Ria T. R. 


Siapakah yang tidak mengenal penghargaan bergengsi tingkat dunia yang memilih tokoh-tokoh berpengaruh atau berkontribusi besar dalam umat manusia di bumi ini. Penghargaan yang diberikan kepada seorang tokoh yang dimaksud adalah penghargaan Nobel. Merupakan nama seorang ilmuwan, kimiawan, insinyur, penemu, dan industrialis yang berasal Swedia. Penghargaan Nobel diberikan dalam berbagai bidang, seperti kimia, fisika, kesusasteraan, perdamaian, dan kedokteran. Orang tersebut ialah Alfred Berhand Nobel. Penghargaan ini sudah ada sejak 1895 dan diberikan kepdada seseorang yang berkontribusi besar, membawa perubahan atau penemuannya berdampak pada umat manusia di muka bumi ini.

Salah satu pemenang penghargaan ini adalah jean Marie Gustave Le Clezio. Ia mendapatkan nobel kesusastraan. Nobel prize Literature adalah salah satu dari 5 penghargaan nobel yang diadakan atas permintaan oleh penemu dan industrialis Swedia Alfred Nobel. Penghargaan ini diberikan kepada orang yang paling giat melaksanakan hubungan yang bersifat interaksional, pendiri pergerakan perdamaian, atau berusaha mengurangi atau  melenyapkan peperangan[1]. Pengumuman nobel diadakan pada pertengahan Oktober di Gedung Institut Nobel dan telah menjadi peristiwa besar.

Salah satu pemenang nobel kesusastraan yang akan dibahas diesai ini adalah Jean Marie Gustav le Clezio. Désert yang diterbitkan pada 1980 bagi Le Clezio adalah karya terbaiknya. Seperti yang dilansir pada situs resmi nobel prize menyebutkan bahwa Le Clezio adalah “author of new departures, poetic adventure and sensual ecstasy, explorer of a humanity beyond and below the reigning civilization”[2] yang bermakna bahwa karyanya bertema petualangan puitis dan kesenangan sensual ini sebagai penulis era baru, termasuk dengan banyak mengeksplorasi sisi kemanusiaan.

 

Karya tersebut bercerita tentang Lalla, seorang wanita dari suku nomaden, Tuareg di Gurun Sahara. Hal yang paling memikat dari novel ini adalah bagaimana Le Clezio menampilkan upaya Lalla beradaptasi dengan kependudukan modern masa penjajahan Prancis pada awal abad 20.[3]

Le Clezio lahir di Riviera, Nice, Perancis, dari ayah bangsa Inggris dan ibunya adalah orang Perancis. Lewat karyanya Désert ia dinyatakan sebagai pemenang Nobel Sastra 2008. Anugerah ini sekaligus mencatatkan namanya sebagai sastrawan Prancis pertama yang memenangkan nobel sejak Gao Xingjian, sastrawan keturunan Tionghoa kelahiran Prancis, yang mendapatkan Nobel serupa pada tahun 2000.

Le Clezio menekuni dunia sastra sejak usia 8 tahun. Hingga kini, lebih dari 50 novel, esai, cerita pendek, telah lahir. Ia adalah anak dari seorang ayah berkebangsaan Inggris dan ibu berkebangsaan Prancis. Masa kecil Clezio tampaknya kurang bahagia. Pasalnya, pada masa Perang Dunia II keluarganya terpaksa berpisah lantaran sang ayah, karena pekerjaan, tidak bisa bergabung dengan ibu dan saudara-saudaranya di Nice. Sedangkan usia 8 tahun ia harus pindah bersama keluarganya ke Nigeria tempat ayahnya berdinas sebagai seorang ahli bedah di militer Britania.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia keranjingan bepergian atau nomaden. Kehidupan Clezio didominasi dengan keinginanya berpindah tempat tinggal. Usai menyelesaikan studinya di jurusan Sastra Prancis, Institut d’etudes Litteraires, Nice, Prancis. Ia pun tinggal beberapa tahun di Kota London dan Bristol. Dari sinilah kehidupan nomadennya bermula. Diawali dari Amerika Serikat  bekerja sebagai guru hingga ia ditempatkan di Thailand pada 1967 untuk dinas militer. Ia diberhentikan oleh pemerintah saat itu sebab Ia protes mengenai praktik pelacuran. Akibatnya ia dikirim ke meksiko untuk menyelesaikan wajib militernya. Alhasil, mulai 1970 hingga 1974, ia tinggal bersama orang-orang Indian Embera-Wounaan di Panama.

Namun begitu, pola kehidupannya ini tak membuatnya putus sekolah. Le Clezio sempat memperoleh gelar magister dengan tesis tentang Henri Michaux dari Universitas Aix-en-Provence pada 1964, dan menulis disertasinya pada 1983 tentang sejarah awal Meksiko di Universitas Perpignan.[4]

JEAN-MARIE GUSTAVE LE CLEZIO MERAIH PENGHARGAAN NOBEL KESUSASTERAAN 2008

            Jean-Marie Gustave Le Clezio (70), yang karya-karya perjalanannya amat puitis dan deskriptif, memenangi penghargaan Nobel Sastra 2008, Kamis (9/10/2008). The Swedish Academy menyebut Le Clezio sebagai “seorang pengarang masa kini, dengan petualangan yang puitis dan kepuasan sensual, pengeksplorasi kemanusiaan yang ada di luar dan di bawah peradaban yang berkuasa”. Kemudian Royal Swedish Academy of Sciences menyebut novel Le Clezio, Revolutions, terbit 2003, adalah “tema terpenting dalam karya-karya : kenangan, pengasingan, reorientasi remaja, serta konflik kebudayaan”.

Karyanya yang berjudul Désert (1980) telah membawa kemenangan bagi Le Clezio, Désert disebut-sebut sebagai karya terbaiknya. Novel itu menggambarkan Lalla, seorang wanita dari suku nomaden, Tuareg di Gurun Sahara. Le Clezio menampilkan upaya Lalla beradaptasi dengan kependudukan modern masa penjajahan Prancis pada awal abad 20.

“Sastra berarti mengingatkan orang pada tragedi dan membawanya kembali ke tengah panggung. Ketika saya menulis, saya mengutamakan untuk menerjemahkan hubungan keseharian menjadi peristiwa,” kata Le Clezio dari salah satu sumber. Tentunya hal tersebut mempengaruhi munculnya karya-karya Clezio lainnya yang mengungkap realita sosial yang sedang terjadi sebab ia tidak sulit menemukan inspirasi karya-karya besarnya.

Kemenangan Le Clezio pada penghargaan nobel 2008 ternyata diteruskan oleh sastrawan yang berasal dari satu negara. Ia adalah Patrick Modiano. Dilansir dari web BBC Indonesia menyebutkan bahwa Akademi Nobel menyatakan penghargaan ini adalah “untuk seni dari kenangan yang dia bangkitkan, nasib kemanusiaan yang sulit dimengerti dan pengungkapan pendudukan dunia”.

 LE CHERECHEUR D’OR KARYA JEAN-MARIE GUSTAVE LE CLEZIO

            Satu-satunya karya Clezio yang diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia adalah Le Cherecheur D’or atau The Prospector yang berubah judul menjadi Mencari Emas. Novel ini diterjemahkan oleh Ida Sundari Husen. Tema utama dalam karya-karya Clezio adalah petualangan puitis dan banyak mengeksplorasi sisi kemanusiaan. Seperti yang ia lakukan ketika tinggal di Thailand. Ia protes mengenai praktek pelacuran pada saat itu. Kemanusiaan adalah tema yang tidak habis untuk dibicarakan.

Novel ini terbit pada tahun 1985. Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dan terbit pada tahun 2013 oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Apabila membaca sinopsis sekilas akan diingatkan pada novel The Alchemist karya Albert Camus. The Alchemist berkisah tentang seorang anak penggembala kerbau yang bermimpi menemukan harta karun hingga ia sungguhan mencari harta karun itu. Tak jauh berbeda buku Mencari emas menyinggung mengenai masalah kehidupan, petualangan, impian dan tentu saja cinta. Mencari Emas mengisahkan bagaimana seorang Alexis, tokoh utama melewati berbagai getir dan getar hidupnya.

Pada awal novel diceritakan tentang Lembah Boucan 1892 , disitulah kehidupan dimulai  bersama Laure (adik), Mam (ibu), dan ayahnya selama di Mauritius. Pembaca disuguhi berbagai petualangan Alexis bersama Laure menjelajahi sudut-sudut rumah, halaman majalah/koran, dan belajar bersama dengan Mam sebagai guru. Diceritakan juga petualangan bersama Denis, sahabatnya, ke sungai, laut, serta Lembah Boucan. Seluruh petualangan tersebut kelak menjadi bekal perjalanannya mencari emas.  Konflik bermula ketika Ayah Alexis bangkrut dan mereka meninggalkan lembah Boucan.  Mimpi Ayah Alexis untuk menyalurkan listrik ke bagian wilayah barat porak-poranda saat topan merusak generator pembangkitnya. Dimulai dari konflik kemiskinan inilah membuat Alexis memimpikan perjalanan untuk menemukan emas. Ia bahkan membuat salinan peta harta karun milik ayahnya dan melamunkannya setiap malam.

Clezio mencoba menhadirkan sosok Alexis yang tangguh dan berani bermimpi melalui berbagai ujian yang menempa tokoh Alexis. Berbagai permasalahan pelik mulai muncul.  Alexis dan sekeluarga meninggalkan Lembah Boucan dan pindah ke Forest Side. Laure meninggalkan sekolah untuk membantu ibunya di rumah. Keadaan mereka miskin, Alexis mendapat beasiswa ke College Royal namun nahasnya Ayah meniggal karena serangan jantung. Alexis mempunyai obsesi tentang laut. Clezio menghadirkan narasi puitis dan nyata tentang kerinduannya terhadap laut. Tokoh Alexis digambarkan sebagai tokoh yang tangguh, ia tetap bermimpi meskipun mimpinya seperti tidak menemui nyata. Selama ia kuliah ia terus tenggelam dalam cerita bajak laut dan menghabiskan waktu di perpustakaan sembari membaca buku. Adalah Kapten Bradmer yang memberinya kesempatan untuk berlayar menggunakan kapalnya bernama Zeta.

Tidak sampai disitu rintangan yang dihadapi Alexis, hawa sesak dan penuh kecoa adalah sebuah rintangan untuknya. Namun dengan tekat penuh Alexis menemukan sisi kenyamanan tersendiri dari kapal Zeta. Ia berlayar menuju pulau Rodrigues. Peta-peta tua ayahnya disalin dan disimpan di koper tua yang ia bawa. Alexis berkhayal membawa pulang emas dan permata untuk ibu dan kakaknya, mengembalikan mereka ke rumah besar di Lembah Boucan. Tokoh baru bernama Ouma, ia adalah gadis suku Manaf yang menghampirinya saat Alexis pingsan karena dehidrasi. Ouma sering datang da pergi dengan adiknya yang bisu. Tokoh Ouma hampir sama dengan tokoh Fatima dalam novel The Alchemist. Ia hadir menjadi bagian dari petualangan tokoh utama.

Clezio menempatkan Alexis pada latar perang dunia pertama, ia menjadi tentara. Selama dua tahun dalam kurun waktu 1915-1916. Ia kemudian dipulangkan karena penyakit tipus yang dialami. Rumah yang dihuni ibu da adik perempuannya mulai bobrok.

Jika membaca ovel ini dirasa tidak akan bosan mengikuti perjalanan hidup Alexis. Salah satu daya tariknya adalah latar  cerita yang mengambil kondisi Kepulauan Mauritius di awal tahun 1900-an. Kondisi penduduk Mauritius sangat multikultural. Pada saat itu orang kulit putih menguasai bidang pemerintahan dan perekonomian. Pekerja perkebunan gula berasal dari India. Penduduk pribumi masih dianggap primitif. Tokoh Alexis bersahabat dengan Denis yang berkulit hitam dan jatuh cinta dengan Ouma. Dapat disimpulkan bahwa terjadi pergesekan kelas sosial namun Clezio hanya sedikit menyinggungnya.

Alexis selalu terbayang-bayang akan kenangannya waktu kecil. Kenangan masa kecil yang tak terlupakan, keindahan dan kecintaan pada laut, kesetiaan pada keluarga, kemurnian cinta, kekerasan hidup, perjuangan pencarian harta karun, menjadi inti dari buku ini. Pengarang seperti menuntun kita pada keindahan alam melalui narasiya yang puitis dan damai. Seperti kutipan berikut:

“As far back as I can remember I have listened to the sea: to the sound of it mingling with the wind in the filao needles, the wind that never stopped blowing…It is the sound that cradled my childhood…it will come with me wherever I go: the tireless lingering sound of waves breaking in the distance of coral reef… Every day I went to the beach…Here, the sound of the sea was like a beautiful music…I will never forget that day when I went to sea for the first time, a day that seemed to last months, or years. I wanted it never end, I wanted it to go on forever…”

            Clezio seolah ingin mengatakan bahwa kenangan masa kecil selalu mengikuti seseorang, keluarga, kekasih yang baik akan membuat seseorang berusaha memperjuangkan apapun untuk mereka. Namun terkadang nasib buruk tidak mengizinkan hal-hal baik terwujud, enah sebab apa yang ada di sekitar kita. melalui deskripsi dan narasi yang indah seprti puisi Clezio memberi gambaran tentang pantai, laut, angin dan indahnya masa kecil tanpa harapan-harapan yang tidak takut untuk tidak terwujud. Akhir kisah memang menyedihkan, namun ini dapat menjadi pelajaran kepada kita bahwa harta karun atau emas yang Alexis cari sesungguhnya bukan berwujud materi. Namun keindahan dan ketulusan serta kebahagiaan dari apa yang Ia usahakanlah sebenar-benarnya harta karun.

 

[1] Wikipedia, Penghargaan Nobel Kesusasteraan diakses pada 03 Januari 2017.

[2] http://www.nobelprize.org diakses pada 4 Januari 2017

[3] sastra-indonesia.com diakses pada 3 Januari 2017

[4] sastra-indonesia.com diakses pada 4 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s