Doni Ahmadi


Ada beberapa hal yang yang menarik dari dua karya sastra –dengan latar belakang pengarang yang berbeda dan cukup jauh. Yakni, Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, dan Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi. Tentang bagimanana pengarang memberikan fokus kepada “Perempuan” yang menjadi tokoh utama dengan pelbagai hal.
Dalam dua novel diatas yang saya sebutkan, subyek “perempuan” memang menjadi sorotan bagi keduanya. Antara “gadis pantai” (dalam novel Gadis Pantai) dan “firdaus” (dalam novel Perempuan di Titik Nol). Ada benang merah yang dapat kita tarik sebagai pembaca jika keduanya dihubungkan, perempuan dicitrakan begitu rendah –sosok manusia lemah, tidak berdaya, tidak memiliki kuasa dan bahkan tidak berpengaruh. Citra perempuan digambarkan sedmikian tak berdaya.
Berikut nukilan dari kedua novel tersebut,
”Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup […] Ah, hanya orang kebanyakan dikawini dengan keris.” (Gadis Pantai)
“Saya dapat pula mengetahui bahwa semua yang memerintah adalah laki-Iaki. Persamaan di antara mereka adalah kerakusan dan kepribadian yang penuh distorsi, nafsu tanpa batas mengumpul uang, seks dan kekuasaan tanpa batas. Mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi di bumi, yang merampas rakyat mereka, yang bermulut besar, berkesanggupan untuk membujuk, memilih kata-kata manis, dan menembakkan panah beracun.” (Perempuan di Titik Nol)
Pempuan menjadi subjek yang vital dalam kedua karya tersebut. Keduanya meletakan wanita sebagai alat –gadis pantai yang dinikahkan secara paksa untuk menutupi hutang dan firdaus yang hanya menjadi alat (korban) kepuasan bagi kaum lelaki.
Berikut ringkasan kedua cerita,
Gadis Pantai merupakan roman yang berlatar daerah pesisir utara Jawa. Diawali dengan sebuah narasi yang mendeskripsikan seorang gadis berusia 14 tahun dari kampung nelayan (Gadis Pantai) yang diperistri oleh seorang priyayi tinggi (Bendoro) dari wilayah Rembang. Gadis Pantai sendiri sebenarnya tidak mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Namun, ia dipaksa dan diyakinkan kedua orangtuanya bahwa ia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik karena bersuamikan seorang pembesar. Cerita kemudian bergulir dalam kisah kehidupan gadis tersebut setelah memasuki dunia kepriyayian. Ia masuk ke dunia yang sama sekali asing baginya, dan hidup dalam kesepian dan ketidakmengertian tentang dunia priyayi itu sendiri. Di awal kehidupannya dalam gedung (kediaman Bendoro), ia dibimbing oleh seorang bujang tua, yang bertugas menyiapkan Gadis Pantai menjadi seorang istri priyayi. Dari bujang tua itu pula Gadis Pantai mengetahui bahwa tugasnya yang paling penting adalah taat dan mengabdi secara penuh pada kehendak suaminya (Bendoro).
Singkatnya ketika Gadis Pantai mendapat kesempatan mengunjungi orang tuanya di kampung nelayan, ia justru menemukan kekecewaan. Ia tidak lagi diterima sebagai orang kebanyakan, tetapi disanjung dan dihormati sebagai priyayi. Hal ini membuat Gadis Pantai merasa asing di kampungnya sendiri. Sepertinya telah ada jarak yang jauh antara dirinya dengan orang-orang kampung, termasuk orang tuanya sendiri
Setelah beberapa lama di kampung serta mengalami beberapa peristiwa, Gadis Pantai harus kembali ke kota (gedung kediaman Bendoro). Hingga kemudian dia hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan. Setelah tiga setengah bulan usia anaknya, Gadis Pantai diusir keluar gedung oleh Bendoro tanpa boleh membawa anaknya itu. Dia pun selamanya dilarang kembali ke gedung untuk menengok anaknya, bahkan Gadis Pantai diharuskan untuk melupakan bahwa ia pernah melahirkan. Hal inilah yang paling memukul jiwanya. Namun, hal itu harus diterimanya sebab kekuasaan Bendoro tidak boleh dan tidak mungkin dilawan.
Lalu Perempuan di Titik Nol ini merupakan cerita yang bersifat agak memoar, mengambil latar belakang seorang perempuan bernama Firdaus, seorang pelacur kelas atas yang dipenjara karena telah membunuh germo atau mucikarinya. Karena bersifat agak memoar, tentu yang diceritakan berawal dari masa kecil Firdaus dan lika-liku serta ketidakadilan yang didapatkannya selama ini.
Dengan narasi yang dihadirkan dan bersifat ekstrem, Perempuan di Titik Nol ingin menyampaikan bahwa ketidakadilan merupakan barang wajar yang dimiliki oleh seorang perempuan. Selain mendapatkan kekerasan secara fisik, Firdaus, tokoh utama dalam novel ini, juga mengalami perlakukan menyimpang secara seksual dari kecil, dan semua itu berdampak hingga ia beranjak dewasa, menikah di usia yang masih terbilang muda, dan akhirnya justru jatuh dalam kubangan pekerja seks komersil. Namun justru dengan menjadi pelacur, Firdaus menjadi lebih mengerti, bahwa di dunia ini, keadilan merupakan barang langka untuk perempuan.
Dari dua penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa keduanya memang memberi kekhususan pada perempuan, yang dalam hal ini kita dapat melihatnya secara jelas melalui kacamata feminisme, menurut Sugihastuti (feminisme) merupakan kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, baik di tempat kerja dan rumah tangga. Feminisme merupakan kajian sosial yang melibatkan kelompok-kelompok perempuan yang tertindas, utamanya tertindas oleh budaya partiarki. Feminisme berupa gerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Berupa gerakan emansipasi perempuan, yaitu proses pelepasan diri dan kedudukan sosial ekonomi yang rendah, yang mengekang untuk maju.
Perempuan (dalam peristiwa yang ditutrkan) memang berada dalam satu tatanan sosial, namun tetap saja, gender laki-laki berada satu tingkat diatasnya. Hal ini memang sudah menjadi pandangan umum, dan menjadi stereotipe. Dan tentu saja hal yang demikian itu dipahami betul oleh Pramoedya dan Nadad. Mereka membawa perempuan kedepan panggung melaui karya yang ia tulis tentu dengan motif yang hampir sama –memberikan alternatif. Perihal kesetaraan, perempuan bukan hanya objek saja, tapi dapat menjadi subjek yang utuh, yang otonomi dan berdikari. Meskipun tidak digambarkan dalam kedua novel diatas, secara tersirat dua pengarang tersebut memang berupaya menghadirkan hal yang sedemikian itu.
Meskipun pengarang dalam novel diatas tokohnya tidak segamblang tokoh Nyai Ontosoroh (dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya), ataupun tokoh Malquedes (dalam Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez). Namun motif yang dihadirkan memang (terkesan) sama. Peletakan terhadap sosok “perempuan” bukan tanpa alasan. Namun dapat ditelaah dengan kajian yang lebih serius. (tidak seperti catatan ini yang terkesan serampangan).

November, 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s