Reza Deni


Sejarah mencatat terlalu banyak lelaki hebat yang tumpas karena gagal menjinakkan perempuan. John Dillinger dan Arthur Schopenhauer, contohnya.

Kalimat itu saya tukil dari sebuah cerpen milik Dea Anugrah yang berjudul “Sebuah Kisah Sedih, Gempa Waktu dan Omng Kosong yang Harus Ada”. Kalimat itu tentu mempunyai definisi, salah satunya dan secara gamblang, bahwa perempuan merupakan sesuatu yang liar, ganas, dan sulit sekali dikendalikan. Di balik negasi dari sifat maskulin, ternyata perempuan juga memiliki kengerian yang tersembunyi.

Dari kalimat itu, saya akan berangkat ke sebuah karya fiksi milik Pramoedya Ananta Toer, yakni Gadis Pantai (selanjutnya akan disingkat GP), dan karya milik Nawal El Sadawi, yakni Perempuan Di Titik Nol (selanjutnya akan disingkat PTN). Sebagai seorang manusia, tentu perlakuan adil merupakan salah satu indikator bagaimana bentuk riil keberlangsungan hidup ini berjalan normal dan sesuai. Namun, jika menilik lebih dalam dan lebih lebih lagi, perlakuan adil sebenarnya adalah bentuk yang absurd. Bahkan sonder memakai kata “perlakukan” pun, kata “adil” bisa memiliki definisi dan pemaknaan yang absurd. Adil yang bagaimana? Adil untuk siapa?

Kira-kira begitu pembacaan saya mengenai kedua novel yang sudah saya sebutkan judulnya di atas. Kendati penulisnya berbeda jender, tapi sebenarnya saya dapat melihat bahwa, secara terselubung, GP dan PTN ingin sama-sama menulis tentang keadilan, dan tentu saja, ini yang lebih terasa istimewa, perempuan dan seabrek nilai-nilai patriarkis yang terkandung di dalamnya.

GP merupakan kisah roman yang berlatar daerah pesisir utara Jawa. Diawali dengan sebuah narasi yang mendeskripsikan seorang gadis berusia 14 tahun dari kampung nelayan (Gadis Pantai) yang diperistri oleh seorang priyayi tinggi (Bendoro) dari wilayah Rembang. Gadis Pantai sendiri sebenarnya tidak mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Namun, ia dipaksa dan diyakinkan kedua orangtuanya bahwa ia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik karena bersuamikan seorang pembesar. Cerita kemudian bergulir dalam kisah kehidupan gadis tersebut setelah memasuki dunia kepriyayian. Ia masuk ke dunia yang sama sekali asing baginya, dan hidup dalam kesepian dan ketidakmengertian tentang dunia priyayi itu sendiri. Di awal kehidupannya dalam gedung (kediaman Bendoro), ia dibimbing oleh seorang bujang tua, yang bertugas menyiapkan Gadis Pantai menjadi seorang istri priyayi. Dari bujang tua itu pula Gadis Pantai mengetahui bahwa tugasnya yang paling penting adalah taat dan mengabdi secara penuh pada kehendak suaminya (Bendoro).

Semakin hari, banyak hal baru yang diketahui Gadis Pantai setelah masuk dunia kepriyayian, termasuk pengetahuan tentang dirinya sendiri, tentang kekuasaan priyayi, dan tentang perbedaan antara orang kebanyakan dengan priyayi yang selama ini tak pernah ia ketahui. Gadis Pantai menjadi semakin sadar akan kedudukannya, yang di satu sisi dia telah masuk ke dalam kelas priyayi, tapi di sisi lain yang tak terbantahkan adalah bahwa ia tetaplah berasal dari orang kebanyakan, sehingga di dalam dunia priyayi ia tidak memiliki hak apa-apa, bahkan terhadap dirinya sendiri. Terlebih ketika ada kerabat Bendoro yang berniat menyingkirkan dirinya, sebab Bendoro harus segera memiliki istri dari golongan yang sederajat.

Ketika Gadis Pantai mendapat kesempatan mengunjungi orang tuanya di kampung nelayan, ia justru menemukan kekecewaan. Ia tidak lagi diterima sebagai orang kebanyakan, tetapi disanjung dan dihormati sebagai priyayi. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa asing di kampungnya sendiri. Sepertinya telah ada jarak yang jauh antara dirinya dengan orang-orang kampung, termasuk orang tuanya sendiri

Setelah beberapa lama di kampung serta mengalami beberapa peristiwa, Gadis Pantai harus kembali ke kota (gedung kediaman Bendoro). Hingga kemudian dia hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan. Setelah tiga setengah bulan usia anaknya, Gadis Pantai diusir keluar gedung oleh Bendoro tanpa boleh membawa anaknya itu. Dia pun selamanya dilarang kembali ke gedung untuk menengok anaknya, bahkan Gadis Pantai diharuskan untuk melupakan bahwa ia pernah melahirkan. Hal inilah yang paling memukul jiwanya. Namun, hal itu harus diterimanya sebab kekuasaan Bendoro tidak boleh dan tidak mungkin dilawan.

Sejak awal cerita, bentuk ketidakadilan ini sudah tampak, yaitu terlihat  ketika Gadis Pantai menikah (dinikahkan), Bendoro yang merupakan mempelai laki-laki tidak datang, tetapi hanya diwakili oleh sebilah keris. Hal ini menunjukkan kedudukan si mempelai wanita yang memang direndahkan. Pernyataan itu dapat disimak pada kutipan roman berikut.

”Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup” (h. 2)

”Ah, hanya orang kebanyakan dikawini dengan keris.”

 

Nawal El Sadawi juga tak jauh tak jauh-jauh amat berbeda. Novel ini bersifat agak memoar, mengambil latar belakang seorang perempuan bernama Firdaus, seorang pelacur kelas atas yang dipenjara karena telah membunuh germo atau mucikarinya. Karena bersifat agak memoar, tentu yang diceritakan berawal dari masa kecil Firdaus dan lika-liku serta ketidakadilan yang didapatkannya selama ini.

Dengan narasi yang dihadirkan dan bersifat ekstrem, PTN ingin menyampaikan bahwa ketidakadilan merupakan barang wajar yang dimiliki oleh seorang perempuan. Selain mendapatkan kekerasan secara fisik, Firdaus, tokoh utama dalam novel ini, juga mengalami perlakukan menyimpang secara seksual dari kecil, dan semua itu berdampak hingga ia beranjak dewasa, menikah di usia yang masih terbilang muda, dan akhirnya justru jatuh dalam kubangan pekerja seks komersil. Namun justru dengan menjadi pelacur, Firdaus menjadi lebih mengerti, bahwa di dunia ini, ketidakadilan merupakan barang langka untuk perempuan.

“Saya menyadari bahwa seorang karyawati lebih takut kehilangan pekerjaannya daripada seorang pelacur akan kehilangan nyawanya. Seorang karyawati takut kehilangan pekerjaannya dan menjadi seorang pelacur karena dia tidak mengerti bahwa kehidupan seorang pelacur menurut kenyataannya lebih baik daripada kehidupan mereka… Saya tahu sekarang bahwa kita semua adalah pelacur yang menjual diri dengan macam-macam harga, dan bahwa pelacur yang mahal jauh lebih baik daripada pelacur murahan.” – hal. 110

 

Singkat kata, perempuan dan ke(tidak)adilan menurut saya seperti saya melihat sirkus. Di satu sisi, saya takjub pada ketaatan dan kepatuhan hewan-hewan yang dipertunjukkan tersebut. Di sisi lain, saya juga curiga, mengapa hewan tersebut bisa patuh dan mau dilakukan seperti manusia. Kecurigaan saya juga seperti halnya kecurigaan-kecurigaan mengenai konsep patriarkis, sebuah konsep yang (ternyata) selama ini sduah mengakar dan begitu kuat dalam masyarakat. Oh tidak, jangan masyarakat, dalam keluarga mungkin.

Ciputat, November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s