinga (ear) diumpakan sebagai pedang Damocles yang menjuntai dengan kata /like/. Ditemukan juga majas personifikasi yang terdapat pada larik ketiga yang berbunyi /As a mottled butterfly is invisible against the ground/ di dalam larik tersebut penyair menggambarkan manusia sebagai kupu-kupu berbintik-bintik yang tidak terlihat oleh tanah. Kemudian juga terdapat majas hiperbola yang terdapat pada larik keenam yang berbunyi /The mother-turtle flees flying under the water./ di dalam larik tersebut terlihat ada hal yang sangat dilebih-lebihkan, yaitu terbang di bawah air (flying under water).
Setelah menelaah mengenai struktur fisik sebuah puisi, hal selanjutnya ialah analisis struktur batin yang merupakan bagian tak kasat mata yang ada di dalam puisi. Struktur batin inilah yang berperan penting membuat sebuah puisi menjadi jauh lebih hidup dan membangun makna puisi tersebut agar tertangkap oleh para pembaca. Struktur batin puisi terdiri atas tema, rasa, nada, serta amanat.
Tema atau makna (sense) dalam puisi merupakan keseluruhan gagasan yang ingin disampaikan oleh sang penyair. Tema dalam puisi National Insecurity ialah mengenai politik. Hal ini dapat dilihat dari adanya kata-kata /The Under Secretary/ yang berarti wakil menteri dan /power/ yang berarti kekuasaan.
Rasa ialah sikap penyair yang diciptakan atas permasalahan yang ada di dalam puisi karangannya. Rasa atau feeling yang terdapat dalam puisi ini adalah pengungkapan rasa kekecewaan terhadap jajaran pemerintahan yang berlaku semena-mena karena memiliki kekuasaan.
Nada atau tone adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Nada sendiri sangat berkaitan erat dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan puisi karangannya dengan nada yang didasari atas tema dan rasa yang terbentuk. Nada yang terkandung dalam puisi National Insecurity ialah nada kemarahan yang bercampur dengan kekecewaan atas sikap pemerintah.
Amanat merupakan pesan atau nasihat yang ingin disampaikan sang penyair kepada para pembaca puisinya. Pesan ini bisa ditangkap secara langsung maupun tersirat, tergantung oleh pemaknaan pembaca atas puisi itu sendiri. Dan di dalam puisi National Insecurity terdapat pesan bahwasanya suatu masalah tidak akan terselesaikan tanpa adanya perlawanan. Seperti Tomas Gösta Tranströmer yang melawan peristiwa kerawanan sosial dengan sebuah puisi. Puisi tersebut juga memiliki pesan bahwa kekuasaan mengambil peran penting dalam segala hal, terutama politik.
Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tomas Tranströmer (the ofiicial website), 2011. Ten poems by Tomas Tranströmer, (https://tomastranstromer.net/transtromer-in-translation/poetry/ di akses pada 3 Januari 2017)

The Swedish Academy. 2011. The Nobel Prize in Literature 2011–Tomas Tranströmer, (https://www.nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/2011/ di akses pada 5 Januari 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s