Faisal Fathur


Sejarah mestinya membuat orang belajar bahwa setiap zaman pasti memiliki tantangan yang berbeda. Dalam konteks marxisme, Karl Marx mengajarkannya secara tidak langsung melalui historisme-materialis. Dalam sepak bola, sejarah berevolusi menjadi rangkaian statistik yang mampu ditinjau setiap timnya. Pun di banyak hal lain, yang sekadar menunjukkan bahwa dari hari ke hari setiap peristiwa baru bisa saja muncul untuk menegasi peristiwa sebelumnya. Berangkat dari hal tersebut, saya coba memahami perbedaan antara cerita Gadis Pantai karangan Pramoedya Ananta Toer dan Perempuan di Titik Nol karangan Nawal el-Saadawi yang bertolak dari perbedaan landasan peristiwa yang dihadirkan.

Subordinasi bagi perempuan, dahulu mungkin dianggap sebagai kelaziman dari sistem tradisional kehidupan patriarki. Ketika laki-laki, “terbudayakan” untuk mendapat tempat yang lebih tinggi dibandingkan perempuan dan semua berlangsung biasa-bisa saja, tanpa pergolakan yang ekstrem. Kemudian sebuah zaman baru datang menghadirkan kesadaran baru, yakni sebuah zaman yang menentang kehadiran laki-laki sebagai subjek akan perempuan. Zaman tersebut, jika layak disebut sebagai pascamodern, menawarkan sebuah gagasan bahwa laki-laki dan perempuan mestilah sejajar dalam banyak hal. Bukan saling menguasai satu di antara lainnya. Dalam zaman baru itu, kita mengenal isme tersebut sebagai feminisme.

Pada cerita Gadis Pantai konteks peristiwa dapat dikatakan berlatar kehidupan feodalisme. Tokoh utama yang disebut sebagai Gadis Pantai, sejak kecil hidup di daerah pantai dan pada umur belasan tahun dipaksa menikah dengan seorang bangsawan (Bendoro). Dalam satu kasus, pernikahan pada masa tersebut dapat dikaitkan sebagai upaya menaikkan derajat sosial bagi rakyat jelata. Namun sayang, alih-alih merasa makin terhormat, Gadis Pantai malah kebingungan dengan kehidupan baru yang dijalaninya. Ia bak kaum urban yang tercerabut akan akar kehidupan tradisionalnya, tetapi masih belum siap untuk menjadi manusia modern. Puncak nelangsanya muncul ketika mengetahui bahwa Gadis Pantai hanyalah objek “latihan pernikahan” bagi seorang bangsawan yang lalu diceraikannya. Dalam tradisi feodal, nyatanya memang lumrah melakukan hal demikian.

Sebaliknya pada cerita Perempuan di Titik Nol saya memahami bahwa kehidupan modern tengah berlangsung. Indikasi itu pertama kali terlihat dari berbagai aspek kebendaan yang cukup menonjol seperti bagaimana ketika Firdaus meminta imbalan pada ayahnya, melabeli dirinya dengan harga tinggi, hingga upaya bekerja di suatu perusahaan demi pemasukan yang bernilai lebih baik. Pun sebagaimana yang diceritakan bahwa Firdaus digambarkan sebagai objek seksual, yang entah secara tidak sadar maupun sadar, hingga upanyanya sebagai pelacur yang tak kunjung mendapat ketenangan diri. Dalam satu kasus wujud-wujud kebendaan seperti mobil mewah, pakaian kelas atas, dan lain-lain sebagainya pun menunjukan bahwa zaman yang dijalankan Firdaus nyatanya memang telah sampai pada tahap modernitas.

Dengan begitu mestilah saya coba memahami bahwa Gadis Pantai dan Firdaus adalah dua objek dalam sistem budaya patriarki yang hadir pada dua zaman berbeda. Gadis Pantai yang terpaksa manut dan kagum terhadap kehidupan bangsawan, mesti kecele karena apa yang diidam-idamkannya (bersama keluarga) nyatanya hanya sebuah permainan kaum kelas atas untuk semakin merendahkan rakyat jelata. Di lain hal, Firdaus terombang-ambing dalam hasrat seks lelaki modern. Kejemuan kota yang membuat segalanya mumet itu perlu penyaluran, dan seks menjadi jalannya. Maka itu dalam Perempuan di Titik Nol, kita melihat bahwa Firdaus bisa menjadi objek seks bagi banyak lelaki. Sekalipun pada akhirnya ia mampu melawan dan menolaknya.

Adapun sedikit perbedaan mendasar lain adalah saat saya dapat melihat munculnya sebuah pola kesadaran berbeda yang hinggap dalam masing-masing tokoh utama itu. Gadis Pantai hampir terlihat nelangsa sepanjang cerita karena tidak ada suatu hal yang membuat ia sadar akan ketertindasannya itu. Satu yang paling sering ia lakukan hanyalah membandingkan kehidupan bangsawan dengan kehidupan ala kaum pesisir pantainya dahulu. Pun rasanya tak cukup untuk menyadarkannya dari kediktatoran feodal yang berhasil “menipunya” dalam berbagai hal. Sedangkan apa yang dirasakan Firdaus cukup berbeda. Ia mulai menggelisahkan soal seks sejak kecil dan mencurigai tendensi laki-laki untuk mencumbuinya. Titik tolak paling konkret yang menjadi perbedaan mendasar adalah sebab Firdaus sempat mengenyam pendidikan hingga sekolah menengah. Firdaus digambarkan sebagai pembaca di kesunyian, dan saya menduga ada sedikit kesadaran yang muncul dari hasil pembelajarannya. Suatu hal yang sejatinya tidak didapatkan oleh Gadis Pantai. Sekalipun itu nyatanya kita tak boleh menampik bahwa dalam cerita Gadis Pantai, ia hanya diceritakan selama usia belasan tahun. Sedangkan dalam Perempuan di Titik Nol, Firdaus telah berkelana hingga usia dua puluhan. Sebuah pandangan yang mestinya menggiring pemahaman saya akan kematangan pola pikir dari kedua tokoh itu yang pastinya berbeda.

Pada akhirnya, ada banyak perbedaan yang dapat dilihat dari kedua cerita tersebut. Gadis Pantai menawarkan sebuah realitas sosial di mana feodalisme mampu membuat perempuan bahkan “dijual” oleh orang tuanya sendiri. Sedangkan dalam Perempuan di Titik Nol, modernitas terlalu menuntut banyak hal dan membuat perempuan semakin tertindas akan hidupnya. Walaupun memang banyak hal lain yang menyulut perbedaan seperti: sudut pandang cerita yang ditulis oleh pengarang laki-laki dan pengarang perempuan, latar kehidupan pengarang yang berbeda negara, hingga aspek-aspek lain yang rasanya juga lebih mencukupi jika dibahas dalam kesempatan lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s