Ibnu Hafizh Baihaqi


Sastra berasal dari bahasa sansakerta shastra yang artinya adalah “tulisan yang mengandung intruksi” atau “pedoman”. Dalam masyarakat Indonesia definisi sastra masih bersifat kabur, pengertiannya kadang menjadi bias. Pengertian sastra merujuk pada kesusastraan yang diberi imbuhan ke-an. “Su” artinya baik atau indah dan “sastra” artinya tulisan atau lukisan. Jadi, kesusastraan artinya tulisan atau lukisan yang mengandung kebaikan atau keindahan. Sastra terbagi menjadi sastra lisan dan tulisan. Sastra lisan berkaitan dengan berbagai macam karya dalam bentuk tulisan sedang sastra lisan adalah karya sastra yang diekspresikan langsung secara verbal. Dalam perkembangannya istilah sastra dengan sastrawi mempunyai perbedaan makna. Sastra diartikan lebih terbatas pada bahasa tulisan sedangkan sastrawi memiliki makna dan ruang lingkup lebih luas. Istilah sastrawi merujuk pada sastra yang bersifat lebih puitis dan abstrak. Sastrawan adalah istilah yang berasal dari istilah sastrawi, yaitu orang yang berkecimpung dan mempunyai keahlian di bidang sastrawi.

Ketika berbicara mengenenai sastra mungkin yang terlintas dalam benak kita adalah keindahan bahasa. Kesusastraan adalah sebuah unsur kebahasaan yang mempunyai nilai-nilai estetik yang tinggi. Berbicara tentang sastra berarti kita mencoba untuk menggali nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam bahasa. Setiap bahasa mempunyai kesusastraan masing-masing yang tentunya mempunyai karakter dan cita rasa linguistik tesendiri.

Bahasa adalah sesuatu yang universal. Bahkan bahasa adalah unsur esensial dalam kehidupan manusia sehingga seorang ahli semiotika atau pakar komunikasi mengatakan bahwa manusia tanpa kemampuan berbahasa adalah tidak jauh berbeda dengan makhluk primata lainnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan manusia untuk menciptakan bahasa sebagai sebuah sistem simbol atau lambang yang digunakan untuk alat berkomunikasi adalah sesuatu yang luar biasa yang membuat manusia menjadi makhluk yang unik yang berbeda dengan makhluk lainnya. Tapi, tentu ini tidak berarti bahwa seseorang yang tidak mempunyai kemampuan berbicara dengan normal adalah bukan manusia.Mungkin itu asumsi yang bisa dianggap wajar terhadap pernyataan di atas tapi jelas kita harus memahami itu secara lebih luas dan kompleks karena kita tidak boleh terpaku pada aspek artikulasi semata tapi lebih dalam daripada itu.

Ada banyak macam karya sastra seperti puisi, prosa dan lainnya. Dari sekian banyak karya sastra yang telah diciptakan manusia dari zaman dahulu, maka mulailah bermunculan karya sastra yang bersinar sendiri. Bersinar di sini dalam artian bahwa karya itu berbeda, memiliki pengaruh bahkan bukan hanya di tempat asalnya, bisa juga mempengaruhi dunia.

Karya-karya sastra yang bersinar tersebut kemudian menjadikan pencipta karya tersebut sebagai orang berpengaruh, maka muncullah gagasasan untuk menciptakan sebuah penghargaan bagi karya sastra yang memang berkompeten.

Di berbagai belahan dunia sudah mulai banyak penghargaan-penghargaan sastra. Di mulai dari yang bersifat lokal sampai yang bersifat universal. Salah satu bentuk penghargaan sastra yang orang-orang tau mungkin hanyalah nobel pada bidang sastra, dan memang, nobel adalah penghargaan yang terbilang hebat. Namun tidak itu saja, banyak sekali penghargaan yang sudah muncul. Bahkan, Indonesia yang walaupun penghargaan terhadap sastrawannya sangatlah rendah, namun tetap memilikinya.  Berikut ini mungkin akan saya jabarkan apa saja penghargaan-penghargaan sastra yang ada di dunia juga Indonesia.

 Penghargaan Hans Christian Andersen

Setiap tahun genap atau tepatnya dua tahun sekali pada bulan maret, International Board on Books for Young People mengumumkan pilihan mereka atas pengarang dan Ilustrator terbaik yang berhak atas penghargaan bergengsi The Hans Christian Andersen Awards.

Untuk memenangkan penghargaan ini, syaratnya ilustrator dan pengarang buku anak-anak itu masih hidup dan berkarya pada tahun pemberian penghargaan syarat lainnya antara lain karya lengkap ataupun ilustrator itu harus memberi sumbangan yang tak lekang pada kesusatraan anak-anak dunia.

Hingga saat ini, penghargaan Hans Christian Andersen Award dinilai sebagai penghargaan Internasional tertinggi bagi pengarang dan ilustrator buku anak-anak. Penghargaan ini diberikan untuk pengarang sejak 1956, dan untuk Ilustrator sejak 1966. (Wikipedia)

 Man Booker Prize

adalah sebuah penghargaan sastra yang dianugerahi setiap tahun untuk novel asli terbaik, yang ditulis dalam bahasa Inggris, dan diterbitkan di Inggris. Pemenang Man Booker Prize umumnya telah meraih ketenaran dan kesuksesan internasional; setelah itu, penghargaan tersebut menambah nilai dagang buku tersebut.[1] Dari pembentukannya, hanya warga negara Negara-Negara Persemakmuran, Irlandia, dan Zimbabwe yang layak meraih penghargaan tersebut; namun pada 2013, kelayakannya diperluask kepada novel berbahasa Inggris apapun.

Sebelumnya penghargaan ini dikenal dengna nama Booker McConnel Prize. Salah satu peraih penghargaan ini adalah Eka Kurniawan, seorang penulis asal Indonesia yang mendapatkan penghargaan melalui karyanya yang berjudul cantik itu luka. Melenceng sedikit dari pokok bahasan, cantik itu luka merupakan novel ke sekian yang di tulis oleh Eka Kurniawan. Saya sebagai salah satu penggemar cerita fiksi merasa karya Eka cukup mumpuni, karna pada dasarnya Eka bermain-main menggunakan realisme magis.

Realisme magis didefinisikan sebagai gaya estetika atau mode di mana elemen magis ini dicampur ke dalam suasanan relaistik untuk mengakses pemahaman yang lebih dalam kenyataan. Unsur-unsur magis tersebut dijelaskan seperti kejadian normal yang disajikan secara langsung dan unemblellished yang memungkinkan ‘rela’ dan ‘fantasi’ untuk dapat diterima dalam aliran pemikiran yang sama. Telah banyak digunakan dalam kaitannya dengan sastra, seni dan film.

Realisme magis juga mendakukan kenyataan. Namun, realisme magis mengajukan sebuah dunia magis, dunia penuh keajaiban yang tak bisa dicerna akal sehat yang mendahului pengalaman sehari-hari manusia. Manusia luput melihatnya. Realisme magis berusaha memunculkan hal magis itu atau melihat kenyataan secara magis atau ajaib. Dunia magis, ini tidak terlepas dari kenyataan dan terpantulkan dalam kenyataan sehari-hari. Itu sebabnya, dalam karya-karya para sastrawan realisme magis seperti Borges, Marques, Okri atau Allende kerap mencul peristiwa, makhluk, lokasi, dan situasi yang ajaib dan magis. Semua keajaiban itu terjadi dalam kenyataan, bukan mistik yang mengingkari kenyataan.

Kata mempunyai beberapa fungsi. Fungsi secara bahasa dan fungsi secara keindahan sastra. Penempatan serta penyuntikan pemaparan tentang kekuatan yang dimiliki oleh sebuah kata seperti ini terkadang tidak diperhatikan. Penyair dalam kacamata awam hanya memiliki konsep tersendiri tentang pengamatan karanter serta watak dari setiap kata yang dijajarkannya. Jika seperti ini, maka bagaimana jika kodrat dari kata tersebut hanya sebuah konjungsi, penghubung, atau kata yang harus didongkrak maupun mendongkrak kawan kata lainnya untuk menimbulkan sebuah pengertian.

Dari segi keindahan sastra, kadang kata-kata melalui komunitasnya yng naratif dapat menghadirkan sebuah keajaiban dan pemaknaan baru tentang ketidakmungkinan, kadang berifat mistik, tetapi tetap bergerak pada gambaran kenyataan bahkan dalam wacana keseharian. Ketikan terkemas dalam wilayah sastra konkret tersebut lazim disebut dengan realisme magis atau magis-realis.

Kembali ke topik awal, bahwa eka memenangi penghargaan ini adalah sesuatu yang membanggakan dalam dunia kesusastraan Indonesia.

Newdigate Prize

Penghargaan ini didirikan sejak tahun 1806 sebagai penghargaan kepada Sir Roger Newdigate (1719 – 1806).Puisi pemenang akan dibacakan di Encaenia. Untuk menjadi salah satu pemenang diharapkan memenuhi kriteria sebagai berikut: “Panjang puisi tidak melebihi 300 baris.”

Beberapa pemenangnya yang cukup terkenal adalah Robert Stephen Hawker, John Ruskin, Matthew Arnold, Laurence Binyon, Oscar Wilde, John Buchan, John Addington Symonds, James Fenton dan Alan Hollinghurst.

Penghargaan yang sama namun diberikan oleh Universitas Cambridge, dikenal dengan nama Chancellor’s Gold Medal.penghargaan ini dinamakan menggunakan nama seorang parlemen di inggris yang berjasa dalam bidang kesastraan. Penghargaan ini juga dikenal dengan nama Sir Nedigate Prize.

 Penghargaan Akutagawa

Mungkin bagi para pengarang ataupun penulis Jepang, bulan Januari dan July merupakan masa yang paling mendebarkan. Dimana pada bulan tersebut, penghargaan Akutagawa (Akutagawa Prize) – anugerah paling prestisius dalam literature Jepang – akan diumumkan. Sebuah penghargaan yang pertama kali digelar tahun 1935 oleh Hiroshi Kikuchi (terkenal dengan nama pena Kikuchi Kan), editor majalah Bungei Sunju untuk mengenang seorang penulis bernama Akutagawa Ryunosuke.

Pengarang yang novel ataupun ceritanya terpilih memenangkan anugerah Akutagawa, akan mendapat penghargaan uang sebesar 1 jutan yen dengan jaminan bukunya menjadi best seller yang terjual hampir dari 10.000 eksemplar. Pengarang termuda yang mendapat Anugerah Akutagawa adalah Wataya Risa (19 tahun) dengan bukunya berjudul: “Keritai Senaka (A Back I Want a Kick)” untuk periode Januari 2004.

Juri dalam komite seleksi ini adalah orang-orang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam hal sastra serta kepenulisan. Sebut saja Ishihara Shintaro, yang kini menjabat sebagai gubernur Tokyo dan pernah meraih penghargaan Akutagawa tahun 1955 dengan novelnya berjudul “Taiyou no Kisetsu (Season of The Sun)” ataupun Oe Kenzaburo penulis Jepang yang pernah meraih Nobel di bidang sastra.

Berbicara tentang penghargaan paling prestisi Akutagawa Prize, tentu saja tak bisa lepas dari nama Akutagawa Ryunosuke. Siapa sebenarnya Akutagawa Ryunosuke?

Akutagawa Ryunosuke lahir di Kyobashi – Tokyo 1 Maret 1892, saat Jepang masih dalam periode pemerintahan Taisho, di tahun naga. Tidak salah jika sang ayahnya (Toshizo Shinbara) memberinya nama Ryunosuke (anak naga). Tidak lama setelah kelahirannya, sang ibu Fuku Shinbara) meninggal dunia, sehingga pengasuhan diberikan kepada paman dari ibunya (Akutagawa Dosho). Dari silsilah family name Shinbara berganti menjadi Akutagawa.

Sejak kecil Ryunosuke menyukai cerita-cerita klasik China dan pengagum tulisan-tulisan sastra terkenal Natsume Soseki. Perkenalan pertamanya dengan dunia tulis menulis adalah ketika memasuki sekolah menengah atas First High School tahun 1910 dan bersahabat dengan Hiroshi Kan (yang kemudian menjadi penulis terkenal). Mulai bernar-benar terjun menjadi penulis ketika melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Tokyo Imperial University, tahun 1913,jurusan Sastra Inggris.

Akutagawa Ryunosuke terkenal sebagai penulis cerita-cerita pendek, sehingga diberi gelar “Father of Japanese Short Story.” Cerita pendek pertamanya berjudul “Rashomon” (Singa Emas) sangat melegenda. Cerita ini mendapat sorotan baik dari berbagai pihak, diangkat ke layar lebar oleh Kurosawa Akira dan mendapat penghargaan oscar sebagai film asing terbaik. Ciri khas tulisan-tulisannya bertema alam, didominasi oleh situasi Jepang tahun 1900-an. Beberapa cerita yang sukses dipasaran diantaranya berjudul: “Mikan” (Mandarin Oranges, 1919) dan “Aki” (Autum, 1920).

Era tahun 1921, setalah menajalankan tugas sebagai reporter koran Mainichi Shinbun dan bertugas ke China empat bulan, ia jatuh sakit, tak lama setelah ceritanya yang terkenal “Yabu no Naka” (in the Grove) di terbitkan. Sakitnya ini berkepanjangan dan diduga Akutagawa Ryunosuke mengalami kelelahan fisik dan depresi mental. Ia sering berhalusinasi dan senang menuliskan cerita-cerita kehidupan setelah mati. Salah satu cerita satire hasil halusinasinya berjudul “Kappa” (1927) yang ditulis berdasarkan cerita rakyat Jepang.

Tahun 1927, diusianya yang terbilang muda 35 tahun, Akutagawa Ryunosuke mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dengan meminum over dosis obat tidur Veronal. Pesan terakhir yang menjadi alasan bunuh diri, diambilnya dari kata-kata yang ia tulis dalam cerita halusinasinya “Kappa” yaitu: “Boku no shourai ni taisuru dare bonyaritoshita fuan” (Kehawatiran terhadap masa depan yang tak pasti).

Selama hidup, Akutagawa Ryunosuke telah menghasil kira-kira 150 karya novel dengan genre: Short stories. Di tahun kedepalan kematiannya, sahabat terdekat Akutagawa Ryunosuke – Hiroshi Kan – yang menjadi pimpinan editor majalah Bungei Sunju, menggelar penghargaan bagi penulis-penulis baru dengan nama “Akutagawa Shou” (Akutagawa Prize).

 The S.E.A Writer Award

Anugerah  Penulis Asia Tenggara, Southeast Asian Write Award atau lebih dikenali sebagai S.E.A. Write Awards merupakan anugerah berprestij yang diwujudkan bagi mengiktiraf para penulis dan penyair terkemuka di negara-negara rantau ASEAN, iaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kemboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Anugerah ini mempunyai erti yang sangat besar kepada bidang sastera dan kreatif negara-negara Asia Tenggara, dengan sebahagian besar negara serantau terbelenggu oleh perbezaan bahasa, kebudayaan dan latar belakang kepercayaan. Perbezaan-perbezaan tersebut memberi warna yang berbeza kepada dunia kesusasteraan kerana dilahirkan mengikut acuan negara masing-masing. Walau bagaimanapun, untuk merapatkan jurang perbezaan tersebut sekali gus memberikan penghormatan kepada tradisi sastera, anugerah berprestij Anugerah Penulisan Asia Tenggara diwujudkan pada awal tahun 1979.

Idea untuk mewujudkan anugerah tersebut muncul dalam perbincangan pihak pengurusan Hotel The Oriental, Bangkok; Thai Airways, International Public Co. Ltd., dan Italthai Group of Companies. Objektif utamanya adalah untuk memupuk kesedaran dan pemahaman meluas tentang kekayaan sastera dalam kalangan sepuluh buah negara ASEAN.

Anugerah tersebut juga diadakan untuk menggalakkan para penulis di negara-negara ASEAN berkarya selain sebagai pengiktirafan kepada bakat dan kreativiti karya mereka. Anugerah ini kadangkala diberikan bagi mengiktiraf hasil tulisan khas penulis, atau pencapaian sepanjang hayat mereka. Hasil kerja yang dihargai pula pelbagai merangkumi hasil kerja puisi, cerpen, novel, drama, cerita rakyat, serta pengajian dan keagamaan. Satu keunikan dalam penyelenggaraan pemilihan penerima Anugerah ini ialah penerima dipilih oleh jawatankuasa pemilihan negara ASEAN itu sendiri.

Pada umumnya tarikh tutup penyertaan Anugerah ini ialah pada akhir April setiap tahun, dan penerima akan diumumkan pada bulan Ogos tahun yang sama. Mereka yang layak menyertai pencalonan ini termasuklah organisasi, intitusi yang mempunyai kaitan dengan hasil kesusasteraan, para penerbit, pakar bidang sastera, para penulis, pengkritik dan pembaca karya sastera.

Yang menariknya tentang Anugerah ini; semenjak tahun 1979, Pengerusi Jawatankuasa Penganjur Anugerah terdiri daripada kalangan kerabat diraja Thai, dimulai oleh Putera Prem Purachatra, salah seorang tokoh sastera Thailand yang terkenal. Apabila baginda mangkat pada tahun 1981, permaisurinya Puteri Ngamchit Purachatra bersetuju untuk memegang jawatan pengerusi, dan pada tahun 1982, Puteri Maha Chakri Sirindhorn pula menjadi Pengerusi Kehormat Jawatankuasa Penganjur. Puteri Vimalchatra meletakkan jawatan sebagai pengerusi pada awal tahun 1992 atas alasan kesihatan. Baginda diganti oleh Profesor Putera Subhadradis Diskul, salah seorang sarjana Thailand yang paling terkenal hingga tahun 1997, dan kemudiannya digantikan oleh M. L. Birabhongse Kasemsri, Setiausaha Sulit Utama Duli Baginda (1998-1999). M. R. Sukhumbhand Paribatra ialah Pengerusi Jawatankuasa Penganjur Anugerah Penulisan Asia Tenggara hingga sekarang.

 Penghargaan Prince Clause

                 Merupakan sebuah penghargaan dimana sebuah karya sastra dapat menimbulkan dampak positif bagi lingkungan sekitar juga khalayak luas.

 The Age Book Award

The Age Book Awards adalah penghargaan sastra tahunan yang disajikan oleh surat kabar The Age Melbourne. Penghargaan pertama kali disajikan pada tahun 1974. Sejak tahun 1998 mereka disajikan sebagai bagian dari Festival Penulis Melbourne. Awalnya, dua penghargaan diberikan, satu untuk fiksi (atau menulis imajinatif), yang lainnya untuk pekerjaan non-fiksi, namun pada tahun 1993, sebuah penghargaan puisi untuk menghormati Dinny O’Hearn ditambahkan. [1] Kriteria adalah bahwa karya menjadi “merit sastra yang luar biasa dan mengekspresikan identitas atau karakter Australia” dan diterbitkan dalam tahun sebelum penghargaan dibuat. Salah satu pemenang penghargaan terpilih sebagai The Age Book of the Year. Penghargaan dihentikan pada tahun 2013.

Itu tadi adalah beberapa penghargaan yang ada di dunia, namun belum saya bahas yang ada di Indonesia. Penghargaan-penghargaan tersebut merupakan penghargaan bergengsi dimana nominasi-nominasi yang dihadirkan adalah nominasi kelas atas yang mana, sastrawan Indonesia juga termasuk.

Salah satu orang Indonesia yang telah menerima penghargaan bergengsi tersebut adalah Andrea Hirata dengan novel Laskar Pelangi. Laskar pelangi adalah novel yang didasarkan oleh pengalaman pribadi dari andrea hirata sendiri. Menceritakan bagaimana sepuluh bocah cilik berjuang dalam pendidikan yang serba sederhana.

Novel berjudul Laskar Pelangi ini adalah novel pertama dari serangkaian tetralogi milik Andrea Hirata. Buku lanjutan Laskar Pelangi ini, berturut-turut adalah Sang Pemimpi, Endesor. serta Maryamah Karpov. Laskar Pelangi sendiri telah menjadi buku sastra terlaris sepanjang sejarah perbukuan di Indonesia. Dan perkembangan terakhirnya, novel apik ini telah diterbitkan di berbagai benua dalam berbagai bahasa. Apa yang menarik dari novel Laskar Pelangi ini?

Secara garis bersar, novel ini bercerita kehidupan kanak-kanak beberapa bocah di Belitong. Andrea Hirata memulainya dengan kisah miris dunia pendidikan di Indonesia dimana sebuah sekolah yang keurangan murid hendak ditutup. Sekolah tersebut adalah SD Muhammadiyah di Gantung Belitung Timur. Namun, karena murid yang terdaftar genap 10, sekolah dengan bangunan seadanyatersebut tetap diijinkan beraktifitas seperti biasanya. Ke-sepuluh murid tersebut adalah para laskar pelangi. Nama yang diberikan guru mereka bernama Bu Mus, oleh karena kegemaran mereka terhadap pelangi. Siapa saja mereka?

Tokoh dalam novel ini adalah Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan juga Harun. Mereka adalah sahabat yang kisahnya memesona dunia lewat tangan dingin sang penulis. Buku laskar pelangi bercerita keseharian mereka di sekolah dan di lingkungan sosial. Mereka adalah anak-anak desa dengan tekad luar biasa. Perjalanan mereka dipenuhi kejadian yang tak terduga. Secara perlahan mereka menemukan keunggulan ddalam diri dan persahabatan. Ini mungkin yang menjadi titik fokus Andrea Hirata. Ia juga piawai menyisip komedi dalam kisah ini.

Sudut pandang bercerita dalam novel ini menggunakan orang pertama yakni “aku”. Aku sendiri adalah si Ikal. Ia anak yang pandai meski berada di urutan kedua setelah Lintang, bocah terpandai di dalam kelas mereka. Si Ikal ini menaruh minat yang besar pada sastra. Hal ini terlihat dari kegemarannya menulis puisi. Lain lagi dengan tokoh Lintang. Ia digambarkan sebagai anak yang sangat jenius. Orangtuanya seorang nelayan, yang miskin dan hanya tidak memiliki perahu. Mereka memiliki keluarga dalam jumlah yang melimpah, 14 kepala. Lintang sangat suka matematika. Namun, cita-citanya menjadi seorang ahli matematika harus terpangkas dengan tuntutan membantu orangtua menafkahi keluarga. Terlebih saat ayahnya meninggal.

Tokoh lainnya adalah Sahara. Ia merupakan anak perempuan satu-satunya dalam cerita ini. Ia berpendirian kuat dan cenderung keras kepala. Sementara itu, Mahar, ia digambarkan bertubuh ceking dan mencintai seni. Ia suka menyanyi dan gemar pada okultisme. Tokoh berikutnya adalah A kiong. Dari namanya sangat jelas kalau ia merupakan keturunan Tionghoa. Ia sangat menyukai Mahar dan mengikutinya kemanapun. Ia digambarkan tak rupawan tetapi hatinya “tampan”.

Lanjut ke Syahdan. Perangainya ceria meski ia tak pernah menonjol dalam kelas. Sementara itu Kucai, adalah tokoh dalam cerita yang didaulat menjadi ketua kelas. Ia digambarkan menderita penyakit rabun jauh sebab ia kekurangan gizi. Borek, Trapani dan Harun adalah anggota laskar` pelangi yang terakhir. Borek digambarkan sebagai anak yang terobsesi dengan otot. Ia ingin menjadi lelaki yang paling macho. Trapani, ia tampan dan pandai. Ia lengket dengan sang ibu. Terakhir, Harun. Ia istimewa sebab ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia mengalami keterbelakangan mental. Namun menurut beberapa orang, tokoh Harun ini digambarkan dengan cukup manis sehingga banyak yang jatuh cinta pada sosoknya.

 

Novel laskar pelangi berkisah perjuangan hidup kesepuluh anak ini menghidupkan cita-cita di antara kehidupan mereka yang berat. Ada dinamika di dalamnya. Manis meski berat. Kisah khas anak-anak yang memandang dunia dengan ambisi yang sederhana. Andrea Hirata, meski banyak dihujat sebab mengklaim cerita ini nyata, memang terkesan berlebihan dalam beberapa hal. Namun toh, sebagai novel pembangun, Laskar Pelangi berhasil merubah secuil dunia pendidikan kita, merecharge semangat mereka yang lain untuk meraih ilmu.

 Penghargaan Sastra Pusat Bahasa

Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu, sejak tahun 1989, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menganugerahkan sebuah penghargaan yang diberikan untuk sastrawan yang konsisten berkarya, karyanya berbobot, serta membuka wawasan masyarakat akan sastra.

Penghargaan tersebut diberi nama “Penghargaan Sastra Badan Bahasa” (dahulu diberi nama Hadiah Sastra Pusat Bahasa (sesuai nama Badan Bahasa sebelumnya).

Penghargaan diberikan kepada karya asli yang dikarang dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan pada 5 tahun terakhir. Karya dapat berbentuk prosa, puisi, dan drama. Dan salah satu pemenangnya akan diajukan sebagai penerima SEA Write Award pada tahun yang sama. SEA Write Award adalah penghargaan untuk sastrawan Asia Tenggara yang diberikan oleh Kerajaan Thailand, sejak tahun 1979. Setiap tahun dipilih satu sastrawan tiap satu negara Asia Tenggara untuk menerima penghargaan tersebut

Hadiah Sastra Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa diberikan setiap tahun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional) dalam bidang penciptaan sastra untuk pengarang puisi, prosa, dan drama mulai tahun 1989. Sejak tahun 2001 seiring dengan perubahan nama instansi, namanya menjadi Hadiah Pusat Bahasa. Hadiah ini diberikan sebagai penghargaan penulisan karya sastra pada karya-karya terbaru yang diterbitkan pada lima tahun terakhir. Penghargaan ini diberikan oleh Pusat Bahasa untuk meningkatkan kualitas sastra Indonesia murni, merangsang penciptaan karya sastra, dan meningkatkan pemasyarakatan karya sastra. Pemberian penghargaan itu dilakukan seiring dengan penentuan pengarang penerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand di Bangkok. Jumlah juri ditetapkan enam orang, yaitu dari Pusat Bahasa, para pakar sastra, perguruan tinggi, dan sastrawan penerima SEA Write Award sebelumnya. Kriteria penilaian dalam penghargaan ini, antara lain, adalah karya yang dinilai merupakan karya asli dan bukan terjemahan,  karya yang terbit selama lima tahun terakhir, dan (3) ditulis dalam bahasa Indonesia. Penyerahan hadiah dilakukan pada bulan Oktober, bertepatan dengan acara pembukaan Bulan Bahasa dan Sastra. Penerima penghargaan terdiri atas tiga orang.

Itulah beberapa penghargaan sastra yang ada di Indonsia dan dunia. Namun sayang, penulis hanya dapat menemunkan satu penghargaan sastra di indonesi. Seperti yang kita tahu, sastrawan di Indonesia tidaklah terlalu di hargai sebagaimana orang luar menghargai sastrawannya. Olehkarena itu, sebagai penerus dalam dunia kesusastraan, mari kita lestarikan budaya sastra Indonesia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s