Kevin Ramadhan Bagaskara


Alice Ann Munro, lahir di Ontario, Kanada pada 10 Juli 1931. Usia 85 tahun tak menghentikan ia sebagai seorang penulis asal Kanada yang menerima Penghargaan Nobel Sastra pada tahun 2013. Munro dikenal sebagai penulis yang memberikan pengaruh dalam karya sastra, khususnya cerpen, bukan hanya di Kanada, tetapi juga di dunia internasional. Selain itu, ia juga menerima penghargaan Man Booker International Prize pada tahun 2009 dan merupakan pemenang tiga kali Penghargaan Gubernur Jenderal Kanada untuk kategori karya fiksi.

Munro mulai menulis cerita dalam lingkup remaja, dan menerbitkan karya pertamanya pada tahun 1968, Dance of the Happy Shades, yang menerima banyak perhatian di Kanada. Dia mulai mempublikasikan tulisannya di berbagai majalah sejak awal tahun 1950-an. Pada tahun 1971, ia menerbitkan kumpulan cerita berjudul Lives of Girls and Women, yang oleh para kritikus telah digambarkan sebagai Bildungsroman.

Predikat pemenang Nobel Kesusastraan 2013 jatuh pada Alice Munro, di Swedish Academy. Ia dipandang oleh lembaga pemberi Hadiah Nobel tersebut sebagai master of the contemporary short story. Tentu saja ini tak mengejutkan, karena pengarang asal Kanada ini di kalangan kritikus telah dikenal sebagai Chekov dari Kanada sebuah pujian untuk keahlian dalam bernarasi. Munro untuk mencapai semua ini mengingat ia telah memutuskan ingin menjadi penulis sejak berusia 11 tahun. Sungguh tak terbayangkan betapa kuat passion yang dimilikinya untuk terus menulis hingga di usia senja.

Hadiah Nobel yang pemenangnya diputuskan sesudah menjalani proses yang menghabiskan waktu sekitar satu tahun ini, seolah menggenapkan sekitar lima belas penghargaan yang pernah diraih Munro sebelum ini, antara lain Canadian Booksellers Award, Marian Engel Award, Trillium Book Award, National Book Critics Circle Award, O. Henry Award, Man Booker International Prize.

Munro bukan orang yang suka publikasi tinggi. Ia jarang tampil di depan publik dan tidak suka ke mana-mana untuk mempromosikan bukunya. Hal ini dapat dipahami dan mengetahui latar belakang kehidupannya yang sederhana. Sebagaimana diperoleh oleh berbagai media, Munro lahir dan tumbuh di  pedesaan. Ayahnya, Robert Eric Laidlaw, dikenal sebagai petani dan peternak sementara ibunya seorang guru sekolah di satu kota kecil. Kini Munro tinggal di Clinton, tak jauh dari rumah masa kecilnya di Ontario Barat Daya, Kanada

Pengarang muda masa kini dapat memetik banyak pembelajaran  dari eksistensi Alice Munro, terutama mengenai dua hal utama ini: menemukan passion terkuat di dalam diri kita dan membangunnya dengan kesungguhan yang tekun. Munro menuangkan lingkaran kecil hidupnya dan terutama masa kecilnya, tentang orang-orang biasa yang dekat dengannya atau orang-orang yang pernah dikenalnya, atau tentang diri sendiri. Ada empat cerpen yang menjadi penutup karier menulisnya, Dear Life adalah cerpen autobiografi. Lewat pilihan setting dan karakter dalam cerpennya, dia menunjukkan orang-orang biasa pun menjalani kehidupan yang besar, dengan segala pergulatan perasaan dan pemikiran mereka. Sehingga membentuk cerita yang komplek namun sederhana di pahami.

Sebagian besar, atau hampir keseluruhan, karakter utama Munro adalah perempuan, dari segala jenjang usia. Karakter perempuan dibentuk saling menuturkan orang-orang di sekitarnya. Cerita Munro dapat ditemukan seorang anak menceritakan tentang keluarganya dan konflik dri keluarga tersebut. Cerpen yang dikarangnya hingga puluhan halaman (sekitar 40.000-100.000 karakter dengan spasi) memberikan wadah yang sangat luas baginya untuk cerdas memainkan para tokoh, dari gaya berpakaian, gaya berbicara, benda-benda yang disukai, hingga begitu banyak detail dan subplot yang biasanya ada pada novel. Seolah-olah, para karakter itu tidak bisa lepas dengan benda-benda di sekitarnya dan relasi mereka terhadap alam atau individu lain. Melalui keterkaitan struktur cerita, Munro seperti mencoba membangun asosiasi sifat/kepribadian dari tokoh utama dari bagaimana mereka berkomunikasi dengan lingkungannya.

Kendati secara tema dan nuansa Munro bisa dibilang lebih dekat dengan Emily Bronte, secara gaya penceritaan dan narasi memang benar merujuk pada gaya bercerita Anton Chekov yang sederhana tetapi menyimpan makna yang dalam dan kompleks. Munro handal mengolah cerita agar penuturannya mengalir dengan aplikasi gaya naratologi yang segar. Dia tidak terlalu berkutat pada deskripsi yang berbunga-bunga atau rumit. Dia adalah salah satu cerpenis kontemporer terbaik karena dia mampu bercerita dengan cara sederhana tentang tema-tema yang kompleks, dengan kualitas narasi yang mengikuti zamannya: narasi-narasi new writing yang minimalis dan mirip gaya reportase, yang, barangkali, dipopulerkan berbarengan dengan berkembangnya new journalism.

Pemilihan tema Munro dalam cerita-ceritanya itu dapat dijelaskan dengan melihat keterpaparannya atas novel bacaannya di masa kecil, Wuthering Heights. Dalam Control The Uncontrollable: Fiction of Alice Munro, Ildikó de Papp Carrington beranggapan, kisah cinta tak sampai Heathcliff terhadap Catherine, termasuk kemunculan hantu Catherine, juga kematian misterius Heathcliff dalam novel Emily Bronte itu bisa jadi berpengaruh besar pada cerita-cerita Munro.

Dia membangun narasi untuk menceritakan kehidupan tokoh utama sejak kecil hingga mati. Beberapa cerpennya dalam kumpulan Dance of the Happy Shades dinarasikan dari sudut pandang anak kecil, juga utuh menceritakan keseluruhan hidup tokoh-tokohnya. Narator biasa membuka kisah melalui penuturan anak kecil/remaja, seperti melalui percakapan sederhana di teras rumah, atau drama hidup keseharian. Dalam wawancaranya dengan Graeme Gibson, Munro memang mengaku tidak bertujuan memanipulasi dan membuat rumit ceritanya. Pilihan diksinya terjaga supaya tetap mudah dipahami. Dalam kesederhanaannya itu, kisah-kisah Munro turut dibarengi sesuatu yang lebih besar, detail, dan berlapis-lapis seiring perkembangan karakter/watak dari tokoh utama. Tokoh utama menuju kedewasaan dengan melalui banyak pergulatan. Umumnya, Munro menjejali mereka dengan masalah-masalah domestik untuk menampilkan keintiman antara para tokoh dengan rumah/keluarga dengan tetangganya, atau bahkan dengan orang asing sekalipun (Dear Life dan Working for a Living).

Munro menarasikan kisah dengan sudut pandang pertama, Munro membuat karakternya begitu cerewet dalam mengomentari segala hal di sekelilingnya. Beragam teknik narasi, Munro fokus pada apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh karakternya dan mengupas selubung rahasia dari tokoh-tokoh itu yang meliputi penceritaan mengenai gender, kelas, usia, ras, dan banyak faktor lain.

Ekstra dari gaya menulis Munro yang mirip reportase membuat cerita-ceritanya tak terkesan seperti fiksi karena tampil sangat realis. Perempuan-perempuan dengan kesehariannya itu memesona dengan interaksi yang alami. Menariknya, dalam cerita Munro tentang rumah dan keluarga, tokoh pria seringkali digambarkan sebagai sosok jahat, seperti dalam Passion, Runaway, dan Fathers. Bila tidak selingkuh, maka bisa punya kecenderungan melukai atau membunuh. Selain tentang pandangan tokoh utama terhadap pria, perkembangan psikologis dan spiritual dari tokoh utamanya itu pula tampak lewat upaya Munro menggiring para karakter itu ke situasi batas seperti dalam teori Karl Jaspers: 1) Kematian, 2) Penderitaan, 3) Perjuangan, dan 4) Kesalahan.

Kombinasi keempat situasi itu muncul dalam Comfort, Family Furnishings, dan The Bear Came Over the Mountain. Ada kecenderungan dalam karya-karyanya yang mengkhidmati perasaan menyayat-nyayat tetapi tetap mampu kalem dalam menyikapi kisah cinta yang terlambat atau kisah cinta yang tak sampai. Comfort menceritakan mengenai kematian seorang suami akibat tekanan dari sekolah tempatnya mengajar agar ia menghentikan pandangan-pandangan atheis, ketidakpercayaan akan Tuhan yang berbeda yang ada dalam setiap agama. Family furnishings menceritakan mengenai tokoh anak perempuan terhadap seorang wanita asing yang terlalu sering datang ke kehidupan ayahnya hingga di hari pemakaman ayahnya, dia mendapati kenyataan hubungan percintaan ayahnya dan perempuan asing itu di masa lalu. Bentuk cerita mengenai ayahnya yang selingkuh dengan wanita lain yang ia ketahui setelah kematiaan ayahnya. Sosok ayah yang dianggap takan mengkhianati sebuah kesetiaan. The Bear Came Over the Mountain menceritakan pertahanan dan pergolakan batin seorang suami menghadapi istrinya yang tak bisa memberinya keturunan dan justru mengalami alzheimer. Ketiga cerita ini bercerita tentang kehilangan dengan caranya sendiri, dengan keterkaitannya dengan situasi-situasi batas itu. Cerita domestik dan nyata yang dalam kehidupan pembaca terjadi atau belum terjadi sehingga cerita pendek yang dikarang oleh Munro sangat erat dalam kehidupan pembaca. Munro diberi predikat lihai menceritakan tokoh-tokohnya dan membentuk keterkaitan antara plot, setting, latar dengan watak semua struktur yang membentuk cerita.

The Bear Came Over the Mountain mengeksplor relasi tokoh perempuan atau lelaki yang sudah menikah dengan orang di luar pernikahan mereka. The Bear Came over The Mountain terbilang menarik karena Fiona, tokoh utama perempuan, mengalami alzheimer. Karakter ini membuat Munro begitu lentur memunculkan kepribadian Fiona dan suaminya, Grant. Fiona diceritakan tidak memiliki anak, ada kesan yang muncul dalam cerita bahwa kepikunan Fiona didorong oleh hasil diagnosis itu. Fiona sulit mengingat banyak hal, bahkan termasuk kehilangan ingatan tentang cara pulang ke rumah, dia perlu menelepon Grant untuk menanyai arah jalan pulang. Hingga suatu hari, lantaran kepikunannya, Fiona membuat rusuh dengan polisi. Hal ini membuatnya masuk suaka rehabilitasi. Di sana, dia bertemu dengan Aubrey, pria lansia yang mengalami permasalahan ingatan seperti Fiona. Fiona sering menemani Aubrey bermain kartu dan ada perasaan saling mengisi di antara mereka. Di rehabilitasi itu, Fiona melupakan Grant sepenuhnya. Grant sering datang berkunjung, dan melihat kedekatan Fiona dengan Aubrey, tetapi ia tak benar-benar tampak cemburu. Terkadang, Grant malah berpikir Fiona hanya menjebaknya dalam permainan. Di sini, Munro menampakkan Grant yang dingin dan “sedikit jahat” karena seolah-olah ia tak cemburu terhadap kedekatan Fiona dan Aubrey. Penceritaan kilas balik dalam cerpen itu kemudian memperjelas situasi karena menunjukkan bahwa Grant telah melakukan hal yang sama sebelumnya. Sebagai dosen, berulang kali dia telah pernah berselingkuh dengan mahasiswinya. Anggapan Grant bahwa dirinya dijebak sebenarnya adalah rasa bersalahnya karena sebelumnya ia telah berselingkuh berkali-kali. Bahkan, diceritakan dalam narasi omniscient, menjelang akhir cerita, Grant berencana berselingkuh dengan istri Aubrey.

Tentang hubungan kekuatan dan hasrat seksual, tema-tema kematian sangat mendominasi karya Munro, begitu banyaknya rahasia yang adalah kombinasi dari seks dan kematian (setiap terjadi kematian, selalu dibarengi oleh seks). Dalam Comfort, saat kehilangan suaminya, Lewis, Nina justru melakukan hubungan seks dengan pria lain yang adalah seorang pendeta. Dalam keintiman percakapan mereka, Nina bahkan sempat bertanya: “Do you believe in such a thing as souls?” yang dijawab oleh pria itu dengan tarikan napas beserta anggukan, “Yes.

Selain kombinasi seks dan kematian, wujud pengaruh Wuthering Heights tampak pada bagaimana karakter-karakter Munro, seperti bagaimana orang yang telah mati menjadi begitu kuat mempengaruhi kehidupan mereka yang masih hidup dalam Friend of My Youth. Narasi gotik ini terkesan misterius karena kemunculan roh si Ibu dalam mimpi si Aku tak mendapatkan porsi penjelasan yang cukup dan malahan si Aku membentuk kesimpulan-kesimpulannya sendiri sepanjang jalan cerita. Hal ini menunjukkan seakan-akan ada benang tak tampak dalam relasi setiap tokoh di karya Munro, bahkan benang tak tampak antara yang-mati dan yang-hidup. Munro menciptakan kebetulan-kebetula tetapi dengan tangan yang tak terlihat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s