Naswati


Budaya lekat kaitannya dengan masyarakat. Masyarakat inilah yang membentuk prespektif yang sama akan sebuah nilai sosial yang lalu dikukuhkan menjadi norma. Norma-norma ini berlaku agar masyarakat dapat hidup dengan teratur. Namun pengaturan norma ini tidak merata, ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki.

Sistem dalam masyarakat menuntut perempuan untuk mematuhi peraturan itu. Sehingga perempuan secara sadar atau tidak mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Hal ini membuat perempuan melawan norma yang menindas mereka. Dari pemikiran ini ada dua karya sastra yaitu Gadia Pantai karya Pramudya Ananta Toer dan Perempuan dari Titik Nol karya Nawal El Sadawi,  mengangkat fenomena tentang perempuan yang merasa ketidakadilan dan ketertindasan akibat norma yang berlaku pada masyarakat saat itu.

Pramudya menampilkan sosok gadis pantai yang terbiasa hidup di sekitar laut  namun  harus menikah dengan priyayi. Kedua orangtua gadis pantai menerima pinangan sang priyayi tanpa bertanya pada gadis pantai. Mereka beralasan ingin putrinya hidup dengan layak. Namun kehidupan gadis pantai di rumah suaminya toh membawanya pada realita jika suaminya menuntut dia untuk mengikuti semua perintahnya. Suaminya selalu merendahkan dirinya yang hanya seorang anak dari kampung.

Lain dengan Pramudya yang menggambarkan ketertindasan secara halus dengan mengambil unsur jawa yang kental. Nawal lebih keras lagi mengkritik budaya patriarki. Sosok Firdaus yang terpaksa menikah dengan kalangan bangsawan harus rela mengalami kekerasan dari suaminya. Firdaus mengadukan hal itu pada pamannya tapi justru pamannya menganggap hal itu biasa. Lika liku kehidupan Firdaus membawanya pada satu keputusan untuk menjadi pelacur. Pekerjaan itu dianggapnya sebagai perlawanan terhadap laki-laki.

“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan atau dengan pukulan.(hlm.142-143)”

Representasi Pramudya dan Nawal pada ketertindasan pada perempuan mungkin memiliki porsi cerita yang berbeda namun mengkritik hal yang sama. Dimana budaya patriarki dalam masyarakat mampu menindas kaum perempuan. Ketika masyarakat berpikiran jika dalam suatu permasalah perempuan bersalah, mungkin kita harus mengkontruksi ulang pemikiran ini agar tidak ada lagi ketertindasan terhadap perempuan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s