Arry D. P

Ibu, ibu dan ibu. Derajat ibu tiga kali lebih tinggi daripada ayah. Yah, begitulah ajaran agama yang seringkali kita dengar. Sudah semestinya wanita dihormati sudah seharusnya wanita disegani sudah selazimnya pula wanita dinomor satukan walau terkadang wanita berubah seperti monster di film ultramen serta menjelma seperti kecoa terbang yang menjijikkan dan menyebalkan bak dosen yang tidak hadir kala kelas pagi sudah tiba. Hm, wanita yang seharusnya wanita ternyata tidak akan kita jumpai di dalam novel Perempuan Di Titik Nol Karya  Nawal El-Saadawidan novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer sebab wanita yang ada di dalam novel yang akan kita singgung ini tidak lebih layak dibandingkan dengan roti Sari Roti yang sudah dibuang ke tempat sampah(yang masih dibungkus dengan plastik).

Derajat wanita di dalam novel Perempuan Di Titik Nol dan novel Gadis Pantai mencium lantai, bagaimana wantia diperlakukan hanya sebagai budak, pesuruh, dan juga pemuas hasrat laki-laki. Di dalam novel gadis pantai menceritakan seorang wanitabernama Firdaus, yang sejak kecil hingga beranjak dewasa, dirinya hanya menjadi pemuas nafsu laki-laki dan ada sosok Gadis Pantai dalam novel Gadis Pantai yang dinikahkan oleh seorang priyayi saat berumur 14 tahun. Salah satu faktor ketimpangan ini adalah keegoisan laki-laki atas kodrat yang Ia miliki yang memperlakukan dan memandang perempuan hanya dari kepuasan pribadi semata.

“Pada novel  Perempuan Di Titik Nol, sejak kecil Firdaus sering mendapatkan penganiayaan oleh orang yang disebutnya sebagai ayah. Saat tinggal bersama pamannya, Pamannya juga sering melakukan kekerasan fisik dan juga melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Firdaus lalu dijodohkan oleh laki-laki tua berumur 60 tahun. Suami Firdaus memperlakukannya bagaikan babu. Karena perlakuan suami tuanya itu, firdaus melarikan diri dari rumah dan bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu juga hanya menginginkan tubuh Firdaus dan menikmati tubuh Firdaus bersama teman-temannya.

Firdaus  lalu menjadi seorang pelacur. Hanya berapa lama. Firdaus pun melarikan diri dari tempat pelacuran tersebut. Di jalan ia di ajak oleh seseorang untuk masuk kedalam mobil dan dibawa ke hotel. Setelah melakukan persetubuhan, Firdaus diberi uang. Setelah keluar dari dunia pelacuran, Firdaus pun menikah, namun tetap saja, laki-laki menganggap bahwa wanita adalah pelacur, hanya saja, seorang istri dapat melakukan persetubuhan tanpa dibayar, sedangkan pelacur jalanan harus dibayar. Akhirnya, Firdaus kembali lagi ke pekerjaan lamanya sebagai pelacur. Dan suatu saat ada yang memanggil Firdaus agar Firdaus mau bekerja untuknya. Namun pekerjaan sebagai pelacur membuat Firdaus sadar bahwa harga dirinya sudah terinjak-injak. Firdaus lalu mengambil sebuah pisau dan menusukkannya ke tubuh orang yang mempekerjakannya hingga berkali-kali. Dan firdaus menyerahkan dirinya ke kantor polisi. Firdaus mendapat hukuman mati karena ulahnya sendiri.”

“Gadis Pantai merupakan kisah seorang anak gadis yang lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang, yang kemudian dalam karya satra ini gadis tersebut dinamai Gadis Pantai. Suatu hari pada awal abad duapuluh ketika Gadis Pantai berusia empatbelas tahun, seorang utusan seorang pembesar di keresidenan Jepara Rembang mendatangi tempat kediaman orangtua Gadis Pantai. Dalam waktu hanya beberapa hari saja, utusan tersebut membawa Gadis Pantai, kedua orangtuanya, beserta kepala kampung mereka ke rumah penguasa tersebut. Sejak saat itu Gadis Pantai harus meninggalkan semua yang dikenalnya, dapurnya, suasana kampungnya sendiri dengan bau amis abadinya, jala yang setiap minggu diperbaikinya, layar tua yang tergantung di dapur, dan juga bau laut tanah airnya.

Betapa rendahnya harga diri Gadis Pantai, Ia  ketika dinikahkan tidak berhadapan langsung dengan calon suaminya sendiri, melainkan dengan sebilah keris. Sehari setlah menikah, Gadis Pantai akan dibawa ke kota, tempat kediaman Bendoro, penguasa yang telah dinikahinya yang tidak belum pernah dilihatnya seumur hidupnya. Gadis pantai hanya menjadi selir Bendoro. Di kediaman Bendoro Ia diperlakukan hanya seperti pelayan biasa, setelah Gadis Pantai hamil dan mempunyai anak dari sang Bendoro, sosok Gadis Pantaii sudah tidak diperlukan lagi oleh Bendoro.”

Fakor tatanan sosial yang ada dalam Novel Perempuan Di Titik Nol ada di dalam lingkungan keluarga Firdaus sendiri, dimana Ia sejak kecil telah mendapatkan perlakuan yang sangat tidak menyenangkan baik dari orang tuanya maupun dari pamannya sendiri. Dan juga faktor ekonomi mempengaruhi dengan apa yang terjadi pada Firdaus, Ia harus menikah dengan pria tua berumur 60 tahun yang dijodohkan oleh pamannya. Firdaus terpaksa menikah, karena Ia merasa berhutang budi kepada pamannnya yang telah memberikan Ia tempat tinggal dan menyekolahkannya. Setelah berkali-kali bertemu dengan laki-laki tetapi sama saja yang ditemui Firdaus, hanya nafsu yang ada di otak laki-laki. Setelah depresi yang sangat dalam akhirnya Firdaus pun memutuskan untuk membunuh seseorang agar sengaja mendapatkan hukuman mati.

Sedangkan dalam Novel Gadis Pantai kesenjangan sosial sangat terpampang jelas. Keluarga Gadis Pantai yang hanya rakyat miskin patuh menyerahkan anaknya yang masih berumur 14 tahun untuk menikah dengan Bendoro. Kekuasaan yang dimiliki Bendoro membuat Gadis Panntai beserta keluarganya mengikuti apa kemauan sang Bendoro. Budaya yang ada didalam lingkungan Gadis Pantai juga mempengaruhi seperti menikah dengan seorang Bendoro adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak, bahkan anaknya dinikahkan hanya dengan sebelah keris saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s