Riska Yuvista


 

ABSTRAK

Puisi Colour Grey Karya Herta Muller, peraih nobel sastra tahun 2009 ini akan dikaji menggunakan pendekatan struktural yang sepenuhnya mengkaji text berdasarkan struktur text itu sendiri tanpa melibatkan peran pengarang di dalamnya dan atau bisa dikatakan melihat teks tersebut berdasarkan unsur pembangun karya. Adapun struktur akan dianalisis dalam puisi tersebut, yaitu Tema, Gaya Bahasa, Perasaan, Nada, Suasana dan Amanat.

Kata kunci: Puisi Karya Herta Muller, Analisis Struktural

PENDAHULUAN

Sastra lahir, tumbuh dan hidup dalam masyarakat. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat (Pradopo, 1997). Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial. Sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan juga menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang hari dan sepanjang zaman. Karya sastra merupakan karya seni, mediumnya bahasa, dan isinya tentang manusia dan kemanusiaan (Zulkarnaini, 2008: 2). Senada dengan itu, Rusyana (1982: 5) berpendapat bahwa sastra adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan, penghayatannya dengan menggunakan bahasa. Pengungkapan realitas kehidupan tersebut menggunakan bahasa yang indah, sehingga dapat menyentuh emosi pembaca.

Sastra sebagai hasil pekerjaan seni kreasi manusia tidak akan pernah lepas dari bahasa yang merupakan media utama dalam karya sastra. Sastra dan manusia erat kaitannya karena pada dasarnya keberadaan sastra sering bermula dari persoalan dan permasalahan yang ada pada manusia dan lingkungannya, kemudian dengan adanya imajinasi yang tinggi seorang pengarang tinggal menuangkan masalah-masalah yang ada disekitarnya menjadi sebuah karya sastra, salah satunya fiksi.

Fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Oleh karena itu, fiksi menurut Altenbernd dan Lewis (dalam Nurgiyantoro, 2000:2) dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.

Ada berbagai bentuk karya sastra, salah satunya yaitu puisi yang dapat dikaji dari beberapa aspek baik aspek fisik maupun batin. Aspek fisik puisi meliputi diksi, imaji, kata konkret, bahasa figuratif, verifikasi dan tata wajah. Adapun aspek batinnya meliputi tema, nada, rasa dan amanat. Semua kajian itu dilakukan hanya untuk mengetahui sejauh mana karya sastra dinikmati oleh pembaca. Tanggapan pembaca terhadap satu karya yang sama tentu akan berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman dan daya imajinasi mereka.

 

Jassin menyatakan bahwa puisi adalah sebuah pengucapan dengan sebuah perasaan yang didalamnya mengandung sebuah fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan. Sedangkan menurut Ralph Waldo Emerson menyatakan bahwa puisi ialah mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata yang sedikit mungkin. Melihat hubungan puisi dengan pengarang sangat dekat, maka dapat dikatakan bahwa puisi merupakan salah satu representasi dari pemikiran dan perasaan pengarang yang kerap kali dapat dipahami oleh pembaca baik secara langsung ataupun melalui beberapa cara, salah satunya melalui analisis.

Melihat hubungan antara pengarang dan karyanya sangat erat. Oleh karena itu, pengkaji akan menganalisis Struktur Puisi Colour Grey Karya Herta Muller dengan menggunakan pendekatan struktural.

 

PENDEKATAN STRUKTURAL

(Abrams dalam Nurgiyantoro, 1994:36) menjelaskan bahwa “struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah”. Adapun yang dimakusd dengan struktur yaitu susunan yang memperlihatkan tata hubungan antara unsur pembentuk karya sastra; rangkaian unsur yang tersusun secara terpadu (Zaidin, dkk., 2004:194). Dalam prosa fiksi yang termasuk struktur misalnya tema, plot, penokohan, latar, sudut pandang, dan bahasa. Namun, dalam tulisan kali ini, pengkaji akan menganalisis puisi Colour Grey Karya Herta Muller dengan menggunakan beberapa struktur saja, yaitu Tema, Gaya Bahasa, Perasaan, Nada, Suasana dan Amanat.

 

Analisis struktural merupakan salah satu kajian kesusastraan yang menitikberatkan pada hubungan antar unsur pembangun karya sastra. Struktur yang membentuk karya sastra tersebut yaitu: penokohan, alur, pusat pengisahan, latar, tema, dan sebagainya. Struktur novel/cerpen yang hadir di hadapan pembaca merupakan sebuah totalitas. Novel/cerpen yang dibangun dari sejumlah unsur akan saling berhubungan secara saling menentukan sehingga menyebabkan novel/cerpen tersebut menjadi sebuah karya yang bermakna hidup. Adapun struktur pembangun karya sastra yang dimaksud dan akan diteliti meliputi: tema, pemplotan, penokohan, pelataran, penyudutpandangan, gaya bahasa.

Sementara untuk analisis strukturalnya, Roland Barthes membedakan beberapa level deskriptif: level fungsi, level aktan (actant: fungsi pelaku), dan level narasi. Analisis pada level fungsi mempersoalkan kedudukan teks dalam keseluruhan narasi. Analisis ini dilakukan dalam dua tahap: (1) menganalisis semua detail teks untuk menemukan fungsi bagian (dengan pertanyaan analitis: apa yang akan terjadi jika detail informasi ini tidak ada dalam teks seperti senyatanya ada), dan (2) mencari relasi antara fungsi-fungsi bagian tadi (misalnya bagaimana mereka saling melengkapi). Dari analisis level fungsi ini didapatlah suatu susunan kisah.

EKSISTENSI HERTA MULLER

Herta Muller merupakan peraih nobel sastra tahun 2009, penulis asal Rumania ini
merupakan perempuan ke-12 yang meraih Nobel sastra. Ia menerima penghargaan dan mendapat pengakuan internasional terhadap penindasan yang terjadi di Rumania dan Eropa Timur karena tulisan-tulisannya yang jujur. Ia berani menceritakan hal-hal yang menimpa dirinya melalui tulisan.

Peraih Hadiah Nobel Kesusastraan, Herta Müller dilahirkan di daerah berbahasa Jerman di Banat, Rumania, pada tahun 1953. Orangtua Müller merupakan warga minoritas berbahasa Jerman. Ayah Herta Müller bertugas sebagai prajurit Jerman SS semasa perang dunia ke-2. Sementara ibunya, seperti kebanyakan orang Jerman di Rumania, dideportasi ke Uni Soviet pada tahun 1945 dan harus kerja paksa di suatu kamp yang saat ini berada di wilayah Ukraina.

Semasa kuliah di Timisoara pada dasawarsa 70an, Herta Müller tergabung dalam Kelompok Aksi Banat, yang merupakan kelompok penulis muda berbahasa Jerman, menentang pengekangan kebebasan berpendapat sebagai oposisi diktator. Setelah lulus kuliah, Müller sempat kehilangan pekerjaannya sebagai penerjemah di pabrik mesin, karena menolak bekerja sama dengan dinas rahasia sebagai informan. Kemudian Herta Müller dianggap sebagai pengganggu dinas rahasia. Karya-karya Müller juga dicekal di Rumania akibat sikapnya yang kritis terhadap diktator.  Mueller yang ayahnya menjadi anggota Waffen SS saat Perang Dunia II, adalah warga Eropa ketiga yang memenangkan Nobel Sastra secara beruntun. Ia pun menjadi warga Jerman ke-10 yang meraih Nobel Sastra selain Guenter Grass pada 1999 dan Heinrich Boell pada 1972. Mueller hijrah ke Jerman bersama suaminya pada 1987 atau dua tahun sebelum Ceausescu digulingkan dari kekuasaan.

Muller banyak menulis puisi dan prosa. Ia memulai karirnya dengan dengan menulis kumpulan cerita pendek bertajuk “Niederungen” atau “Nadir”. Karya tersebut menggambarkan kerasnya hidup di sebuah kampung di Rumania yang mayoritas warganya berbahasa Jerman. Cerpen tersebut disensor pemerintah komunis.

Pada 1984, versi “Niederungen” yang belum disensor diselundupkan ke Jerman. Kumpulan cerpen tersebut dilansir di Jerman dan memikat hati para pembaca. Setelah karya tersebut, Mueller mengeluarkan “Oppressive Tango” di Rumania. Namun, karya tersebut dilarang diedarkan di Rumania karena dianggap mengkritik diktator Nicolae Ceausescu dan polisi rahasia Rumania, The Securitate.

Sekretaris Akademi Swedia, Peter Englund, mengatakan gaya menulis Mueller sangat kuat dan unik. Menurut dia, kita akan tahu itu adalah karya Mueller hanya setelah membaca setengah halaman. Di samping itu, dia juga memiliki sesuatu untuk diceritakan. Sebagian kisah berasal dari latar belakang kehidupannya sebagai pembangkang yang dianiaya di Rumania dan sebagian lagi sebagai orang asing di negaranya sendiri. “Orang asing terhadap rezim politik, orang asing terhadap bahasa mayoritas, dan orang asing untuk keluarganya sendiri,” tambah Englund.


 


ANALISIS PUISI COLOUR GREY KARYA HERTA MULLER

Colour Grey
Herta MULLER
(b. 1953, Banat, Romania)
1.
I grow time, beans, the colour gray
And stitch the shadows of a dying day
They make a woman, rather a girl
Lost in the ocean like a grain of pearl
The swans of Coole fly over me
Will they rest for a while by me!
Maybe it’s my turn now.
Deep in the frost where my eyes shall never go
The leopard will print his paw
And with a sudden leap break free
All the chimes of poetry
Maybe it’s my turn now.
The rough beast was never born
Though we devised a cage for his morn
Maybe it’s my turn now.
I have a tale to tell I shall also ring the bell
When you start believing
When you start hearing
Maybe it’s my turn now.

  1. These days I don’t think of you
    But after the soot covers me
    I begin to wonder where those
    Evenings have gone, those wanderings
    In the spacious lawns of enchantment
    That smacked of no design, though
    We were bent on making a sense
    The early birds get their worms
    I lie in the tireless ticking of my old watch
    Counting the bits of frozen blood,
    Listening to the worms
    That are in all of us
    Then I begin to crawl towards the womb
    That threw me off a long way back
    And look for the dark, the black hole
    To suck me up.

    3.
    I was nice to him
    He was nice to me
    Only
    Our doors, our windows
    Kept closed
    Lest we smell each other.

ANALISIS PUISI COLOUR GREY KARYA HERTA MULLER

  1. Tema

Tema Puisi di atas adalah Posisi wanita pada saat itu, wanita mengalami sejumlah ketertindasan dimana posisinya sebagai seorang wanita dibedakan dan tidak dilihat. Hal ini dijabarkan jelas pada larik ketiga dan keempat, yaitu

 

They make a woman, rather a girl
Lost in the ocean like a grain of pearl

Pada bait tersebut sangat terlihat jelas bahwa  posisi wanita saat itu keberadaannya tidak dilihat dan tidak di anggap. Wanita diperlalkukan tidak sebagai seorang wanita pada umumnya, dan ditempatkan paling belakang yang diibaratkan seperti sebutir mutiara yang ternggelam dilaut, ia hilang begitu saja.

 

  1. Gaya Bahasa
  2. Gaya Bahasa Personifikasi, yaitu majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia atau kata lain benda mati seolah-olah hidup.

Terdapat pada larik

Lost in the ocean like a grain of pearl (4)

But after the soot covers me (22)

In the spacious lawns of enchantment (25)

And look for the dark, the black hole (35)
To suck me up.
(36)

 

  1. Perasaan
    Perasaan dalam sebuah puisi adalah suatu ekspresi dari perasaan penyair yang dituangkan dalam puisi tersebut. Perasaan pengarang yang tergambar dari puisi di atas adalah sebuah keresahan pengarang dizaman itu, dimana posisi wanita hanya bergantung dari dirnya sendiri, segala sesuatu yang diperbuat tidak akan dilihat, mereka dikesampingkan bahkan dianggap hilang dari peradaban. Wanita saat itu disiksa, batinnya dianiaya, sementara raganya dianggap mati. Saat itu mereka ingin bebas, berharap bisa pergi dan keluar dari sangkar yang mengurung mereka. Namun, apa daya, wanita tetap hanyalah wanita.

 

  1. Nada dan Suasana

Nada yang menjadi cara dalam menyampaikan inti cerita, dalam puisi ini penyair mencoba membuka kesadaran manusia khususnya wanita, bahwa wanita berhak memperoleh kebebasan dan kehidupan yang lebih baik, serta mampu pemperjuangkan hidupnya tanpa dilarang dan dibatasi. Suasana yang ditimbulkan oleh puisi tersebut adalah menyadarkan bahwa wanita pantas untuk disamaratakan dengan posisi laki-laki.

  1. Amanat

Pesan yang disampaikan penyair dalam puis tersebut adalah agar manusia bisa saling mengargai dan tidak membeda-bedakan gender. Karena diskriminasi gender dapat merugikan salah satu pihak.

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Pendekatan Hermeneutika mengungkapkan makna yang tampak kearah makna terpendam dan tersembunyi dalam satu objek atau teks dalam pengertian yang luas, bisa berupa symbol dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari symbol dalam masyarakat atau sastra. Sehingga pembaca bisa bebas menginterpretasi.

DAFTAR PUSTAKA

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta : Pustaka Jaya.

Wellek, Rene,  Austin Warren.  2014 . Teori Kesusastraan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Faruk. 2012. Metode Penelitian Sastra Sebuah Penjelajahan Awal. Yogyakarya: Pustaka Pelajar.

Nurgiantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Rafiek, M. 2010. Teori Sastra Kajian Teori Dan Praktik. Bandung: Refika Aditama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s