Nicko P.


Membaca adalah sebuah keharusan, yang membuat kita berpikir lebih dalam; Bagaimana bisa? Kenapa seperti itu? Mengapa bisa? Untuk apa semua itu? Kapan kejadian itu bermula? Di mana tempatnya? Beberapa pertanyaan yang mengharuskan kita menggunakan rujukan kalimat tanya 5W+1H. Kita tidak ingin membahas itu, sebab kita akan melihat bagaimana ciamiknya karya Orhan Pamuk, yang mendapatkan raihan nobel pada tahun 2006. Karya-karya yang termahsyur, menjadi sebuah pra-anggapan untuk dibahas secara mana suka.
Minat pembaca bagi masyarakat kita, saat ini telah mengalami peningkatan yang cukup baik. Para pembaca-pembaca baru biasanya didominasi oleh sebagian remaja yang sedikit banyaknya akan membaca sebuah cerita-cerita cinta dikalangan mereka. Nantinya, mereka dengan sendirinya akan merasa naik tingkat untuk bahan membaca mereka. Jelas, mereka tidak mau jika nantinya akan tertinggal dengan teman-temannya saat sedang membahas ringan tentang beberapa buku. Anggapan ini sangat diyakini. Beberapa kali sempat dibuat acara-acara bertajuk festival sastra dan juga buku. Seperti halnya; Asean Literary Festval, International Book Fair, Ubud Literary Award, dan juga beberapa universitas yang ikut serta dalam mengembangkan budaya membaca bertajuk sastra.
Dan menggunakan pendekatan stukural kiranya kita dapat melihat, bagaimana tema dalam cerita, alur, latar, tokoh serta amanat yang tergambarkan pada cerita tersebut. Kita akan diajak mengelilingi Turki dengan melihat analisis ini.
Apa kalian tahu, bagaimana Turki dengan segala keindahannya? Sokullu Mehmet Pasa Mosque, yang mempunyai keajaiban dengan arsitekturnya yang indah serta menawan. Dan menawarkan kita untuk mengenal siapa Kara Mustafa Pasha. Lalu dengan begitu kita bisa melihat Istanbul ─ begitu megahnya.
Pra-anggapan mengenai kehidupan beragama kiranya begitu sensitif untuk ditafsirkan. Kiranya, terkhusus untuk kota kenamaan kita yang beberapa bulan lalu sempat mendapat peringatan; seorang pemimpin yang menistakan sebuah kitab suci Al-Quran. Orhan Pamuk, pria kelahiran Turki yang pada tulisan di atas menyebutkan jika Ia memenangkan hadiah nobel pada tahun 2006 silam, menceritakan; bagaimana sebuah tekanan mengenakan Jilbab di sekolah dan kasus-kasus bunuh diri, yang kebanyakan dari mereka ialah seorang perempuan.
Nobel yang awalnya diciptakan oleh seorang industrialis berkebangsaan Swedia, Alfred Nobel pada tahun 1901. Memberi sebuah penghargaan untuk beberapa komite di berbagai bidang. Sastra, kimia, fisika, perdamaian, dan ekonomi. Pada awalnya wasiat ini ditentang penuh oleh beberapa anggota keluarga Nobel, karena bagi mereka ─ harta benda Nobel nantinya semakin lama akan semakin berkurang, jika warisannya itu selalu diberikan kepada komite-komite yang memenangkan hadiah pada setiap tahunnya. Ketika 4 tahun berlangsung, akhirnya Nobel pertama diberikan di Stockholm, Swedia.
Dari sinilah kita akan membahas bagaimana Turki, yang begitu religiusitasnya dalam kehidupan beragama, digambarkan oleh Orhan Pamuk; masyarakat radikal, fundamentalis, dan juga sekuler.
Sebuah novel yang amat relevan dengan situasi masa kini. The Times.
Begitulah sebuah majalah memberikan sebuah tafsiran untuk karya Orhan Pamuk ─ Salju, salah satu karya terbaiknya yang memenangnkan hadiah nobel sastra pada tahun 2006. Mengetahui bagaimana masyrakat kita yang terlalu reaksionis dan begitu sensitifnya ketika membahas atau sering kali bersinggungan mengenai agama. Relevan dengan beberapa kota kenamaan di belahan dunia kita sekarang ini.
Isu-isu dalam beragama, serta intoleransi dalam beragama disajikan penuh oleh Orhan Pamuk dalam karyanya yang sejujurnya tidak begitu relevan dengan judulnya Salju yang hanya menggambarkan kerinduan seorang penyair muda bernama Ka untuk pulang ke kota Kars dan melihat bagaimana salju yang turun di kota itu masih menyimpan beberapa kenangan baik dengan wanita cantik bernama Ịpek.
Berkenaan dengan sebuah pemberitaan, Ka yang merupakan seorang penyair dan atas nama media cetak mingguan di Turki ─ Republika. Ka datang untuk memastikan dan membuat sebuah pemberitaan; mengapa penggunaan “Jilbab” dilarang untuk kaum wanita Ankara (Ibu Kota Turki) dan juga apa yang menyebabkan banyak wanita bunuh diri di kota Kars. Apakah hanya sebatas perjodohan yang diucapkan secara serta merta oleh orang tuanya, ataukah juga hanya sebatas pengusiran dari ruangan kelas dan menunggu di koridor sekolah?
Berkenaan pula dengan hubungannya pada kota kenamaan di dalam negeri kita sendiri. Beberapa bulan belakangan ini ada seorang pemimpin kota, begitu mudahnya menistakan sebuah kitab suci Al-Quran, dan menyulut para masyarakat kota Jakarta ─ mayoritas penduduknya beragama Islam. Para media yang diharapkan mampu untuk menenangkan pola pikir masyarakat kita, dirasa tidak mampu untuk menghadapi masyrakat reaksioner kita sekarang ini. Sebuah pemberitaan hoax yang diberitakan beberapa media kenamaan, menambah sebuah penghujatan bagi masyarakat reaksioner kita.
Jilbab, atau nama lain di negara luar sana; Hijab, Chador, atau Abaya. Kita mengetahuhi, jika Jilbab ialah bagian dari tren berbusana muslim, dan memang bagi umat Islam, wanita yang mengenakan Jilbab ialah wajib hukumnya. Namun di sisi lain, Jilbab” saat ini juga seringkali digunakan untuk berpenampilan jauh lebih menarik ─ bukan hanya sekadar pelindung/penutup kepala. Kita melihat, peraturan mengenakan jilbab di dalam negeri kita sendiri memang sudah kendati diharuskan. Terutama untuk lembaga pendidikan yang mempunyai latar belakang Islami.
Mitos jika mengenakan sebuah jilbab akan menambah kecantikan juga terdapat dalam cerita. Mitos yang selalu beranggapan; kenakanlah jilbab, nantinya akan menambah kecantikan yang berlebih bagi dirimu. Tuhan juga akan menyukaimu. Sebab itu sama saja kamu menutup kepalamu untuk tidak dilihat oleh lelaki yang bukan muhrim-mu. Mengenakan sebuah jilbab adalah pilihan. Berarti setiap wanita, berhak untuk tidak mengenakan dan juga berhak untuk mengenakan. Indonesia sendiri mempunyai kota Aceh yang mewajibkan semua wanita muslim untuk mengenakan jilbab ketika sedang berada di luar rumah tanpa ada pengeculian ─ polisi, tentara, dan para pegawai negeri sipilnya. Ketika Pamuk menceritakan jika kota Kars di Turki, tidak mengindahkan para murid wanitanya untuk tidak mengenakan jilbab. Di sinilah kita yang merasa ada sebuah intoleransi di dalam kehidupan bangsa Turki. Apakah budaya barat yang menjadikannya? Ataukah ada unsur lainnya yang menyebabkan kepala daerah tidak mengindahkan jilbab itu sendiri?
Mengingat akan hal ini, jika jilbab sendiri di Indonesia sering dikaitkan para muslimahnya sebagai simbol bagi perlawanan terhadap bangsa barat. Dengan cara mereka melakukan pengajian-pengajian, dakwah-dakwah islam, dan menuntut ilmu inilah, sebenarnya kita harus melihat jilbab bukan hanya dari sisi ke-agamaan itu sendiri ─ yang melulu mengaitkannya dengan kitab suci Al-Qur’an. Di sisi lain, kita harus melihat, bagaimana konteks dan motivasi si pemakainya itu, yang menjadi bukti adalah jika ini adalah perlawanan bagi bangsa yang menjadi fakta bagi negara-negara Dunia Ketiga sepanjang masa kolonial hingga pasca kolonial. Namun, saat ini jilbab sangat mendapatkan tempat di dalam masyrakat Indonesia. Para wanita yang mengenakan jilbab, patut dihormati sejauh jilbab tidak menjadi sarana peninggiran perempuan dari ruang publik dan sarana diskriminasi terhadap perempuan lain ─ yang selalu berpakaian terbuka dan selalu mengikuti budaya barat.
Jadi, apakah kita akan bertindak radikal dan cukup ekstrem seperti halnya yang dilakukan oleh pemuda kecil yang berjalan selama dua hari, melintasi salju yang tebal dan berjalan seorang diri di tengah badai yang cukup ekstrem. Bertepatan pada siang hari ─ yang bisa kita ketahui di dalam cerita tersebut. Di sebuah rumah makan bernama Toko Kue Hidup Baru, seorang Profesor sedang aduhai sekali menyantap makanannya, sementara di meja sebelah sedang ada perdebatan antara Ịpek dan Ka. Profesor itu sama sekali tidak mengetahui, jika perdebatan yang tidak ingin didengarnya itu, adalah perdebatan terakhir yang Ia dengar sebelum ada pemuda kecil yang datang dan mengajaknya berbicara.
Percakapan yang begitu tenang, sehingga tidak ada seorang-pun yang menaruh curiga akan apa yang dilakukan si pemuda kecil itu. Profesor Nuri Yilmaz, ialah seorang lelaki tua yang merupakan kepala sekolah dasar di kota Kars. Ia begitu yakin ketika pemuda kecil itu menanyakan beberapa pertanyaan mendasar dan normatif kepadanya. Pemuda kecil itu jua begitu yakin; akan jawaban apa yan diucapkan oleh Profesor nantinya. Mereka berbicara denan tenang, tidak terdengar suara lantang yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak. Profesor juga tidak tahu, apa sebenarnya alasan pemuda ini datang dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang dirasa cukup fundamental.
Pemuda kecil ini beranggapan; Profesor adalah seorang yang sekuler. Lalu Ia menambahkan jika Profesor juga seorang Ateis, dan bukan muslim seperti yang tertera di kartu identitasnya. Percakapan dirasa tegang, ketika pemuda kecil itu menanyakan apakah nurani Profesor tidak terusik sama sekali, ketika Ia harus melihat sendiri ─ para murid yang masih setia mengenakan jilbab di sekolah, harus menunggu di koridor sekolah dan harus menunggu di luar gerbang sekolah sampai mereka putus asa menunggu dibukanya gerbang. Dan tidak ada perlakuan lain kecuali, pulang ke rumah dan melakukan tindakan bunuh diri.
Kita melihat, sebuah kekokohan dalam menjalankan sebuah ajaran agama yang tidak serta merta diiringi oleh pola pikir yang kuat dan mengkritisi lebih dalam lagi; apakah yang dilakukannya itu benar, ataukah salah? Kita juga tidak akan melihat akan salah dan benar di dalam tulisan ini. Kita harus melihat apa penyebab si pemuda kecil itu, bertindak begitu ekstrimnya ketika di akhir percakapan bersama Profesor, Ia mengeluarkan revolver-nya dan menembakkan ke arah dada Profesore. Ka dan Ịpek yang berada di sana tidak bisa berbuat apapun, yang dilakukannya hanyalah melarikan diri, seolah merekalah pembunuh Profesor tersebut.
Orhan Pamuk, yang mengurung diri selama delapan tahun di dalam kamarnya ─ hanya untuk menuliskan karya pertama berjudul; Tuan Cevdet dan Anak-anaknya. Ia menulis rentan waktu pada tahun 1974-1978. Kita tidak harus selalu melihat Pamuk saat ini, lihatlah beberapa artikel mengenai dirinya. Ia yang selalu menadapat tamparan keras melalui hati dari teguran-teguran Ibunya, mencari dan menawarkan kepada penerbit untuk menerbitkan bukunya itu. Kita tahu, bagaimana Turki selalu menghasilkan beberapa penulis yang termahsyur selalu. Nazım Hikmet, Aziz Nesin, Kemalettin Tuğcu dan Fethi Naci, Jalaluddin Rumi, Nizami, Ibn Arabi. Pamuk juga membaca tulisan-tulisan mereka, sebab karya-karya mereka-lah yang memuat Pamuk berdiam diri di kamar selama 8 tahun.
Orhan Pamuk, dengan begitu ciamikny Ia selalu menggambarkan waktu di dalam cerita ini pada siang hari. Pamuk mungkin berpikir, jika sebenarnya percakapan dan aktivitas ktia selalu terjadi pada siang hari. Dan mungkin itulah yang membuat Profesor akhirnya terbunuh oleh pemuda kecil. Karena Ia sedang asiknya menyantap makan siangnya, lalu datanglah pemuda kecil, mengajaknya berbicara, lalu dengan aduhainya membunuh menggunakan revolver seperti koboi-koboi di adegan film indiana jones.
Beberapa tokoh memang mempunyai peranan penting dalam membangun emosi dalam cerita. Muhtar salah satunya. Muhtar seorang penyair, sama seperti Ka. Hanya satu hal yang memdekan mereka; Muhtar adalah suami dari Ịpek, sedangkan Ka adalah pengagum Ịpek sewaktu kuliah bersama. Muhtar kini membangun sebuah Partai politik yang diusungnya untuk meluluhkan hati kota Ankara ketika pemilihan kepala kota nantinya. Ya! Inilah yang dimaksudkan dengan kebobrokan sebenarnya. Menyinggung peristiwa beberapa bulan lalu, ketika kepala kota di Jakarta ini mengucapkan beberapa kalimat yang dirasa para kaum Islam sebagai penistaan. Memang, kita harus mengakui jika kekuatan masyrakat mayoritas sangat mendominasi sekali. Lihatlah pemberitaan sesekali, umat Islam yang menggelar aksi damai di tengah kota, membuat sebuah perubahan yang berarti bagi masyarakat lainnya. Sementara setelah permasalahan tersebut tidak menemukan hasil yang terbaik, datanglah beberapa calkn dengan begitu khidmatnya menyampaikan aspirasi sesekali, tanpa disadari dan merasa tersugesti akan ucapan-ucapan yang kiranya memasuki hati dan nurasi. Jadi, apakah dengan menggelar aksi damai dan menuntut untuk memenjarakan kepala kota itu berlangsung murni dan tidak ada salah satupun star construction yang melatar belakangi? Bukan kita harus menjadi sekuler seperti Profesor tersebut. Mari kita bersifat lebih toleran dan tidak melulu melaknat dan menjadi fundamentalis seperti pemuda kecil.
Baiklah, cukup akan merelevansikan hubungan jilbab itu dengan kota ini. Kita tidak ingin bukan, jika nantinya dicap sebagai penista. Kembali pada cerita yang dibuat oleh Orhan Pamuk ini. “Salju” berlatarkan tempat yang sudah ditulis berulang kali, Turki. Kota Ankara yang merupakan Ibu kota bagi Turki sendiri. Ya, sama seperti Jakarta dan Indonesia. Mempunyai relevansi yang begitu aduhai bukan.
Tempo, salah satu majalah terbaik di Indonesia. Dengan begitu khidmatnya menyatakan jika; “Layak dimasukkan ke dalam daftar novel-novel terbaik sepanjang masa.” Kita harus mensetujui tulisan tersebut, karenanya “Salju” memang pantas untuk dibaca serta diktritisi lebih baik untuk merelevansikan kepada perkembangan hidup sekarang ini. Turki memang sebuah negara yang berdekatan antara Eropa dan Asia. Turki juga tidak selalu yang dikenal dengan penduduk bermayoritaskan muslim di dalamnya. Turki juga tidak selalu dipandang buruk sebagai bangsa barat yang selalu menjalankan hidup sekuler di dalamnnya. Turki seperti Jakarta. Saat ini, yang dibutuhkan oleh Turki dan Jakarta adalah sebuah toleransi yang begitu berarti. Tidak melulu hidup dalam tekanan konservatif.
Membaca karya Pamuk, seperti membaca tulisan-tulisan dari Borges. Jika Borges yang menuliskan tentang “Sejarah Aib” yang dipikirnya setiap orang memang mempunyai sejarah bagi aibnya tersendiri, dan tergantung kita. Apakah akan mengingat aib itu sendiri, ataukah akan menuliskannya dan membagikannya kepada pembaca. Pamuk dengan “Salju” ini-lah Ia dirasa membuat aib baru bagi dirinya sendiri. Kiranya kita dapat meyakini jika “Salju” adalah cerita yang dialami pada kehidupan bangsa Turki sendiri. Alur yang maju, membuat cerita ini semakin menarik untuk dibaca secara lebih baik lagi. Memang begitu padat isi dari cerita, sehingga nantinya akan membuat kebosanan tersendiri bagi pembaca yang memang sudah disiapkan untuk membaca Teenlit saja. Mengetahui bagaimana Ka yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini, mempunyai hubungan yang erat dengan bangsa Jerman. Ka juga sempat dituduh sebagai sekuler oleh pemuda yang masih menempuh pendidikan madrasah aliah. Ka juga di-identikan sebagai Pamuk sendiri. Mengingat Pamuk adalah orang yang sering bergaul dengan penyair berkebangsaan Barat. Ka mengetahui, jika Muhtar adalah seorang islamis politis di kota Kars, dan Ia mengetahui bahwa itu tidak berjalan baik. Namun pemuda tersebut meyakini jika islamis politis sendiri adalah sebutan untuk para pejuang fundamental dari bangsa Barat yang sekuler.
Dan yan terakhir, marilah kita sama-sama melihat jika semua yang ada dalam kehidupan ini ─ agama, budaya, pendidikan, olahraga, dan lainnya. Jika nantinya akan dimasuki oleh beberapa paham politik oleh sebagian orang yang hanya meninggalkan paham dan mempunyai sebuah kemunduran bagi pengikut paham itu. Segala yang ada, akan menunjukkan segala intoleransi dalam sifat berkehidupan yang semestinya dijaga.

Jakarta, 4 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s