Nita Oktaviya


Berbicara mengenai apresiasi, tentunya membahas mengenai timbal balik, eksistensi, dan pengakuan. Dalam dunia kesusasteraan misalnya, apresiasi timbul dari dua pihak yang saling memberi respon, artinya ada yang menulis karya sastra berarti sudah pasti ada yang membaca karya sastra tersebut. Pembaca itulah yang kemudian menjadi pihak pemberi apresiasi meskipun bentuk pengapresiasiannya berupa penikmat karya. Beberapa bentuk apresiasi sudah banyak dilakukan, dari mulai pengakuan pembaca hingga berupa penghargaan bergengsi tingkat dunia. Seperti penghargaan yang diberikan oleh Alfred Berhand Nobel sejak tahun 1895. Ia merupakan seorang ilmuwan, kimiawan, insinyur, penemu, dan industrialis yang berasal Swedia yang memberikan Penghargaan Nobel. Penghargaan Nobel diberikan dalam berbagai bidang, seperti kimia, fisika, kesusasteraan, perdamaian, dan kedokteran. Penghargaan-penghargaan yang di berbagai bidang tersebut di urus oleh Yayasan Nobel yang sifatnya telah mendunia serta diberikan pada orang yang menorehkan prestasi dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap kemajuan umat dunia.

Salah satu dari lima Penghargaan Nobel yang diadakan oleh Alfred Berhand Nobel ialah Penghargaan Nobel Kesusasteraan. Penghargaan ini diberikan kepada orang yang paling giat melaksanakan hubungan yang bersifat interaksional, pendiri pergerakan perdamaian, atau berusaha mengurangi atau  melenyapkan peperangan[1]  . Pengumuman Penghargaan Nobel ini dilakukan pada tanggal-tanggal tertentu di bulan Oktober, serta dilangsungkan di gedung Institut Nobel. Pengumuman tersebut biasanya menjadi peristiwa besar karena dunia mengetahui lahirnya orang berpengaruh.

Pemenang Nobel Kesusasteraan yang terjadi di tahun 2007 justru menakjubkan banyak pihak, pasalnya penerima nobel pada tahun tersebut ialah seorang perempuan yang usianya tertua di antara penerima-penerima Nobel sebelumnya. Perempuan tersebut bernama Doris Lessing, seorang penyair, dramawan, penulis biografi, dan penulis cerita pendek yang berasal dari Inggris. Lessing menjadi perempuan ke sebelas yang menerima penghargaan Nobel Kesusateraan karena melahirkan karya-karya yang otentik dan mencengangkan. Doris Lessing, perempuan yang lahir pada 22 Oktober 1919 ini memulai karir menulisnya sejak usia 15 tahun dengan memuat tulisannya di majalah Afrika Selatan. Dengan latar belakang keluarga yang berkekurangan hingga putus sekolah, ia mengembangkan dirinya dengan membaca. Ia pernah berkata “Aku mendidik diriku sendiri dengan membaca”. Ia menikah dua kali dengan dianugerahi dua anak dari perkawinan pertama, dan satu anak di perkawinan keduanya. Lessing kemudian menaruh minatnya pada sufisme yang mendorong ia mendorong lembaga dana sufi pada tahun 1979. Ia terus mengembangkan diri dengan pengalaman masa kecil yang menurutnya tidak bahagia. Baginya, menulis adalah cara melarikan diri paling indah dalam hidupnya. Ia dikenal sebagai penulis beraliran kiri, komunis, dan antiapartheid.

Nama Lessing terus berkembang dengan karya pertamanya yang terkenal The Grass is Singing yang terbit pada tahun 1950. Novel tersebut diterbitkan oleh Michael Joseph yang mengisahkan penindasan warga kulit hitam Afrika oleh penajajah kolonial berkulit putih. Novel ini dianggap sebagai tragedi ganda antara cinta dan kebencian sebab memperbincangkan ‘warna kulit’.  Sejak novel pertamanya terbit, ia mulai membiayai dirinya dan anaknya dengan menulis. Lantaran ia merasa kecewa dengan gerakan komunis di negaranya, dia kemudian keluar dari partai komunis, namun pandangannya terhadap politik tetap tergambar dari karya-karyanya.

Setelah novel pertamanya terbit, pengabdiannya sangat panjang dalam dunia sastra dengan membuahkan puluhan karya karya-karya lainnya dalam berbagai ragam genre termasuk puisi, lakon drama, kisah misteri, sains-fiksi, dan cerita anak. Karya lainnya juga terbit dengan judul The Golden Notebook (1962), Memoirs of a Survivor, The Summer Before the Dark, Alfred and Emily (2008) serta karya-karyanya lainnya hingga jumlahnya 50 buku novel yang terbit sebelum kematiannya.

DORIS LESSING MERAIH PENGHARGAAN NOBEL KESUSASTERAAN 2007

Setelah kiprah Lessing dalam dunia kesusateraan semakin nyata, namanya mulai dikenal dengan karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Pengamat sastra menganggap karya-karyanya sangat berpengaruh luas bagi generasi setelahnya, generasi yang dimaksud ialah Toni Morrison (Pemenang Nobel Sastra 1994 dari Amerika Serikat), Margaret Atwood (pemenang Booker Prize 2000 dari Kanada), dan Joyce Carol Oates (pengarang terkemuka AS).

Hal tersebut membuat Lessing memperoleh banyak penghargaan resmi termasuk Somorset Maugham Award (1954), Shakepeare Prize (1982), hadiah sastra dari pemerintah Austria (1982), dan WH Smith Award (1985). Namun, setelah berpuluh-puluh buku di terbitkan, Lessing tak kunjung mendapatkan Nobel. Berkali-kali ia dimasukkan sebagai nominasi sebagai penerima penghargaan bergengsi dunia itu, namun namanya tak pernah dinobatkan sebagai pemenang. Dalam wawancaranya yang dimuat di The Boston Slobe, Lessing mengaku bahwa dirinya tidak di sukai oleh seorang lelaki dari Akademi Swedia. Lelaki tersebut mengatakan kepada Lessing bahwa Lessing tidak akan pernah mendapatkan Hadiah Nobel karena rasa ketidaksukaannya itu. Lessing yang mendengar perkataan lelaki itu hanya bertanya-tanya di dalam hati mengapa dirinya bisa tidak disukai.

Setelah berapa lama, Lessing akhirnya di nobatkan sebagai pemenang Hadiah Nobel di tahun 2007 di usianya yang sudah lanjut. Ia mendapatkan hadiah Nobel Sastra pada 2007, saat berusia 88 tahun. Akademi Nobel menyebutnya, “Penulis epik dari pengalaman perempuan, yang telah menjalani era komunitas terbagi dan terawasi.” Hal ini tentunya menjadi sangat menakjubkan lantaran selama ini ia hanya dijadikan kandidat favorit, apalagi ketika ia ingat bahwa seseorang dari Akademi Swedia tidak menyukainya. Namun, dalam keputusannya, Akademi Swedia menganggap Lessing sebagai seorang penulis dengan kisah kepahlawanan atas kepahlawanan atas pengalaman perempuan yang dengan skeptisisme, nyala, dan kekuatan visionernya telah mengangkat peradaban yang terbelah menjadi sebuah pencermatan yang teliti.

Di lansir dari kompas.com, dalam pidato penerimaan Hadiah Nobel, Lessing bertutur tentang perjuangan melelahkan di beberapa negara berkembang untuk mendongkrak pengetahuan. Lessing berkata “Belum lama ini seorang teman yang telah di Zimbabwe bercerita tentang sebuah desa di mana orang tidak makan selama tiga hari, tetapi mereka masih berbicara tentang buku dan bagaimana cara mendapatkannya, (masih bicara) tentang pendidikan.” Tentunya hal tersebut berdasarkan pengalamannya yang tumbuh di Zimbabwe hingga ia mampu melahirkan karya yang mempersoalkan rasial di Afrika. Lessing berkata “Percayalah pada saya, kalau Anda seorang perempuan yang mengembara tanpa perlindungan di Darfur, maka perkosaan adalah bagian kecil darinya. Dari situlah tulisan-tulisannya yang memicu kritik mengenai perempuan tergambar secara nyata. Hal ini membuat Lessing menjadi tokoh dunia yang luar biasa karena karya-karyanya lahir berdasarkan jalan hidupnya yang sungguh pelik.

THE GRASS IS SINGING  KARYA DORIS LESSING

            Para pembaca karya-karya Lessing tentunya sudah mengetahui bahwa Lessing kerap menulis karya yang sarat politik. Tema utama dalam karya Lessing ialah sejarah kolonialisme atau juga bertema perempuan. Tema yang di usung dalam karyanya lebih sering menyuarakn keprihatinannya atas dunia sosial dimana ia hidup. Hal ini di ilhami dari sejarah hidup Lessing yang mengalami masa kecil yang tidak menyenangkan, mengalami kesendirian, mati raga, konflik dalam rumah tangganya, ditinggalkan oleh orang tersayang, hingga kesepian-kesepian yang melanda dirinya. Baginya, jalan-jalan kesunyian adalah jalan seseorang melahirkan karya.

Melalui karyanya yang berjudul yang terbit pada The Grass is Singing yang terbit pada tahun 1950, Lessing memaparkan pandangannya mengenai politik dan seks dengan sangat kompleks. The Grass is Singing atau Rumput ini Bernyanyi merupakan novel pertama Dores Lessing yang mengisahkan deskripsi getir hubungan cinta di tengah udara kebencian antara istri petani kulit putih dan budak lelakinya yang berkulit hitam. Novel ini dianggap sebagai tragedi ganda dari cinta dan kebencian, dan studinya tentang konflik “warna kulit” yang tak terjembatani dan berakhir tragis. Novel ini membawa gambaran mengenai perbudakan yang terjadi sebelum tahun 50an yang pada saat itu Sjambok (cambuk khas Afrika) menjadi lambang kekuasaan bagi orang berkulit putih. Lambang tersebut kemudian digantungkan di dinding depan pintu rumah sebagai alat untuk menakut-nakuti pekerja berkulit hitam.

Tema yang diusung dalam novel tersebut tentunya membahas persoalan rasisme dan juga konflik batin tokoh perempuan. Dalam novel The Grass is Singing, Doris Lessing mengkritik kesenjangan ras di Afrika Selatan melalui tokoh utama yang bernama Mary Tunner. Mary Tunner di kisahkan sebagai perempuan yang melankolis dalam interasinya dengan keluarga, lingkungan, dan rumah tangganya sendiri. Mary Tunner terperangkap oleh masa kecilnya yang suram, miskin hartan dan juga kasih sayang, tinggal didesa dengan keadaan yang mengenaskan karena ayahnya merupakan seorang pemabuk dan kerap melakukan pelecehan seksual. Hal tersebutlah yang membuat Mary bersekolah asrama demi melarikan diri dari keadaannya. Sejak saat itu ia hidup sebagai perempuan yang mandiri dan percaya diri. Namun, ditengah kebebasannya, ia digunjingkan karena keadaannya yang tak kunjung menikah. Keadaan tersebut menyangkutpautkan dirinya yang berkulit putih sebagai pembawa aib kalau tidak menikah. Untuk meredam keadaannya itu, kemudian ia menikah dengan seorang laki-laki bernama Dick Turner. Setelah  menikah, Dick memboyong Mary ke desa dengan melihat kehidupan petani yang tentunya sangat dibenci Mary. Dalam hal ini, sang penulis, Lessing, menggambarkan keadaan bahwa pernikahan dapat menjerumuskan perempuan ke dalam keadaan yang lebih pahit lagi. Lessing menggambarkan kehidupan pernikahan yang tidak bahagia dan penuh dengan pesimistis. Melalui tokoh Mary, Lessing menceritakan betapa perempuan dijadikan sebagai komoditi laki-laki dalam pemuas seks. Mary yang terpaksa menjalankan perannya sebagai istri harus melayani suami dalam hal memasak, bersih-bersih rumah, mengetahui hal-hal mengenai pedesaan, dan tentunya dalam berhubungan badan. Dick, sang suami merasa tak layak menyetubuhi Mary karena hubungan keduanya bukanlah dilandaskan berdasarkan asmara, melainkan keterpakasaan.

Konflik yang kemudian terjadi ialah saat kebencian Mary terhadap orang berkulit hitam semakin menjadi. Saat itu, Mary harus menggantikan suaminya, Dick, untuk mengawasi pekerja kulit hitam di sawah. Pekerja tersebut di anggap pekerja tak pakai otak, Mary menunjukkan ketidaksukaannya dengan sikap jijik termasuk aroma tubuh para pekerja yang masam dan bau. Namun, di lain hal sebenarnya orang-orang berkulit putih menyimpan rasa takut terhadap penduduk asli di Afrika. Hal ini yang membuat Mary tidak segan menggunakan sjambok kepada para pekerjaannya untuk membuat kesenjangan diantara perbedaan warna kulit tersebut.

Keadaan lebih parahnya lagi, bahwa di Afrika para pekerja kulit hitam dipanggil dengan sebutan “boy” sebagai panggilan khas yang merendahkan untuk orang berkulit hitam. Namun, di sisi lain kebencian Mary terhadap orang berkulit hitam malah memunculkan kisah roman antara ia dengan Moses, salah satu pelayan kulit hitam. Perasaan jatuh cintanya tersebut terkesan aneh lantaran terbentuk atmosfir rasisme yang kental dan rasa saling benci. Keduanya saling melempar pandangan yang menandakan sart kasih, namun perbedaan fisik dan peran membentengi keduanya untuk tidak bisa bersatu. Di akhir cerita, Moses membunuh Mary karena merasakan dendam. Cinta dan kebencian sangat tercium diantara keduanya sehingga akhir yang tragis terjadi.

Alur cerita yang sangat pelik yaitu ketika cinta dan rasisme berusaha disatukan menjadi konflik utama dalam novel ini menjadikan karyaDoris Lessing yang berjudul The Grass is Singing ini mengisahkan nasib terburuk sebagai perempuan. Di akhir cerita yang tragis, kematian Mary merupakan gambaran kekecewaan yang lahir dalam karya Doris Lessing sebagai wanita yang berusaha mempertahankan gender yang diembannya. Plot yang terdapat dalam novel ini juga merupakan kilas balik kehidupannya, dengan latar belakang tempat semasa Lessing kecil di Afrika Selatan, Lessing mampu menceritakan kembali kegetiran  masa kecilnya hingga kegagalan rumah tangganya dikisahkan dalam bukunya tersebut.

Kini, Doris Lessing dikenal sebagai penulis dengan keotentikan dan karya yang mencengangkan karena mampu membuat pembacanya terheran-heran atas kisah yang telah dituliskannya dalam novel The Grass is Singing. Meskipun demikian Lessing tidak membiarkan dirinya dimakan oleh gerakan-gerakan feminisme.

“Jika ada sesuatu yang benar-benar berubah untuk kondisi kaum perempuan, maka ini terjadi melalui ilmu pengetahuan dan teknik, bukan melalui gerakan feminisme. Mesin cuci, mesin penghisap debu dan pil KB mengubah kehidupan perempuan dan bukan slogan. Kamu tidak mencapai apa pun bila turun ke jalan dan meneriakkan slogan. Tujuan dapat dicapai jika misalnya kamu membentuk sebuah komite, menulis ke berbagai harian, memilih calon anggota parlemen. Ini sangat sulit, jalannya panjang dan lambat .” – Doris Lessing

 

[1] Wikipedia, Penghargaan Nobel Kesusasteraan diakses pada 01 Januari 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s