Yudha Prasetya

 


Analisis Struktural Cerpen “Obat Mujarab” Karya Mo Yan

Sastra yang sejatinya hanyalah tulisan dan kadang orang-orang menganggap sesuatu yang tidak benar-benar nyata atau bisa dikatakan hanya sekadar fiksi, bisa memiliki peran yang sangat vital. Peran yang dimainkan adalah ketika suara-suara tak bisa lagi didengar dan dibungkam. Hal ini juga pernah terjadi di Indonesia ketika banyak aktivis yang kala itu dibungkam pemerintah sehingga akhirnya mereka bersuara melalui sastra. Misal saja seperti Goenawan Muhammad, Ahmad Tohari, Agus Noor, bahkan sampai Pramoedya Ananta Toer.

Karena salah satu peran sastra ini orang-orang jadi sedikit lebih berani dalam bertindak. Mengkritik pemerintahan yang otoriter. Hingga menyampaikan hal-hal yang tersembunyi. Di Cina sendiri terdapat tokoh yang bersuara melalui sastra. Dia adalah Mo Yan. Ia pernah dianggap subversif karena kritik tajamnya terhadap masyarakat Cina kontemporer yang tertuang dalam dua novelnya, yaitu Tiantang Suantai Zhi Ge yang muncul pada tahun 1988 dan Jiuguo yang terbit pada tahun 1922.

 

Biografi Mo Yan

Mo Yan adalah seorang sastrawan yang berasal dari Cina. Nama Mo Yan merupakan nama penanya yang berarti “tidak bicara”. Nama aslinya adalah Guan Moye. Ia lahir pada 17 Februari 1955. Mo Yan dibesarkan di Gaomi, Provinsi Shandong, di Timur Laut Cina. Penggunaan nama Mo Yan muncul sejak novel pertamanya diterbitkan. Ia khawatir karya-karyanya akan sulit diterima di daratan Cina.

Mo Yan muda adalah orang miskin. Ia hanyalah anak dari seorang petani. Bahkan pekerjaannya hanya mengembala ternak ketika sekolahnya ditutup karena kekacauan politik. Oleh sebab itu ia putus sekolah. Saking miskinnya karena terjadinya Revolusi Kebudayaan di Cina, ia memakan kulit pohon dan gulma untuk bertahan hidup. Ia hidup dalam kemiskinan itu sekitar 12 tahun hidupnya.

Pada tahun 1976, Mo Yan bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat, dan selama waktu itu ia mulai belajar sastra serta menulis. Ia menghasilkan karya di jurnal sastra pada tahun 1981. Mo Yan dikenal banyak orang lewat novel Touming de hong Luobo (1986). Novel ini diterbitkan dalam bahasa Prancis dengan judul Le Radis de Cristal pada tahun 1993.

Kegetiran hidupnya mengispirasi Mo Yan untuk melakukan kontemplasi dan berkarya. Melalui karya-karyanya, ia banyak menyinggung pengalaman hidupnya. Ia berhasil memadukan fantasi dan kenyataan, sekaligus perspektif sejarah dan sosial.

Mo Yan mulai menulis sejak di usia 31 tahun saat menjadi tentara aktif dan mulai mengajar sastra untuk sekolah militer di usia 34 tahun. Ia pun berhasil menerbitakan beberapa karya. Novel pertama Mo Yan berjudul Anggur Merah yang terbit pada tahun 1987. Novel Anggur Merah berkisah tentang kampung halamannya, Shangdong saat perang Cina- Jepang pada tahun 1937 sampai 1945.

 

Novel kedua Mo Yan berjudul The Garlic Ballads, terbit pada tahun 1995. Selain itu, ia telah menulis dua kumpulan cerita pendek, Explosions and Other Stories dan Shifu; You’ll Do Anyting for a Laugh (2002).

Novel-novelnya yang lain adalah The Republic of Wine; A Novel (1992 dalam bahasa Cina, 2000 dalam Bahasa Inggris), Big Breasts and Wide Hips (1996 dalam Bahasa Cina, 2005 dalam Bahasa Inggris), serta Life and Death Are Wearing Me Out (2008, dalam Bahasa Inggris).

 

Sinopsis Cerpen Obat Mujarab

Orang-orang bersenjata memberikan pengumuman tentang hukuman mati yang akan diterima oleh Ma Kuisan. Seluruh penduduk diwajibkan datang untuk tujuan pendidikan. Karena sudah terlalu banyak hukuman mati yang terjadi pada tahun itu maka penduduk sudah mulai tak tertarik untuk menyaksikan hukuman mati tersebut. Oleh sebab itu, perintah khusus pun dikeluarkan agar penduduk desa mau berkumpul di hari itu.

Ketika masih pagi buta Ayah dan aku sudah mulai bersiap ke jembatan tempat hukuman mati dilaksanakan. Mereka bersembunyi di kolong jembatan yang sangat sepi dan gelap ditambah dingin, yang memang pada saat itu sedang musim dingin, memeluk mereka juga sekitarnya.

Ayah mengatakan di sini adalah tempat hukuman mati jadi wajar saja akan ada banyak arwah penasaran karena mereka mati dengan menyimpan dendam. Tiba-tiba aku melihat arwah penasaran itu namun kata Ayah itu hanyalah anjing-anjing yang kelaparan. Anjing-anjing ini yang biasa memakan daging para mayat. Ayah berharap yang dihukum mati adalah orang yang masih muda. Dan dalam beberapa saat prajurit, tahanan, dan para penduduk mulai datang ke jembatan Sungai Jiao.

Orang-orang yang akan dihukum mati adalah Ma Kuisan, Luan Fengshan si kepala desa, dan para istri mereka. Ayah menggerutu karena kesal mayat yang akan ia ladeni bukanlah orang yang masih muda. Tak lama terdengar bunyi peluru ditembakkan dan suara derap kuda berlari. Ternyata ada yang kabur dan entah siapa itu. Tapi Komandan Zhang membiarkan ia kabur.meski begitu hukuman mati tetap dilaksanakan.

Ketika siang menjelang semua tampak semakin jelas. Di sungai berserakan tengkorak-tengkorak para korban hukuman mati. Semuanya terlihat menjijikan. Di atas jembatan terdengan suara meminta ampun dari para tahanan. Mereka mengklaim bahwa dalam hidup mereka, mereka selalu berbuat baik. Memang tahanan yang dihukum mati bukanlah orang jahat melainkan orang yang dianggap mengkhianati partai. Mereka pun berteriak kepada penduduk agar membantu mereka dilepaskan dari hukuman mati. Penduduk desa pun ikut memohon untuk melepaskan mereka dari hukuman mati tersebut. Namun sayangnya hal itu ditolak oleh Komandan Zhang meskipun dirinya pernah dilayani dengan baik oleh mereka yang akan dihukum mati.

Terdengar tiga tembakan senjata yang meletus keras. Suaranya hampir membuat telinga menjadi buta. Sesosok tubuh jatuh dari jembatan dan kepalanya menghantam ke sungai yang dilapisi es sehingga kepalanya pun pecah. Itu adalah jasad Ma Kuisan. Orang-orang berlari ketakutan. Namun para angkatan bersenjata memaksa mereka untuk tetap di tempat.  Suara letusan kembali terdengar dan itu adalah tubuh Luan Fengshan. Lalu dua tubuh lagi jatuh ke sungai dan itu adalah istri-istri mereka.

Para pengeksekusi meminta izin untuk memeriksa jasad mereka namun Komandan Zhang menolak dan memerintahkan untuk segera bubar dan menikmati arak yang telah disediakan oleh istri tua Guo. Ayah langsung menuju ke depan mayat-mayat itu. Ia mengusir anjing-anjing yang mencoba menghampiri mayat itu juga. Setelah itu Ayah menyayat mayat Ma Kuisan namun sulit untuk merobek kulitnya. Ayah meminta izin pada Ma Kuisan yang jantungnya masih berdetak dan tak lama perutnya pun robek. Ayah mengobok-obok isi perut Ma Kuisan dan mendengus karena tak kunjung mendapatkan yang ia cari.

Ayah sedang mencari empedu milik Ma Kuisan. Ia mengobrak-abrik ususnya, paru-parunya, bahkan sampai jantungnya. Dan akhirnya ia mendapatkannya. Empedu ini adalah obat untuk nenek. Ayah pun juga mengambil kantung empedu milik Luan Fengshan. Namun kali ini tangannya sudah lebih mahir. Setelah mendapatkannya akhirnya kami pun pergi dari tempat itu.

Nenek menderita penyakit katarak kronis. Menurut Luo Dasham penyebabnya adalah hawa panas yang menyeruap dari dalam tubuhnya. Dan obatnya adalah sesuatu yang amat dingin dan pahit. Tabib itu menyarankan Ayah untuk mencari kantung empedu babi. Ayah bertanya apakah bisa dengan empedu kambing. Kata tabib Luo, nenek akan melihat dengan sempurna jika Ayah mendapat kantung empedu manusia.

 

Kerangka Pendekatan

Abrams dalam Nurgiyantoro (1994:36) menjelaskan bahwa “struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah”.

Analisis struktural merupakan salah satu kajian kesusastraan yang menitikberatkan pada hubungan antar unsur pembangun karya sastra. Struktur yang membentuk karya sastra tersebut yaitu: penokohan, alur, pusat pengisahan, latar, tema, dan sebagainya. Struktur novel/cerpen yang hadir di hadapan pembaca merupakan sebuah totalitas. Novel/cerpen yang dibangun dari sejumlah unsur akan saling berhubungan secara saling menentukan sehingga menyebabkan novel/cerpen tersebut menjadi sebuah karya yang bermakna hidup. Adapun struktur pembangun karya sastra yang dimaksud dan akan diteliti meliputi: tema, pemplotan, penokohan, pelataran, penyudutpandangan, gaya bahasa.

  1. Tema

Tema adalah makna yang dikandung sebuah cerita.

  1. Plot/Alur

“Alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain” (Stanton dalam Burhan Nurgiyantoro, 1995:113). Sejalan dengan itu, Atar Semi menyatakan bahwa “alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi” (Atar Semi, 1993:43).

  1. Tokoh dan Penokohan

“Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita” (Jones dalam Burhan Nurgiyantoro, 1995:165).

Ada dua macam cara dalam memahami tokoh atau perwatakan tokoh-tokoh yang ditampilkan yaitu:

  1. Secara analitik, yaitu pengarang langsung menceritakan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.
  2. Secara dramatik, yaitu pengarang tidak menceritakan secara langsung perwatakan tokoh-tokohnya, tetapi hal itu disampaikan melalui pilihan nama tokoh, melalui pengambaran fisik tokoh dan melalui dialog (Atar Semi, 1993:39-40).
  3. Latar

“Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan” (Abrams dalam Burhan Nurgiyantoro, 1995: 216). Kadang-kadang dalam sebuah cerita ditemukan latar yang banyak mempengaruhi penokohan dan kadang membentuk tema. Pada banyak novel, latar membentuk suasana emosional tokoh cerita, misalnya cuaca yang ada di lingkungan tokoh memberi pengaruh terhadap perasaan tokoh cerita tersebut.

Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu:

  1. Latar tempat, yang menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
  2. Latar waktu, berhubungan dengan peristiwa itu terjadi.
  3. Latar sosial, menyangkut status sosial seorang tokoh, penggambaran keadaan

masyarakat, adat-istiadat dan cara hidup (Burhan Nurgiyantoro, 1995:227–333).

  1. Sudut Pandang

Sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan : Siapa yang menceritakan atau dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Pengertian sudut pandang adalah pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan ceritanya. Sudut pandang dapat disamakan artinya dan bahkan dapat memperjelas dengan istilah pusat pengisahan.

Sudut pandang banyak macamnya tergantung dari sudut mana ia dipandang dan seberapa rinci ia dibedakan. Yaitu :

  1. Sudut Pandang Persona Ketiga: “dia”
  2. Sudut Pandang Persona Pertama: “aku”
  3. Sudut Pandang Campuran

 

Pembahasan

  1. Tema

Dalam cerita “Obat Mujarab” karya Mo Yan terkandung tema tentang hukuman mati. Kekerasan dan kesehatan mungkin bisa menjadi tema tetapi unsur yang paling dominan adalah hukuman mati. Hal tersebut ada pada kutipan:

            SENJA itu orang-orang bersenjata menuliskan pengumuman di dinding berlabur putih rumah Ma Kuisan yang menghadap jalanan. Disebutkan, esok pagi akan ada pelaksanaan hukuman mati di tempat biasa: ujung selatan jembatan Sungai Jiao. Seluruh penduduk desa diwajibkan hadir untuk tujuan pendidikan. Ada begitu banyak hukuman mati tahun itu sehingga penduduk tak tertarik lagi menyaksikan. Maka, agar orang-orang mau berkumpul, perlu ada perintah khusus.

Pendidikan dan kediktatoran juga bisa menjadi tema jika melihat kutipan di atas. Namun hukuman mati masih dianggap lebih dominan ketimbang kedua tema tersebut.

  1. Plot/Alur

Alur dalam cerita “Obat Mujarab” karya Mo Yan adalah campuran. Cerita dibuat maju dari awal hingga hampir akhir cerita. Namun bagian akhir cerita alur berubah menjadi mundur ke masa lalu. Berikut kutipan alur maju:

            Saat kami bercakap-cakap, langit mulai memutih sewarna perut ikan. Anjing-anjing kampung menggonggong nyaring. Namun, suara mereka tak mampu menyamarkan suara ratapan para perempuan. Ayah bangkit dari tempat persembunyian dan berdiri sejenak di tepi sungai, memasang telinga ke arah desa. Kini aku gugup. Anjing-anjing liar yang berkeliaran di kolong jembatan memelototiku seakan-akan hendak mencabik-cabik tubuhku. Aku tak tahu apa yang mencegahku minggat dari tempat itu selekas-lekasnya. Ayah kembali merunduk. Kulihat bibirnya gemetar dalam cahaya remang fajar, entah karena dingin atau takut. “Ayah mendengar sesuatu?” tanyaku.

“Diamlah,” bisik ayah. “Mereka akan segera tiba. Aku bisa mendengar mereka mengikat para tawanan.”

Kutipan di atas adalah ketika tokoh Ayah dan Aku sedang bersembunyi di bawah jembatan dan kemudian datang pengeksekusi, tawanan, sampai penduduk desa. Di sini kita bisa melihat alur maju.

            Nenekku menderita penyakit katarak kronis, menurut Luo Dasham, sang tabib desa. Konon, sumber penyakitnya adalah hawa panas yang menyeruap dari dalam rongga tubuhnya. Obat mujarab untuk penyakit itu haruslah sesuatu yang amat dingin dan sangat pahit.

Sang tabib menyingsingkan lengan mantel panjangnya dan beringsut ke arah pintu rumah kami ketika ayah memohon kepadanya untuk memberinya resep obat mujarab untuk ibunya.

“Hmm, obat mujarab,” Tabib Luo menyuruh ayah mencari empedu babi. Perasan cairannya bisa digunakan untuk sedikit membersihkan mata ibunya dari selaput katarak.

“Bagaimana kalau empedu kambing?” tanya ayah.

“Boleh,” ujar sang tabib. “Bisa juga pakai empedu beruang. Tapi kalau kau bisa mendapatkan empedu manusia… ha, ha, ha… jangan kaget kalau ibumu dapat melihat lagi dengan normal seperti sediakala.

Kutipan di atas adalah kutipan pada akhir cerita. Di dalam kutipan ini adalah penjelasan penyebab tokoh Ayah dan Aku mencuri organ mayat yang baru dieksekusi. Jika kutipan tersebut berada pada awal cerita maka cerpen tersebut hanya memiliki alur maju. Namun karena kutipan tersebut berada di akhir cerita maka cerpen ini memiliki alur campuran.

  1. Tokoh dan Penokohan

Sebenarnya hanya ada dua tokoh inti dalam cerita namun cerita tersebut dilengkapi dengan empat tokoh sampingan. Tiap-tiap tokoh memiliki penokohan yang berbeda. Berikut penokohan dalam cerpen “Obat Mujarab” karya Mo Yan:

  1. Aku

Penasaran

Ayah menyeretku ke atas tepian sungai. Dari sana kami bisa melihat bayangan kelam batu jembatan dan potongan es di bantaran sungai. Aku bertanya, “di mana kita akan bersembunyi?”

Bagian bawah jembatan itu sepi dan gelap, juga dingin membekukan. Kulit kepalaku terasa gatal. Kutanya ayahku, “kenapa kulit kepalaku gatal?”

“Siapa yang mereka tembak pagi ini?”

 

Penakut

Aku mencengkeram erat lengan ayah. Sesuatu yang hangat dan basah mengaliri celanaku yang telah usang.

Penurut

Aku mengekor ayah keluar pintu. Langit timur mulai terang. Jalanan beku dan lengang. Angin barat daya telah menyapu bersih debu jalanan sepanjang malam sehingga permukaan jalan yang kelabu tampak jelas. Jemari tangan dan kakiku begitu dingin menusuk sehingga terasa seakan tengah dikunyah kucing. Ketika kami melintasi pelataran keluarga Ma, tempat sepasukan milisi bermarkas, kami melihat seberkas cahaya di jendela dan mendengar suara teriakan. Ayah berkata lirih, “Jangan hiraukan. Mereka sedang sarapan.”

  1. Ayah

Berani

Ayah bangkit, menggoyang-goyangkan belati di atas kepalanya, dan mengancam anjing-anjing itu seperti orang gila, mengusir mereka sehingga menjauh sejarak seanak panah.

Gila

Rahang ayah menegang, matanya mendelik. Dengan penuh tenaga, ia menghujamkan belatinya ke dada Ma Kuisan dengan bunyi nyaring. Disentakkannya belati itu ke samping. Darah kehitaman mengalir. Namun, belulang iga menghentikan gerakannya. “Aku kehilangan akal,” ujarnya saat menarik lepas belati itu, menyekanya dengan mantel kulit Ma Kuisan. Seraya mencekal gagang belati erat-erat, ia mengoyak terbuka dada Ma Kuisan.

Ambisius

“Bangun,” ujarnya. “Orang-orang bersenjata itu ingin urusan mereka cepat selesai. Jika kita terlambat, kita akan kehilangan kesempatan.”

  1. Ma Kuisan

Orang baik

“Komandan Zhang, seumur hidupku aku telah menjadi orang baik….”

“Komandan Zhang, ketika kau pindah ke rumah kami, aku menjamumu dengan baik dan menyajikan untukmu anggur terbaik yang kami punya. Aku bahkan mengizinkan anak gadisku yang baru berumur delapan belas tahun untuk melayanimu. Komandan Zhang, hatimu tak terbuat dari baja, bukan?”

Berani

Saat itulah Ma Kuisan berseru nyaring ke arah kerumunan khalayak, “kalian semua, tua dan muda, aku, Ma Kuisan, tak pernah berbuat jahat kepada kalian. Kini kuminta kalian membelaku.”

  1. Luan Fengshan

Emosional

Suara lain, datar dan penuh emosi terdengar, “Komandan Zhang, kasihanilah aku. Kami mengundi siapa yang akan menjadi kepala desa. Aku tak menginginkan jabatan ini… menjadi kepala desa. Aku mendapatkan jerami terpendek… dasar sial…. Komandan Zhang, kasihanilah, izinkanlah aku melanjutkan hidupku yang brengsek ini…. Aku punya ibu berumur delapan puluh tahun yang harus kurawat.”

  1. Komandan Zhang

Tegas

Dengan suara tenang, seakan-akan tak ada hal yang perlu dicemaskan, Komandan Zhang angkat bicara, “kami akan menembak kalian, tak peduli kalian membantah atau tidak. Jadi sebaiknya tutup mulut kalian. Semua orang pasti akan mati suatu waktu.  Kalian harus pasrah menerimanya agar terlahir kembali sebagai manusia.”

“Jadi, menurutmu, aku, Komandan Zhang, adalah monster yang suka membalas dendam, begitu? Seakan-akan kau sudah berpengalaman menjadi komandan milisi! Kawan-kawan penduduk desa, bangunlah! Terlalu dingin berlutut seperti itu. Kebijakannya sudah jelas. Tak seorang pun dapat menyelamatkan mereka sekarang. Bangun semuanya!”

Jahat

“Cukup!” Komandan Zhang menghardik. “Atau kalian senang mendengar si tua ini memuntahkan racun.”

  1. Luo Dasham

Pintar

Sang tabib menyingsingkan lengan mantel panjangnya dan beringsut ke arah pintu rumah kami ketika ayah memohon kepadanya untuk memberinya resep obat mujarab untuk ibunya.

“Hmm, obat mujarab,” Tabib Luo menyuruh ayah mencari empedu babi. Perasan cairannya bisa digunakan untuk sedikit membersihkan mata ibunya dari selaput katarak.

“Bagaimana kalau empedu kambing?” tanya ayah.

“Boleh,” ujar sang tabib. “Bisa juga pakai empedu beruang. Tapi kalau kau bisa mendapatkan empedu manusia… ha, ha, ha… jangan kaget kalau ibumu dapat melihat lagi dengan normal seperti sediakala.

  1. Latar

“Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan” (Abrams dalam Burhan Nurgiyantoro, 1995: 216).

Latar waktu yang terdapat dalam cerpen “Obat Mujarab” karya Mo Yan adalahpagi hari menjelang siang. Berikut kutipan yang menggambarkan latar waktu:

  • Ruangan itu masih gelap pekat saat ayah terjaga lalu menyalakan lampu minyak.
  • Aku mengekor ayah keluar pintu. Langit timur mulai terang.
  • Langit akan sepenuhnya terang begitu tiga bintang selatan tampak selintas dari kolong jembatan.
  • Saat kami bercakap-cakap, langit mulai memutih sewarna perut ikan.
  • Langit mulai bersemu merah jambu di cakrawala timur. Di sana awan yang menggantung tipis perlahan mulai tampak. Tak lama lagi awan itu pun akan menjadi merah jambu. Kini sudah cukup terang untuk bisa melihat dengan jelas berapa ekor anjing buduk yang meringkuk kedinginan di tanah dekat tempat kami bersembunyi, juga onggokan pakaian compang-camping, segumpal rambut, dan sebongkah tengkorak manusia yang telah dimamah.

Latar tempat yang terdapat alam cerita “Obat Mujarab” karya Mo Yan ada dua, yaitu jembatang Sungai Jiao dan kamar. Namun jembatan Sungai Jiao adalah tempat yang dominan. Berikut kutipannya:

  • Disebutkan, esok pagi akan ada pelaksanaan hukuman mati di tempat biasa: ujung selatan jembatan Sungai Jiao.
  • Setelah mengenakan jaket, ia membangunkanku dan menyuruhku bangkit dari ranjang. Saat itu dingin sekali dan aku masih ingin meringkuk di balik selimut hangat—yang ditarik ayah dari tubuhku.
  • Ayah menyeretku ke atas tepian sungai. Dari sana kami bisa melihat bayangan kelam batu jembatan dan potongan es di bantaran sungai. Aku bertanya, “di mana kita akan bersembunyi?”
  • Bagian bawah jembatan itu sepi dan gelap, juga dingin membekukan.
  • Aku menangkap gerakan makhluk-makhluk aneh dalam kegelapan di kolong jembatan.
  • Seorang berjalan ke arah pagar jembatan dan kencing ke sisi jembatan. Baunya pesing dan menyengat.

Latar yang ketiga ialah latar suasana. Latar suasana yang paling dominan adalah mencekam karena mereka berada pada saat eksekusi hukuman mati. Apalagi penduduk desa dipaksa untuk menontonnya. Berikut kutipannya:

  • Terdengar suara panik dan gerakan kacau-balau di ujung utara—tampaknya itu penduduk desa dipaksa menjadi saksi hukuman mati dan kini lintang-pukang melarikan diri karena ngeri. Tak terdengar orang-orang bersenjata itu mengejar penduduk desa yang minggat.
  1. Sudut Pandang

Pembahasan yang terakhir adalah sudut pandang penceritaan. Dalam cerpen “Obat Mujarab” karya Mo Yan, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang persona pertama atau akuan. Hal ini bisa dilihat dari tokoh utamanya yang mengungkapkan dirinya adalah “aku”. Berikut kutipannya:

Aku mengekor ayah keluar pintu. Langit timur mulai terang. Jalanan beku dan lengang. Angin barat daya telah menyapu bersih debu jalanan sepanjang malam sehingga permukaan jalan yang kelabu tampak jelas. Jemari tangan dan kakiku begitu dingin menusuk sehingga terasa seakan tengah dikunyah kucing. Ketika kami melintasi pelataran keluarga Ma, tempat sepasukan milisi bermarkas, kami melihat seberkas cahaya di jendela dan mendengar suara teriakan. Ayah berkata lirih, “Jangan hiraukan. Mereka sedang sarapan.”

dan:

Aku mencengkeram erat lengan ayah. Sesuatu yang hangat dan basah mengaliri celanaku yang telah usang.

Kutipan di atas adalah sebagian bukti bahwa sudut pandang yang digunakan adalah “akuan” karena memakai kata “aku” dalam cerita tersebut.

 

Simpulan

Simpulan yang didapat dari analisis cerpen “Obat Mujarab” dari Mo Yan dengan teori struktural milik Abrams dari buku Nurgiyantoro adalah tema yang dominan dalam cerita adalah hukuman mati. Meskipun ada tema lainnya namun hukuman mati adalah tema yang dominan. Lalu alur atau plot yang digunakan adalah campuran karena di akhir cerita menceritakan penyebab tokoh Ayah dan Aku mencuri organ dari mayat.

Penokohan pun beragam. Tokoh Aku memiliki sifat penakut, penurut, dan penasaran. Lalu tokoh Ayah memiliki sifat berani, gila, dan ambisius. Untuk tokoh Ma Kuisan ia memiliki sifat baik hati dan pemberani. Sedangkan tokoh Luan Fengshan memiliki sifat emosional. Untuk tokoh Komandan Zhang, ia memiliki sifat tegas dan juga jahat. Sedangkan Luo Dasham memiliki sifat pintar.

Latar terbagi menjadi tiga, yaitu latar waktu, latar tempat, dan latar suasana. Untuk latar waktu adalah ketika fajar menjelang siang. Latar tempat berada di jembatan Sungai Jiao. Lalu latar suasana adalah mencekam karena penduduk desa dipaksa untuk menyaksikan hukuman mati meskipun mereka menolak untuk melihatnya. Yang terakhir adalah sudut pandang. Sudut pandang yang digunakan oleh Mo Yan dalam cerita “Obat Mujarab” adalah sudut pandang orang pertama. Hal ini dibuktikan dengan tokoh utama adalah Aku.

DAFTAR PUSTAKA

Burhan Nurgiyantoro. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Cerpen Koran Minggu. Obat Mujarab. 12 Mei 2013. https://lakonhidup.wordpress.com/2013/05/12/obat-mujarab/more-4105 {diakses 28 Desember 2016}.

Sejarah Negara Com. Mo Yan Seorang Sastrawan Cina. Website history. 16 November 2014. http://www.sejarah-negara.com/mo-yan-seorang-sastrawan-cina {diakses 28 Desember 2016}.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s