Muhammad Putera Sukindar


Membaca novel Gadis Pantai karya Pramodya Ananta Toer dan Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi, sama halnya seperti mendengar curhatan dari dua orang perempuan mengenai permasalahan yang sama, namun hanya saja, perbedaan cara keduanya bercerita membuat saya betah berlama-lama untuk mendengarkannya; yaitu permasalah masyarakat patriarkis dalam dimensi ruang dan waktu pada masing-masing cerita.

Seperti halnya novel Gadis Pantai yang selain mencerminkan situasi feodal, cerita tersebut juga menggambarkan bagaimana peran perempuan yang tidak sederajat—atau lebih rendah—dari seorang pria. Sebagaimana Gadis Pantai yang pada cerita tersebut, setelah menjadi isteri seorang Bendoro kerjaannya tak lain hanya melayani lelaki atau dalam hal ini suaminya saja. Terlihat pada narasi yang saya kutip sebagai berikut.

“Gedung ini lambat lain membikin ia belajar tak mengharapkan sesuatu apa. Dari mengontrol dapur ke pekerjaan batik, dari berbelanja di emper dapur sampai melayani Bendoro, dari malam-malam Jumat yang lowong sampai pada malam-malam lainnya, semua itu terhampar di hadapan dan di belakangnya, laksana jalan-jalan sunyi-gelap. (hlm.181)”

Banyak juga keterbatasan bagi Gadis Pantai sebagai seorang perempuan sekaligus isteri bangsawan saat ingin melakukan sesuatu, acap kali ia ingin berbuat suatu hal selalu dikekang oleh seorang Mbok yang menjadi pendampingnya di gedung tempat ia tinggal. Sebagaimana ketika Gadis Pantai ingin pulang untuk menjenguk kedua orangtuanya, ia sempat dilarang karena hal tersebut takut membuat Bendoro marah, meski pada akhirnya ia diizinkan pulang juga. Saat Gadis Pantai sampai di kampung halamannya, terlihat juga kerendahan derajat seorang perempuan disbanding laki-laki pada dialog berikut:

“Mana emak, bapak?”

“Di mana tempat perempuan kampung kalau tak di dapur?” (hlm.124)

               

Begitupula yang ada pada novel Nawal el Sadawi yang berjudul Perempuan Di Titik Nol ini. Di mana pada novel ini terlihat lebih telanjang bagaimana derajat seorang perempuan begitu amat rendah dibandingkan dengan laki-laki. Firdaus yang menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut, selain mendapatkan kekerasan fisik ia juga mengalami kekerasan seksual dari kecil. Pengalaman buruk itu berdampak hingga ia menjadi dewasa, yang pada akhirnya ia memutuskan untuk menjadi pelacur. Keresahan tersebut terlihat jelas pada kutipan berikut.

“Saya dapat pula mengetahui bahwa semua yang memerintah adalah laki-laki. Persamaan di antara mereka adalah kerakusan dan kepribadian yang penuh distorsi, nafsu tanpa batas mengumpul uang, seks dan kekuasaan tanpa batas, Mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi di bumi, yang merampas rakyat mereka, yang bermulut besar, berkesanggupan untuk membujuk, memilik kata-kata manis, dan menembakkan panah beracun. (hlm.41)”

Ada pula ketika ia sempat berhenti menjadi pelajur dan memutuskan untuk menjadi pegawai di salah satu perusahaan, ia jatuh cinta kepada seseorang. Namun sayangnya, cinta itu kandas begitu saja saat lawan jenis yang ia cintai ternyata menghianati cintanya. Setelahnya ia mengetahui bahwa lelaki itu, berpura-pura mencintainya agar bisa menidurinya tanpa harus membayar. Seperti pada kutipan berikut.

“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kiemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan atau dengan pukulan.(hlm.142-143)”

Dari dua pembahasan di atas terlihat bagaimana masing-masing tokoh utama mengalami masalah yang sama; yakni hidup pada masyarakat yang patriarkis, di mana kedudukan seorang lelaki dianggap lebih tinggi daripada seorang perempuan. Hanya saja jika membaca Gadis Pantai saya merasa hal tersebut terasa lebih buram ketimbang saya membaca Perempuan Di Titik Nol yang terkesan lebih gamblang dalam penyampaian suara perempuan.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s