Ria T. R.

 


            Perihal wanita memang tidak akan pernah habisnya untuk dibicarakan, termasuk dalam karya sastra, sama seperti tema cinta karena kedua hal yang berbeda tersebut adalah bagian dari kehidupan. Peranan seorang wanita pada zaman yang modern ini tentu sudah berbeda dengan apa yang dipaparkan oleh Pramudya Ananta Toer penulis novel Gadis Pantai. Kata pengantar novel ini mengatakan bahwa Gadis Pantai adalah bagian pertama dari trilogi yang tidak lengkap. Maksudnya tidak lengkap adalah, dua buku terakhir tidak pernah terbit karena pencekalan oleh pemerintah pada zaman itu. Meskipun begitu novel ini tidak kehilangan keistimewaannya.

Novel ini membahas mengenai feodalisme masyarakat Jawa yang dilakukan oleh golongan priyayi pada saat itu yaitu seorang gadis pantai yang dinikahkan dengan seorang Bendoro Bupati, pejabat administrasi pemerintahan Belanda. Pernikahan yang bisa dibilang tiba-tiba ini tentu membuat kaget si gadis pantai sendiri lantaran calon suami yang akan dinikahinya pada hari itu adalah sebilah keris. Perbedaan kasta antara priyayi dan penduduk biasa menjadi alasan mengapa gadis pantai menikah dengan sebuah keris. Novel ini menjelaskan kepada pembaca mengenai kehidupan yang ada pada zaman dulu dimana hierarki dan struktur dalam masyarakat masih menjadi pedoman utama dalam kehidupan sosial. Bagi manusia kalangan atas hidupnya akan terlihat mudah sedangkan manusia struktur bawah kehidupan bak ruang untuk berduka.

Tidak jauh berbeda dengan Perempuan di Titik Nol karya Nawal el – Saadawi. Novel ini menceritakan seorang perempuan muda bernama Firdaus. Sedari kecil ia tumbuh sendiri. Paman dan Bibinya tidak mampu menerima Firdaus di dalam keluarganya karena biaya kehidupan saat itu tidaklah murah. Tidak berbeda dengan Gadis Pantai , Firdaus dinikahkan dengan seorang pria yang bahkan lebih pantas menjadi kakeknya daripada suaminya. Firdaus hanya mampu menerima tempaan kehidupan itu dengan menjalani hidupnya seperti manusia biasa meskipun ia harus rela diperlakukan tidak adil untuk kesalahan kecil yang ia lakukan. Berkali-kali ia mengalami kemalangan seperti ketika ia secara tidak sadar sedang dipekerjakan sebagai pekerja seks oleh seorang wanita bernama Sharifa. Sharifa mengajarkan kepada Firdaus bahwa tubuhnya berharga meskipun yang menikmati hasil kerja Firdaus adalah Sharifa sendiri. Firdaus hanya menerima nyeri ketika harus rela digerayangi pria manapun yang membayar mahal kepada Sharifa.

Firdaus memutuskan untuk menjadi pelacur. Ia melawan penindasan dengan cara ia menjadi pelacur. Ia berhak menentukan dengan siapa ia ingin berkencan. Ia memutuskan berapa harga yang harus dibayar laki-laki hidung belang yang menjadi partnernya. Setelah beberapa saat sukses menjadi pelacur, ia berhenti dari pekerjaannya karena seorang pelanggannya berkata bahwa ia adalah wanita tidak terhormat. Firdaus bekerja disalah satu pabrik. Ia hidup seperti manusia biasa. Bekerja dan mendapat upah. Namun ia menemukan hal yang berbeda dari apa yang ia duga selama ini. Menurutnya semua orang adalah pelacur demi memenuhi hasrat mereka masing-masing, dan bahwa melacurkan diri dalam perbudakan terhormat demi kekuasaan dan jabatan sama saja nilainya sepertti menjadi pelacur dengan tegas menyatakan bahwa diri mereka sebagai seorang pelacur. Dengan pemikiran itu firdaus berhenti menjai pegawai pabrik dan meneruskan pekerjaan awalnya yaitu menjadi pelacur. Pelacur yang memiliki harga diri. Firdaus berpikiran bahwa dengan begitu ia mendapatkan hak penuh atas dirinya. Ia tidak merasa dikuasai lagi oleh suami, germo ataupun eksekutif perusahaan.

Penggambaran dominasi laki-laki terlihat jelas dalam novel ini yaitu ketika paman firdaus seorang Syeikh terhormat justru berkata bahwa laki-laki yang memukul istrinya justru laki-laki yang tahu agama. Laki-laki yang memiliki kusa penuh atas istrinya. Selain hal tersebut penggambaran dominasi laki-laki juga terjadi pada adegan seks yang dipaparkan dalam novel ini dimana pelanggan Firdaus yang bebas memperlakukan Firdaus seperti yang mereka mau. Kisah firdaus berakhir ketika ia mendapat hukuman gantung karena telah membunuh seorang pria. Firdaus tidak mau meminta bantuan kepada presiden untuk meringankan hukumannya. Menurut firdaus  kematian adalah kebebasan yang ia inginkan selama ini.

Kedua tokoh dalam novel ini sama-sama mengalami penindasan dari segi sosial, hukum dan gender. Kedua tokoh ini mengalami kemalangan dalam segi pendidikan meskipun Firdaus jauh lebih beruntung karena sempat bersekolah sampai sekolah menengah. Dari sisi hukum Firdaus tetap mengalami penindasan karena polisi yang seharusnya melindunginya justru menyerang balik Firdaus sehingga ia dihukum mati.yang terkhir adalah penindasan gender. dimana dominasi laki-laki lebih ketara dari dua novel ini. Bendoro bebas memperlakukan Gadis Pantai seperti yang ia mau sedangkan firdaus mendapat penindasan gender namun tak berlangsung lama karena ia lama-kelamaan sadar bahwa ia mempunyai hak atas tubuh dan hidupnya. Amanat dalam cerita mampu menarik pembaca untuk berpikir mengenai penindasan hak da bagaimana perjuangan yang ditempuh untuk mendapatkan hak-hak itu kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s